C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Penyelidikan 5.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Saat Marons mandi, Kaliana menyiapkan sandwich yang sudah dibuat lagi oleh Yicoe untuk dibawa oleh Marons. Sedangkan Novie dan Yicoe bagian membersihkan isi kulkas untuk dibawah oleh mereka sebagaimana yang dikatakan oleh Marons. "Mbak, apakah buah-buahan ini dibawa juga?" Tanya Novie sambil menunjukan Apel di tangannya ke arah Kaliana. Sebelum Kaliana menjawab, Putra telah menyambar apel tersebut dari tangan Novie dan langsung menggigitnya.


Marons yang sudah selesai mandi dan berpakaian rapi, jadi tersenyum melihat Putra mengganggu Novie. "Belum pernah ditimpuk apel, ya... Belum minta sama yang punya, main sambar, aja." Novie kembali mengambil apel lain dan hendak melemparnya ke arah Putra. Kaliana hanya bisa menggelengkan kepala, karena melihat Marons sudah di belakang Novie.


"Bawa saja semua buah-buahannya dan juga daging, ikan, ayam, kalau ada. Katong plastik, mungkin ada di laci kitchen set." Ucap Marons sambil menunjuk laci-laci kitchen set berwarna abu hitam yang berjejer rapi di dapur.


Setelah semua dimasukan ke kantong plastik, Kaliana melihat Yicoe dan Novie bergantian, karena banyaknya kantong yang harus di bawa. "Coe, Vie, kalian berdua pulang pakai mobil online saja, karena barang-barang ini tidak bisa dibawah pakai mobil korban. Aku akan menyusul pulang untuk mandi dan ganti. Kalian tolong rapikan sebelum ke kantor, karena aku tidak ke kantor lagi." Ucap Kaliana, melihat banyaknya bawaan tidak bisa diletakan di bagasi mobil korban yang belum disidik.


"Kasus ini mau disidik oleh Pak Bram, jadi sementara Pak Yosa dan Putra tolong terus selidiki kasus penipuan itu, ya. Nanti malam baru kita bicarakan jika ada bukti tambahan tentang kasus pembunuhan ini." Ucap Kaliana pelan, saat Pak Yosa dan Putra hendak pamit pulang dari Marons. Pak Yosa dan Putra mengangguk mengerti.


Marons mengangguk ke arah Pak Yosa dan Putra yang sudah pamit. Kemudian dia ke garasi untuk menyiapkan mobilnya. Dia tersenyum sendiri melihat rumahnya benar-benar hidup di pagi hari. Semua pada sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Tidak lama kemudian, Yicoe dan Novie pamit pulang, karena mobil yang dipesan sudah datang.


Pak Yosa dan Putra yang sudah di atas motor, kembali turun untuk bantu jinjing semua yang akan dibawa oleh Yicoe dan Novie untuk dimasukan ke dalam mobil. Kemudian mereka meninggalkan halaman rumah Marons.


Kaliana memberikan tempat makan siang untuk Marons, lalu mengeluarkan mobil Rallita dari garasi untuk diganti dengan mobilnya. Marons memasukan kopernya ke bagasi mobilnya, karena dia sekalian membawa keperluannya untuk ke luar kota.


"Kalia, apa hari ini akan bertemu dengan orang seperti tadi malam?" Tanya Marons, sambil merapikan kopernya di bagasi.

__ADS_1


"Tidak, Pak. Hanya memeriksa tempat untuk cari barang bukti. Ada apa, Pak? Tanya Kaliana heran dengan pertanyaan Marons.


"Tidak. Jadi tidak perlu beradu dengan seseorang seperti tadi malam, kan?" Tanya Marons yang sebenarnya merasa khawatir Kaliana bentrok dengan orang dalam tugas penyelidikannya.


"Oooh... Tidak, Pak. Amaaan... Aku hanya mau bawa mobil ini dan memeriksa barang bukti." Ucap Kaliana yang sudah mengerti maksud pertanyaan Marons.


"Baik. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku. Walaupun ada di luar kota, aku akan kembali. Hati-hati...!" Ucap Marons yang sudah mengeluarkan mobilnya ke jalan raya. Begitu juga dengan mobil Rallita yang sudah dikeluarkan oleh Kaliana.


"Pak Marons juga. Hati-hati...! Sememtara ini, jangan pikirkan dulu kasus di sini, karena dengan kejadian tadi malam, ada perkembangan baru. Jadi harap bersabar." Ucap Kaliana yang sudah berdiri di samping Marons.


