C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
102. Gelar Perkara (GP) 5.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Semua yang ada dalam ruangan terdiam. Mereka tidak menyangka penetapan tersangka begitu cepat. Apalagi saat melihat Papa Rallita telah dipakaikan gelang besi dan tertunduk, lemas. Begitu juga dengan istri dan anaknya yang tidak bisa berkata atau berbuat apapun. Hanya diam dan terpaku melihat Papa Rallita telah memakai gelang besi di kedua tangannya.


'Sekarang suaminya tidak bisa bermain mata dengan penegak hukum untuk meloloskan dirinya. Karena semua yang terjadi dan diungkapkan di depan banyak orang. Sehingga bisa menjadi saksi melawannya, jika berniat mau melakukan sesuatu untuk meloloskan diri.' Itu yang ada dalam benak Mama Rallita. Beliau hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan sambil meneteskan airmata.


Kaliana mempersilahkan Bram untuk membuka gelar perkara berikutnya, yaitu tewasnya Rallita yang dikenal dengan sebutan 'Kasus Selokan'. Bram segera meminta petugas Raka untuk membaca BAP dari kesaksian para saksi yang telah diinterogasi oleh penyidik. Satu persatu dibacakan oleh Raka. Semua orang menyimak dalam diam dan juga penasaran.


Setelah melihat apa yang terjadi dengan Papa Rallita, mereka jadi berpikir dan menduga, jangan-jangan pelakunya ada di antara mereka. Hal itu membuat mereka saling melihat satu persatu dan berpikir, siapa kira-kira pelakunya.


Kaliana hanya diam menunggu, tapi memperhatikan satu persatu. Dia terus berdoa dan berharap, Marons bisa mengendalikan dirinya jika sudah membicarakan hal pribadi yang bisa menyinggung perasaannya.


"Tadi adalah berita acara pemeriksaan yang sudah dibacakan oleh petugas. Untuk bukti dan pembuktian kasus, akan disampaikan oleh Ibu Kaliana." Bram berkata setelah Raka selesai membacakan BAP. Kaliana mengangguk pelan dan mulai mengambil posisi.


"Baik. Terima kasih, Pak. Kami berharap, semua yang hadir di sini bisa menjaga sikap, jika ada hal-hal yang diungkapan berkaitan dengan korban. Baik saat korban masih hidup atau saat sudah meninggal." Kaliana membuka pembicaraan sambil menatap satu persatu, terutama Marons.


Marons yang mendengar apa yang dikatakan Kaliana, mengerti maksudnya, lalu mengangguk pelan. Walau tidak melihat, dia tahu Kaliana sedang melihatnya, sehingga dia memberikan isyarat itu kepada Kaliana. Dia tahu, ada banyak hal pribadi yang akan diungkapan dalam penyelesaian kasus ini. Terutama hubungan rumah tangganya dengan Rallita.


Akhirnya dia mengerti, mengapa semua alat komunikasi mereka diambil sebelum masuk ruangan GP. Kaliana sedang mengamankan privasinya, agar tidak terbongkar ke publik. Apalagi melihat pengacara Papa Rallita yang bisa lakukan apa saja untuk mendapatkan uang. Dia bisa menjual semua hal pribadi orang yang terlibat untuk mendapakan uang banyak.

__ADS_1


"Kami memerlukan kerja sama semua yang hadir untuk mengungkap kasus ini, karena kasus ini tidak biasa. Mengapa tidak biasa? Pertama, korban tewas di selokan. Kedua, korban tewas di dekat tempat tinggalnya. Ketiga, korban tewas di waktu yang tidak lazim bagi seorang istri berada di luar rumah. Keempat, pakaian korban saat tewas, tidak lazim digunakan oleh seorang wanita bersuami." Kaliana mulai menjelaskan dengan serius, sambil melihat orang tua Rallita.


"Semua gambar tentang apa yang saya katakan tadi, tidak akan diperlihatkan di sini. Semuanya akan diperlihatkan di pengadilan, saat kasus ini disidangkan." Kaliana tidak mau mengeluarkan bukti-bukti tersebut, karena itu adalah bagian jaksa penuntut dan pembela yang akan menggunakannya untuk menghukum pelaku.


"Sebagaimana berita acara pemeriksaan yang telah dibacakan tadi, kami mau menanyakan Pak Marons terlebih dahulu sebagai suami korban. Apakah korban sering keluar rumah di malam hari?" Tanya Kaliana sambil melihat Marons dengan serius.


