![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Sebelumnya, karena kesibukan dan jarang bertemu dengan orang tua Rallita, Marons tidak pikirkan hal itu. Dia hanya berpikir bagaimana cara berbicara dengan orang tua Rallita tentang sikap dan perilaku Rallita yang sering menentangnya. Serta pertemuannya dengan Rallita dan seorang pria di hotel. Jika nanti terjadi perceraian, karena Matons tidak menerima sikap dan tingkah laku Rallita.
Marons jadi berpikir tentang sumber dana yang didapatkan Rallita setelah mendengar pertanyaan Kaliana. Selama ini, dia hanya berpikir dengan dana yang terbatas diberikan, akan menghentikan kegiatannya di luar rumah yang tidak bermanfaat.
"Mungkin juga dia minta tolong pada sepupuhnya, yang telpon tengah malam itu. Kalian sudah tau siapa dia bukan? Dia selalu ada jika Rallita membutuhkan bantuannya. Dalam berbagai hal, bukan hanya soal uang." Marons berpikir lagi, tentang hubungan persaudaraan Rallita dan Kebart, sepupuhnya. Dengan cara kerja Kaliana, dia yakin Kaliana sudah memeriksa sepupuh Rallita. Kaliana mengangguk mendengar pertanyaan Marons.
"Belum secara resmi memeriksanya, tapi kami sudah tau siapa dia. Hari ini, kami baru periksa Jaret." Ucap Kaliana, ingin memberitahukan hasil pemeriksaan tentang Ayah Janin, agar Marons tidak perlu me'reka-reka siapa Ayah dari janin yang dikandung istrinya.
"Siapa Jaret?" Tanya Marons singkat dan penasaran, karena Kaliana tiba-tiba menyebut nama seseorang.
"Pria yang bersama korban di hotel itu." Ucap Kaliana tanpa menjelaskan tentang orang tuanya.
"Oooh... Kalian sudah bertemu dengannya secara pribadi dan sudah menanyakannya? Apa benar dia Ayah dari bayi itu?" Tanya Marons sambil menatap Kaliana dengan serius.
"Iya, Pak. Hasil resmi sudah keluar, benar, dia Ayah dari bayi itu." Ucap Kaliana pelan. Hilang ketegasannya dan sikapnya sebagai seorang penyidik, saat melihat perubahan wajah Marons yang geram.
__ADS_1
"Berarti apa yang dilakukan Danny dengan memberikan foto itu ada manfaatnya. Terima kasih sudah memberikan foto itu kepada Danny. Semoga bisa ada titik terang setelah bertemu dengannya. Aku tidak menuduhnya membunuh Rallita, tetapi dengan mengetahui dia Ayah dari bayi itu, akan ada jalan untuk mencari pelaku sebenarnya." Ucap Marons sambil menarik nafas panjang.
'Tetapi dengan diketahuinya Ayah dari bayi itu, arah pencanrian dan tunduhan bisa mengarah padamu.' Kaliana berkata dalam hati mengingat keterangan Jaret di depan penyidik. Kaliana tidak mengatakan itu kepada Marons, tapi berencana akan mendiskusikan itu dengan Danny sebagai pengacaranya.
"Beberapa waktu belakangan ini, aku berpikir tentang semua hal yang menyangkut peristiwa ini. Semuanya membuat aku seperti berada dalam pusaran yang tidak bertepi." Ucap Marons sambil mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menyandarkan punggungnya.
"Aku tidak tau akan terhempas di mana lagi. Banyak hal yang aku tidak tau tentang kehidupan Rallita. Setelah menikah, kehidupannya yang seperti tadi kita bicarakan membuatku merasa dihempaskan pada suatu kenyataan yang tidak pernah aku pikirkan atau bayangkan." Ucap Marons lagi.
"Aku ini dari keluarga yang teratur. Orang tuaku tidak pernah mengijinkan aku berkumpul dengan teman yang tidak jelas. Sehingga aku selalu berada dalam lingkungan yang teratur. Tadinya Rallita dan keluarganya juga menunjukan hal itu, jadi kedua orang tuaku mempercainya, sebagaimana aku mempercainya. Hingga orang tuaku setuju kami menikah."
"Tetapi setelah menikah dan melihat cara hidupnya, aku merasa seperti berada di dunia lain. Aku sudah berusaha untuk masuk dan membaurkan diri, tetapi hatiku tidak menerina lingkungannya. Akhirnya aku membiarkan dia menjalani apa yang dia anggap baik baginya."
