![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Danny melihat Marons dengan heran, karena wajahnya yang berubah sedikit lebih baik dari sebelumnya yang kusut masai. "Apanya yang lucu, sampai kau tersenyum begitu?" Tanya Danny heran.
"Mungkin bagi orang lain tidak lucu, tapi bagiku sangat lucu. Dia bergaya tomboy, tapi membiarkan rambutnya panjang. Aku sering membawa karet berwarna abu dan hitam untuknya, agar bisa mengikat rambutnya. Kalau dia tidak mau mengikat rambutnya, aku akan mengikatnya dari belakang seperti ekor kuda lalu mencoleknya supaya mengayun ke kiri dan kanan. Aku suka lakukan itu, karena aku duduk di belakangnya." Marons mengenang masa sekolahnya yang menyenangkan.
"Temanmu yang bisa membuat wajahmu seperti ini, sekarang ada dimana?" Tanya Danny heran melihat wajah Marons yang agak berubah walaupun kusutnya tetap kelihatan.
"Tidak tau. Dia pindah sekolah, karena ikut Papanya yang polisi. Jadi mungkin mereka berpindah tempat, sesuai tempat tugas Papanya. Dulu kan belum ada ponsel seperti sekarang, jadi jika berpisah sangat sulit untuk bertemu lagi. Berbeda dengan anak sekolah sekarang, sudah bisa pegang ponsel sendiri. Aku tidak tau lagi setelah belasan tahun berpisah." Ucap Marons masih mengenang.
"Kau masih ingat wajahnya atau namanya?" Tanya Danny kepo, melihat Marons bisa bicara lebih santai. Dia ingin Marons bisa sedikit lebih tenang menghadapi persoalan yang sangat berat baginya.
"Kalau wajah, mungkin tidak ingat jika bertemu. Sekarang sudah usia kepala tiga, pasti sudah berubah. Kalau nama, aku ingat. Karena aku sering mengganggunya dengan memanggil namanya, dobel. 'Anny-Anny.' Aku lupa nama panjangnya, karena dia tidak lama berada di kelasku. Yang aku ingat, dia pintar dan suka meminjamkan PR nya untuk aku salin." Ucap Marons berhenti, saat melihat Kaliana mendekati meja mereka sambil membawa air jeruk.
Kaliana kembali duduk di depan Marons dan Danny. Dia mengeluarkan note dan pulpen dari kantong rompinya untuk mencatat semua yang akan dipercakapkan. Ketika menyadari Marons sedang melihatnya, Kaliana buru-buru memindahkan pulpennya ke tangan kanannya untuk menulis. Selama sekolah dia kidal, jadi khawatir Marons mengingatnya.
"Mbak Anna, terima kasih sudah mau membantu kami dalam kasus ini. Mungkin saudara saya sudah memberitahukan peristiwa ini." Ucap Danny membuka percakapan.
__ADS_1
"Sama-sama, Pak Danny. Tidak banyak yang disampaikan. Saya diminta untuk bicara langsung dengan Pak Danny dan Pak Marons, agar bisa tau dari sumber pertama." Ucap Kaliana serius. Marons memperhatikan Kaliana dengan serius, saat berbicara dengan Danny.
"Sebelum kita bicara tentang kasus ini, Mbak Anna silahkan lihat kontrak kerja yang sudah kami siapkan untuk menangani kasus ini." Danny berkata sambil mengeluarkan lembaran kertas bermetrai dari dalam tasnya.
Kaliana membaca dan meneliti point-point yang telah dibuat Danny sebagai pengacara Marons. "Pak Danny, boleh saya koreksi surat perjanjian ini? Ada point yang tidak saya setujui." Ucap Kaliana serius sambil melihat Danny.
"Silahkan, Mbak. Point yang mana saja yang anda tidak setujui?" Tanya Danny heran. Begitu juga dengan Marons.
"Ini, Pak Danny. Saya setuju point pertama untuk mencari bukti siapa yang membunuh korban. Tetapi poin kedua untuk membebaskan Pak Marons dari jerat hukum, saya tidak setuju. Karena ketika kami bekerja dan menemukan bukti bahwa Pak Marons terlibat, kami tidak bisa bantu membebaskannya." Ucap Kaliana serius.
"sebenarnya, point pertama sudah cukup untuk mengakomodir point kedua. Jika Pak Marons tidak terlibat, secara otomatis kami sudah membebaskannya dari jerat hukum ketika menemukan bukti siapa pembunuhnya."
