![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~β’Happy Readingβ’~...
Setelah berpisah dengan Kaliana, Bram tidak kembali ke kantor. Tetapi langsung menuju kediaman keluarga orang tua Rallita untuk berbicara dengan Papa Rallita. Semua rencana yang dikatakan Kaliana membuatnya bersemangat dan tidak mau membuang-buang waktu untuk memastikan semuanya sesuai rencana.
Cara kerja dan pengaturan Kaliana yang sistimatis sampai ke hal yang kecil-kecil, mempengaruhinya. Dia ingin belajar dan mempraktekan cara itu dalam menangani kasus, dimulai dari menyelesaikan 'kasus selokan'. Semua yang dikatakan Kaliana tentang cara penyelesaian kasus itu, tidak didapatkan di bangku pendidikan. Sehingga Bram mau mempraktekan itu dalam cara kerja yang teratur dan sistimatis.
Dia percaya akan apa yang dikatakan oleh Kaliana dan rencananya. Tidak mungkin Kaliana akan menjebaknya untuk mendatangkan orang-orang yang diundang dan mempermalukannya. Jika terjadi demikian, sama saja karier Kaliana sebagai detektif swasta akan berakhir. Oleh sebab itu, Bram mempercayai Kaliana dengan pertama-tama mendatangi Mansion orang tua Rallita.
Saat tiba di mansion orang tua Rallita, adik Rallita menerimanya dengan heran, terkejut dan juga curiga. Papa Rallita menemui Bram yang telah dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tamu, dengan cemas dan khawatir. Kedatangan Bram yang tiba-tiba membuatnya tidak sempat menghubungi pengacara. Papa Rallita berpikir, Bram datang untuk membicarakan kasus yang sedang dihadapinya dengan Punguk.
Bram memaklumi rasa heran dan khawatir keluarga Rallita, terutama Papa Rallita. Karena selain dia datang tanpa pemberitahuan, dia juga adalah penyidik yang menangani kasus Punguk dan Papa Rallita. Oleh sebab itu, Bram bersikap baik dan lebih ramah agar pembicaraan mereka kondusif dan lancar.
Bram mulai membuka percakapan dengan menjelaskan tujuan kedatangannya tidak berhubungan dengan kasus Papa Rallita, tetapi dengan kasus tewasnya Rallita. Sehingga dia berharap Papa Rallita bisa tenang dan menanggapi dia dengan baik.
"Mengapa harus di tempat kami? Bukankah Marons memiliki rumah yang cukup besar untuk bisa dipakai sebagai tempat gelar perkara itu?" Papa Rallita berkata dengan sinis, karena keberatan rumahnya dipakai sebagai tempat pertemuan. Beliau makin curiga mendengar penjelasan Bram.
"Saya sekarang datang berbicara dengan Pak Ewan untuk membahas hal ini, karena saya tahu Almrh Rallita adalah anak dari keluarga ini. Apakah anda tidak malu untuk minta mengadakan GP di tempat Pak Marons, setelah tahu apa yang anak anda lakukan kepada Pak Marons?" Tanya Bram serius dan dingin. Dia ingat juga apa yang dikatakan Kaliana tentang trauma Marons, akibat perbuatan Rallita.
Bram tidak menyinggung apa yang dilakukan oleh Papa Rallita terhadap Marons, karena beliau masih menyangkal di depan penyidik tentang keterlibatannya menjebak Marons. Bram hanya fokus untuk membahas kasus selokan yang menewaskan Rallita.
Mendengar apa yang dikatakan Bram, Papa Rallita terdiam. Semua yang dilakukan Rallita bagaikan slide yang bergantian dan berputar di kepalanya. Melihat reaksi Papa Rallita, terhadap apa yang dikatakannya, Bram melanjutkan serangan lagi tanpa memberikan kesempatan berpikir.
__ADS_1
"Pak Ewan, saya tidak ada sangkut pautnya dengan korban dan juga Pak Marons. Saya hanya mengetahui perbuatan anak anda dari hasil penyelidikan, setelah tewas. Semua yang kami temukan, membuat saya merasa malu jika mau mengajukan permintaan untuk mengadakan GP di tempat Pak Marons." Bram berusaha menyerang, agar bisa menggugah perasaan dan kesadaran Papa Rallita.
"Sedangkan anda yang adalah orang tuanya dan juga memiliki rumah sebesar ini, masih keberatan untuk menerima permintaan kami? Anda ini orang tuanya atau bukan?" Bram menambah serangan dengan menembak langsung ke sasaran vital.
