![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
"Tahaaan... Pak Marons dan Pak Kebart." Kaliana mengangkat kedua tangannya untuk menenangkan, saat melihat Marons tidak melepaskan Kebart. Apalagi melihat Marons dan Kebart yang sudah naik level emosinya.
Kaliana melerai sebelum terjadi yang lebih hebat, akibat emosi yang tidak terkendali dari kedua belah pihak. Kaliana sudah menduga akan terjadi hal demikian, karena mereka yang terlibat sedang berhadap-hadapan. Dan apa yang dibahas menyangkut perasaan masing-masing.
"Pak Kebart. Apa benar, anda adalah sepupu korban?" Tanya Kaliana serius untuk membuat suasana agak kondusif dan mengalihkan perhatian Kebart dan Marons. Dalam hal ini, Kaliana hanya bisa mengatakan itu kepada Kebart, agar bisa menghindarinya dari kemarahan Marons.
"Iyaaa... Anda bisa tanyakan itu kepada Om Ewan dan Tante." Kebart berkata setelah menurunkan emosinya. Dia tidak menyangka Marons bisa bersikap seperti itu dan masih melihatnya dengan marah.
"Baik. Ada berapa banyak saudara sepupu anda? Apakah lebih dari jari di kedua tangan anda?" Tanya Kaliana serius. Kebart melihat Kaliana dengan heran, karena menanyakan hal yang tidak penting dalam situasi seperti ini. Itu yang ada dalam pikiran Kebart.
"Lebih... Lebih dari jari di kedua tangan saya. Kenapa anda menanyakan hal itu dalam situasi seperti ini?" Tanya Kebart yang kembali emosi dengan pertanyaan Kaliana. Tapi dia mengangkat kedua tangannya untuk melihat kesepuluh jarinya.
"Apakah anda berlaku seperti itu kepada semua sepupu anda?" Tanya Kaliana tenang, tanpa mempedulikan protes Kebart yang mulai emosi.
"Apa maksud anda dengan berlaku seperti itu?" Tanya Kebart yang belum mengerti maksud pertanyaan Kaliana, sehingga naik level emosinya.
"Pak Kebart... Tadi anda sedang bersitegang dengan Pak Marons untuk hal apa? Saya harap anda bisa berkonsetrasi untuk menjawab pertanyaan saya. Jangan sampai emosi membuat pikiran anda piknik ke berbagai tempat." Kaliana berkata dengan tegas dan serius, sekaligus menegur Kebart.
__ADS_1
"Bukankah tadi Pak Marons mengatakan anda bertelepon ria dengan istrinya di tengah malam? Apakah anda berlaku demikian dengan semua sepupu anda yang jumlahnya melebihi jari di kedua tangan anda itu?" Kaliana tetap bertanya dengan serius. Membuat Kebart yang tadinya berpikir pertanyaan Kaliana tidak masuk akal, jadi terkejut setelah menyadarinya.
"Tidak..!" Jawab Kebart singkat, tapi terus berpikir dan mulai cemas melihat Kaliana yang sedang melihatnya dengan wajah serius.
"Tidak? Jadi hubungan anda dengan korban bukan hanya sebatas sesama sepupu? Sehingga anda memperlakukannya spesial, berbeda dari para sepupu yang lain?" Kaliana terus mencecar Kebart yang mulai kebingungan.
Kebart terdiam dan tidak bisa menjawab pertanyaan Kaliana. "Anda tidak bisa menjawab pertanyaan saya, jadi saya menganggap hubungan anda dengan korban berbeda dengan sepupu lainnya." Kaliana kembali tenang, karena Kebart telah masuk dalam perangkapnya.
"Sekarang saya bertanya lagi, apakah istri anda mengetahui apa yang anda lakukan dengan korban?" Tanya Kaliana melihat istri Kebart yang ada di sampingnya bereaksi saat mendengar pertanyaan Kaliana tentang hubungan Kebart dan Rallita.
Kebart tidak menjawab pertanyaan Kaliana, tapi melihat istrinya yang sedang melihatnya dengan serius, Kebart akhirnya menjawab. "Tau.. Istri saya tau, kami bersaudara." Jawab Kebart pelan, setelah melihat istrinya mengalihkan pandangan darinya.
