![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Setelah meninggalkan rumah sakit, Kaliana menuju kantor pengacara Danny. Ada hal yang perlu Kaliana bicarakan dengan Danny. Oleh sebab itu, Kaliana memeritahukan Danny agar tidak memberitahukan Marons tentang pertemuan mereka.
Danny telah menunggu Kaliana, di ruang tunggu kantornya saat Kaliana tiba. Sehingga Kaliana langsung dibawa ke ruang kerjanya. "Apakah Pak Danny mengenal istri Pak Marons dengan baik? Maksudnya sebelum atau sesudah mereka menikah." Tanya Kaliana setelah berada di ruang kerja Danny. Dia ingin tahu tentang Rallita dari Danny. Mungkin ada hal-hal yang tidak bisa dia dapatkan atau bicarakan dengan Marons.
"Kenal baik, tidak. Karena kami mengenalnya setelah Pak Marons menikah dengannya. Sebelumnya, kami tidak mengenalnya. Saat itu, Marons ada tugas ke Singapore lalu bertemu dengannya, karena dia kuliah disana. Tidak lama kemudian mereka menikah." Ucap Danny, sambil mengingat pertemuam pertama dan Marins memprkenalkan Rallita kepada mereka.
"Dia tidak pernah bergabung dengan kami, saat kami berkumpul. Jadi kami kurang mengenalnya dengan baik. Kami berpikir, mungkin dia tidak mau ikut campur dengan urusan suaminya. Dan Pak Marons juga membiarkan dia dengan kesibukannya sendiri, jika kami ada datang berkumpul di rumahnya." Danny jadi mengingat sikap Rallita yang tidak bersahabat kepada mereka, saat mereka datang ke rumah Marons.
Kaliana mengangguk mengerti, berarti Danny tidak bisa membantunya untuk bisa mengenal Rallita. "Pak Danny saya bisa lihat hasil autopsi? Ada yang harus kami konfirmasikan." Ucap Kaliana kembali kepada tujuan awalnya bertemu dengan Danny.
"Belum semua, Mbak. Tapi ada beberapa yang sudah saya dapatkan. Nanti saya berikan copynya untuk Mbak Anna bawa. Tapi sekarang saya bisa tunjukan, agar mungkin ada yang bisa kita diskusikan di sini." Ucap Danny, lalu mengambil beberapa lembar dokumen dari tas kerjanya.
"Ini foto jenasah saat ditemukan dan beberapa foto sebelum di autopsi. Ini juga foto barang-barang pribadi yang ditemukan bersamaan dengan jenasah." Danny menjelaskan secara rinci kepada Kaliana.
Kaliana melihat foto jenasah ditemukan dengan serius. Dia teringat apa yang dikatakan Marons kepadanya, bahwa Rallita keluar malam itu dan tidak minta ijin darinya. Benar yang dikatakan Marons. Korban keluar rumah, karena mengenakan baju formal. Baju yang tidak mungkin dikenakan di rumah.
__ADS_1
"Pak Danny, hanya foto ini? Apakah saat korban ditemukan tidak mengenakan sepatu atau pengalas kaki?" Tanya Kaliana, karena dari semua foto yang diberikan tidak menunjukan korban memakai sesuatu di kakinya.
"Anda benar. Saya tidak pikirkan itu, sehingga menanyakannya saat menerima foto-foto ini." Mendengar pertanyaan Kaliana, Danny berdiri mengambil catatan untuk mencatat apa yang dikatakan Kaliana. Semua itu makin membuka wawasannya untuk lebih teliti melihat kasus tersebut.
Baik, Pak Danny. Saya bawa semua ini, nanti setelah diselidiki, baru saya bicara lagi dengan Pak Danny. Untuk sementara, kita lihat bukti-bukti ini sepintas lalu saja." Ucap Kaliana serius, sambil melihat semua bukti yang diberikan Danny kepadanya .
"Pak Danny, kapan Pak Marosn akan ke kantor polisi untuk membuat BAP lanjutan?" Tanya Kaliana, sambil terus melihat foto yang diberikan Danny satu persatu.
"Belum tau, Mbak Anna. Mungkin dalam waktu dekat, jika mereka telah selesai memeriksa dan sudah ada hasil pemeriksaan janinnya. Mereka pasti akan memanggil Pak Marons untuk konfirmasi." Danny mencoba menebak, karena Marons akan ditanyai tentang permintaannya untuk memeriksa siapa Ayah janin tersebut.
