![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Kaliana jadi ikut sarapan dalam diam dan cepat, karena dia berpikir Marons akan segera dijemput. Tanpa diketahui Kaliana, Marons telah kirim pesan dan shareloc rumah Kaliana kepada sopirnya dari malam. Sehingga pagi-pagi sopirnya sudah datang menjemoutnya.
Setelah sarapan, Marons minta terima kasih dan langsung pamit dari semua anggota team, karena sopirnya sudah berada di depan rumah Kaliana.
"Mbak, katanya mau minta ijin." Yicoe mengingatkan Kaliana, seperti yang dimintanya tadi malam kepada Yicoe.
"Oooh, iyaa...!" Ucap Kaliana sambil menepuk dahinya, lalu berjalan cepat menyusul Marons yang hampir keluar dari halaman rumahnya.
"Pak Marons... Tunggu sebentar..!" Teriak Kaliana sambil berlari kecil menyusul langka Marons yang panjang dan berjalan cepat.
"Ada yang ketinggalan...?" Tanya Marons, sambil berbalik menunggu Kaliana yang mendekatinya, sambil berlari kecil.
"Iyaa, Pak. Tapak kaki...!" Ucap Kaliana asal, lalu mengangkat kedua tangan menutupi kepalanya, karena dia melihat gerakan tangan Marons hendak menyentuh kepalanya. Kaliana bukan tidak senang, tapi merasa tidak enak dilihat anggota teamnya.
"Di screenshot saja, tapak kakiku, lalu di email. Daripada lari bikin keringat." Marons jadi tersenyum mendengar ucapannya yang mulai terkontaminasi dengan celetukan Kaliana.
"Sekalian olah raga, biar tidak sering lupa. Begini, Pak. Aku minta ijin mau pakai kartu yang diberikan itu. Aku mau lakukan beberapa tes, dan mungkin membutuhkan dana yang lumayan besar." Ucap Kaliana, karena dia tahu untuk tes DNA membutuhkan biaya yang lumayan besar. Apalagi tidak untuk satu orang.
"Iyaa, pakai saja. Aku berikan itu untuk dipakai, bukan untuk jadi pengaman di dompetmu. Pakai saja dan tidak usah minta ijin. Ada lagi...?" Tanya Marons serius, karena dia tidak menyangka Kaliana minta ijin untuk hal itu.
__ADS_1
"Iya, Pak. Mobilnya masih kami gunakan, karena belum sempat ke rumah untuk tukaran." Kaliana teringat dengan mobil Rallita yang masih digunakan, karena akan pergi menyelidik bersama Raka.
"Gunakan saja. Ada lagi?" Tanya Marons serius, karena melihat Kaliana sedang berpikir serius. Hal-hal yang tidak biasa dialami oleh Marons, selama berkeluarga dengan Rallita. Karena Rallita tidak pernah minta ijin untuk melakukan sesuatu atau menggunakan sesuatu.
"Sudah, Pak. Terima kasih. Cepatan berangkat, nanti terlambat. Semangat dan sukses, Pak." Ucap Kaliana sambil mengepalkan tangannya memberi semangat kepada Marons. Sebagaimana sering dilakukan oleh anggota team sopape dalam saling memberi semangat.
"Kau juga, dan hati-hati. Ingat yang aku katakan tadi malam." Marons berkata serius. Kaliana mengangguk mengerti. Marons berusaha mengendalikan tangannya untuk tidak mengelus lengan Kaliana. Karena dia melihat Pak Yosa sudah keluar halaman untuk memanaskan motornya.
Setelah mobil Marons meninggalkan depan rumahnya, Kaliana segera berlari masuk ke rumah untuk mengambil tas dan semua keperluan yang akan dibawa. Kemudian mengajak Yicoe dan Novie untuk berangkat bersamanya. Sedangkan Putra dan Pak Yosa sudah duduk di atas motor.
Beberapa waktu kemudian, saat tiba di kantor, Kaliana mengirim pesan kepada Bram untuk menitipkan apa yang diambil dari keluarga korban untuk Raka. Karena dia sudah mengirim pesan kepada Raka bahwa mereka akan bertugas pagi ini dan akan menjemputnya di tempat biasa.
Putra yang sudah mengambil apa yang dikirim Bram dari malam, segera mengajak anggota team untuk melihat semuanya. "Putra, tolong perlihatkan kepada Yicoe dan Novie untuk melihat dan meneliti bagian-bagian yang perlu kita ambil. Kami mau pergi dulu, mumpung masih pagi, jadi bisa bertemu dengan orangnya atau mobilnya. Kalau bisa, aku akan lihat email itu di jalan." Ucap Kaliana serius, karena mereka tidak memiliki banyak waktu.
