C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Rencana Gelar Perkara.


__ADS_3

...~β€’Happy Readingβ€’~...


Setelah pembicaraan terakhir dengan Bram untuk mengamankan saksi dalam kasus jebakan dan penganiayaan oleh Punguk, Kaliana fokus pada kasus yang ditanganinya. Semua anggota team sopape berkonsentrasi menyelesaikan kasus utama yang sedang mereka kerjakan. Hal itu sudah disampaikan kepada Bram, sehingga Kaliana tidak diganggu lagi oleh penyelidikan kasus yang lain. Bram bersama teamnya menangani kasus Punguk sedangkan Kaliana kadus tewasnya Rallita.


Kaliana sudah mendapatkan hasil tes DNA dari dr Yogi untuk melengkapi apa yang mereka butuhkan dalam melengkapi potongan puzzle yang telah disusun oleh Putra. Sehingga mereka benar-benar mencurahkan semua kemampuan dan energi yang mereka miliki untuk mengungkap siapa dibalik tewasnya Rallita.


Keahlian Putra menyusun semua potongan puzzle yang ditemukan dan dikumpulkan team sebagai bukti kongkrit, membuat anggota team dengan mudah dapat menjabarkan satu demi satu potongan puzzle dan kaitannya dengan kasus yang sedang mereka tangani.


Setelah tiga hari berkelut di dalam ruang meeting dan di depan layar TV, team sopape bernafas lega. Hasil penelitian dan analisa semua bukti, fakta dan keterangan, 'Kasel' (Kasus Selokan) memasuki babak baru. Ketika Kaliana berdiri sambil mengerakan seluruh tubuhnya yang kaku dan pegal dengan wajah tersenyum.


Apa yang dilakukan Kaliana membuat anggota team tersenyum senang. Bagi mereka, itu pertanda telah selesai. "Mari kita semua ke tempat sauna untuk melemaskan otot-otot kita." Ucap Kaliana riang, sambil terus merenggangkan otot-ototnya yang kaku dalam ruangan meeting.


"Kita semua akan pergi ke tempat sauna?" Tanya Putra seakan tidak percaya. Karena mereka belum pernah melakukan itu semenjak menangani berbagai kasus, apalagi kasus pembunuhan.


"Iyaaa... Kita semua akan pergi. Jadi mari bersiap-siap, agar tidak terlalu malam. Kita perlu melemaskan otot, sebelum masuk medan tempur." Ucap Kaliana tenang dan senang.


"Mbak Anna, apakah itu tidak menghambur-hamburkan uang? Apalagi aku baru pesan rompi yang baru." Ucap Yicoe khawatir, karena dia yang memegang bagian keuangan team sopape jadi tahu kondisi keuangan kantor mereka.


Anggota yang lain jadi terdiam saat mendengar apa yang dikatakan Yicoe. Mereka semua tahu, jika Yicoe sudah katakan demikian, berarti kondisi keuangan mereka tidak bisa digunakan untuk bersenang-senang.

__ADS_1


Kaliana berjalan ke luar ruangan meeting menuju ruang kerjanya lalu kembali dengan dompet di tangan. "Kita akan gunakan ini untuk bersantai sejenak di sauna. Yang punya sudah memberikan ijin, jadi mari kita pergi dan bersenang-senang." Kaliana mengeluarkan gold card pemberian Marons, lalu memegangnya dengan ujung jari sambil menggoyangkan kartu tersebut ke arah anggota team lainnya.


"Mbak Anna, itu boleh dipakai untuk membeli fried chicken dan french fries yang waktu itu, ngga?" Tanya Putra yang masih mengingat kenikmatan menu tersebut dan ingin mencobanya lagi. Anggota yang lain langsung menggelengkan kepala mendengar pertanyaan Putra.


"Kalau yang itu, lebih baik, jangan. Aku tidak punya alasan mau menggunakan kartu ini untuk makan. Kalau ke sauna, masih masuk dalam kategori bekerja. Kalau urusan makan, itu tunggu acc turun dari Yicoe." Ucap Kaliana serius, karena dia tidak mau anggota teamnya berlaku aji mumpung.


"Putra, ngga usah kau pikirkan soal itu. Jika kasus ini terpecahkan dan clear, kita pasti akan ditraktir oleh Pak Marons. Jadi mulai dari sekarang, berikan ruang kosong di perutmu untuk menampung semua yang bisa kau makan." Ucap Novie sambil tersenyum. Anggota yang lain ikut tersenyum, mendengar apa yang dikatakan Novie. Mereka juga berpikiran sama, pasti akan ditraktir oleh Pak Matons, jika mereka bisa menyelesaikan kasus selokan.


