C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
105. Gelar Perkara (GP) 8.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Kebart tertegun mendengar yang dikatakan istrinya. Selama ini Istrinya tidak mau menerima Rallita di rumah, tapi dia tidak menyangka istrinya begitu terluka karena kehadiran Rallita. Dia selalu melindungi anaknya dari Rallita, karena khawatir Rallita berubah pikiran atau mengatakan sesuatu kepada anaknya.


"Aku tidak pernah melakukan apa yang salah setelah menikah denganmu. Aku mengikuti apa yang dia katakan, karena dia mengancam mau mengambil anak kita. Kau tau sendiri, dia pernah datang ke rumah dan mau mengajaknya pergi." Kebart berkata sambil mengelus punggung istrinya untuk menenangkannya.


"Sekarang baru kau katakan itu? Apa aku tidak tau, kau lebih mengutamakan dia dariku? Kau memberikan apa saja yang dia minta, tanpa memikirkan perasaanku. Kau pergi menemuinya dan menghiburnya, ketika dia mengatakan ada sesuatu yang terjadi antara dia dengan suaminya." Istri Kebart masih belum puas menumpahkan semua yang dipendamnya selama ini.


"Pertanyaan Ibu Kaliana menyadarkanku. Ternyata, bukan saja karena anak itu, tetapi kau menyintainya. Bereskan cinta di hatimu kepada wanita itu, sebelum mengatakan cinta kepada orang lain." Istri Kebart berkata sambil berlinang airmata.


Kebart kembali terdiam mendengar apa yang dikatakan istrinya. Dia tidak bisa menyangkal, karena dia memang tidak bisa menghindari Rallita. Selain mereka bersaudara, juga cinta pertamanya.


"Baik, Ibu Kebart. Setelah gelar perkara ini, silahkan menyelesaikan secara pribadi dan keluarga semua kekacauan yang tersimpan selama ini. Selesaikan juga apa yang ditimbulkan oleh dia yang sudah tidak ada di dunia ini." Kaliana berkata setelah merasa apa yang diutarakan istri Kebart sudah cukup.


"Begitu juga dengan Pak Jaret, setelah gelar perkara ini, silahkan selesaikan apa yang terjadi akibat apa yang dikatakan korban. Agar tidak sembunyi-sembunyi datang melihat anak itu. Pastikan dengan benar, jangan hanya dengar dari sebelah pihak." Kaliana berkata sambil melihat Jaret dengan serius.


Kaliana berkata demikian, karena mengingat Jaret datang ke rumah sakit untuk melihat anak tersebut. Jadi Kaliana menarik kesimpulan, Jaret sering mengikuti perkembangan anak tersebut. Jaret percaya, anak tersebit adalah anaknya berdasarkan apa yang dikatakan Rallita.

__ADS_1


Dr Yogi melihat Kaliana dengan takjub, karena mengingat kejadian di rumah sakit saat bersama dr Dewi dan Kaliana melihat kehadiran Jaret di depan kamar rawat anak Kebart.


"Sekarang, Pak Ewan dan Ibu. Apakah masih tidak mau mengatakan yang sebenarnya setelah melihat kekacauan yang dibuat putri anda? Atau anda menyangka bisa menyimpannya sampai kalian bawa ke liang kubur seperti anak kalian itu?" Kaliana mengalihkan perhatian semua orang yang hadir kepada orang tua Rallita.


"Apa lagi yang harus kami katakan? Anda sudah membuat semua ini terbuka dan mempermalukan kami di depan banyak orang. Apakah itu belum cukup buat anda?" Ucap Papa Rallita emosi kepada Kaliana, karena telah membongkar apa yang disimpan keluarganya bertahun-tahun.


"Pak Ewan... Anda sangat egois memikirkan keluarga anda, tanpa memikirkan keluarga orang lain. Anda tidak pikirkan cucu anda yang sedang sakit? Anda hanya pikir rasa malu keluarga anda? Yang sedang dirawat oleh Ibu Kebart adalah cucu anda." Kaliana melihat Papa Rallita dengan wajah yang kesal, karena belum juga sadar setelah apa yang dikatakan oleh istri Kebart.


"Saya ingatkan Pak Ewan dan Ibu, tidak ada sesuatu yang disembunyikan, yang tidak diungkapkan. Walaupun itu disimpan rapat sekali pun, lambat laun akan diketahui. Ibarat durian yang disimpan di tempat tersembunyi sekali pun, akan tercium juga. Jadi silahkan selesaikan selagi ada kesempatan untuk memperbaiki yang rusak." Ucap Kaliana lagi dengan serius.