Danny mengangguk setuju, setelah melihat isyarat mata Marons bahwa dia setuju dengan apa yang di katakan Kaliana. Dia yang tadinya agak meragukan Kaliana, jadi respek dengan cara berpikir dan kerjanya. "Pak Danny bisa menceritakan dari awal tentang kasus ini kepada saya?" Tanya Kaliana sambil menyiapkan catatan untuk mencatat hal-hal penting.
Danny menceritakan apa yang terjadi sampai pemeriksaan di kantor polisi, dan pembuatan BAP sebagai saksi. "Kami sedang menunggu hasil autopsi, agar bisa tau dengan pasti penyebab kematiannya." Ucap Danny menjelaskan.
Kaliana bertanya banyak hal kepada Danny dan Maron karena terkejut dengan cerita yang disampaikan. Yang paling tidak mengerti, kenapa korban bisa ada di selokan dekat dengan tempat tinggalnya dini hari. Kaliana melihat Marons dengan serius, karena dia sebagai suami tidak tahu istrinya keluar di malam hari.
__ADS_1
'Ada apa sebenarnya dengan kehidupan rumah tangga mereka, sehingga Marons tidak mengetahui keberadaan istrinya di luar rumah? Jika istrinya dibunuh oleh orang luar, banyak hal yang harus diselidiki. Tetapi jika dilakukan oleh Marons, akan sangat berat baginya. Baru bertemu dan harus menghantarkan dia ke tempat yang tidak mengenakan.' Kaliana berbicara sendiri dengan pikirannya, sambil terus berpikir.
"Dari cerita yang disampaikan Pak Danny, Pak Marons tidak usah khawatir. Pak Marons cukup bertahan dengan apa yang dikatakan itu. Jika Pak Marons perlu bukti untuk mengungkapkan siapa pembunuh korban, baru perlu penyelidik." Ucap Kaliana tenang, karena yang dikatakan Danny tidak mengkhawatirkan baginya.
"Tadinya saya juga berpikir begitu, ketika Pak Marons menceritakan posisinya saat istrinya ditemukan tewas. Tetapi ada kejadian yang mengkhawatirkan saya, karena hubungan Pak Marons dengan istrinya kurang baik belakangan ini. Mereka baru bertengkar tiga hari lalu." Ucap Danny cepat, karena khawatir Kaliana hanya mencari bukti untuk menemukan pembunuh. Tanpa berpikir ada hal yang bisa mengaitkan Marons.
"Oooh... Mohon maaf, Pak Marons. Kalau begitu saya akan menanyakan hal yang agak pribadi tentang anda dan istri anda. Saya berharap anda bisa bekerja sama dalam hal ini." Kaliana terkejut mendengar apa yang dikatakan Danny. Dia melihat Marons dengan serius. Marons mengangguk mengerti.
"Mbak Anna, nanti Pak Marons menceritakan peristiwanya kepada anda jika perlukan. Tetapi yang saya khawatir, saat beliau bertengkar tiga hari lalu, istrinya ada meninggalkan cakaran di tangannya. Jangan sampai beliau terseret karena itu." Ucap Danny lagi. Dia khawatir Marons tidak mengatakan hal itu kepada Kaliana.
"Meninggalkan cakaran? Apakah sudah sembuh dan ada bekasnya? Apa saya bisa melihat cakarannya, Pak Marons?" Tanya Kaliana serius dan waspada. Marons melipat lengan kemejanya dan memperlihatkan luka cakaran istrinya kepada Kaliana.
Melihat itu, Kaliana melongo. Lukanya cukup dalam dan belum sembuh. "Pak Marons ke dokter untuk mengobati ini?" Tanya Kaliana refleks memegang tangan Marons untuk melihat sekeliling tangannya. Insting penyidik tidak bisa ditahan untuk menyelidiki. Apalagi lukanya masih terbilang baru, bisa dikaitkan dengan tewas istrinya.
"Tidak. Saya hanya menggolesnya dengan salep, karena tidak enak jika ditanya dokter. Nanti panjang urusan dan omongan. Nanti dikira saya habis berantem dengan wanita. Sebenarnya sudah bisa kering, hanya saya harus pakai kemeja tangan panjang dan jas setiap hari, jadi agak lama keringnya." Ucap Marons pelan, karena merasa tidak enak hati dan tidak mengerti arah pertanyaan Kaliana. Mendengar Marons tidak memeriksakan lukanya ke dokter, Kaliana melihat Marons dan Danny bergantian dengan cemas.
...~***~...
__ADS_1
...~●○♡○●~...