C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Warna Warni 3.


__ADS_3

...~β€’Happy Readingβ€’~...


Bram mendekati Kaliana dan mengajaknya menjauh dari pasien dan juga dr Yogi. "Segera menyingkir, biarkan aku yang menyelesaikan ini. Agar dia tidak usah mengetahui ada kau dibalik semua ini. Dengan kesaksian wanita itu dan barang bukti lainnya, dia tidak bisa berkelit lagi." Bisik Bram kepada Kaliana, agar tidak terlihat oleh Punguk bahwa Kaliana ada ambil bagian atau berada di balik semua yang terjadi.


Kaliana mengangguk mengerti apa yang Bram maksudkan, lalu kembali mendekati pasien yang sudah mulai menangis terseduh. Dia mengingat apa yang dilakukan Punguk padanya, membuatnya gemetar dan takut. Semua yang dikatakan mantan boss nya, terbukti. Semua kata-kata manisnya dan sikap baiknya sirna seketika, ketika mengetahui dia telah dipecat oleh boss nya.


'Kau mempercayai orang yang baru kau pacari dua minggu?' Pertanyaan mantan boss nya terus mengiang di telinganya. Hal itu membuatnya, makin menangis sedih. Telah kehilangan pekerjaan dan boss yang baik hati serta berakhir di rumah sakit.


"Bicara yang jujur tentang semua yang anda alami kepada Pak Polisi ini, agar beliau bisa menolongmu. Tetapi jika anda ingin bersamanya di balik terali besi, berbohonglah sekuatmu. Mungkin bisa menyembuhkan luka di hatimu." Ucap Kaliana serius saat melihat pasien mulai menangis. Kesempatan itu digunakan, agar korban mau terbuka dan bicara yang benar.


Bagi Kaliana, air mata kesedihannya memberikan sinyal banyak hal. Entah sedih diperlakukan demikian, entah sedih menyadari kesalahannya. Entah juga, mungkin menyesal dengan perbuatannya sendiri, yang membuatnya harus mengalami hal demikian.


Kaliana mendekati Pak Yosa dan dr Yogi lalu mengajak mereka kuar dari kamar pasien tersebut. "Biarkan Pak Bram dan anggotanya melakukan tugas selanjutnya. Kita hanya bayangan, agar Pak Bram leluasa melakukan tugasnya." Kaliana berkata pelan, lalu berjalan keluar kamar bersama Pak Yosa dan dr Yogi.


Setelah berada di depan ruang praktek dr Yogi, Kaliana pamit dan minta terima kasih kepada dr Yogi atas kerja sama dan bantuannya. "Tunggu sebentar, aku akan cek suster untuk menanyakan permintaanmu yang tadi. Sekalian kau bisa membayarmya." Ucap dr Yogi, lalu memberikan gold card kembali kepada Kaliana.


Kaliana mengangguk mengerti, lalu melakukan semua yang diminta dr Yogi. "Dok, jika sudah ada hasilnya, tolong kabari saya secepatnya, ya. Biar semuanya lekas selesai." Ucap Kaliana lalu, pamit meninggalkan dr Yogi. Demikian juga dengan Pak Yosa.


Ketika telah berada dalam mobil, Kaliana menarik nafas panjang lalu menyadarkan punggungnya dengan hati lega. Dia sangat bersyukur, tidak terlihat oleh Punguk, sehingga tidak membuat dendamnya makin menjadi-jadi.


"Apakah kita langsung pulang?" Tanya Pak Yosa yang sudah duduk di balik kemudi.

__ADS_1


"Iya, Pak. Kita langsung ke kantor untuk membicarakan apa yang terjadi hari ini dengan team. Jangan sampai peristiwa ini membuat kita kehilangan fokus dari tugas kita sebenarnya." Ucap Kaliana yang menyadari, tugas mereka adalah mencari pembunuh sebenarnya.


Kaliana jadi teringat dengan Danny yang dia tinggalkan tanpa penjelasan. Dia kembali menghubungi Danny untuk menjelaskan apa yang baru saja terjadi.


πŸ“±"Selamat siang Pak Danny. Mohon maaf soal telponku tadi. Ada kejadian yang tidak terduga dan butuh gerak cepat dari kami ....." Kaliana menceritakan apa yang terjadi dengan Rosalinda dan juga Punguk.


πŸ“±"Astagaaa... Pantas anda seperti itu tadi. Aku dari tadi sedang memikirkan apa yang sedang terjadi dengan mantan sekretaris Pak Marons dan hubungannya dengan anda." Ucap Danny yang terus berpikir sejak Kaliana menghubunginya.


