![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Marons hanya bisa melihat ke arah Kaliana. Dia berusaha menulikan telinganya dari pembicaraan yang sangat melukai hatinya. Rallita benar-benar menyakiti banyak orang. Selama ini, dia berpikir hanya dia yang terluka atas perbuatannya, ternyata bukan hanya dia. Hidup dan mati Rallita masih membuat orang lain terluka, terutama keluarganya.
"Melihat, mendengar dan mengetahui perasaan istri ponakan anda, hal yang sama juga bisa dirasakan oleh Pak Marons sebagai suaminya. Anda terus menutupi dan membiarkan putri anda melukai dan mempermalukannya terus-menerus? Anda seorang suami atau bukan?" Kata Kaliana serius dan tajam kepada Papa Rallita.
"Anda membiarkan dia menyakiti orang yang menganggap anda sebagai orang tuanya. Anda tau semua yang dia lakukan itu salah, tapi anda malah menolong dan membelanya." Kaliana terus mencecar orang tua Rallita, terutama Papanya. Dia ingin Papa Rallita mengakui semuanya di depan Marons secara resmi.
Orang tua Rallita tetap diam, tidak mengatakan apa pun sesuai dengan harapan Kaliana. Kaliana mencoba bersabar. "Begini Pak Ewan dan Ibu, alangka baiknya mengatakan kepada kami, mengapa ponakan anda yang bernama Kebart ini, selalu menempel kepada putri anda. Atau sebaliknya, putri anda yang terus tidak mau lepas darinya. Anda tau penyebabnya bukan?" Kaliana berkata serius sambil menunggu, apa yang akan dikatakan oleh orang tua Rallita.
Orang tua Rallita tetap diam, dan menghindari tatapan Kebart dan Kaliana. Melihat orang tua Rallita tidak juga mengatakan sesuatu, Kaliana jadi tidak sabar untuk menunggu. Dia langsung menatap Kebart dengan serius dan tajam.
"Pak Kebart... Apakah anda mencintai korban?" Pertanyaan Kaliana yang tiba-tiba membuat semua orang dalam ruangan terkejut. Terutama orang tua dan adik Rallita serta Kebart yang tidak menyangka, Kaliana akan mengatakan hal itu.
Begitu juga dengan Marons. Dia melihat Kaliana tanpa berkedip. Semua kemarahan selama ini terhadap apa yang dilakukan Rallita kepada Kebart, kembali berputar di kepalanya. Dia pernah marah karena Rallita mengutamakan Kebart darinya, tapi dia tidak berpikir sejauh itu.
"Apa maksud pertanyaan anda? Apa anda mulai miring menanyakan hal itu? Apakah saudara tidak bisa akrab dan saling membantu?" Tanya Kebart emosi mendengar pertanyaan Kaliana. Tetapi dia mulai berpikir dan khawatir setelah mengucapkan hal tersebut.
'Apakah Kaliana mengetahui sesuatu tentang mereka, sehingga tiba-tiba menanyakan hal itu?' Kebart jadi cemas memikirkan pertanyaan Kaliana dengan jantung berdebar tidak teratur.
__ADS_1
"Mungkin cara berpikir saya yang mulai miring. Atau hubungan persaudaraan anda dan korban yang miring?" Kaliana berkata dengan serius dan sinis. Dia sudah tidak sabar melihat orang tua Rallita dan Kebart yang coba main kucing-kucingan dengannya.
"Sesama saudara memang harus saling mengasihi dan saling membantu dalam berbagai hal. Tapi bukan dalam hal membuat anak. Anda bisa katakan kepada kami, anak siapa yang ada bersama anda saat ini?" Tanya Kaliana tenang dan serius, membuat Kebart terkejut. Dia melihat Kaliana, tapi tidak bisa menjawab.
Anak saya..." Tiba-tiba istri Kebart dan Jaret berkata bersamaan. Membuat semua orang yang ada dalam ruangan melihat mereka berdua, bergantian dengan terkejut. Tidak terkecuali Kebart dan Marons sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan Jaret.
"Apa maksudmu dengan anak saya?" Tanya Kebart sambil berdiri menghadap Jaret. Hal tersebut membuat semua petugas siap siaga. Kaliana memberikan isyarat kepada semua petugas untuk diam di tempat. Bram yang duduk di samping Kaliana ikut berdiri untuk mengantisipasi semua kemungkinan.
