C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Seiring Jalan 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Sambil menunggu Putra, banyak hal yang ingin ditanyakan Marons kepada Kaliana. Tetapi dia menahannya, karena ada Yicoe dan Novie bersama mereka. Dia ingin berbicara berdua dengan Kaliana, karena kalau bersama teamnya, Kaliana akan menjawab secara formal. Berbeda jika hanya berdua, Marons bisa mendesaknya untuk menceritakan apa yang ingin diketahuinya.


Kaliana hanya memperhatikan mobil Marons yang mewah dan juga nyaman. 'Kenapa dia menyukai mobilku? Mobilnya juga sangat nyaman.' Kaliana berkata dalam hati. Dia mengalihkan perhatiannya dari Marons, karena dia tahu Marons sedang penasaran dengan apa yang mereka lakukan tadi.


"Kalian mau minum apa? Soft drink atau air mineral?" Tanya Marons, mengingat mereka masih di luar, jadi bisa sekalian membeli keperluan mereka. Ada air mineral di rumah, tapi dia ingin membeli yang baru untuk mereka.


"Soft drink saja, Pak. Biar cocok dengan menunya." Ucap Kaliana, cepat sebelum dijawab oleh Yicoe dan Novie.


"Baik, kalau begitu kita tidak perlu mampir beli di swalayan karena ada di rumah. Tidak lama kemudian, Putra bersama waiters datang mendekati Marons untuk proses pembayaran.


"Mbak Anna, maaf. Aku tidak tau, porsinya buanyaak." Ucap Putra sambil mengangkat kantong di dua tangannya. "Harus habisin. Awas, kalau bersisa." Ucap Kaliana galak, tapi tersenyum senang bisa mengerjai Putra. Yicoe dan Novie hanya bisa berpandangan. Mereka tahu, jika Putra berkata begitu, berarti porsinya memang banyak.


Marons langsung mengendarai mobilnya di atas kecepatan normal, agar makanan mereka bisa dinikmati dalam keadaan masih hangat. Setelah tiba di rumah, Marons mengganti bajunya, begitu juga dengan Kaliana, Yicoe dan Novie. Karena Pak Yosa belum tiba di rumah, mereka harus menunggu.


"Kalia, tolong lihat tempat di dapur, agar semua menunya dijadikan satu saja." Ucap Marons. Agar Putra tidak dapat hukuman, menghabiskan makanannya. Dia ingin mereka makan bersama-sama, agar bisa saling bantu menghabiskan menunya. Marons sudah bisa tebak, dia dan Pak Yosa akan membantu para gadis menghabiskan menu yang dibeli Putra.

__ADS_1


Kaliana mengerti maksud Marons, dia langsung ke dapur untuk melihat apa yang bisa dipakai. Dia meletakan semuanya di atas meja makan. Marons mengeluakan doft drink dari kulkas saat Putra telah tiba. Mereka makan sambil bercakap-cakap yang umum. Tanpa menyinggung kasus yang mereka tangani.


Kaliana tidak bisa menahan rasa ingin tahunya, sehingga pada saat sudah mulai santai, dia bertanya kepada Marons. "Pak, tidak pernah berpikir untuk tinggal di apartemen?" Tanya Kaliana sambil lalu. Tapi anggota team yang lain mengerti maksud pertanyaan Kaliana.


"Tidak. Karena rumah orang tua cukup luas untuk kami dan juga, setelah menikah beli rumah ini. Jadi tidak terpikirkan untuk membeli apartemen. Tapi setelah kasus ini, mungkin aku akan cari apartemen." Marons menjelaskan niatnya, karena dia sudah merasa tidak nyaman untuk tinggal di rumahnya.


"Kalian semua mau pulang?" Tanya Marons setelah mereka selesai makan dan masih duduk santai di ruang makan. Semua anggota team tidak menjawab, tetapi secara refleks melihat ke arah Kaliana.


Melihat itu, Marons memberikan kode kepada Kaliana dengan mata untuk mengikutinya. Kaliana secara refleks berdiri melihat Marons telah berdiri dan berjalan ke ruang keluarga. Kaliana jadi mengerti arti tanda Marons dengan matanya.


"Kalia, saat ini aku selain kenyang juga capek, jadi sudah tidak sanggup pulang ke rumah orang tuaku. Jadi tolong kalian semua tidur di sini, agar aku bisa tenang tidur di sini." Ucap Marons, berharap Kaliana mau mengijinkan anggota teamnya untuk tidur di rumahnya.