"Baik. Kalau Pak Marons dipanggil lagi oleh penyidik, Pak Danny tolong tanya penyidik tentang barang pribadi korban saat ditemukan. Apa saja yang ada padanya saat itu. Dengan adanya ponsel bersama korban ditemukan, berarti ini bukan korban perampokan."
Danny mengangguk mengerti dan mencatatnya, agar dia ingat untuk menanyakannya. Karena selalu lupa menanyakan itu, padahal dia sudah memikirkannya. Tetapi saat tiba di kantor polisi dan Marons ditanyakan tentang hal lain, dia tidak ingat lagi untuk mengecek hal itu.
"Begini Pak, untuk mendampingi Pak Marons nanti, Pak Danny harus tau, korban pergi keluar rumah malam itu. Ini bisa dilihat dari pakaian yang dikenakan adalah pakaian untuk di luar rumah bukan untuk di dalam rumah." Ucap Kaliana serius, agar Danny bisa menggali informasi, sekaligus memberi informasi kepada penyidik.
"Anda benar. Saya tidak pikirkan itu, dan lupa menanyakan barang pribadi apa saja yang ditemukan saat Pak Marons buat BAP. Jika benar dia keluar rumah, berarti ada orang yang menjemput dan mengantarnya." Danny jadi berpikir dan mendiskusikan hal itu dangan Kaliana. Dia menyadari, Kaliana sangat teliti memeriksa dan menganalisa barang bukti.
__ADS_1
"Untuk sekarang, tidak juga Pak Danny. Ada banyak mobil online, jadi bisa saja dia pergi sendiri tanpa dijemput. Tetapi pulangnya mungkin dia diantar, karena dia meninggal dekat rumahnya. Jika naik mobil online pulang juga, tidak mungkin barang pribadinya masih aman." Kaliana berpikir cepat tentang apa yang dikatakan Danny.
"Jika demikian juga, pulang dengan mobil online atau tidak, Pak Danny tolong tanya penyidik. Apakah ada jejak atau bukti dari hasil autopsi, dia melakulan hubungan intim sebelum tewas. Supaya makin terbuka dan bisa kita mengurai dari mana." Kaliana berkata serius, karena baginya ada yang tidak beres dengan kehidupan korban.
Danny melihat Kaliana dengan serius. "Semoga pihak forensik memeriksa semua ini. Karena jenasahnya sudah dimakamkan." Ucap Kaliana berharap tidak terlewatkan, supaya tidak menambah keruwetan.
"Sekarang kita harus bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, agar bisa mulai mengurai kasus ini. Pertama... Mengapa korban keluar malam-malam tanpa diketahui suami? Kedua... Dia pergi kemana? Ketiga... Dia pergi dengan siapa atau bertemu siapa? Tiga pertanyaan ini dulu kita cari jawabannya, agar lebih mudah mengurai." Ucap Kaliana sambil terus berpikir. Sedangkan Danny mencatat semua yang dikatakan Kaliana, karena yang dikatakan Kaliana sangat penting untuknya jika terjadi sesuatu dengan Marons.
Danny mengagumi pemikiran Kaliana yang sistematis dalan menganalisa kasus. 'Pantas kasus pembunuhan di Surabaya dapat diungkapkan setelah sekian lama mengalami kebuntuan. Berbagai bukti yang simpang siur dan menyesatkan dari sipembunuh membuat semua orang tidak fokus padanya. Tetapi menyelidiki bukti-bukti palsu yang sengaja dibuat oleh sipembunuh. Dengan kejelian Kaliana dan teamnya, mereka menyingkirkan yang palsu dan mengikat yang asli.' Danny berkata dalam hati, mengingat apa yang terjadi dengan kasus pembunuhan di Surabaya.
Setelah mencatat, Danny melihat Kaliana dengan serius. Kasus tewasnya Rallita jadi berkembang ke segala arah dengan berbagai kemungkinan. Danny jadi memegang pelipisnya mengingat apa yang akan dihadapi.
"Apakah dengan kemungkinan ini, Marons akan aman dari segala tunduhan dan tidak akan jadi tersangka?" Tanya Danny, mendengar apa yang dijelaskan Kaliana.
"Tidak juga, Pak Danny. Kita tunggu hasil dari janin, siapa Ayahnya. Jika Ayahnya adalah Jaret seperti yang diduga Pak Marons, anda dan kami akan bekerja sangat keras." Ucap Kaliana serius.
...~***~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...