![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Pertanyaan Kaliana membuat Bram terkejut, karena dia tidak memperhatikan itu. Pihak forensik juga, tidak membuat laporan seperti itu. "Nanti aku periksa dan berbicara dengan pihak forensik. Mungkin ada yang terlewatkan atau itu diaggap tidak penting, karena korban tidak meninggal karena itu." Bram berpikir tentang semua yang dikatakan oleh pihak forensik.
"Lalu korban meninggal karena apa? Kita hanya pikirkan kehamilannya, sampai tidak pikirkan dan bahas apa yang menyebabkan korban tewas." Ucap Kaliana serius. Dia memang ingin tahu penyebab Rallita tewas langsung dari Bram, walau Pak Yosa sudah dapat info sebelumnya dari pihak kepolisian.
Tapi sekarang Kaliana sudah berkerja sama dengan Bram, tidak ada salahnya menanyakan kepastian informasi dari sumber A1. "Aku hanya memberitahukan intinya saja, karena kau sudah mau pulang. Nanti yang lainnya secara detail saat kita bertemu lagi. Korban tewas karena kehabisan nafas. Untuk kau ketahui, korban masih hidup saat berada si selokan itu. Dilihat dari air yang ada di paru-parunya." Ucap Bram serius, sambil mengantar Kaliana ke tempat parkir.
"Berarti saat itu dia masih bisa hidup, jika ada yang menemukannya lebih cepat?" Kaliana bertanya sambil berpikir, apa yang terjadi dengan Rallita.
"Iyaa... Bisa saja dia tertolong. Hanya itu waktu yang sepi dan orang kebanyakan sedang tidur. Jadi dia berada di situ pada waktu yang tidak tepat untuk bisa ditolong." Ucap Bram serius, tidak jadi bercanda dengan Kaliana, karena melihat Kaliana sedang serius berpikir.
"Jika hasil forensik seperti itu, ini bisa jadi pembunuhan tidak berencana. Karena orangnya masih hidup saat berada di situ." Ucap Kaliana sambil terus berpikir dan menganalisa apa yang dikatakan Bram.
"Sudaaa... Naik mobilnya. Nanti baru kita selidiki lagi. Mau berencana atau tidak berencana, pelaku telah membuatnya tewas di tempat itu. Kenapa pelaku tidak menurunkan dia di depan rumahnya, tetapi di tempat itu? Jika di depan rumahnya, dia mungkin tidak akan tewas di selokan." Ucap Bram, tenang dan serius.
"Aaah... Kau... Justru pelaku ingin dia tewas di tempat itu. Persoalannya, dia masih bernafas saat berada di selokan, mungkin pelaku tidak tau itu. Kau periksa lagi hasil forensik dan foto-foto jenasahnya. Bila perlu, pakai mikroskop untuk melihat luka atau goresan ditubuhnya." Ucap Kaliana serius.
"Ada beberapa lebam dan luka goresan. Tetapi pihak forensik mengatakan itu bukan penyebab kematian korban. Itu mungkin hanya benturan saat jatuh ke selokan. Kau sudah dapat foto korban dari pengacara clientmu, bukan? Kalau ada yang kurang jelas, kau bisa minta dariku." Ucap Bram, saat Kaliana masuk ke mobil. Kaliana mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Bram.
__ADS_1
Kaliana terus berpikir di dalam mobil tentang penyebab tewasnya Rallita. Pertanyaan Bram mengganggunya. Kenapa pelaku tidak menurunkan korban di depan rumahnya, tetapi di pinggir jalan itu. Sedangkan untuk jalan ke rumahnya lumayan jauh dari gerbang komplek.
Kaliana mengirim pesan kepada Bram untuk email foto jenasah saat belum di autopsi. Kaliana dan team akan menelitinya. Ada sesuatu yang menggnjal dan janggal menurut Kaliana. Apalagi tadi Bram katakan ada lebam dan goresan. Kaliana ingin tahu, itu berada di bagian mana tubuh korbsn.
Foto yang diberikan Danny tidak jelas terlihat lebam dan goresan. Dia ingin memeriksanya untuk melengkapi analisanya. 'Korban pasti diturunkan sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri, sehingga tidak menyadari dia berada di selokan.' Itu yang ada dalam pikiran Kaliana. Kaliana jadi merinding membayangkan korban diturunkan di depan rumah. Marons akan ketiban pulung.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, membuat Kaliana terkejut. Dia segera mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang menelponnya. Karena ponselnya dalam kondisi bergetar, jadi dia tidak mengetahui siapa yang telpon dari bunyi ringtone. Ketika melihat siapa yang telpon, Kaliana segera meresponnya.
