C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Rencana Gelar Perkara 2.


__ADS_3

...~β€’Happy Readingβ€’~...


Setelah berbicara dengan Marons, Kaliana segera menghubungi Bram. Karena semua perkara akan digelar secara resmi dibawa pengawasan Bram sebagai penyidik resmi. Kaliana dan team membantu untuk menyiapkan bukti-bukti di luar penyelidikan resmi. Tetapi proses penangkapan tetap ditangani oleh pihak berwajib yang berwenang.


Keuntungan Kaliana sebagai detektif swasta yang berkolaborasi dengan pihak penyidik resmi adalah mengetahui banyak hal secara resmi dan tidak perlu lompat pagar untuk mendapatkan informasi penting. Saat penangkapan, mereka hanya membantu jika diperlukan. Tetapi semua dukungan dan keterlibatan mereka diketahui secara resmi.


πŸ“±"Halloo, sayangku, cintaku. Kau memang ada di jalur hatiku." Ucap Bram senang, mengetahui Kaliana menghubunginya. Karena dengan Kaliana menghubunginya, mereka sudah bisa berkomunikasi lagi dengan lancar.


πŸ“±"Negriku, bangsaku. Apa yang terjadi denganmu pagi ini? Apa kau sudah menemukan gombalanmu kembali?" Tanya Kaliana senang, saat mendengar nada senang di suara Bram.


πŸ“±"Aku mau menghubungimu, tapi ragu-ragu. Karena menurut Pak Yosa, kalian semua sedang dalam fase hibernasi. Jadi aku ragu-ragu mau menghubungimu. Sekarang kau sudah hubungi, yaaa.. panjang umurmu." Bram tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya.


πŸ“±"Ada apa? Apakah ada masalah lagi dengan orang itu? Bukannya kau sudah mengamankannya?" Tanya Kaliana mengingat peristiwa pengamanan yang dilakukan oleh Bram dan anggotanya terhadap anggota Punguk yang pernah mengikutinya dan Marons.


πŸ“±"Dia sudah aman. Lagi tunggu darimu, karena kau bilang jangan menembak dulu. Aku mau minta bocoran tentang 'kasel', karena orang tua Jaret terus menghubungi 'Bintang' untuk menanyakan kelanjutan perkara itu." Ucap Bram yang baru dipanggil pimpinannya, sehingga berniat untuk menghubungi Kaliana.


πŸ“±"Ooh, itu... Aku menghubungimu ini, untuk mengatur schedule gelar. Aku butuh bantuanmu untuk mengatur tempat dan membuat surat undangan kepada semua orang yang terkait." Ucap Kaliana serius, karena sudah masuk dalam pembicaraan kasus yang ditanganinya.


πŸ“±"Siaaap. Kau katakan saja, apa yang harus aku lakukan untuk memperlancar prosesnya. Semua fasilitas bisa kita gunakan, jika diperlukan." Ucap Bram dengan hati senang, karena Kaliana sudah katakan demikian.

__ADS_1


πŸ“±"Sebelum aku mengaturnya, aku mau tanya dulu. Tiga hari dari sekarang kau ada di sini? Tidak tugas di luar, maksudnya." Tanya Kaliana serius untuk meyakinkan dia dalam mengatur schedule.


πŸ“±"Iyaa... Aku ada di sini. Karena menangani dua kasus ini, aku jadi dipantek di sini." Bram menjelaskan kondisi tugasnya yang belum bisa beralih karena kasus yang ditangani belum selesai.


πŸ“±"Baik. Jika begitu kondisimu, kita bertemu nanti untuk makan siang. Aku perlu bicara denganmu secara langsung, karena ada beberapa hal yang perlu kita diskusikan. Aku perlu bicara denganmu dan butuh pengamanan khusus darimu dan team." Kaliana bicara serius, karena yang akan dibicarakan dengan Bram adalah tindakan khusus pengamanan dan taktik penangkapan tersangka.


πŸ“±"Shareloc restorannya. Atau mau aku menjemputmu?" Tanya Bram serius menanggapi permintaan Kaliana.


πŸ“±"Aku akan shareloc restoran terdekat dengan kantormu dan kita bertemu di sana. Ada yang mau aku lakukan sebelum bertemu denganmu." Ucap Kaliana lagi. Bram mengerti lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah saling memberikan salam.


Kaliana keluar dari ruang kerja untuk bertemu dengan anggota lain yang sedang menunggu keputusan waktu pelaksanaan gelar perkara. Sebutan yang digunakan oleh team sopape, jika sudah masuk dalam tahap akhir penanganan kasus yang mereka kerjakan.


