C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Progres.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Semua pembicaraan anggota teamnya, selalu menjadi masukan untuknya. Baik dalam memberikan saran, pendapat atau dalam keadaan emosi sekali pun, seperti sekarang ini. Kadang, kemarahan keempat anggota teamnya membuka jalan baru di pikiran Kaliana untuk menelusuri sebuah kasus yang sedang mereka tangani.


"Sambil Putra memeriksa aliran dana, aku juga mau kasih tau, ada seorang petugas yang ditugaskan Pak Bram untuk membantu kita. Jadi kalau Pak Yosa ada rencana lompat pagar, tidak usah. Pak Yosa kasih tau saja, nanti petugas itu akan bantu untuk membuka pintu dengan lencananya." Ucap Kaliana tetap serius, agar rekan-rekannya tidak usah bersusah payah, adu urat saraf atau dengan cara ilegal untuk menemukan bukti.


"Pak Bram akan meminta kesaksian dari keluarga korban dalam waktu dekat ini, jadi kita tunggu apa yang akan mereka katakan tentang kejadian ini. Pasti akan melengkapi keterangan yang Pak Yosa dapatkan." Kaliana melapor perkembangan kasus, agar bisa melihat progres penyelidIkalan mereka.


"Benar, Mbak Anna. Enam bulan terakhir ada aliran dana yang lumayan banyak dari Jaret kepada korban. Begitu juga dengan dari Kebart pada tiga bulan terakhir. Dari orang tuanya juga hampir bersamaan dengan Jaret waktunya." Ucap Putra serius, saat melihat hasil menjelajahnya.


"Maaf, Mbak. Aku periksa orang tuanya juga karena penasaran saja. Ternyata memang semuanya dalam waktu yang hampir bersamaan." Ucap Putra sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena memeriksa orang tua Rallita juga, tidak seperti yang diminta oleh Kaliana.


"Tidak mengapa, Putra. Tadi aku berpikir, itu hal biasa kalau orang tua bantu anaknya. Tapi dengan kau memeriksanya, jadi makin jelas. Memang korban meminta bantuan orang-orang ini pada saat Pak Marons memblokir semua kartunya." Kaliana jadi mengaitkan dengan apa yang dikatakan Marons. Apa yang diperkirakan saat mendengar penjelasan Marons, benar adanya.


"Pak Yosa dan Putra, tolong check club yang sering didatangi korban. Benar kata Yicoe dan Novie. Baju yang dikenakan korban tidak lazim, karena itu busana yang dikenakan saat ke club untuk berpesta bersama teman-temannya...." Kaliana menceritakan apa yang dikatakan Marons tentang busana yang dikenakan Rallita.


Anggota 'Team Sopape' langsung terdiam mendengar penuturan Kaliana seprti yang dikatakan oleh Marons kepadanya. Mereka makin geleng kepala mengetahui kegiatan yang dilakukan Rallita di luar rumah pada malam hari.

__ADS_1


"Astagaaa... Dia tahu kebaikan hati suaminya, yang tidak akan menyeretnya kembali masuk ke dalam mobil, jadi dia pergunakan tak tik jitu. Melepaskan luarannya pada waktu yang tepat. Ckckck..." Ucap Novie lalu berdecak dan menggelengkan kepalanya. 'Istri macam apa yang dinikahi Pak Marons ini?' Novie membatin.


"Iya, Vie. Dia tahu suaminya terpandang dan juga punya jabatan di kantor, jadi tidak akan ribut di tempat umum seperti itu. Istri begini, boleee... Lagi pakai baju begitu, kita lepasin di tepi Pantai Pangandaran supaya dipukul ombak dan dicium angin pantai." Ucapan Yicoe kocak, tapi dengan wajah serius. Membuat rekan-rekannya melihat dia dengan tertegun.


"Ide yang bagus, Mbak. Ngapain kotorin tangan dan tarik urat saraf untuk orang yang begitu. Mendingan diserahkan saja pada ombak dan angin Pantai Pangandaran." Ucap Putra, jadi ikut membayangkan apa yang dikatakan Yicoe dan ingin mewujudkannya.


"Sayang dia terlambat bertemu kita. Dia keduluan orang lain yang menyerahkan dia ke tepi selokan dan ditenggelamkan ke dalam tanah. Kalau bertemu kita duluan, paling cuma punggungnya dilukis dengan koin dan balsem." Ucap Pak Yosa serius, tapi semua langsung tertawa pecah, membayangkan Rallita dikerokin karena masuk angin Pantai Pangandaran.


