C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Terjebak 3.


__ADS_3

...~β€’Happy Readingβ€’~...


Kaliana langsung duduk terhenyak setelah Marons mengakhiri pembicaraan mereka. Apa yang diucapkan dan tindakan Marons membuat banyak bintang di kepala Kaliana berputar dan berpikir.


'Apakah dia sudah mengenalku? Tapi jika dia sudah mengenal atau mengingatku, untuk seorang Marons tidak akan berlaku seperti itu. Dia mungkin akan menjambak rambutku dan membuatku pusing.' Ucap Kaliana dalam hati sambil terus berpikir.


Mengingat akan nada emosi Marons, membuat emosi Kaliana kembali naik. Dia segera mencari nomor telpon Danny lalu menghubunginya. Dia ingin memastikan emosi Marons bersumber dari siapa. Danny atau Yogi. Hanya itu yang ada dalam pikirannya.


πŸ“±"Panjang umurnya, Mbak Anna. Aku baru mau menghubungi, tapi sudah dihubungi duluan." Danny merasa senang mengetahui Kaliana sudah menghubunginya terlebih dahulu.


πŸ“±"Oooh... Jadi Pak Danny yang menghubungi Pak Marons?" Tanya Kaliana tanpa basa-basi. Dia langsung menarik kesimpulan dari apa yang dikatakan Danny. Danny yang menghubungi Marons, bukan Yogi.


πŸ“±"Eeeh... Jangan marah dulu, Mbak. Aku melanggar kesepakatan karena ada alasan yang urgent." Danny menarik kesimpulan, dari nada Kaliana yang tidak seperti biasanya, pasti Kaliana marah akibat Marons telah menghubunginya.


πŸ“±"Saya juga memiliki alasan, kenapa Pak Marons jangan diberitahu dulu, Pak Danny. Kita tunggu semuanya clear, baru dibahas. Agar tidak membicarakan apa yang belum tau ujungnya berulang-ulang." Ucap Kaliana yang mulai surut emosinya, mendengar nada suara Danny yang pelan dan merasa bersalah.


πŸ“±"Begini, Mbak Anna. Barusan aku mau menghubungi untuk membicarakan tindakan Pak Marons terkait kejadian yang terjadi tadi di rumah sakit. Beliau harus segera diberitahu, karena pihak kepolisian sedang menunggu keputusannya." Danny berkata pelan, berusaha menjelaskan agar Kaliana bisa mengerti.


πŸ“±"Keputusan Pak Marons soal kejadian tadi?" Tanya Kaliana mulai berpikir cepat dan telah surut emosinya. 'Mungkin benar Pak Danny, ada alasan yang urgent.' Kaliana ngebatin lalu menenangkan hati dan pikirannya.

__ADS_1


πŸ“±"Iya, Mbak. Begini, ya... Tadi saya dihubungi oleh pihak kepolisian, tepatnya penyidik polisi untuk mempersiapkan tuntutan kepada orang yang bernama Purnomo, alias Punguk." Danny menjelaskan, agar Kaliana bisa mengerti dan tidak emosi.


πŸ“±"Persiapan tuntutan kepada Punguk? Bukan kepada sekretarisnya?" Tanya Kaliana yang belum mengerti arah penjelasan Danny. Dia jadi konsentrasi mendengar apa yang dikatakan Danny.


πŸ“±"Mungkin akan nyangkut ke sana. Tetapi pihak penyidik meminta kami untuk menuntut orang yang bernama Punguk dulu, karena momennya pas. Orangnya sekarang ada di kantor polisi dengan tuduhan penganiayaan. Jadi kami diminta untuk menambah tuntutan tentang peristiwa penjebakan Pak Marons di Malang. Pihak kepolisian sudah memiliki bukti itu, jadi sedang menunggu surat penuntutan dari kami." Danny menjelaskan secara detail.


Kaliana jadi mengerti situasi. Dia mengingat cctv yang dikirim Bram untuknya dan juga mungkin bukti lain yang ditemukan oleh Bram terkait dengan Punguk.


πŸ“±"Baik. Kalau begitu, Pak Danny segera buat surat penuntutan dan segera bawa ke kantor polisi. Ini adalah kesempatan untuk menarik keluar dalangnya. Punguk tidak akan kecebur sendirian. Dia pasti akan menarik yang lainnya. Jadi Pak Danny siap-siap untuk berhadapan dengan pengacara keluarga korban." Ucap Kaliana yang sudah bisa membaca, ke arah mana kasus ini akan bergulir.