Kemudian Kaliana keluar kantor dan menuju ke tempat tujuan dengan mobil Rallita. Setelah tiba di rumah Marons, Kaliana membuka garasi dan memeriksa mobilnya yang belum bisa di bawa. Dia memanaskan mesin mobil beberapa waktu, lalu memeriksa rumah Marons yang terlihat sangat sepi dan suram.


Kaliana menyadari, Marons tidak pernah kembali ke rumahnya sejak terakhir datang bersamanya dan anggota team sopape lainnya. Dia membersihkan yang bisa dibersihkan, sambil menunggu mesin mobilnya dipanaskan.


Menjelang waktu makan siang, Kaliana kembali mengenderai mobil Rallita menuju restoran tempat dia akan bertemu dan makan siang bersama Bram. Dia berangkat lebih awal, agar Bram tidak lama menunggunya. Dia mengendarai mobilnya dalam kecepatan di atas normal, karena jalanan yang tidak padat mendukungnya.


"Kau masih pakai mobil korban?" Tanya Bram yang baru tiba di tempat parkir restoran. Saat keluar dari mobil, dia melihat Kaliana baru turun dari mobil Rallita. Sehingga dia mendekati Kaliana dengan alis bertaut dan bertanya, ingin tahu.

__ADS_1


"Iyaa... Masih diijinin pakai oleh Pak Marons untuk mobilisasi team." Jawab Kaliana sambil mereka berjalan masuk ke restoran, dan berharap Bram tidak membahas mobil lagi.


"Kita makan dulu baru bicarakan apa yang akan dilakukan. Aku tadi tidak sempat sarapan, hanya minum kopi karena diminta menghadap oleh 'Bintang pagi-pagi." Bram berkata sambil duduk di meja yang telah dipilih, agar mereka bisa berbicara tanpa terganggu oleh orang yang datang makan.


"Iyaaa... Kita makan dulu, agar tidak terganggu juga dengan suara tangisan dari perut." Ucap Kaliana asal dan mencoba santai sebelum makan. Bram jadi tersenyum mendengar celetukan Kaliana yang asal. Kemudian Kaliana dan Bram pesan menu sesuai selerah mereka, lalu menikmati makan siang dalam diam.


"Oooh... iya, aku lupa memberitahumu, beberapa hari lalu Kebart baru bisa datang untuk memberikan kesaksiannya. Itu, kau bisa baca hasil interogasi yang sudah aku email. Mungkin bisa melengkapi apa yang kau dapatkan." Ucap Bram setelah mengirim email kepada Kaliana.


"Apa kau sudah bertemu dengan Kebart?" Tanya Bram lagi, saat melihat Kaliana mengotak-atik ponselnya. Bram bertanya, karena Kaliana tidak pernah membicarakan Kebart dengannya.


"Aku belum bertemu dengan orangnya secara langsung, tapi apa yang aku perlukan tentangnya sudah kami dapatkan. Jadi aku pikir tidak perlu lagi bertemu dengannya, untuk menghemat waktu dan energi. Terima kasih untuk info yang baru di email." Ucap Kaliana serius, lalu memasukan ponselnya ke kantong rompinya.


"Sekarang kau harus bantu bicara dengan orang tua Rallita, bahwa kita akan gelar perkara di rumah mereka. Bukan minta ijin tapi kau sudah tentukan dan putuskan waktunya dan tempatnya, tiga hari dari sekarang. Jadi setelah ini, kau bisa mengatakan kepada mereka, apa yang sudah diputuskan olehmu tidak bisa ditolak. Jika mau menolak atau merasa keberatan dengan keputusanmu, silahkan ajukan alasan yang bisa membuatmu merubah keputusan." Ucap Kaliana tegas.


"Aku memiliki alasan untuk menggelar perkara di sana, karena bisa sekalian dengan kasus Punguk. Jadi sekali dayung kita bisa menangkap beberapa ikan." Kaliana menjelaskan maksudnya untuk meminta pengertian dan kerjasama Bram agar bisa mendukungnya.


Bram menyimak apa yang dikatakan Kaliana dengan serius dan terus berpikir. "Apa ini caramu menyelesaikan kasus setelah menjadi detektif swasta?" Tanya Bram serius, karena cara penyelesaian kasus Kaliana sangat berbeda dengan cara mereka saat masih bertugas aktif di kesatuan. Biasanya mereka akan langsung menangkap tersangkanya dan langsung dikurung, sambil tunggu disidangkan.


...~***~...

__ADS_1


...~●○€○●~...


__ADS_2