"Apakah anda tidak ingat apa yang saya katakan di ruang interogasi tentang bukti perbuatan anak anda? Apa perlu saya mengulangnya lagi di depan anda sekarang, sehingga bisa mengerti kenapa GP harus diadakan di tempat ini?" Tanya Bram tegas dan serius. Papa Rallita makin terdiam.
"Saya kira anda menyayangi anak anda itu. Ternyata anda memanjakannya tanpa kasih sayang. Sebagai orang tua yang anaknya tewas, bisa berlaku seperti ini, membuat saya jadi curiga." Ucap Bram lagi tanpa menghentikan serangan.
"Apa maksud anda dengan perkataanmu itu? Mana ada orang tua yang tidak sayang kepada anaknya?" Ucap Papa Rallita tiba-tiba merespon apa yang dikatakan Bram.
"Rasa sayang bukan hanya ditunjukan dalam kata. Tetapi juga dalam perbuatan. Setiap orang tua ingin mengetahui siapa pelaku pembunuh anaknya. Tetapi anda masih melakukan banyak manuver yang berbelit-belit, saat kami mau mengungkapkan siapa pelaku pembunuhan anak anda itu." Bram tidak mundur, tapi terus menyerang saat melihat ada kesempatan.
"Semua orang memiliki cara untuk menyelessikan suatu kasus. Saya jadi curiga, jangan-jangan anda atau keluarga anda sendiri yang membunuh korban." Ucap Bram tanpa bergeming. Membuat Papa Rallita berdiri dan mengebrak meja.
"Anda jangan asal menuduh sembarangan. Saya bisa memperkarakan anda, karena menuduh tanpa bukti." Ucap Papa Rallita yang sudah emosi.
"Tanpa bukti? Atau anda sendiri yang sedang takut kami mau menunjukan bukti bahwa anda dan keluaga anda sendiri yang mengakibatkan korban tewas?" Tanya Bram serius, memancing emosi Papa Rallita.
"Kenapa mesti takut dengan gertakan anda? Saya mengenal keluarga saya. Keluarga saya tidak akan melakukan hal seperti itu. Silahkan anda lakukan sesuka anda di tempat ini." Ucap Papa Rallita menyerah. Bram tersenyum senang dalam hati.
Bram langsung memberitahukan rencana GP yang akan dilakukan dan juga beberapa petugas yang akan datang menyiapkan acara tersebut. Kemudian Bram pamit pulang dengan hati lega dan senang. Walaupun melihat wajah masam Papa Rallita saat mereka berpamitan.
__ADS_1
Setelah selesai bertemu dan disetujui oleh Papa Rallita untuk lakukan GP di kediamannya, Bram langsung menghubungi Kaliana untuk memberitahukan kesuksesnnya memperoleh ijin Papa Rallita.
Kaliana yang masih di jalan, terkejut mendengar nada dering di ponselnya, pertanda Bram menghubunginya. Kaliana segera merespon, sambil berpikir mungkin ada yang kurang jelas tentang GP, sehingga Bram mau bertanya padanya lagi.
π±"Sayangku, cintaku, clear." Bram berkata dengan hati senang saat Kaliana merespon panggilannya.
π±"Negriku, bangsaku, apa yang clear?" Tanya Kaliana tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Bram.
π±"Tempat untuk adakan GP dan waktunya juga, Clear... Kau tinggal menyiapkan yang lainnya." Ucap Bram lagi.
π±"Kau sudah bicara dengan orang tua korban?" Tanya Kaliana terkejut, karena tidak menyangka bisa cepat dapat persetujuan dari orang tua Rallita.
π±"Aku baru pulang menyiapkan medan tempur dan harus bertempur dengan yang punya medan...." Bram menceritakan apa yang terjadi saat tiba di mansion orang tua Rallita dan juga pembicaraannya yang alot dengan Papa Rallita.
π±"Astagaaa... Kau langsung pergi menemuinya? Thanks. Kalau begitu, aku sudah tenang untuk menyiapkan hari H." Ucap Kaliana dengan hati senang dan bersyukur. GP akan diselenggarakan sesuai dengan harapannya dan team sopape rencanakan.
π±"Nanti aku hubungi lagi. Aku mau kembali ke kantor untuk siapkan undangan." Ucap Bram bersemangat, lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah saling memberikan salam.
...~***~...
...~ββΒ€ββ~...
__ADS_1