C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Terjebak.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Danny telpon menanyakan waktu pasti kembali ke Jakarta, karena dia ingin membicarakan perkembangan kasus tewasnya Rallita. Dia telah diberi informasi bahwa keluarga korban akan dimintai keterangan di kantor polisi. Marons menanggapinya dengan dingin, karena apa yang baru di alaminya di Malang.


Tidak lama kemudian, Yogi juga menelponnya untuk menanyakan rencana kembalinya apa berubah atau tidak. Karena dr Dewi mengundang mereka bertiga untuk makan malam, dalam rangka merayakan ulang tahunnya. Jadi Yogi mengingatkan Marons, jangan sampai perpanjang tugasnya di Malang. Marons meyakinkan Yogi, akan hadir tanpa mengatakan bahwa dia sudah ada di Jakarta.


Menjelang waktu keberangkatan pesawat awal yang akan ditumpangi Marons sebelum di ganti oleh Kaliana, Marons menunggu dengan tidak sabar. Dia jadi berpikir, mungkin hanya perasaan mereka saja, orang itu melakukan penerbangan yang sama dengannya.


Sekitar satu jam lagi akan take off dan sudah hampir tiba waktu boarding, tiba-tiba sekretarisnya kembali menghubunginya. Marons langsung meresponnya dengan cepat.


📱"Halloo, Pak. Bapak dimana? Kenapa belum tiba di bandara? Sebentar lagi boarding, Pak." Sekretarisnya tanya beruntun dan panik. Hal itu membuat Marons curiga dan berpikir cepat untuk menyakinkannya.


📱"Ada apa? Sekarang kau ada di mana? Dan dari mana kau tau, saya belum tiba di bandara?" Tanya Marons serius dan tegas. Sekretarisnya kelabakan dan tidak bisa menjawab pertanyaan Marons yang tidak diduganya.


Dia berusaha menjawab, tetapi gagap dan terpatah-patah. 📱"Sa ya hanya mau mengingatkan, Pak." Dia menjawab apa yang seterlintas di benaknya.


📱"Mengingatkan? Apakah tadi kau mengingatkan atau sedang mengecek keberadaan saya?" Tanya Marons tanpa memutar atau berbicara berlama-lama.


Keraguan dan kepanikan sekretarisnya membuat Marons menduga seperti yang dicurigai oleh Kaliana dan team. Marons segera memutuskan hubungan telponnya, dengan marah. Dia mengambil kunci mobil, lalu segera keluar rumah dan menuju kantor untuk menemui sekretarisnya.


Dengan apa yang dilakukan sekretarisnya, Marons yakin, dia terlibat dan bekerja sama dengan orang yang mengikutinya. Dia berusaha konsentrasi agar tidak terjadi sesuatu yang merugikannya, karena mobil yang dibawanya menuju kantor dalam kecepatan di atas normal. Emosinya meningkat membayangkan sekretaris yang selama ini dipercaya untuk bekerja bersamanya, menusuknya dari belakang.


Dia ingin secepatnya tiba di kantor untuk berbicara langsung dengan sekretarisnya dan menyelesaikan persoalan pribadi dan perusahaannya secepat mungkin. Dia sangat tidak tenang belakangan ini, membuatnya tidak bisa konsentrasi dengan pekerjaan yang menyita waktu dan pikirannya.


Marons menggunakan lift khusus, sehingga tidak ada yang melihat perubahan wajahnya. Dia langsung menuju ruangannya, dimana sekretarisnya ada di bagian depan ruangan tersebut. Sekretaris yang sedang bingung dan panik, terkejut melihat bossnya tiba-tiba keluar dari lift. Wajahnya langsung memutih dan membeku, saat melihat bossnya sudah berdiri di hadapannya dengan wajah memerah dan rahang mengeras.

__ADS_1


Sejak telpon dengan Marons, dia bingung dan panik mencari Marons. Dia makin panik, saat terus ditelpon oleh orang yang mengikuti Marons untuk menanyakan keberadaan Marons.


Sedangkan dia belum menemukan jawaban yang bisa diterima oleh bossnya. Pertanyaan Marons membuatnya bingung dan khawatir. Dia takut bossnya marah. "Ikut saya..!" Ucap Marons singkat, lalu segera masuk ke ruang kerjanya.


Sekretarisnya mengikuti Marons dengan kaki gemetar, karena takut melihat kemarahan dan juga suara Marons yang belum pernah dilihat dan didengar selama bekerja sebagai sekretarisnya.


"Kau bekerja sebagai sekretaris saya sudah berapa lama?" Tanya Marons setelah duduk di kursi kebesarannya.


"Sudah hampir dua tahun, Pak." Jawab sekretarisnya pelan dan takut melihat kemarahan dan tatapan tajam bossnya yang tidak beralih dari matanya.