"Setahu saya, tidak. Terutama tiga bulan terakhir saya sering di luar kota, jadi tidak tahu jika dia keluar rumah di malam hari." Marons menjelaskan dengan tenang, sambil melihat Kaliana.


"Apakah korban tidak minta ijin kepada anda sebagai suami untuk keluar rumah sendiri di malam hari?" Tanya Kaliana lagi, tetap melihat Marons.


"Iyaa... Tidak pernah." Jawab Marons singkat. Padahal sudah di ujung lidahnya mau mengatakan, jangankan dia ada di luar kota. Saat ada di Jakarta saja, dia tidak pernah melakukannya. Tetapi dia melihat pengacara Papa Rallita sedang memperhatikannya, sehingga dia mengerem ucapannya yang bisa menjadi konsumsi publik.


"Semenjak menikah, baik-baik saja. Tetapi tiga bulan terakhir, tidak baik-baik saja. Penyebabnya, saya sudah katakan kepada penyidik dan saya tidak ingin mengatakannya lagi." Marons berkata tegas, dengan rahang mengeras karena tahu Jaret sedang melihatnya.


"Baik. Kita mempersempit waktunya. Saat korban keluar rumah dan tewas, apakah benar anda tidak mengetahui sama sekali korban keluar rumah?" Tanya Kaliana lagi untuk lebih membuka dan berharap Marons mau membantunya.


"Benar... Saya tidak tahu apa yang dia lakukan di luar rumah pada malam itu. Selain saya sudah tidur, dia tidak minta ijin. Terutama juga, hubungan kami tiga hari sebelum tewasnya dalam fase yang buruk. Kami sedang tidak bertegur sapa." Ucap Marons dengan hati membara, tapi berusaha tenang.


"Hubungan pernikahan anda yang buruk ini, membuat anda ingin menghilangkan nyawanya?" Tanya Kaliana serius. Semua yang ada dalam ruangan memandang Marons. Mereka menanti jawaban Marons dengan cemas. Terutama Danny dan Yogi.

__ADS_1


"Tidak pernah terpikirkan untuk menghilangkan nyawanya, walau nyawanya tidak lagi berharga bagi saya. Nyawanya milik Yang Memberi, jadi biarlah Yang Punya mengambil dengan cara-Nya." Ucap Marons tenang, tapi geram mengingat apa yang dilakukan Rallita dan Jaret.


Orang tua dan adik Rallita melihat Marons dengan rasa malu, karena mereka sudah tahu tentang kehamilan Rallita dari penyidik. Sehingga mereka hanya menunduk saat Marons berbicara.


"Apa yang membuat anda dan korban dalam fase buruk dan tidak berbicara sebelum korban tewas?" Kaliana memancing Marons untuk lebih membuka lagi.


"Saya sudah tidur, tapi dia masih bertelpon ria sampai dini hari dengan manusia berkaki empat. Saya makin marah dan tidak mau berbicara dengannya, karena meninggalkan luka ini di tangan saya." Marons menggulung lengan kemeja yang sengaja dipakai untuk menutupi bekas luka di tangannya.


"Apakah anda tahu atau kenal dengan orang yang berbicara dengan korban saat itu, sehingga membuat anda begitu marah?" Kaliana terus memancing Marons berbicara untuk membantunya.


"Saya tahu manusia berkaki empat yang menelpon dia saat itu. Orangnya ada di sini. Itu yang mengaku sebagai sepupunya." Marons menunjuk Kebart dengan wajahnya. Kebart menatap Marons dengan marah, karena disebut dengan manusia berkaki empat.


Orang tua dan adik Rallita makin menunduk, saat mendengar apa yang dikatakan Marons. Mereka sudah tidak bisa melihat Marons setelah tahu apa yang dilakukan Rallita kepada Marons.


"Mengapa marah melihatku? Jika anda manusia berkaki dua, seharusnya anda bisa berpikir saat bertelpon ria dengan istri orang di tengah malam. Jika tidak bisa tidur, ajak istrimu bergelut, bukan mengajak istri orang untuk membuat mulutmu berbusa." Marons yang sudah menyimpan semua rasa kesal dan marah semenjak malam itu. Dia langsung menyemburnya saat melihat ada kesempatan, tanpa melihat yang hadir.


...~***~...


...~●○¤○●~...

__ADS_1


__ADS_2