"Mbak Anna, perilaku korban seperti ini, jangan, jangan, 'make'." Ucap Putra tiba-tiba sambil mengerakan tangannya seperti orang lagi nyuntik. Kaliana melihat Putra dengan serius, begitu juga dengan anggota yang lainnya.


"Iyaa, Mbak. Aku setuju dengan Putra." Ucap Yicoe, dikuti juga oleh Novie dan Pak Yosa. Mereka juga mengatakan setuju dengan pemikiran Putra.


"Aku sudah tanya pada Pak Bram, nanti beliau chek lagi. Kita tunggu hasilnya. Jika hasilnya korban 'make', kita tetap bersikap tenang. Jika 'make'nya tidak menyebabkan kematiannya atau tidak berhubungan dengan kasus tewasnya, kita tidak usah mengaitkannya. Kita simpan sebagai tameng bersama dengan bukti obat tidur." Ucap Kaliana serius, karena dia mau teamnya fokus untuk menemukan bukti yang akurat penyebab tewasnya korban.


"Kalau begitu, Pak Yosa dan Putra segera lakukan penyamaran untuk masuk ke club itu. Mungkin ada sesuatu yang kita temukan di sana berkaitan dengan kehidupan malam korban." Ucap Kaliana serius.


"Anna, apakah aku harus menyamar untuk masuk ke club itu, agar Putra bisa mendapatkan informasi? Sedangkan aku sudah seprti ini, semuanya sudah berlipat dan bergulung." Ucap Pak Yosa, sambil menunjuk wajahnya yang mulai berkeriput dan perutnya mulai berlipat.

__ADS_1


"Kenapa tidak mengirim kedua gadis cantik ini saja?" Tanya Pak Yosa sambil tersenyum dan menunjuk ke arah Yicoe dan Novie.


"Prok.. prokk.. prokkk... Aku setuju dengan Pak Yosa. Kenapa kedua kakakku ini tidak menunjukan kecantikan wajah dan bodynya?" Ucap Putra sambil menepuk tangan girang.


"Kalau tidak ingat kau ada di depan laptop, sudah aku lempar dengan gelas air mineral ini. Memangnya body kami untuk konsumsi publik?" Ucap Yicoe, bersamaan dengan Novie yang mau melempar Putra dengan gelas air mineral. Putra langsung mengangkat tangan dan menaikan kedua jarinya, tanda peace.


"Astagaaa... Aku tidak memikirkan itu. Maaf, Pak Yosa. Memang seharusnya kedua gadis ini yang melakukan penyamaran itu untuk lebih mudah masuk ke club." Ucap Kaliana, lalu menunjuk Novie dan Novie, tanpa memperdulikan mereka berdua sedang protes.


"Kenapa tidak sekalian bertiga saja melakukan penyamaran di club itu? Makin seru dan aman untuk kalian bertiga." Ucap Pak Yosa sambil tersenyum melihat mata Kaliana yang membesar mengarah padanya, saat mendengar usulannya.


"Busana begitu hanya untuk mereka yang femina seperti mereka berdua ini. Kalau aku, baju itu bisa sobek atau melorot dalam dua langka." Ucap Kaliana protes dan tidak setuju dia akan ikut menyamar.


"Ngga papa, Mbak. Mereka berdua juga perlu bodyguard yang cantik. Teruskan perjuangan kita semua. Kakak-kakakku pasti bisa." Ucap Putra sambil mengepalkan tangannya, memberi semangat.


Meteka bertiga tidak bisa berkata-,kata mendengar yang dikatakan Pak Yosa dan Putra. Tuntutan pekerjaan yang jarus dilakukan. "Tapi kita akan dapatkan baju seperti itu dimana? Kalau sewa, pasti muahaaalll..." Ucap Yicoe yang mulai menghitung pengeluaran team mereka. Novie juga setuju dengan pemikiran Yicoe, jadi mengangkat jempolnya ke arah Yicoe.


Setelah berpikir dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan, Kaliana memutuskan. "Baiklah... Aku akan jadi bodyguard kalian. Soal baju, nanti aku hubungi Pak Marons. Mungkin ada baju korban yang bisa kita pinjam sesuai dengan tubuh kita dan tempat yang di tuju." Ucap Kaliana pelan. Dia sudah tidak bisa mengelak untuk membiarkan kedua anggota teamnya yang cantik ke sarang orang yang tidak bisa membedakan mana teman, mana jempol dan mana kelingking.

__ADS_1


...~***~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2