Kaliana menggelar perkara ini, bukan saja untuk mengetahui pelaku pembunuhan, tetapi juga mengungkapkan apa yang terkait dengan kejadian tersebut. Sehingga dengan demikian bisa memberikan kesempatan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi, ibas dari kejadian tersebut.


Papa dan Mama Rallita langsung melihat Kaliana dengan mata terbelalak, karena sangat kaget mendengar nama anak mereka disebut oleh Kaliana. "Mengapa anda membawa-bawa Fendry dalam hal ini?" Tanya Papa Rallita galak dan sudah emosi. Sehingga membuat nada suaranya terdengar jelas dalam ruangan. Apalagi semua yang hadir sedang terdiam, sambil memandang Fendry.


Mereka jadi berpikir, apalagi yang akan terjadi akibat pertanyaan Kaliana yang tiba-tiba dan tidak terduga itu. Mereka semua menanti dengan rasa penasaran yang tidak bisa ditahan. Kaliana tetap melihat ke arah Fendry menunggu jawabannya.


"Pak Ewan... Apakah saudara Fendry barang, sehingga bisa dibawa-bawa? Anda masih mau menutupi semua yang dilakukannya seperti yang anda lakukan kepada korban? Ternyata anda tidak mengerti juga apa yang saya katakan tadi. Anda masih menganggap orang tidak akan tahu apa yang anak-anak anda lakukan?" Kaliana berkata dengan tenang kepada Papa Rallita, tetapi kembali melihat Fendry yang mulai kebingungan.

__ADS_1


Kaliana jadi tidak sabar melihat Fendry dan kedua orang tuanya masih diam membisu, tanpa ada tanda-tanda mau mengatakan sesuatu. "Ibu Ewan... Anda seorang ibu. Apakah tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu yang terjadi dengan anak-anak anda?" Tanya Kaliana tiba-tiba kepada Mama Rallita, membuat Mama Rallita kebingungan.


"Karena kalian tidak mau jawab, saya jadi tahu, anak-anak kalian ini belajar dari mana. Terutama korban, dia mencontohi apa yang dilakukan orang tuanya. Memanipulasi segala hal untuk kesenangan dirinya." Kaliana berkata tanpa melihat wajah Mama Rallita yang mulai berubah warna.


"Kalian mengorbankan orang lain untuk menutupi keburukan anak-anak kalian. Saudara Fendry... Apa anda tidak mendengar yang dikatakan oleh Ibu Kebart? Anak anda sedang sakit. Apakah anda tetap bersikap cuek dan berlindung dibalik punggung orang tua anda?" Tanya Kaliana membuat Kebart dan Jaret kembali berdiri, dan melihat ke arah Papa Rallita dan Fendry, lalu Kaliana.


"Apa maksud anda...?" Tanya Jaret dan Kebart bersamaan kepada Kaliana.


"Duduk... Lalu dengarkan penjelasan mereka. Terutama anda Pak Kebart, saya sarankan untuk berpikir jernih untuk melepaskan diri dari pengaruh buruk Om mu yang telah membuat istri anda menderita." Kaliana berkata tanpa peduli kepada orang tua Rallita.


"Mereka memanfaatkan apa saja dan siapa saja untuk menutupi keburukan mereka. Termasuk dengan menikahkan anak mereka dengan Pak Marons, untuk menutupi keburukan keluarga mereka dengan keluarga orang tua Pak Marons."


Seperti yang sudah saya katakan tadi, setelah ini Pak Kebart dan Ibu selesaikan dengan Om dan Tante kalian juga bapak dari anak yang sedang kalian rawat itu. Ibu Kebart, itu bukan anak Pak Kebart. Suami anda korban dari rasa cintanya yang salah pada tempatnya. Sehingga dimantaatkan oleh Om dan sepupunya, keluarganya sendiri."


"Untuk anda saudara Fendry, jadilah pribadi yang bertanggung jawab untuk menanggung perbuatan anda. Apapun alasannya, ada seorang anak lahir dari perbuatan kalian kakak beradik." Kaliana memperingatkan Fendry.


"Anda terlihat tenang-tenang saja, saat korban tewas. Apakah anda sengaja menghilangkan nyawanya, agar terlepas dari tekanan kakak anda?" Tanya Kaliana serius, tanpa beralih tatapannya dari Fendry.

__ADS_1


...~***~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2