C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
97. Pra Gelar Perkara 2.


__ADS_3

...~β€’Happy Readingβ€’~...


Kaliana yang masih dalam perjalanan, menarik nafas lega setelah selesai berbicara dengan Bram. Dia segera membelokan mobilnya ke arah rumah Marons untuk mengembalikan mobil Rallita dan mengambil mobilnya. Karena dia membutuhkan mobilnya untuk mensupport GP nanti.


Saat tiba di rumah Marons, Kaliana kembali membuka garasi untuk mempersiapkan mobilnya. Semua yang ada dalam mobil Rallita dipindahkan ke dalam mobilnya. Dia mengeluarkan mobilnya ke jalanan di depan rumah Marons, lalu menutupi garasi. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Ketika melihat Marons yang menghubunginya, Kaliana segera merespon, lalu duduk di teras rumah Marons.


πŸ“±"Halloo, Kalia. Lagi sibuk?" Tanya Marons saat Kaliana merespon panggilannya.


πŸ“±"Halloo, Pak. Tidak juga. Sudah selesai meeting, Pak?" Tanya Kaliana, tanpa mengatakan dia ada di rumah Marons. Dia telah berpikir semua kemungkinan, saat melihat Marons menelpon dan dia ada di rumahnya.


Kaliana tidak mau Marons mengetahui dia ada di rumahnya, karena nanti urusannya akan panjang. Sedangkan dia harus segera kembali ke kantor untuk bertemu dengan anggota team yang lain untuk menyampaikan kabar gembira. Rencana GP bisa diadakan sesuai rencana dan harapan mereka.


πŸ“±"Iyaa... Belum lama selesai, jadi baru bisa menghubungimu. Kau bisa jelaskan rencana yang kau katakan tadi pagi?" Marons penasaran dengan apa yang dikatakan Kaliana sebelum dia adakan meeting. Sehingga setelah meeting, dia langsung menghubungi Kaliana.


Sebenarnya, sudah dari istirahat siang Marons mau menghubungi Kaliana untuk menanyakan hal tersebut. Tetapi karena makan siang bersama Ayahnya dan juga masih teruskan meeting lagi, Marons menahan diri untuk tidak menghubungi Kaliana.


Kaliana menjelaskan rencana dan cara menyelesaikan kasus yang ditangani, dan akan mengungkapkan siapa pelakunya saat GP. Marons yang sudah ada di ruang kerjanya, menyimak dengan serius apa yang dikatakan Kaliana.


πŸ“±"Jadi maksudmu, kalian sudah mengetahui siapa pelakunya?" Tanya Marons serius, setelah mendengar penjelasan Kaliana. Dia bisa menarik kesimpulan, team sopape sudah mengetahui siapa pelaku pembunuhan Rallita.


πŸ“±"Iya, Pak. Jikan kami sudah mau lakunan GP, semua sudah pada tempatnya. Jadi GP adalah pekerjaan terakhir kami dalam menangani kasus pembunuhan." Kaliana kembali menjelaskan agar Marons bisa mengerti dan mau mendukung rencana GP mereka.

__ADS_1


πŸ“±"Walaupun penasaran, aku tidak akan bertanya siapa pelakunya, karena aku yakin kau tidak akan mengatakannya. Baiklah, aku akan sabar dan menunggu sambil mengendalikan rasa penasaranku." Marons berkata demikian, karena tahu tidak mungkin Kaliana akan mengatakan nama orang tersebut kepadanya.


πŸ“±"Maaf ya, Pak. Tunggu tiga hari lagi dan tolong doakan agar semua rencana berlangsung dengan baik dan lancar." Kaliana hanya bisa mengatakan itu, karena tidak mau menjelaskan lebih lanjut.


πŸ“±"Baik. Jaga kesehatan kalian." Marons mengingatkan, karena dia telah melihat pemakain gold card di tempat sauna. Dia jadi berpikir, team sopape dalam fase menyiapkan semua untuk acara yang dikatakan Kaliana. Termasuk kesehatan fisik dan mental.


πŸ“±"Iya, Pak. Terima kasih. Ooh iya, Pak. Kami ada menggunakan kartu untuk pergi ke sauna ya, Pak. Kami semua agak tegang dalam menyelesaikan kasus ini, jadi aku mengajak mereka semua ke sauna." Kaliana teringat belum mengatakan itu kepada Marons, saat mendengar Marons mengatakan tentang kesehatan.


πŸ“±"Aku tau dan aku sudah katakan, gunakan saja untuk semua keperluan kalian." Ucap Marons, karena dia sudah melihat penggunakan kartunya di rumah sakit tempat Yogi bertugas. Tetapi dia tidak mau menanyakan itu kepada Kaliana. 'Itu pasti yang pernah dikatakan Kaliana untuk memeriksa DNA beberapa orang.' Pikir Marons saat melihat penggunaan kartu itu.


