C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Pembahasan 4


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Bram mengangguk dengan kuat untuk meyakinkan Kaliana. "Aku serius, duarius, tigarius, semuarius. Sangat aneh melihat wajahnya saat menanyakan itu. Dia juga terkejut mendengar pertanyaan, yang aku ajukan itu. Jadi menurutku, dia tidak sedang bersandiwara." Bram menjelaskan untuk meyakinkan Kaliana lagi.


"Kalau begitu, nanti aku tidak ikut ke kantormu. Tolong turunkan aku di jalan. Nanti aku teruskan perjalananku dengan mobil online. Kau tolong selesaikan penyelidikan tadi, nanti kita bicarakan lagi." Ucap Kaliana serius. Bram mengangguk mengerti dan menyetujui permintaan Kaliana. Dia sudah tahu, jika Kaliana meminta demikian, tidak bisa dirubah atau dinegosiasi lagi.


Bram tidak menurunkan Kaliana, tetapi mereka menunggu di dalam mobil sampai mobil yang dipesan Kaliana tiba. "Bram, jika mobil korban sudah selesai di sisir, tolong tugaskan petugas Raka antarkan ke rumah korban, ya. Kabari aku, nanti aku tunggu dia di sana." Ucap Kaliana mengingat mobil Rallita masih diselidiki di kantor polisi.


"Siaaap...! Ada lagi?" Tanya Bram serius, karena saat ini, Kaliana dan dirinya sedang diuji kemampuan untuk menyelesaikan 'Kasus Selokan'. Itu kode kasus yang mereka berikan untuk kasus tewasnya Rallita Gandire.


Apalagi sekarang dengan adanya kasus tambahan pemakaian sabu dari Jaret, kasus tewasnya Rallita akan makin disoroti media. Publik akan mulai mengikuti, karena menyangkut anak seorang pejabat pemerintah.


"Kau sudah menjadwalkan pemeriksaan orang tua dan keluarga korban lainnya?" Tanya Kaliana mempergunakan waktu yang tersisa untuk berdiskusi dengan Bram, membahas apa yang sudah dan yang akan dilakukan.


"Sudah. Rencananya dua hari lagi dan hari ini mau mendiskusikan itu denganmu. Tetapi keduluan menangani permintaanmu untuk menyelidiki Lipas dan apartemen Rallita. Aku utamakan ini, karena bukan saja minta keterangan seperti orang tua dan keluarga korban lainnya. Tetapi ini ada bukti tambahan yang perlu diamankan." Bram menjelaskan rencana pengusutan kasus kepada Kaliana.

__ADS_1


"Sekarang kita harus bekerja berkejaran dengan waktu, karena tadi setelah kau turun, keluarga korban minta pemeriksaan dan pembuatan BAP keluarganya dimajukan ke esok hari. Mereka akan keluar kota, jadi minta dimajukan." Ucap Bram, baru teringat setelah ditanyakan oleh Kaliana.


"Kau harus berhati-hati dan lakukan penjegalan. Untuk sementara, mereka jangan diijinkan ke luar negeri. Nanti aku akan berikan nama-nama keluarga korban yang perlu dilarang ke luar negeri." Kaliana serius memikirkannya, karena khawatir ada yang akan melakukan perjalanan ke luar negeri, sehingga memperlambat penyelesaian kasus.


"Siaaap...! Kau email saja, nanti aku tindak lanjuti. Setelah semua ini, kau tetap tidak ikut saat interogasi besok?" Tanya Bram, karena berharap Kaliana berubah pikiran mau ikut ambil bagian, tidak hanya menitipkan pertanyaan. Kaliana bisa menganalisa orang saat menjawab pertanyaan sebelum mendengar jawabannya.


"Aku titip petanyaan saja. Aku belum mau bertemu dengan mereka saat ini. Tapi ini momen yang sangat pas. Mereka datang untuk memberi keterangan setelah kita mengetahui apartemen anaknya sebagai tempat bercocok tanam dengan tidak halal." Ucap Kaliana tenang, membayangkan apa yang akan dikatakan orang tua Rallita setelah mengetahui kebiasaan anaknya.


"Mereka belum tau, korban sedang hamil bukan? Dengarkan dulu apa kecurigaan mereka terhadap Pak Marons, baru kau tembak dengan fakta bahwa anaknya hamil dengan Jaret dan kepemilikan apartemen itu. Supaya mereka berhenti menuduh Pak Marons dan bicara ngawur kepada Punguk." Ucap Kaliana lagi, mengingat mereka telah menyewa Punguk untuk menyelidiki Marons.