πŸ“±"Itu yang aku pikirkan, makanya tadi menghubungi Pak Marons. Beliau menyerahkan masalah hukumnya ke saya. Tapi beliau menanyakan, kenapa tiba-tiba kepolisian meminta itu dari kami. Karena beliau merasa tidak berhubungan dengan Punguk. Jadi saya terpaksa menceritakan kejadian di rumah sakit." Danny kembali menjelaskan penyebab yang membuatnya melanggar kesepakatannya dengan Kaliana.


πŸ“±"Mari kita giring mereka masuk ke perangkap yang mereka buat untuk Pak Marons. Walaupun nanti mereka bisa lolos dengan mengorbankan Punguk, kita sudah melakukan beberapa pukulan pada jantung mereka." Ucap Kaliana membayangkan, akan kepanikan orang tua Rallita. Jika mengetahui Marons menuntut Punguk yang mau menjebaknya.


πŸ“±"Itu yang saya pikirkan, sehingga menghubungi Pak Marons dan mau menghubungi Mbak Anna untuk membicarakan kasus baru di luar kasus sebelumnya. Mengenai mantan sekretaris Pak Marons, biarkan sesuai kasus ini bergulir ke mana. Jika dia ikut terseret, Pak Marons sudah angkat tangan." Danny menjelaskan apa yang dikatakan Marons ketika ditanya tentang hal itu.


πŸ“±"Baik. Pak Danny tolong tangani kelanjutannya, ya. Karena kami sedang fokus untuk mengungkap pelaku pembunuhan. Kami serahkan semua kasus bias ini kepada Pak Danny." Ucap Kaliana serius, karena dalam penyelidikan satu kasus pembunuhan, ada kasus lain yang mengikutinya.


Entah harus diungkapkan untuk membuat kasus pembunuhan terang benderang, atau ada kasus yang terungkap akibat sebuah penyelidikan. Semua itu merupakan rangkaian yang harus dihadapi Kaliana. Tetapi bagi Kaliana, jika kasus sudah ditangani oleh penyidik polisi dan sudah ada benang merahnya, dia tidak akan ikut campur.

__ADS_1


Dia hanya akan bantu perjelas, tanpa berusaha untuk intervensi. Seperti kasus yang dihadapi Pungguk saat ini, semuanya sudah jelas. Ada korban, ada dua alat bukti yang sah, tinggal dipakai gelang besi dan rompi warna jeruk.


Setelah selesai berbicara dengan Danny, Kaliana membicarakan perkembangan kasus yang terjadi di rumah sakit dengan teamnya. "Seperti bola salju yang berguling, akan membesar. Semua yang terlibat akan diseret oleh Punguk." Ucap Pak Yosa yang sudah mengerti perilaku Punguk. Dia tidak akan menanggung sendiri akibatnya.


"Iya, Pak Yosa. Itu yang aku bicarakan dengan Pak Danny. Beliau harus siap-siap, karena mungkin saja ada perlawanan dari pihak orang tua korban." Ucap Kaliana yang sudah pikirkan dampaknya.


"Tidak apa-apa, Mbak. Pak Marons hanya menuntut Punguk. Jika orang tua korban terseret, akibat perbuatannya sendiri. Kita tunggu dan jadi penonton." Ucap Yicoe setelah mendengar apa yang dikatakan Kaliana. Mereka hanya menarik ujung tali, nanti semua yang ada di tali itu akan ikut tertarik.


"Iyaaa... Aku setuju dengan Coe. Demikian juga akan terjadi dengan sekretaris itu. Dia akan terseret, karena berhubungan dengan Punguk. Hasilnya, biar pengadilan yang memutuskan." Ucap Novie menanggapi apa yang sedang terjadi.


"Iyaaa... Yang pasti, selama Punguk sedang ditahan di kantor polisi, kita bergerak cepat untuk menyelesaikan kasus ini. Tidak akan ada bukti-bukti palsu atau rekayasa yang akan merecokin penyelidikan kita." Ucap Kaliana senang setelah memikirkan apa yang sedang terjadi dan dampaknya terhadap penyelidikan mereka.


"Benar. Keluarga korban akan berpikir 1000 kali untuk menyewa orang lain lagi. Karena mereka sudah tau, usaha mereka akan berakhir sia-sia." Ucap Pak Yosa serius, setelah mendalami kasus tersebut.


"Iyaaa... Jika dendam sudah pada tingkat akut, mungkin mereka akan menyewah orang lain lagi untuk lakukan tindakam kotor. " Ucap Putra serius dan semua anggota team yang lain langsung melihatnya dengan serius. Mereka baru pernah mendengar Putra berbicara serius.


"Setelah ini, kami akan membuat makanan enak buatmu makan malam." Ucap Yicoe, membuat semua tertawa. Putra hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, melihat anggota team yang melihatnya sambil tersenyum.


...~***~...

__ADS_1


...~●○€○●~...


__ADS_2