πŸ“±"Apakah anda masih di rumah sakit?" Tanya Danny yang mulai khawatir akan keadaan Kaliana. Dia bisa membayangkan apa yang terjadi di rumah sakit dan kondisi Rosalinda.


πŸ“±"Sudah pulang, Pak. Untuk sementara saya laporkan itu dulu. Dan saya minta, Pak Danny jangan ceritakan hal ini kepada Pak Marons. Nanti setelah clear semuanya, baru kita bertemu dan bicarakan hal ini dengan beliau." Kaliana tidak mau mengganggu Marons, yang sedang berada di pertemuan penting dengan hal yang sudah diatasi.


πŸ“±"Baik, Mbak Anna. Hati-hati di jalan." Danny mengerti, lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah Kaliana membalas salamnya.


"Kita tinggalkan kejadian di rumah sakit dulu, karena sudah ditangani oleh Pak Bram dan anggotanya. Sekarang mari kita fokuskan pada penyelidikan mobil tadi pagi. Apakah kalian sudah melihat dan menelitinya?" Kaliana mengajak teamnya untuk fokus pada tugas utama mereka, setelah menceritakan kejadian di rumah sakit.


Yicoe, Novie dan Putra mengangguk lalu mempresentasikan hasil penyelidikan mereka. Putra juga memperlihatlan di layar TV semua gambar yang diambil oleh Pak Yosa dan Kaliana saat menyidik mobil.


Mereka membahasnya dengan serius, hingga tidak menyadari waktu berlalu dan sudah menjelang sore. Tiba-tiba ponsel Kaliana bergetar. Ketika melihat siapa yang menghubunginya, Kaliana langsung merespon dan memberiksn isyarat kepada team untuk meneruskan pembahasan kasus dengan Pak Yosa.


πŸ“±"Halloo, Pak. Apakah sudah selesai pertemuannya?" Tanya Kaliana saat merespon panggilan telpon dari Marons. Dia tidak menyangka Marons akan menghubunginya seperti yang dikatakan tadi pagi.

__ADS_1


πŸ“±"Belum selesai. Ini aku keluar sebentar. Sekarang kau di mana?" Tanya Marons serius, membuat Kaliana terkejut.


πŸ“±"Ada di kantor, Pak." Jawab Kaliana cepat, menyadari kesibukan Marons dan nada suara Marons yang tidak biasa saat berbicara dengannya.


πŸ“±"Benar, kau ada di kantor?" Tanya Marons lagi untuk meyakinkannya. Hal itu membuat alis Kaliana bertaut.


πŸ“±"Benar, Pak. Mau aku masuk ke ruang meeting lagi, agar bapak bisa bicara dengan yang lain?" Ucap Kaliana makin serius dan mulai berpikir dan bertanya. Apa yang sedang terjadi, sehingga Marons keluar dari pertemuan dan menghubunginya.


πŸ“±"Tidak usah. Aku percaya. Syukur, kau sudah di kantor dan baik-baik saja. Aku sudah bilang untuk hindari berbenturan dengan orang itu, tapi kau tidak mendengarku." Marons berkata tegas dan serius. Kaliana langsung mengerti apa yang dimaksudkan Marons. Pasti tentang peristiwa di rumah sakit dengan Punguk.


Kaliana jadi emosi dan tidak tahu mau marah kepada siapa. Entah Danny, entah dr Yogi yang sudah menceritakan kejadian tersebut kepada Marons. Padahal Kaliana sudah berpesan kepada mereka untuk menahannya. Nanti akan dibicarakan setelah Marons selesai pertemuan dan kasusnya sudah clear.


Kaliana yakin, hanya mereka berdua yang memiliki akses ke nomor pribadi Marons dan mengetahui kejadian tersebut.


πŸ“±"Tidak ada benturan, Pak. Bayanganku saja, tidak menyenggolnya. Begini saja, Pak. Lanjutkan dulu pertemuannya, nanti sudah tidak sibuk, baru kita bicarakan baik-baik. Ceritanya terlalu panjang dan bisa dibuat drama berseri." Kaliana berusaha bercanda untuk menenangkan Marons.


πŸ“±"Baik. Lain kali, jika ada hal seperti itu, hubungi aku. Jangan seperti ini, aku mengetahuinya dari orang lain." Marons masih berkata serius. Membuat Kaliana waspada.


πŸ“±"Siaap, Pak. Dicopy, tambah susu kental manis." Kaliana berusaha meredahkan emosi dan suasana hati Marons dengan bercanda.


πŸ“±"Kau itu. Nanti kita teruskan lagi." Marons tidak meneruskan ucapannya. Dia segera mengakhiri pembicaraan mereka, karena sedang ditunggu di ruang pertemuan para pengusaha.

__ADS_1


...~***~...


...~●○€○●~...


__ADS_2