"Kau tembak saja dengan fakta yang ada, agar mereka berhenti menyidik dan mencari di tempat yang salah. Biarkan Punguk juga mencari pelaku sebenarnya, jadi kita bisa berlomba dengan dia di tempat yang benar." Kaliana berharap, keluarga Rallita berhenti mengganggu Marons dengan terus mengikutinya.


"Aku malah lebih suka dia terus menyelidiki Pak Marons, agar tidak recokin kita. Biarkan saja dia, jika mereka tetap ngotot menyelidiki Pak Marons. Mungkin Punguk lagi membutuhkan uang, mau membeli susu untuk membesarkan ototnya. Kalau di jalur yang benar, keriiing... Dia tidak bisa membual untuk dapatkan uang 'JJ' lebih." Ucap Bram sambil tersenyum, mendengar apa yang dikatakannya. Demikian juga dengan Kaliana, jadi tersenyum mengingat singkatan mereka untuk uang 'Jajan dan Jalan'.


"Semoga uang orang tua korban diperoleh dengan cara yang halal, jadi akan digunakan dengan baik kepada orang yang baik dan untuk kepentingan yang baik. Tidak diakalin dan dikuras oleh Punguk dan anggotanya." Kaliana berharap, karena dia sudah tahu kinerja Pungguk selama bekerja bersama mereka di kesatuan.

__ADS_1


"Yaaa... Semoga seperti yang kau harapkan. Jika tidak, malang melintang dan patah, patah. Keluarkan duit banyak, hasilnya 'zong ko zong'..." Bram menggambarkan situasi buruk yang akan dihadapi oleh orang tua Rallita, jika terus menggunakan jasa Punguk. Kaliana mengangguk mengerti maksud Bram.


"Kata Alm Papaku, jika uang yang kita dapatkan dengan cara yang tidak halal, suatu saat akan mengeluarkan kakinya lalu berlari meninggalkan kita. Uang yang tidak halal itu selalu mencari jalan untuk pergi dari kita. Makanya tadi aku bilang, semoga orang tua korban dapat uang dengan cara yang halal. Jika tidak, diakalin Punguk. Itu juga cara uang mencari jalan untuk berlari pergi dari orang tua korban. Sama dengan Punguk juga, nanti diakalin anggotanya." Ucap Kaliana sambil mengingat apa yang dikatakan orang tuanya.


"Duit membuat mereka berada dalam lingkaran saiton. Apa yang kurang dari kehidupan Jaret dan Rallita, duit mereka berjibun. Tetapi digunakan dengan cara yang tidak terpuji. Yaaa... Seperti katamu, duit cari jalan keluar jalan-jalan dan kabur." Ucap Bram, sambil tersenyum. Dalam hati, dia mengakui apa yang dikatakan orang tua Kaliana.


"Oooh iya, aku mau kasih info. Apartemen itu milik korban bukan Jaret. Kau bisa confirm dengan Jaret, tapi Pak Marons tidak tahu menahu tentamg apartemen itu. Itu hasil penyelidikan kami. Jadi jika Jaret mengatakan itu bukan apartemennya, hanya datang. Iyaa, benar. Itu milik korban, tapi suami korban tidak ikut campur." Kaliana menjelaskan lagi, agar Bram bisa meminta keterangan saksi dari orang tua korban dengan tepat.


Ketika Kaliana melihat mobil yang ditunggu sudah dekat, dia pamit dari Bram dan tidak lupa mengingatkan. "Bram, untuk pertemuan dengan keluarga korban besok, kau fokuskan banyak pertanyaan kepada orang tua korban. Sedangkan untuk Kebart, sepupu korban, cukup sepukul duapukul. Kau pergunakan jurus main layangan untuknya. Nanti setelah ini, aku akan bertemu dengannya secara terpisah dan sendiri." Kaliana memberitahukan rencananya untuk menyidik Kebart.


"Apa ada yang spesial dari sepupunya itu?" Tanya Bram, menanggapi permintaan Kaliana.


"Bisa ada yang spesial, bisa juga tidak ada. Tapi menurut Pak Marons, mereka memiliki hubungan spesial yang tidak lazim sebagai saudara." Ucap Kaliana lalu turun dari mobil Bram. Kemudian melambaikan tangannya ke arah Bram sebelum masuk ke mobil online yang sudah menunggunya.


...~***~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2