"Aku bukan saja mengurusinya, tetapi kehidupan ribuan karyawan ada dalam tanggung jawabku. Ayahku sudah mempercayakan tanggung jawab itu kepadaku, jadi aku tidak bisa seenaknya saja mengabaikan itu karena rengean seorang istri."
"Aku berkata begini, bukan aku mau menjelekan dia, karena dia sudah tidak ada. Tetapi karena kau menanyakan tentang busana dan kehidupannya, jadi itu gambarannya. Dengan perilaku Rallita yang sering playing victim, mungkin saja keluarganya sedang berpikir, aku yang menghabisinya karena tidak tahan dengan perilakunya." Ucap Marons pasrah.
"Makanya tadi aku katakan, tidak tau akan mendarat dimana. Ada kau dan teammu juga Danny dan Yogi membuatku sedikit lebih tenang. Aku belum bisa berbicara dengan kedua orang tuaku, karena semua ini belum jelas bagiku." Marons terus berbicara, dan Kaliana mendengarkan dalam diam. Kaliana menyadari, Marons butuh tempat untuk mengeluarkan semua yang dirasakannya selama hidup bersama Rallita.
__ADS_1
"Sekarang mungkin aku bisa katakan tidak apa-apa untuk menenangkan orang tuaku. Tetapi tiba-tiba aku bisa saja jadi tersangka, itu akan membuat orang tuaku sangat shock." Ucap Marons, mengingat dia adalah anak tunggal.
"Begini, Pak. Aku tidak bisa menjamin sesuatu yang belum pasti. Tetapi aku mau ingatkan ini, agar Pak Marons bisa tenang bekerja dan menjalani hari demi hari ke depan dengan lebih baik." Ucap Kaliana tenang dan serius, membuat Marons jadi fokus menatapnya.
"Jika Pak Marons tidak bersalah, bukan merasa tidak bersalah, tetapi tidak bersalah, aku pastikan semua akan baik-baik saja. Jadi mulai sekarang, jangan terbenani dengan sangkaan atau tuduhan orang yang tidak tau kebenarannya. Berhenti mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti." Kaliana berkata dengan jelas dan tegas, karena menyadari perubahan wajah Marons saat bertemu ada kaitannya dengan belum jelas siapa pelaku pembunuhan istrinya.
"Aku pastikan itu, karena jika Pak Marons bukan pelakunya dan kami tidak bisa membuktikannya, itu adalah kegagalan kami sebagai team penyidik dan kami akan bertanggung jawab untuk itu. Jadi jangan berputus asah, karena kami tidak menyerah untuk mengumpulkan jarum, walau itu berada dalam lumbung." Ucap Kaliana serius untuk menguatkan dan memenangkan Marons. Padahal hatinya sangat sedih saat mengatakan itu.
"Iyaa, terima kasih. Melihat kalian di rumahku hari itu, membuatku terus berharap dan mengabaikan semua pikiran negatif yang menggangguku. Aku berbicara secara pribadi denganmu, karena jika terjadi sesuatu denganku, dampaknya bukan hanya untuk orang tuaku saja, tetapi juga bagi perusahaan. Banyak orang bekerja di perusahaan dan masa depan mereka tergantung pada hasil keputusan kasus ini." Marons berkata pelan, tapi serius.
"Bukan aku tidak percaya pada diriku, akan baik-baik saja. Aku akan baik-baik saja, karena tidak melakukan sesuatu yang jahat. Seperti katamu tadi, aku tidak merasa, tapi memang aku tidak melakukannya. Jika aku sudah tidak menginginkan dia tetap jadi istriku, karena berbagai alasan yang aku katakan tadi, aku akan minta Danny mengurusnya dan berakhir di Pengadilan Negeri." Ucap Marons mengingat dia dan Danny pernah membicarakan tentang perceraiannya dengan Rallita, tetapi dia minta Danny bersabar, karena akan berbicara dengan mertuanya.
Kaliana mengangguk, karena mengingat apa yang dikatakan Danny dan Marons sebelumnya. Bahwa dia tidak perlu membunuhnya, cukup dengan menceraikannya. Marons memajukan tubuhnya dan meletakan kedua tangannya di atas meja, membuat mereka sangat dekat. Kaliana secara refleks menarik tubuhnya ke belakang.
"Yang aku pikirkan, apakah orang tuanya menerima keputusanku? Mengingat mereka lebih semangat nikahkan kami dari pada kami sendiri." Ucap Marons sambil menatap Kaliana.
...~***~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...