![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Marons tidak melihat ke arah Kaliana. Dia hanya berbicara pelan cendrung berbisik dengan Danny. Dia menghindari melihat ke arah Kaliana, karena dia tahu Kaliana juga melakukan hal yang sama, tidak melihat ke arahnya. Agar tidak ada penafsiran yang berbeda atau negatif dari orang yang sedang memperhatikan mereka.
"Sebelum kita gelar perkara tewasnya Ibu Rallita, kita akan gelar perkara yang terjadi akibat tewasnya Ibu Rallita, yaitu penuntutan Pak Marons terhadap Pak Punomo, alias Punguk. Sekarang tersangka sedang ditahan di kantor polisi dengan tuduhan peganiayaan dan penjebakan." Bram segera membuka acara, karena melihat suasana yang tidak baik.
"Dalam tuduhan penganiayaan Pak Purnomo telah menjadi terdakwa. Perkara tersebut sudah masuk jadwal untuk disidangkan di pengadilan. Sedang untuk tuduhan penjebakan, Pak Purnomo sedang menunggu hasil penetapan tersangka, karena dia bukan pelaku tunggal. Dia hanya pelaksana, tapi ada otak yang merancang semuanya untuk dilaksanakan." Bram berbicara seruis, agar semua yang hadir bisa fokus, terutama Papa Rallita dan pengacaranya.
Apa yang dikatakan Bram membuat Papa Rallita duduk di atas bara. Walau berusaha tenang, tetapi tetap gelisa. Apalagi Marons menatapnya dengan pandangan yang dingin sambil rahang mengeras. Mama dan adik Rallita yang ada dalam ruangan itu juga, jadi terkejut melihat tatapan Marons yang tidak pernah mereka lihat saat bersama dengan Rallita.
Begitu juga dengan Papa Rallita hanya melihatnya sekilas, karena tatapan Marons menunjukan banyak arti baginya. Bukan saja ada amarah, tetapi juga sirat mata Marons menunjukan ancaman. Membuatnya bergidik dan jadi mengerut dan khawatir. Masa depan bisnisnya, berputar di dalam kepalanya dan mulai mencemaskan.
Marons tidak menyangka persoalan jebak menjebak akan dibahas dalam gelar perkara ini. Karena Kaliana tidak mengatakan apa-apa tentang itu kepadanya. Dia berpikir, hanya kasus tewasnya Rallita yang akan digelar. Sehingga dia sangat marah melihat Papa Rallita yang coba menghindar saat Bram berbicara tentang penjebakan.
Marons sudah serahkan penyelesaian kasus tersebut kepada Danny, pengacaranya. Dia tidak ingin membahasnya lagi. Karena apa yang dilakukan Papa Rallita, sama saja dengan anaknya. Membuat Marons muak dan tidak respek kepada mantan mertuanya itu. Dia tidak mau membahasnya, agar tidak membangkitkan rasa marah kepada orang-orang yang ingin dilupakannya.
"Kenapa kasus penjebakan harus digelar di sini juga, karena penuntut dan juga tersangka ada dalam ruangan ini. Jadi kami akan menyelesaikannya juga di sini." Bram berkata serius sambil melihat Papa Rallita dan juga pengacaranya. Sedangkan Kaliana hanya diam menyimak.
__ADS_1
"Mengapa anda melihat client kami saat mengatakan tersangka dalam ruangan ini? Bukankah saat di ruang interogasi, kami sudah katakan client kami tidak terlibat dalam kasus tersebut? Mengapa anda masih ngotot menuduh client kami ikut bersama tersangka itu?" Pengacara Papa Rallita berbicara sebelum Bram mengatakan siapa yang menjadi tersangka dalam ruangan itu.
"Baik. Anda telah mengatakan sendiri, bahwa client anda yang jadi tersangka dalam ruangan ini. Untuk anda ketahui, kami tidak ngotot untuk menuduh client anda sebagai tersangka dalam kasus ini." Bram berkata sambil melihat pengacara Papa Rallita dengan serius.
"Tetapi, pertama; tersangka yang sudah ditahan tidak mencabut kesaksiannya. Dia tetap mengatakan bahwa Pak Ewan yang merencanakan semuanya dan meminta dia untuk melakukan tindakan penjebakan itu." Bram menjawab dengan tenang dan serius untuk menjaga ketenangan suasana.
"Kedua; kenapa kami mau mengelar perlara itu di sini, karena bukan saja berdasarkam kesaksian terdakwa yang anda sangkal itu. Tetapi kami juga mempunyai bukti yang menyatakan Pak Ewan perencana dalam proses penjebakan tersebut." Ucap Bram lagi, tanpa memberikan kesempatan untuk pengacara Papa Rallita bersuara.