"Berharap itu boleh. Tapi jangan terlalu tinggi, nanti jatuhnya sakit. Sekarang kita makan sesuai budget kantor saja. Jika nanti ditraktir oleh Pak Marons, anggap itu sebagai bonus." Ucap Kaliana sambil kembali memasukan gold card ke dalam dompetnya. Dia tersenyum dalam hati mengingat apa yang dikatakan Marons. 'Aku berikan itu umtuk dipakai, bukan untuk mengamankan dompetmu.' Kaliana makin tersenyum mengingat Marons, walau sudah berhari-hari tidak berkabar karena kesibukan masing-masing.


Β°***Β°


Kaliana duduk di ruang kerjanya sambil memegang pulpen di tangan dan note di atas meja, lalu mulai menulis nama-nama yang terkait dengan 'kasel'. Kemudian dia menghubungi Marons sebagai orang penting dan utama dalam kasus yang akan digelar tersebut.


πŸ“±"Selamat pagi, Pak Marons. Apa aku mengganggu?" Tanya Kaliana saat Marons merespon panggilannya pada deringan pertama.


πŸ“±"Pagi Kalia. Belum mengganggu. Aku akan meeting lima belas menit lagi. Jadi masih ada waktu. Gimana, ada yang mau dibicarakan?" Tanya Marons serius, karena belakangan ini mereka tidak berkomunikasi dan jika Kaliana menghubunginya pagi-pagi, pasti ada yang perlu dibicarakan.


πŸ“±"Iya, Pak. Ada benerapa hal yang akan aku bicarakan dengan Pak Matons berkaitan dengan kasus yang kami tangangi." Ucap Kaliana serius dan cepat, mengingat waktu Marons yang terbatas.

__ADS_1


πŸ“±"Pertama; Aku mau mengecek waktu longgar Pak Marons. Apakah tiga hari dari sekarang, Pak Marons ada di sini dan tidak terlalu sibuk?" Kaliana sudah siap untuk mendata dan mencatat pembicaraannya dengan Marons.


πŸ“±"Iyaaa. Aku ada di sini. Soal sibuk, tetap sibuk, tapi aku bisa mengaturnya ulang. Ada apa?" Tanya Marons lagi, karena dia tahu, pertanyaan Kaliana serius dan itu menyangkut waktu dan kesibukannya.


πŸ“±"Baik. Berarti aku anggap Pak Marons OK untuk tiga hari ke depan. Kedua; Apakah Pak Marons bermasalah jika datang ke rumah mantan mertua?" Tanya Kaliana serius tanpa memperhalus sebutan untuk orang tua Rallita. Rasa respeknya kepada orang tua Rallita hilang, setelah mengetahui apa yang dilakukannya terhadap Marons.


πŸ“±"Aku sudah tidak ingin menginjakan kaki di rumah itu atau bertemu dengan mereka. Tapi jika kau menginginkan aku harus datang ke rumah itu untuk menyelesaikan kasus ini, aku akan lakukan." Ucap Marons serius, setelah berpikir tentang pertanyaan Kaliana.


Dia menyadari ada hal yang akan dilakukan Kaliana di rumah itu, tapi butuh persetujuannya. Kaliana sedang mempertimbakan perasaan dan kenyamanannya, jika harus ke rumah orang tua Rallita.


πŸ“±"Baik. Jadi aku anggap tempatnya di rumah keluarga itu tidak masalah untuk Pak Marons. Sekarang bapak konsetrasi untuk meetingnya dulu, nanti aku akan kabari lagi setelah aku bicara dengan beberapa pihak terkait." Ucap Kaliana dengan hati lega. Baginya, yang penting Marons sudah setuju. Yang lainya akan mengikuti seseuai keinginan Kaliana.


"Baik. Nanti setelah meeting, aku akan menghubungimu. Karena semua yang kau tanyakan ini, aku belum mengerti arahnya. Keterbatasan waktu membuat aku tidak bisa menanyakan hal itu saat ini. Nanti kita akan bicarakan itu, supaya aku bisa mengerti dengan jelas." Ucap Marons lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah saling memberi salam.


Kaliana langsung mencatat semua yang dibicarakan dengan hati lega. Dia merasa senang, karena dengan apa yang dikatakan Marons, gelar perkara akan bisa dilakukan sesuai waktu dan tempat yang dia harapkan.


...~***~...


...~●○€○●~...

__ADS_1


__ADS_2