Marons jadi mengerti, mungkin setelah ada hasil dari pemeriksaan DNA tersebut, Kaliana dan team bisa melengkapi penyelidikan mereka. Sehingga Kaliana langsung memutuskan untuk gelar perkara tewasnya Rallita, karena sudah menemukan pelakunya.


πŸ“±"Tidak usah bertukar. Kau ambil saja mobilmu, dan biarkan mobil itu dibawa oleh Pak Yosa dan Putra. Agar mereka tidak usah pakai motor ke tempat GP." Marons berpikir cepat, saat mendengar yang dikatakan Kaliana. Dia berharap, Pak Yosa dan Putra menggunakan mobil itu.


πŸ“±"Tidak usah, Pak. Nanti mereka naik mobil online saja. Tidak baik kami memakai mobil korban ke tempat orang tuanya." Kaliana sudah memikirkan hal itu, sehingga tidak mau membicarakan rencana pertukaran mobil dengan Marons. Dia hanya datang ke rumah Marons untuk mengambil mobilnya dan akan memberitahukan kemudian.


πŸ“±"Kalia... Sebenarnya, tidak masalah jika kalian mau menggunakannya. Mobil itu aku yang beli bukan orang tuanya. Jadi kalau kalian mau gunakan, pakai saja." Marons menjelaskan, karena dia mau Pak Yosa dan Putra ke tempat orang tua Rallita dengan mobil tersebut.


πŸ“±"Biarkan Pak Yosa dan Putra pakai mobil online saja, Pak. Demi kenyamanan dan tidak banyak omongan atau pertanyaan yang perlu kami jawab. Biarkan kami konsentrasi untuk GP saja. Tanpa perlu beradu atau mendengar omongan miring." Ucap Kaliana serius, karena sudah memikirkan semua itu. Orang tua Rallita bisa berkata yang tidak baik, apalagi pernah tahu dia pergi makan siang bersama Marons.


πŸ“±"Baiklah... Tetapi jika pada hari H kau berubah pikiran, katakan saja. Kalau tidak mau pakai mobil itu, aku akan minta sopir untuk menjemput Pak Yosa dan Putra dengan mobil kantor. Supaya kalian tidak perlu mencari mobil." Marons berkata serius, dan berharap Kaliana mengerti maksudnya.

__ADS_1


πŸ“±"Iya, Pak. Terima kasih sebelumnya. Nanti aku hubungi." Ucap Kaliana tenang, agar Marons tidak melanjutkan pembicaraan lagi. Dia berharap, Marons tidak menanyakan keberadaannya saat ini.


πŸ“±"Baik. Aku ada di sini untuk tiga hari kedepan, jadi kau bisa hubungi aku. Ooh, iya. Kau mau lakukan itu jam berapa? Agar aku perlu rubah schedule atau tidak." Marons ingat, Kaliana belum mengatakan jamnya.


πŸ“±"Oooh, iya, Pak. Aku berpikir, nanti Pak Marons tau waktunya saat terima undangan dari kepolisian. Rencananya akan diadakan setelah Magrib. Tapi waktu tepatnya, nanti saat terima undangan resmi dari kepolisian ya, Pak." Kaliana menjelaskan sesuai yang dia maksudkan, karena jam tepatnya sedang menunggu dari Bram.


πŸ“±"Dari kepolisian? Aku kira darimu dan ini rencanamu." Tanya Marons jadi tidak paham yang dikatakan Kaliana.


πŸ“±"Nanti saat GP, aku berada di pihak penyidik, Pak. Aku akan bantu penyidik untuk mengungkapkan kasus ini. Sedangkan tugasku sebagai detektif untuk bantu Pak Marons, sudah berakhir saat sudah putuskan untuk adakan GP." Kaliana menjelaskan.


πŸ“±"Nanti selesai GP, kami akan serahkan laporan hasil penyelidikan kepada Pak Marons dan Pak Danny. Jadi untuk sementara ini, kami minta Pak Marons bersabar. Kami sudah lakukan tugas kami, dan biarkan kami selesaikan ini secara resmi bersama kepolisian." Kaliana kembali menjelaskan dan meminta pengertian.


πŸ“±"Jadi saat GP nanti, kau tidak bersamaku, tetapi ada di pihak kepolisian?" Tanya Marons yang mulai membaca situasi saat GP berlangsung.


πŸ“±"Secara fisik, iya. Tapi saat itu, Pak Marons disupport penuh oleh team sopape. Jadi Pak Marons, hadir dan ikuti GP dengan tenang. Percayakan semua kepada kami." Kaliana berusaha membuat Marons tenang dan mau hadir. Dia merasa ketidak nyamanan dalam nada suara Marons


πŸ“±"Baik. Aku percaya padamu dan akan hadir." Marons tidak mau bertanya lagi, walau di kepalanya ada banyak hal yang tidak dia mengerti.


...~***~...


...~●○€○●~...

__ADS_1


__ADS_2