Bram meminta petugas untuk membawa orang yang pernah mengikuti Kaliana dan Marons masuk ke ruangan GP. Ketika orang tersebut masuk, Papa Rallita terkejut tetapi hanya sesaat. Karena pengacaranya mengajaknya bicara, dengan berbisik. Pengacara menanyakan siapa yang baru masuk dan juga seberapa banyak yang diketahui oleh orang tersebut.
Papa Rallita menjelaskan secara pelan, siapa dia dan juga seberapa banyak yang diketahuinya. Pengacaranya tertegun sejenak mendengar penjelasan Papa Rallita. Dia makin terkejut saat mendengar kesaksian orang itu yang memberatkan Papa Rallita.
Apalagi hanya karena kesaksian seorang saksi yang tidak berbeda dengan Punguk yang ada di penjarah. Papa Rallita bisa menyangkalnya lagi, seperti yang pernah dilakukan. Akan sangat berbeda, jika ada bukti Papa Rallita terlihat bersama dengan saksi atau tersangka.
"Anda dan saksi ini dibayar berapa oleh penuntut, untuk menciptakan bukti dengan kesaksian palsu ini? Anda kira kami akan mundur atau takut dengan kesaksian orang ini?" Pengacara Papa Rallita berkata dengan percaya diri untuk menekan saksi. Orang yang memberikan kesaksian jadi emosi, ketika dia dianggap berbohong dan mau dibayar untuk memberikan kesaksian palsu.
Padahal Papa Rallita tahu, dia hadir bersama Punguk untuk mendandatangani kerjasama menyelidiki Marons. Mereka juga diijinkan untuk lakukan tindakan apa saja, agar bisa memperoleh bukti kalau Marons terlibat dalam kasus tewas anaknya.
__ADS_1
Dia makin menceritakan pertemuannya dengan Punguk dan juga Papa Rallita. Tanpa bisa mengemdalikan emosinya, dia memberikan kesaksian dengan berapi-api. Tetapi dengan apa yang dilakukannya membuat pengacara Papa Rallita tersenyum. Semua yang dilakukan pengacara Papa Rallita tidak luput dari perhatian Kaliana.
Marons yang sudah emosi sejak tadi hendak berdiri dan pergi keluar dari ruangan tersebut, sebelum kemarahannya benar-benar meluap mendengar ocehan pengacara Papa Rallita. Tetapi melihat tatapan Kaliana ke arahnya, untuk memintanya tenang, membuat Marons tetap duduk dan berusaha mengendalikan amarahnya.
"Jangan terpancing dengan beludak itu. Dia hanya mau membuatmu emosi dan terlihat buruk. Lihat Anna masih tenang, berarti aman." Bisik Danny, pelan untuk menenangkan Marons.
Danny sendiri sudah melihat isyarat dari Kaliana untuk tidak membalas pengacara Papa Rallita. Sehingga dia hanya menyimak semua yang dikatakan untuk jadi bahan pembelaannya nanti.
Melihat saksi yang disodorksn Bram sedang dipojokan oleh pengacara Papa Rallita yang pintar bermain kata, membuat Kaliana marah. Apalagi mendengar dia mengatakan penuntut, yaitu Marons membayar agar orang tersebut mau memberikan kesaksian palsu.
"Pak penyidik, minta ijin bicara." Kaliana mengangkat tangan ke arah Bram untuk minta ijin. Dia sudah geram melihat tingka pola pengacara Papa Rallita yang merasa di atas angin dengan permainan katanya untuk menekan.
"Silahkan Bu." Bram langsung memberikan kesempatan kepada Kaliana. Karena dia tahu, orang seperti pengacara Papa Rallita itu harus mendapat bombardir dari seorang Kaliana.
Papa Rallita dan pengacaranya tersenyum senang melihat Bram mempersilahkan Kaliana yang memimpin. Mereka berpikir, sudah aman dan lolos saat melihat Bram menyerahkan kendali kepada Kaliana.
"Terima kasih, Pak. Sebelum kita lanjutkan, pertama, tolong catat orang ini yang telah menuduh kalian menciptakan bukti palsu. Kedua, pengacara penuntut, tolong ajukan surat penuntutan terhadap orang ini, karena menuduh client anda memberikan suap." Kaliana berkata serius, tanpa ekspresi membuat Papa Rallita dan pengacaranya terkejut.
__ADS_1
...~***~...
...~●○¤○●~...