![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~β’Happy Readingβ’~...
Mendengar apa yang dikatakan Kaliana, Bram melihat Lipas dengan serius dan sangar. "Sudah saya katakan, jangan main-main dalam memberikan kesaksian dan mengulur-ulur waktu. Anda akan rasakan sendiri akibatnya, jika terjadi seperti yang dikatakan penyidik tadi." Ucap Bram tegas, lalu keluar menyusul Kaliana.
"Ada apa? Kau begitu galak dengan orang itu." Tanya Bram setelah mereka sudah berada di ruang kerjanya. Kaliana telah duduk di kursi yang tersedia dengan emosi.
"Orang yang menghalalkan segala cara untuk dapatkan cuan, dia bisa menjual jiwanya untuk dapatkan itu..." Kaliana berkata serius, membuat Bram tertegun. Kaliana menceritakan bahwa dia bergaul dengan mereka, sekaligus sebagai driver bagi Rallita dan Jaret untuk bisa melakulan hubungan terlaramg mereka.
Bram melihat Kaliana dengan serius, saat mendengar apa yang dikatakannya. "Surat ijin penggeledahan datang, kita segera menuju ke tempat itu. Jadi selama ini, mereka memang tidak perlu email spe*ma seperti katamu. Ternyata mereka sudah punya tempat tetap untuk amborrr..." Ucap Bram serius, sambil membuat jarinya seperti orang sedang menebar beni di ladang.
"Itu yang membuatku penasaran dan ingin segera ke tempat ambor mereka. Semoga orang di dalam tidak menikung kita, sehingga tempat ambor mereka masih berjejak." Ucap Kaliana serius, sambil menunjuk ke arah ruangan interogasi, dimana Lipas berada
"Tempat itu baru dibeli oleh korban beberapa bulan lalu, belum tiga bulan. Mungkin dia membelinya setelah pertemuan mereka diketahui oleh Pak Marons di hotel itu." Ucap Kaliana mengaitkan pembelian apartemen Rallita dengan peristiwa pertemuan Marons dengan mereka di hotel. Dia telah memikirkan itu setelah mendengar hasil selancar Putra.
"Astagaaa... Pak Marons temukan istrinya ini di mana? Apakah di dunia maya atau di dunia lelang?" Bram bertanya karena terkejut mendengar analisa Kaliana. 'Jika benar demikian, istrinya memang niat sekali melakukan perselingkuhannya.' Itu yang terpikirkan oleh Bram.
"Yang pasti korban, jago manipulasi dan playing victim. Jadi di dumia manapun, dia bisa mengelabui siapa saja. Apalagi dengan kecantikan dan berlimpah cuan dari orang tuanya. Dia bisa dapatkan apa yang dia inginkan. Dia bisa bermain drama dan bermanis ria untuk memanipulasi para pria." Kaliana berkata dengan serius, setelah meneliti kasus kematian Rallita. Melihat ruang gantinya di rumah Marons, Kaliana makin mengenal ruang lingkup pergaulan dan kebiasaan Rallita.
"Untung aku bertemu dengannya setelah terbujur kaku. Melihat paras dan bentuk tubuhnya, tidak heran jika Jaret masih mengincarnya." Ucap Bram yang pernah melihat jenasah Rallita sebelum diautopsi, mengakui kalau wajah dan tubuh Rallita memang aduhai.
"Bagaimana dengan penyelidikan alibi Jaret? Apakah benar dia tidak ada di tempat saat korban tewas?" Tanya Kaliana mengingat penyataan Jaret saat pembuatan BAP. Dia tidak menanggapi candaan Bram tentang Rallita.
__ADS_1
"Iyaa... Kami sudah menyelidiki dan memastikan, bahwa Jaret memang berada di luar kota. Semua orang yang berhubungan dengannya saat itu, mengatakan benar dan menunjukan bukti foto dan video. Itu event olah raga, jadi ada dokumentasinya." Bram menjelaskan apa yang ditemukan kepada Kaliana, karena Jaret salah satu pengurus dan panitia dalam event olah raga tersebut.
Kaliana yang mendengar itu, jadi berpikir keras. 'Jadi siapa yang menjemput Rallita di club seperti yang dikatakan Lipas padaku? Apakah Lipas telah berbohong saat di club?' Tanya Kaliana sendiri dan terus berpikir. Bram jadi melihat Kaliana dengan serius.
"Kita pergi dengan team lengkap?" Tanya Bram saat petugas datang ke ruangannya untuk menyerahkan surat penggeledahan apartemen.
"Siap, Pak. Semua sudah siap, tunggu perintah." Ucap petugas tersebut, sambil memberi hormat.
