![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Ketika melihat orang tersebut adalah Jaret, Bram dan Kaliana dengan sigap segera berjalan cepat untuk menghadangnya. Sambil berjalan, Bram memberikan kode untuk petugas terdekat agar siaga dan mengurung Jaret. Posisinya dan Kaliana jauh dari Jaret, oleh sebab itu mereka membutuhkan waktu untuk mendekatinya.
Jaret yang panik mendapati apartemennya telah digeledah oleh petugas, jadi mengamuk sekuat tenaga. Dalam kepanikannya dia sangat khawatir, karena banyak barang dalam kamar belum disingkirkan setelah kematian Rallita. Sehingga dia tidak menyadari kehadiran Kaliana dan Bram.
Melihat perilaku Jaret, Kaliana dalam keadaan genting dan tiba-tiba, segera menghidupkan kamera tersembunyi yang terpasang di rompinya tanpa sepengetahuan Bram. Sedangkan tangan kanannya tetap dibelakangnya, memegang pegangan pistol untuk berjaga-jaga. Demikian juga dengan Bram, tangan kanannya berada di tempat pistol di pinggangnya.
Kaliana menghidupkan alat komunikasinya dengan Putra untuk berjaga-jaga dan bisa terhubung dengan teamnya. Ketika melihat gerakan Jaret yang berontak dan mau mengambil pistol salah satu petugas, dengan kecepatan tinggi, Kaliana dan Bram bersamaan menendang tungkai kiri dan kanan Jaret. Mereka membuatnya jatuh dan berlutut. Sambil meringgis kesakitan, tapi masih ngotot berusaha untuk masuk ke kamar yang belum disidik oleh petugas.
Kaliana dan Bram makin curiga melihat Jaret mau ke kamar, bukan ke dapur dimana terdapat alat bong. 'Mungkin ada bahan haram dan lainnya tersimpan dalam kamar, sehingga dia ngotot dan mengamuk mau ke kamar tersebut.' Itu yang terlintas dalam pemikiran Kaliana dan Bram.
Melihat siapa yang telah berdiri di depannya dalam keadaan siaga dan membuatnya berlutut, Jaret membeku. "Jadi ini tempat ambor spe*ma dan kebejatanmu selama ini? Bacakan haknya." Perintah Bram kepada salah satu petugas yang telah sigap datang mendampingi Bram dan Kaliana, lalu membacakan hak Jaret. Seorang petugas lain menyusul dengan borgol.
"Panggil team tambahan dan lucuti semua alat komunikasinya. Biarkan dia duduk di situ." Ucap Kaliana sambil menunjuk salah satu kursi terdekat, setelah Jaret diborgol.
"Apa kalian tidak tau orang tua saya? Kalian akan rasakan akibatnya, jika Papaku tau kalian memperlalukan saya seperti ini. Saya bukan pengedar. Saya hanya konsumsi sendiri dan baru mencobanya." Jaret mulai mengancam dan menggerutu panjang pendek. Dalam kepanikannya, dia berusaha membela diri karena dia berpikir tentang penggunaan sabu.
__ADS_1
Bram memberikan kode kepada anggota teamnya, untuk memeriksa tubuhnya, apakah ada sabu yang dia bawa. Karena pencarian Kaliana dan dirinya hanya menemukan alat bong.
"Kami akan tau siapa orang tuamu, setelah kau muncul di semua layar TV, laptop dan ponsel. Jadi kau tidak perlu memperkenalkan orang tuamu pada kami. Jika orang tuamu terkenal, akan makin terkenal setelah ini." Ucap Kaliana serius menanggapi gertakan Jaret, seakan-akan belum tahu tentang orang tua Jaret. Sedangkan Bram langsung menghubungi rekannya yang menangani narkotika dan BNN.
Sebelum bagian narkotika dan BNN datang, Bram mengajak Kaliana dan beberapa anggota teamnya untuk menyelidiki kamar yang tadi hendak dituju oleh Jaret. Ketika kamar di buka dan mereka telah berada di dalamnya, Kaliana dan Bram langsung saling memandang karena terkejut. Kamar tersebut penuh dengan berbagai peralatan se00x.