"Kau tidak usah ke kantor untuk ambil kunci. Ini kunci rumah dan garasi..." Marons menjelaskan penggunaan garasi jika Kaliana akan datang mengambil mobilnya. Kaliana memperhatikan dengan serius, semua yang dikatakan Marons. Dia tidak berani memandang wajah Marons saat menerima kunci rumahnya.


"Ok. Hati-hati...!" Ucap Marons sekali lagi, sambil mengusap pelan lengan Kaliana. Hal itu membuat Kaliana tidak bisa berkata-kata, hanya bisa mengangguk lalu masuk ke mobil Rallita. Demikian juga dengan Marons yang telah masuk ke mobilnya, hanya bisa meniup nafasnya dengan kuat, karena hatinya sangat berat


°***°


Beberapa waktu kemudian, saat tiba di kantor polisi, petugas yang ditugaskan untuk membantu Kaliana telah menunggunya. Kaliana telah memberitahukan kedatangannya saat dalam perjalanan dari rumah Marons ke rumahnya.


"Pak Bram sudah datang?" Tanya Kaliana, saat petugas mendekatinya dan memberi hormat.

__ADS_1


"Sudah, Bu. Sekarang sudah ada di ruang interogasi bersama orang kami jemput dini hari." Ucap petugas melapor. Kaliana merasa senang, Bram dan teamnya bergerak cepat untuk menjemput orang tersebut.


"Kau tolong minta bantuan team forensik untuk periksa mobil itu, ya. Itu mobil korban. Bagian depan sudah disisir dan ini hasilnya. Tapi bagian belakang dan lainnya belum disentuh." Ucap Kaliana, lalu menyerahkan kunci mobil dan hasil pemeriksaan teamnya kepada petugas tersebut.


Kaliana langsung menuju ruang interogasi. Melihat Kaliana sudah datang, Bram tersenyum senang, tapi ngerem sapaannya saat melihat kode Kaliana, ada di ruang interogasi. Bram jadi serius. "Sekarang giliran, Ibu menariknya. Dari tadi kesaksiannya seperti angkot tua yang tersendat-sendat jalannya." Ucap penyidik Bram, yang sudah memahan emosi mendengar kesaksiannya yang lambat, kebanyakan pikir.


Saksi yang melihat kedatangan Kaliana, jadi terkejut. Dia tidak menyangka, Kaliana seorang polisi. Sejak tadi dia memberikan kesaksian ragu-ragu dan kurang fokus, jadi takut melihat sikap Bram serius dan hormat kepada Kaliana.


Kaliana melihat sepintas catatan percakapan Bram dengan saksi. "Pak, semua kesaksian orang ini tadi malam, akan saya serahkan kepada petugas. Jika dia memberikan kesaksian yang berbeda, naikan saja statusnya jadi tersangka. Karena orang ini yang melihat korban terakhir masih hidup." Ucap Kaliana serius kepada Bram. Wajah saksi langsung memucat, melihat anggukan Bram.


Dia langsung memberikan keterangan dengan lancar, karena khawatir akan ancaman Kaliana. "Pak, Lipas. Anda di sini sebagai saksi, karena pernah berhubungan dengan korban. Jadi kami menanyakan apa yang anda ketahui tentang korban. Bukan kata teman anda si A, si B atau si Z, tentang korban."


"Jika anda mau bergosip, di luar sana bersama teman-teman anda. Petugas kami tidak punya waktu untuk mendengar dan mencatat gosip anda. Tapi jika benar, perkataan teman anda, orang itu akan datang ke sini untuk memberikan kesaksian." Kaliana menegur saksi, karena mulai keluar dari jalur. Sangking semangat untuk memberikan kesaksian, sampai apa yang diceritakan teman-temannya tentang korban, dia beberkan.


"Pak, mari kita pergi lihat apartemen yang dia katakan. Yang di sini biarkan teammu badingkan kesaksiannya tadi malam dengan kesaksiannya sekarang. Jadi biarkan dia di sini sampai kita kembali." Ucap Kaliana kepada Bram. Dia penasaran dengan apartemen yang dikatakan oleh Putra adalah milik korban.


"Jika apartemen telah bersih, anda tidak akan pulang dari tempat ini. Berarti anda pelakunya atau anda bekerja sama dengan pelaku untuk menyingkirkan barang bukti." Ucap Kaliana tegas, karena khawatir Lipas telah memberitahukan Jaret bahwa ada yang sudah mengetahui tentang apartemen tersebut.


...~***~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2