"Apa anda tuli? Tadi saya katakan itu anak saya. Apa perlu saya mengulangnya lagi?" Jaret ikut berdiri dan berhadapan dengan Kebart. Membuat semua orang dalam ruangan tegang menyaksikan kejadian yang tidak terduga dan tidak terpikirkan oleh mereka.
"Saya tidak tuli, makanya bertanya padamu. Apa maksudmu dengan mengatakan anak saya adalah anakmu?" Tanya Kebart dan hendak melangka mendekati Jaret dengan emosi yang mulai tidak terkendali.
Jaret dan Kebart refleks melihat ke arah Kaliana dengan garang, karena mendengar bentakannya yang mengglegar dalam ruangan. Dan juga mendengar apa yang dikatakan Kaliana.
"Saya katakan, duduk..! Atau saya ke situ dan membuat kalian berdua duduk? Menyayangi seseorang, tapi akal yang Tuhan berikan itu digunakan. Sudah setua ini, masih meributkan sesuatu yang tidak berdasar." Kaliana berkata dengan wajah yang tidak kalah garang.
"Berdasarkan apa, atau kata siapa, sehingga kalian mengatakan itu anak kalian?" Kaliana tetap berkata dengan galak. Membuat Jaret dan Kebart yang telah duduk melihat Kaliana dan menjawab. "Lita..!" Semua orang dalam ruangan melihat mereka berdua dengan terkejut dan terperanga.
Kaliana hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil melihat Jaret dan Kebart bergantian. Dua orang pria yang mengaku memiliki seorang anak berdasarkan perkataan seorang wanita yang sudah tiada.
__ADS_1
"Ibu Kebart... Apakah benar, itu anak Ibu?" Tanya Kaliana pelan, karena merasa kasihan melihatnya terpukul setelah mengatakan 'anak saya'. Dia bisa melihat istri Kebart makin terguncang, saat melihat Kebart beraduh mulut dengan Jaret.
"Sejak bayi merah, dia ada dalam pangkuanku. Dia adalah anak saya, Ibu Kaliana. Walau saya tidak melahirkannya, tapi saya telah mengurusnya dari bayi merah. Dia adalah anak saya." Istri Kebart berkata pelan sambil menahan tangis. Membuat semua orang jadi terharu mendengar apa yang dikatakannya.
"Kau katakan padaku, dia alami kecelakaan, jadi minta aku merawat bayinya. Aku bersedia menerima permintaanmu, karena Om mu juga memohon padaku, agar dia bisa lanjutkan hidupnya sebagai wanita baik-baik."
"Karena kita belum lama menikah, dan menghormati Om mu. Aku mendengar permohonannya, agar bisa menjauhkan anak itu dari ibunya. Aku menerimanya dengan tangan terbuka dan menyayangi dia sebagaimana anak yang aku lahirkan. Maka sejak itu, dia adalah anak saya." Istri Kebart berkata pelan dengan wajah berurai airmata.
"Ternyata anak itu hasil perbuatan saudara yang tidak tahu batas cara hidup bersaudara. Sungguh malang anakku lahir dari orang tua seperti kalian berdua." Ucap istri Kebart mulai emosi dan menangis terseduh.
"Kalian menfaatkan kebaikan yang aku berikan dengan menipuku. Kalian bersenang-senang di belakangku, sedangkan aku sedang berjuang menyelamatkan anak kalian dengan membawanya ke berbagai rumah sakit dan dokter mana saja, agar dia bisa sembuh." Istri Kebart makin emosi, tapi kesedihannya makin menjadi-jadi. Hal itu membuat airmata terus mengalir di pipinya.
"Kau terus membiarkan dia datang untuk melihat anak itu, padahal kau tau itu sangat menggangguku sebagai ibu yang telah merawatnya sejak bayi merah. Ternyata karena itu anak kalian, sehingga kau terus terbelenggu dengan sikap dan ucapannya." Istri Kebart terus berkata sambil melihat Kebart dengan mata tergenang oleh airmata.
Kaliana membiarkan istri Kebart terus berkata, karena dia menginginkan semuanya diungkapkan oleh pihak yang terlibat. Dia mengharapkan semua yang tersimpan dalam keluarga Rallita dibongkar oleh mereka sendiri.
...~***~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1