![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Kaliana yang jeli melihat segala sesuatu, sudah melihat tatapan keluarga korban padanya saat berbicara dengan Marons, untuk meminta ruang kerja bagi Putra. Di acara pemakaman korban itu, Kaliana sudah menduga ada pandangan negatif kepada Matons. Keluarga korban pasti berpikir, Marons ada memiliki wanita lain saat hidup bersama dengan anaknya.
Kaliana dan Danny tidak jadi meneruskan pembicaraan mereka tentang keluarga korban yang sedang mengawasi Marons. "Karena Pak Marons mau ke sini, baiknya kita tunggu beliau baru kita bicarakan yang tadi, agar tidak berulang kali kita membahasnya." Ucap Kaliana, agar bicara sekaligus bersama Marons.
"Iyaa... Kita tunggu Pak Marons saja baru kita bicarakan agar bisa sekaligus, tidak berulang kali. Tapi pertanyaanku, apakah anda sudah menduga kalau kekuarga korban terlibat?" Tanya Danny penasaran dengan ungkapan umpan bola yang dimaksudkan Kaliana.
"Di dunia kami, semua orang terdekat dengan korban perlu dicurigai, termasuk Pak Marons. Untuk melihat reaksi, perlu ada aksi. Salah satu aksi adalah dengan mengumpan bola itu. Supaya kita bisa melihat reakai dari setiap orang, yang dekat dengan korban." Ucap Kaliana menerangkan cara mereka bekerja.
"Iya, saya mengerti. Anggap saja kita sedang memancing. Bisa dapat ikan, bisa juga tidak." Ucap Danny yang mengerti maksud Kaliana.
"Iya, Pak Danny. Tergantung kita mancing di mana. Bisa dapat ikan, bisa juga tidak. Bahkan mungkin bisa dapat sendal jepit yang sudah putus talinya." Ucap Kaliana, lalu tersenyum sendiri mendengar ungkapannya. Mereka pernah mengalami situasi seperti itu, dikiranya dapat bukti kongkrit, tidak tahunya hanya bukti palsu yang ditempatkan pelaku. Danny jadi tersenyum mendengar ungkapan Kaliana.
"Sambil menunggu Pak Marons, saya akan memberitahukan apa yang sudah saya katakan kepada Pak Marons, agar nanti Pak Danny tidak bertanya-tanya jika ada pembahasan seputar itu." Ucap Kaliana, agar mereka bisa mengisi waktu dengan maksimal sambil menunggu Marons.
"Kami sudah mengetahui siapa pria yang bersama dengan korban di hotel saat bertemu dengan Pak Marons. Namanya Jaret Kariola dan dia adalah pacar korban sejak SMA......" Kaliana membuka percakapan dan mulai membicarakan Jaret dan juga hasil pemeriksaan janin yang sudah ada di tangan penyidik. Tetapi Kaliana tidak membicarakan kerja samanya dengan Bram kepada Danny.
__ADS_1
"Jadi benar, dia Ayah dari anak yang dikandung Rallita? Jadi mereka tetap bertemu setelah pertemuan mereka dengan Pak Marons?" Danny bertanya sambil berpikir dan mengingat usia janin yang disampaikan oleh penyidik kepadanya dan Marons di ruang interogasi.
"Iyaa, anda benar. Mereka masih bertemu setelah itu. Dan perlu anda ketahui pria itu anak seorang pejabat pemerintah, jadi anda harus sedikit ekstra hati-hati memberikan bantuan hukum kepada Pak Marons. Saya belum memberitahukan Pak Marons tentang siapa orang tua Jaret." Ucap Kaliana, lalu menyampaikan kepada Danny, siapa orang tua Jaret agar Danny bisa lebih hati-hati.
"Jadi dia putra Pak Kariola. Saya sudah sering mendengar tentang Ayahnya, tetapi tidak dengan anaknya. Apakah orang tuanya sudah tau tentang kasus ini?" Tanya Danny setelah mendengar apa yang dikatakan Kaliana tentang orang tua Jaret.
"Sepertinya belum, karena baru dia sendiri dan pengacaranya yang datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Belum ada intervensi dari orang tuanya di kasus ini." Ucap Kaliana, yakin. Danny percaya yang dikatakan Kaliana tentang pemeriksaan, karena dia tahu Kaliana mengenal orang kepolisian sebagaimana dia mengenal saudaranya di Surabaya.
"Tetapi kita jangan merasa senang dulu, bahwa sudah mengetahui Jaret adalah Ayah bayi itu. Lalu secara otomatis dia bisa jadi pelakunya." Ucap Kaliana mengingatkan.