Kaliana kembali ke ruang makan untuk berbicara dengan anggota teamnya bahwa mereka akan nginap di rumah Marons. Semua tersenyum senang, karena mereka kekenyangan jadi sudah tidak kuat untuk melakukan perjalanan pulang. Terutama Putra dan Pak Yosa yang akan naik motor.


Setelah memberitahukan kamar-kamar yang akan ditempati, Marons masih berbicara dengan Pak Yosa dan Putta di ruang makan. Sedangkan Kaliana, Yicoe dan Novie yang tidur jadi satu, sudah berada di kamar tamu. Kaliana tidak mau tidur di kamar sendiri, jadi gabung dengan Yicoe dan Novie. "Mbak Anna, apartemen itu milik siapa? Apa milik Jaret atau Rallita?" Tanya Novie setelah mereka berada di dalam kamar. Mereka mulai berpikir setelah mendengar apa yang dikatakan Marons yang tidak memiliki apartemen.


"Nanti aku minta Pak Bram keluarkan surat penggeledahan, agar aku bisa masuk ke sana secara legal. Kalian tidak usah ikut, karena aku yang akan ke sana bersama Pak Bram dan team forensik. Doakan semoga ada bukti baru di sana." Ucap Kaliana, berharap ada bukti yang akan mereka temukan di apartemen tersebut.

__ADS_1


Kaliana langsung menghubungi Bram untuk memberitahukan orang yang mereka jumpai di club, agar segera dijemput untuk dimintai keterangan. Kaliana menjelaskan semuanya, agar Bram bisa gerak cepat menjemput orang tersebut dan membuat surat penggeledahan apartemen.


Tiba-tiba pintu kamar mereka diketok. Ketika mengetahui Putra yang ketok, Kaliana membuka pintu untuknya. "Ada apa Putra? Tidak bisa tidur karena kekenyangan?" Tanya Kaliana sambil tersenyum, ngeledek Putra yang hanya bisa garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Mbak Anna. Apartemen itu baru dibeli belum tiga bulan lalu. Ini aku sudah periksa unitnya milik Rallita Geradin." Ucap Putra yang tidak tahan untuk menyelidiki setelah berada di kamar.


Kebiasaan di rumah, mereka akan berdiskusi tentang apa yang ditemukan sepanjang hari. Jadi sebelum tidur, mereka akan membicarakan semua yang mereka temukan. Kaliana langsung berpikir cepat mendengar yang dikatakan Putra. "Jika itu milik korban, berarti dia beli tanpa sepengatahuan suaminya." Ucap Kaliana sambil terus berpikir.


"Aku akan hubungi Pak Bram lagi, agar besok bisa keluar surat penggeledahannya. Jangan sampai ketahuan Jaret, lalu menyingkirkan barang bukti yang ada." Ucap Kaliana yang terus berpikir.


"Dengan ancaman seperti tadi, jika orangnya masih berani kasih tau Jaret, langsung ditangkap saja, Mbak. Itu tandanya dia mencoba menghilangkan barang bukti." Ucap Yicoe, mengingat ancaman Kaliana terhadap orang tersebut agar tidak mengatakan apapun kepada Jaret.


Setelah menghubungi Bram untuk memberitahukan temuan Putra dan juga pentingnya isi apartemen, Kaliana dan lainnya segera istirahat. Begitu juga, Putra telah kembali ke kamarnya, tetapi Kaliana belum bisa tidur. Banyak hal yang dia pikirkan tentang perkembangan kasus yang terjadi. Dia membiarkan jubahnya tetap pada orang tersebut, karena dia berharap Bram yang akan mengambilnya sebagai bukti tambahan.


Setelah melihat semua sudah tidur, Kaliana keluar untuk mencari minum. Tenggorokannya terasa kering, karena tadi hanya minum soft drink. Dia terkejut melihat Marons sudah tidur di sofa ruang keluarga. 'Ternyata dia benar-benar trauma untuk tidur di kamarnya.' Kaliana berkata dalam hati sambil melihat Marons yang sudah tertidur.


Dia tidak jadi mengambil air minum, tetapi kembali ke kamar untuk mengambil selimut. Kaliana kembali dengan selimut di tangan, lalu perlahan Kaliana menutup tubuh Marons yang sudah tertidur. "Sweet dreams." Bisik Kaliana pelan. Tanpa berani menyentuh wajahnya, walaupun hatinya ingin melakukannya.

__ADS_1


...~***~...


...~●○¤○●~...


__ADS_2