📱"Hallooo, Kalia... Lagi sibuk?" Tanya Marons, saat Kaliana merespon panggilannya.
📱"Hallooo, Pak. Tidak, juga. Ini lagi di jalan, Pak." Ucap Kaliana senang. Karena dia sedang memikirkan untuk menanyakan suatu hal kepada Marons, ternyata sudah ditelpon terlebih dahulu.
📱"Apa kita bisa bertemu? Aku baru kembali dari luar kota. Ada yang aku bawa untukmu. Kalau dekat dengan kantorku, silahkan ke kantorku. Jika tidak, kita bisa bertemu di tempat yang pertama kali bertemu. Aku akan makan siang di sana. Nanti aku akan bawa sekalian." Ucap Marons senang, sambil menunggu keputusan Kaliana.
📱"Baik. Aku akan ke sana. Sampai ketemu." Ucap Marons lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah Kaliana membalas salamnya.
Kaliana tidak meneruskan analisanya, tetapi lebih konsen untuk bertemu dengan Marons. Dia tidak menyangka akan lebih cepat bertemu dengan Marons, setelah pertemuan terakhir mereka di rumahnya saat pemakaman korban.
Setelah berkolaborasi dengan Bram dan Bram sudah tahu tentang keterlibatannya dengan Marons, Kaliana merasa lega bertemu Marons. Bram tahu, Marons adalah clientnya. Dia tidak akan dikaitkan dengan kasus yang sedang diselidiki. Dia tidak perlu khawatir akan dimintai keterangan atau diselidiki sebagai saksi jika bertemu dengan Marons.
__ADS_1
Kaliana tiba di restoran yang dimaksudkan Marons sebagai tempat pertama kali bertemu dengan Marons dan Danny. Kaliana memarkirkan 'sopapa'nya tidak di tempat biasa, karena waktu makan siang. Walau pun sudah mulai sepi, tapi tempat parkir yang biasa, sudah ada mobil orang lain.
Kaliana bersyukur, dapat tempat lain yang cukup adem. Saat masuk, dia melihat Marons sudah duduk di tempat biasa. Dia menyalaminya lalu duduk di depannya. Kaliana terkejut melihat perubahan wajah Marons yang tidak segar dan terlihat sangat lelah.
"Aku baru kembali dari Semarang dan membawakan ini untukmu, semoga kau suka. Aku membelinya untuk Danny dan Yogi, jadi teringat membeli untukmu juga. Tapi setelah di pesawat, baru teringat kau ada bersama teammu. Mungkin kurang untuk kalian semua." Ucap Marons sambil meletakan paper bag wingko babat di atas meja.
Kaliana menerimanya dengan hati senang, karena itu adalah cemilan kesukaan mereka semua. Dia tersenyum dalam hati membayangkan Putra akan berebutan dengan Yicoe, Novie dan Pak Yosa.
"Terima kasih, Pak." Kaliana menurunkan paper bag wingko babat ke kursi. Dia menyadari Marons sedang menatapnya. Kaliana mengagumi Marons, yang masih sempat membeli sesuatu untuk sahabatnya.
"Kita makan dulu, baru ngobrol, ya. Aku tadi sudah sempat makan sedikit di pesawat, tapi sekarang lapar lagi. Kau mau makan apa?" Tanya Marons, saat memberikan isyarat kepada pelayan untuk melayani mereka.
"Aku masih kenyang, Pak. Aku minta minum saja." Ucap Kaliana, karena memang dia masih kenyang seperti yang dikatakannya kepada Bram.
"Pilih sesuatu untuk bisa menemaniku makan. Tidak baik, aku makan sendiri dan kau hanya melihat. Aku tidak akan berselera makan." Ucap Marons, berharap Kaliana mau menemaninya makan.
"Baik, Pak. Aku pesan french fries saja." Ucap Kaliana merasa tidak enak dengan apa yang dikatakan Marons. Apalagi melihat wajah tidak segar dan tidak berselera makan, karenanya.
Marons memesan menunya dan juga french friers untuk Kaliana, tetapi ditambah dengan fried chicken. Melihat itu, kaliana jadi terdiam. Dia tidak bisa menolak atau protes, seperti dilakukan kepada Bram. Yang dilakukan Marons membuat hatinya tidak tahan untuk duduk di depannya. Kaliana minta ijin ke toilet untuk menyembunyikan rasa harunya.
__ADS_1
...~***~...
...~●○¤○●~...