"Pak Danny juga harus pikirkan, mungkin saja tuduhan itu di arahkan kepada Pak Marons. Mungkin beliau marah saat korban memberitahukan siapa Ayah bayi itu kepadanya. Kondisi ini bisa dibalik oleh pengacara Jaret untuk menyelamatkan clientnya." Ucap Kaliana, tanpa memberitahukan Jaret sudah mulai menggiring opini ke arah itu.
Kaliana berpikir, bisa terjadi pembicaraan di luar ruang interogasi antara Jaret dengan pengacaranya. Pengacaranya bisa mendorong Jaret untuk bicara lebih tajam tentang dugaan Marons terlibat untuk meluputkannya dari berbagai kemungkinan buruk.
"Anda benar. Pengacaranya akan atur strategi untuk menyelamatkan Jaret. Karena yang akan disidangkan bukan Ayah janin, tapi pembunuh korban. Mungkin Jaret hanya kejipratan malu, jika ketahuan publik. Dia melakukan penghianatan kepada keluarganya karena berselingkuh dengan istri orang." Ucap Danny, sambil berpikir serius mendengar keterangan yang disampaikan Kaliana.
"Sekarang anda harus konsetrasi memikirkan setiap kemungkinan yang terjadi, jika orang tua Jaret mengetahui perbuatan anaknya. Kita tidak tahu seberapa besar peduli atau sayang orang tuanya pada Jaret. Tetapi kita tahu dampak perbuatan anaknya bagi status sosial jabatan orang tuanya." Ucap Kaliana.
__ADS_1
"Orang tuanya akan berjuang membela anaknya, bukan karena Jaret anaknya. Tetapi lebih daripada itu, untuk menyelamatkan muka dan jabatannya. Oleh sebab itu, kita harus berhati-hati. Pak Marons bisa menjadi korban konspirasi untuk menyelamatkan kedudukan orang tua Jaret." Kaliana sudah memikirkan itu semenjak Putra mengatakan siapa orang tua Jaret.
"Kau benar. Kasus ini akan menjadi bola liar, jika orang tua Jaret telah ikut campur. Bersyukur kau sudah bicarakan ini sebelum Pak Marons datang. Kondisi ini jangan kita bicarakan dulu dengannya, karena kondisinya sedang buruk. Mengetahui dia sedang diawasi oleh orang tua Rallita saja sudah membuatnya emosi. Apalagi membicarakan kemungkinan adanya bola liar." Ucap Danny serius.
"Iyaa... Jangan menambah beban pikirannya dengan sesuatu yang belum pasti. Semua kemungkinan ini saya sampaikan kepada Pak Danny, agar bisa punya gambaran ke arah mana saja bola ini memantul." Ucap Kaliana tidak kalah serius, setelah berbicara dengan Danny. Semua kemungkinan yang terlintas di benaknya, bisa menjadi senjata untuk membidik Marons. Apalagi orang tua korban sudah mulai menebar kecurigaan kepada Marons dengan mengawasi atau menyelidikinya.
"Melihat situasi ini, apakah orang tua Rallita menyewa detektif untuk menyelidiki kasus ini dan Pak Marons sebagaimana yang kami lakukan?" Danny berpikir dan menanyakan pendapat Kaliana.
"Bisa saja mereka lakukan, karena mereka berduit. Mereka bukan masyarakat biasa yang hanya bisa pasrah menghadapi kasus seperti ini." Ucap Kaliana serius.
"Saya berharap, mereka memakai jasa detektif seperti kami. Karena dengan demikian, detektifnya akan menyelidiki dan menganalisa setiap bukti yang mereka temukan. Akan sangat riskan dan berbahaya, jika mereka hanya menyewa orang untuk mengawasi lalu memberikan laporan. Kemudian keluarga korban sendiri yang menganalisa dan menarik kesimpulan sendiri tentang laporan yang diterima tanpa ada rangkaian bukti pendukungnya." Kaliana menjelaskan dari pengalaman yang sering ditemui di lapangan saat menangani berbagai kasus.
"Sudah curiga dan tuduh sana, sini, pelakunya lenggang kangkung. Nilai plus dari kasus ini dan bisa mengamankan Pak Marons, beliau menyewa detektif. Jadi bisa saling beradu membuktikan semua bukti kongkrit yang ditemukan. Akan berbeda, jika Pak Marons tidak melakukan itu. Pihak sana akan terus menunjukan bukti Pak Marons terlibat, sehingga itu bisa memojokan. Pak Marons hanya bisa mengharapkan sikap profesional dan kejujuran aparat hukum yang menangani kasus ini." Ucap Kaliana makin serius.
...~***~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1