"Baik. Siapkan. Kita segera berangkat." Perintah Bram, lalu mengajak Kaliana keluar dari ruang kerjanya.
"Bagus... Kita pergi dengan team lengkap, agar tidak perlu menunggu atau bolak-balik." Ucap Kaliana tegas dan yakin. Dia sudah berencana akan hubungi Marons setelah bisa masuk ke apartemen tersebut. Karena apartemen itu atas nama Rallita, jadi yang berhak atas apartemen itu adalah Marons dan Marons bisa dikaitkan, karena Rallita istrinya.
Setelah tiba di apartemen dan melihat isinya, Kaliana dan Bram bersama team tertegun. Apartemen sangat berantakan dan tidak ada tanda-tanda telah dibersihkan. Semua petugas langsung menggunakan sarung tangan untuk menyelidik. Sedangkan Kaliana minta ijin dari Bram untuk keluar dari unit apartemen. Kemudian dia menghubungi Marons.
π±"Tidak, Kalia. Kau tau aku akan berangkat sekarang? Aku sudah berada di Bandara." Ucap Marons heran, tapi hatinya senang, Kaliana menghubunginya. Dia berpikir, Danny telah memberitahukan keberangkatannya kepada Kaliana.
π±"Oooh, tidak Pak. Aku ada perlu berbicara sebentar. Apa masih ada waktu?" Kaliana jadi terkejut sendiri, mengetahui Marons sudah di Bandara.
π±"Masih bisa. Aku lagi tunggu boarding. Bagaimana...? Apakah ada masalah dengan mobilnya?" Tanya Marons lagi, mengingat Kaliana sedang membawa mobil Rallita untuk disidik oleh kepolisian.
π±"Tidak, Pak. Bapak percaya padaku bukan?" Tanya Kaliana serius, membuat Marons yang tadinya agak santai, jadi ikut serius.
__ADS_1
π±"Iyaa, aku percaya padamu, makanya aku serahkan semua penyelesaian kasus ini padamu. Ada apa sebenarnya?" Marons bertanya serius, mendengar pertanyaan Kaliana.
π±"Jika ada yang bertanya kepada Pak Marons, tentang kepemilikan korban yang jadi milik bapak, katakan saja: sudah percayakan kepada saya, jadi bisa bertanya pada saya. Dan juga saya bisa bertindak mewakili Pak Marons dalam hal tersebut." Ucap Kaliana serius.
π±"Baik. Aku mengerti. Nanti aku hubungi Danny untuk menyiapkan legalnya. Kau bisa hubungi Danny setelah ini, karena sebentar lagi mau boarding." Ucap Marons yang sedang duduk di executive lounge.
π±"Baik, Pak. Terima kasih. Hati-hati...!" Ucap Kaliana, lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah Marons membalas salamnya.
"Annaaa..." Panggil Bram dari dalam apartemen. Mereka sudah menyarungkan plastik ke kaki semua team yang ikut bertugas. Kaliana juga ikut mengenakan di tangan dan kakinya lalu berjalan mendekati Bram.
"Aku belum mengatakan padamu, tentang pertanyaanmu, apakah ada zat tertentu dalam tubuh korban. Memang hasil forensik menunjukan kalau korban make sabu, tapi baru. Jadi dia tidak meninggal karena OD. Sekarang kau lihat peralatan mereka ini. Jadi ini juga tempat persembunyian mereka." Ucap Bram sambil menunjuk bong, alat untuk menggunakan sabu.
"Astagaaa... Wanita ini benar-benar tidak tau bersyukur. Masih mencari kesenangan dengan menggunakan barang beginian. Dia memakai ini, dan membiarkan dirinya hamil." Kaliana berkata dengan nada geram.
"Apa karena Pak Marons bisa bersikap tegas setelah bertemu dengannya di hotel itu, membuatnya terkejut. Dia pasti shock, karena tidak menyangka Pak Marons bisa lakukan itu. Sehingga melarikan diri ke barang haram ini?" Tanya Bram, mengingat kesaksian Marons dan keputusannya.
"Itu bukan alasan yang bisa membenarkannya untuk menggunakan barang haram ini. Untung dia sudah tewas. Jika tidak, aku akan membuatnya melahirkan di penjara." Ucap Kaliana yang masih emosi.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Beraninya masuk ke apartemen orang tanpa ijin." Tiba-tiba sebuah suara mengglegar, menegur para petugas yang sedang bekerja. Kaliana dan Bram yang sedang memeriksa di kamar mandi, terkejut, lalu bergegas melihat siapa yang datang.
...~***~...
__ADS_1
...~ββΒ€ββ~...