Kaliana terlambat mematikan kamera tersembunyinya, karena tidak menyangka akan menemukan hal yang demikian. Putra sudah mengaksesnya, membuat Kaliana tegang. Dia segera mematikan komunikasinya dengan Putra, agar tidak mendengar percakapan lebih lanjut. Jika masalah narkotika, Kaliana akan membiarkan Putra melihat semua yang terjadi.
Tetapi ini tentang kehidupan se00x menyimpang orang dewasa. Kaliana tidak mau anggota teamnya mengetahui atau melihat hal tersebut. Apalagi Putra yang masih terbilang baru dewasa.
"Astagaaa, ternyata mereka berdua ini se00x mania. Pantas mereka menyiapkan tempat untuk bercocok tanam di sini sendiri." Ucap Bram, lalu mendorong Kaliana keluar. Biar bagaimana pun, Kaliana adalah wanita dan Bram tidak mau Kaliana melihat lebih jauh.
"Pantas juga, korban tidak puas dengan suami yang kehidupan se00x nya normal. Mengapa mereka berdua ini, tidak menikah saja?" Tanya Bram yang sudah di luar kamar dan membiarkan anggotanya yang menyelidiki kamar tersebut. Dia yang laki-laki normal, merasa jijik melihat semua peralatan se00x yang ada dalam kamar, apalagi Kaliana yang perempuan.
Mereka berjalan mendekati Jaret yang sudah tidak berdaya dan tertunduk lemas. Semua kegarangannya sirna saat melihat Kaliana dan Bram telah masuk ke kamar tersebut. Bram dan Kaliana melihat Jaret dengan rasa jijik dan juga geram.
"Kalau wanita itu masih hidup, saya akan berikan borgol asli yang ada di tanganmu itu, untuk kalian bermain-main. Saya akan membuang kuncinya ke lautan luas, supaya kalian terborgol selamanya." Ucap Bram yang sempat melihat borgol mainan di atas tempat tidur, jadi makin emosi melihat Jaret.
__ADS_1
"Jadi jas dokter yang ada di atas kursi itu juga mainan mereka?" Tanya Kaliana setelah mendengar apa yang dikatakan Bram. Dia sudah terbiasa menyelidik, jadi dengan cepat scan, saat masuk ke tempat yang akan diselidiki. Dia sempat melihat perlengkapan dokter mainan ada di dalam kamar.
"Kau sempat melihat itu?" Tanya Bram terkejut, kalau Kaliana sempat melihat beberapa peralatan dalam kamar tersebut. Kaliana mengangguk kuat ke arah Bram.
Hal itu membuat Bram tidak bisa, tidak membahasnya dengan Kaliana. "Mereka suka main dokter-dokteran juga, selain napi dan petugas lapas atau polisi-polisian. Entah apa lagi yang akan kita lihat setelah disisir." Ucap Bram sambil melihat Kaliana dan Jaret bergantian dan menggelengkan kepalanya.
"Astagaaa ... fantasi mereka lebih liar dari harimau." Ucap Kaliana spontan, membuat Bram hampir tertawa pecah. Kaliana mengatakan itu dengan wajah serius sambil memandang Jaret yang sedang menunduk.
"Lebih baik, kau menungguku di mobil. Jangan kau membuatku kehilangan wibawa di depan teamku dan tersangka itu karena celetukanmu." Bisik Bram sambil kembali mendorong Kaliana keluar dari unit apartemen, sambil tersenyum dalam hati.
"Apa ada yang salah dengan perkataanku?" Tanya Kaliana yang memberatkan badannya karena belum puas bertanya dan marahi Jaret. Bram tahu, jika Kaliana tetap ada di ruangan tersebut dia tidak akan diam. Apalagi sedang kesal melihat Jaret yang terdiam sambil menunduk.
"Tidak ada yang salah. Dia manusia berkaki dua, belum ditambah dua kaki lagi dan belum berbelang." Ucap Bram asal, agar Kaliana mau keluar dari ruangan tersebut.
"Kau yang lebih sadis, mengharapkan dia seperti harimau belang. Aku hanya berkomentar tentang fantasinya yang liar, bukan kebinatangannya." Ucap Kaliana setelah berada di luar unit apartemen. Kembali Bram menahan tawa mendengar apa yang dikatakan Kaliana dengan wajah serius. Dia lalu mengibaskan kedua tangannya, agar Kaliana pergi dan menyuruh petugas yang mendampingi Kaliana untuk mengantarnya turun ke mobil.
...~***~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...