"Kau menjadi sekretaris semenjak saya berada di ruangan ini. Lalu sekarang apa yang kau lakukan dengan lelaki yang mengikuti saya itu?" Tanya Marons langsung, tanpa memutar. Dia sudah tidak sabar mendengar penjelasan sekretarisnya tentang apa yang dilakukannya.


"Dia mengikuti bapak untuk melindungi, Pak. Menurutnya ada orang yang mau mencelakai bapak." Jawab sekretarisnya ragu-ragu, mencoba memberikan jawaban yang bisa meluputkan dirinya dari kemarahan bossnya. Tetapi dengan dia mengatakan demikian, membuat Marons makin emosi dan geram.


"Apa hubunganmu dengannya sehingga kau begitu saja percaya dengan ucapan orang itu?" Tanya Marons lagi yang tidak bisa terima alasan sekretarisnya.


"Dia pacar saya, Pak." Jawab sekretarisnya pelan dan makin takut melihat kemarahan bossnya.


"Pacarmu? Bukannya kau belum lama ini baru menikah?" Tanya Marons heran. Walaupun dalam kemarahannya dia masih bisa berpikir dengan baik, karena dia menghadiri resepsi pernikahan sekretarisnya dengan Rallita.


"Kami sudah bercerai dan sekarang berpacaran dengan yang ini, Pak." Sekretarisnya sudah tidak punya alasan lain, selain mengatakan yang sebenarnya.


"Sudah berapa lama kau pacaran dengan orang ini?" Tanya Marons menyelidik, agar bisa berbicara dengan Kaliana.


"Sudah hampir dua minggu, Pak." Sekretarisnya makin takut melihat rahang Marons makin kaku.

__ADS_1


"Go*lok... Kau baru pacaran dengannya dua minggu, lalu percaya dia akan melindungiku? Apa saya pernah mengatahkan padamu, saya perlu bodyguard? Apa saya sudah celaka baru kembali kewarasanmu?" Tanya Marons yang sudah sangat marah, karena tahu orang yang mengikutinya adalah orang yang disewa oleh keluarga Rallita dan sekretarisnya menjadi kaki tangannya dengan alasan yang konyol.


Sekretarisnya langsung tertunduk lemas, sambil meremas tangannya yang gemetar, karena baru pernah mendengar bossnya berkata kasar dan sangat marah.


"Maafkan saya, Pak. Saya tidak berpikir dia mau mencelakai bapak. Dia benar-benar mau melindungi bapak." Sekretarisnya kembali mencoba menyelamatkan dirinya.


"Jika kau tidak berhenti memberikan alasan yang mamalukan isi kepalamu itu, saya akan memanggil security untuk melemparmu ke jalanan." Kemarahan Marons makin naik level.


"Ini kebaikan terakhir saya untukmu. Segera tinggalkan perusahaan ini dengan terima gaji bulan ini. Jika tidak, saya akan menyerahkanmu kepada polisi, karena bekerja sama dengan orang yang mematai-matai saya dan mau mencelakai saya." Ucap Marons berubah dingin dan kaku.


"Saya memberikan kesempatan untukmu bekerja pada orang-orang itu, dengan tidak membawamu ke kantor polisi. Mungkin mereka menyediakan pekerjaan yang lebih baik untukmu dan pacarmu itu." Sekretarisnya makin tertunduk lesu, dia menyadari telah kehilangan pekerjaan sebagai sekretaris CEO.


Marons segera menghubungi Asisten Ayahnya, juga bagian HRD dan security. Mereka semua datang dengan cepat, karena mendengar suara Marons yang tidak seperti biasanya.


"Segera singkirkan dia dari hadapanku. Saya tidak ingin melihat dia lebih lama lagi di perusahaan ini. Kedunguannya hampir mencelakaiku." Ucap Marons serius dan marah, karena dia masih trauma dengan orang sekitar yang jahat dan menghianatinya.


"Security, lucuti semua yang berhubungan dengan perusahaan dari orang ini. Jika itu laptopnya milik pribadi, lekas sita dan ganti dengan yang baru untuknya. Dia kaki tangan orang ...." Marons menjelaskan alasan kemarahannya kepada kepala HRD, Asisten Ayahnya dan juga kepada kepala security.


"Kalau begitu, kita serahkan saja kepada yang berwajib, Pak." Usul security, geram melihat sekretaris yang telah menusuk boss mereka dari belakang.


"Tunggu waktunya, jika masih membuat ulah." Marons berkata dingin, tanpa melihat sekretarisnya sudah sangat sedih karena kehilangan pekerjaannya.


...~***~...


...~●○¤○●~...

__ADS_1


__ADS_2