Setelah mengetahui semuanya dalam keadaan normal dan baik, Kaliana dan Pak Yosa segera meninggalkan kantor untuk menjemput Raka. Sambil Pak Yosa menyetir, Kaliana melihat semua yang dikirim Bram dan membahasnya dengan Pak Yosa, sebelum Raka bergabung dengan mereka.
Raka sudah menunggu mereka di tempat biasa. "Bu, apakah kita harus bertemu dengan orangnya? Atau dengan mobilnya saja?" Tanya Raka yang telah masuk ke mobil dan sudah menuju ke tempat tujuan. Melihat sebentar lagi akan tiba di tempat, Raka memastikan tugasnya agar tidak salah bertindak.
"Dua-duanya tidak masalah. Tetapi yang utama, kau lihat mobilnya. Jika ada mobilnya, tetapi pemiliknya tidak ada di tempat, segera berikan kode untuk kami turun. Kami perlukan mobilnya untuk di sisir." Ucap Kaliana cepat, karena mereka telah tiba dekat tempat tujuan.
Raka turun dari mobil, lalu berjalan cepat ke rumah yang dituju, karena Pak Yosa tidak berhenti di depan rumah tersebut. Tidak lama kemudian, Raka memberikan kode untuk mereka mendekat.
__ADS_1
Kaliana dan Pak Yosa segera menyalakan kamera dan alat komunikasi team sopape. "Putra, Yicoe dan Novie, kirimkan pelangi jika melihat ada benda atau tindakan orang yang mencurigakan." Ucap Kaliana setelah mengetahui teamnya di kantor telah siap.
Putra telah menyambungkan ke layar TV, jadi Yicoe dan Novie bisa melihat dengan jelas situasi tempat tujuan. "Bu, ada mobilnya. Tetapi pemiliknya sedang tidak di tempat. Istrinya mengijinkan kita masuk." Raka melapor setelah Kaliana dan Pak Yosa mendekat.
"Baik. Tidak masalah dan itu lebih baik." Bisik Kaliana, lalu menyapa nyonya rumah yang berdiri di dalam pagar menunggu mereka.
Kemudian mereka diantar ke garasi tempat mobil di parkir, setelah Kaliana memberitahukan maksud mereka. Bahwa mobil tersebut terlihat di tempat yang kurang baik. Mungkin dipakai oleh seseorang untuk lakukan tindakan yang kurang baik.
Nyonya rumah mengangguk mengerti lalu membuka garasi dan pintu mobil untuk disidik oleh Kaliana dan Pak Yosa. Raka hanya berjaga di halaman sambil melihat situasi. "Pak Yosa, tolong sisir semuanya, aku akan mewancarai Nyonyanya. Mungkin ada yang kita dapatkan selain dari isi mobil ini." Bisik Kaliana kepada Pak Yosa, karena sikap dan reaksi nyonya rumah tersebut, tidak lazim bagi Kaliana.
"Raka, tolong pegang kantong ini dan bantu Pak Yosa saat hendak mengisi barang yang ditemukan berkaitan dengan kasus ini." Bisik Kaliana kepada Raka, lalu menyerahkan kantong bersegel di tangannya kepada Raka.
Kaliana dengan santai sepintas lalu mengajak nyonya rumah bercakap-cakap di dekat garasi. Bertanya tentang pekerjaannya, pekerjaan suaminya dan hal-hal yang bisa membantu penyelidikan mereka untuk mendapatkan bukti kongkrit.
Pak Yosa bekerja dengan cepat, karena menyangka tindakan Kaliana menghindari nyonya rumah dari penyelidikan mereka. Agar apa yang ditemukan tidak perlu dibahas dengan yang empunya rumah.
Setelah Putra mengatakan sudah mendapatkan semua, Pak Yosa keluar dari mobil lalu mengambil apa yang ada di tangan Raka lalu membawanya ke mobil mereka. Sedangkan Kaliana yang sudah merasa cukup mewawancarai nyonya rumah, segera pamit saat melihat Pak Yosa dan Raka kembali untuk pamit.
"Terima kasih untuk kerja samanya, Bu. Nanti kami hubungi Ibu lagi jika diperlukan." Ucap Kaliana ramah, sambil menyalami nyonya rumah. Begitu juga dengan Pak Yosa dan Raka, lalu mereka kembali ke mobil. Pak Yosa melihat Kaliana dengan heran, karena sikapnya yang tidak biasa.
...~***~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...