"Ibu Kebart... Apakah anda tidak keberatan dengan apa yang dilakukan oleh suami anda dengan korban?" Kaliana mengalihkan pertanyaannya kepada istri Kebart yang terlihat tidak suka dengan jawaban suaminya.
"Ibu Kaliana... Saya ini perempuan dan istri yang memiliki perasaan. Bukan saja keberatan, tapi ingin menggoreng mereka berdua. Saya menahan diri tidak ribut, karena anak saya sedang sakit." Istri Kebart tiba-tiba emosi dan mengatakan apa yang dipendamnya selama ini. Dia sering melihat dan mendengar apa yang dilakukan oleh Kebart dan Rallita.
"Ibu Kebart... Anda tidak menggoreng mereka, tapi menghilangkan nyawa salah satunya di selokan?" Tanya Kaliana serius melihat istri Kebart yang emosi. Kaliana tidak membuang peluang yang ditunggu-tunggunya untuk menggali dan membongkar.
"Ibu Kaliana... Mungkin terdengar jahat. Tapi saya senang dia tewas di tempat seperti itu. Karena hidupnya hanya mengotori kehidupan orang lain." Istri Kebart tidak surut emosinya. Dia menumpahkan semua rasa hatinya, karena Rallita sering menghububgi atau bertemu dengan suaminya.
__ADS_1
Mama dan Papa Rallita terkesima mendengar apa yang dikatakan istri Kebart. Mereka tidak menyangka, istri Kebart yang terlihat sangat baik dan sabar selama ini, bisa berkata seperti itu. Terutama Mama Rallita, langsung menangis terseduh.
"Melihat yang mereka lakukan, saya hanya bisa berdoa, semoga dia segera menghilang dari hidup kami. Tetapi Tuhan menjawab dengan menghilangkan dia dari dunia ini. Jadi saya tidak perlu mengotori tangan saya dengan menyentuh orang itu. Apalagi harus menghilangkan nyawanya yang kotor itu." Jawab istri Kebart lagi berapi-api, tanpa mempedulikan perasaan Om dan Tante suaminya. Dia tahu, Kaliana sedang mengarahkannya untuk mengetahui pelaku pembunuhan.
Semua orang dalam ruangan itu terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh istri Kebart, terutama orang tua dan adiknya Rallita. Mama Rallita hanya bisa menangis, mendengar semuanya tanpa bisa membela anaknya. Sedangkan Papa Rallita, tidak bisa berkata apa-apa untuk memarahi ponakannya yang sedang menjelekan-jelekan anaknya.
"Pak Kebart... Apakah anda jujur mengatakan hubungan anda dengan korban kepada istri anda? Atau Papa dan Mama korban mau ceritakan kepada kami, apa yang terjadi dengan kedua sepupu spesial ini?" Kaliana melihat orang tua Rallita dengan serius. Papa Rallita melihat Kaliana dengan garang. Beliau berpikir, apa lagi yang mau dikatakan oleh Kaliana.
Semua yang hadir secara refleks melihat ke arah orang tua Rallita, karena pertanyaan Kaliana. Mereka jadi penasaran dengan hubungan Kebart dan korban. Semua orang menanti jawaban dari orang tua Rallita. Sedangkan Kebart melihat Kaliana dengan sangat marah, karena masih mencecarnya dengan pertanyaan yang mengganggunya.
"Tidak ada hubungannya dengan perkara ini. Silahkan selesaikan perkara ini dan tidak usah mengungkit hal-hal yang tidak relevan." Papa Rallita menjawab pelan, dan berharap Kaliana berhenti mengusik mereka.
"Tidak relevan? Sebagaimana anda menjebak Pak Marons, karena ada relevan dengan perkara ini, bukan? Ini adalah ibas dari tewasnya putri anda. Jadi relevan atau tidak, mari kita lihat dan buktikan." Kaliana berkata sambil melihat Papa dan Mama Rallita bergantian.
"Anda mengatakan tidak relevan, setelah mendengar istri ponakan anda mau menggoreng putri anda? Apakah anda tutup mata atau mau sembunyikan perilaku putri anda? Atau anda tidak tau, tindakannya telah menjadi bara dalam kehidupan rumah tangga mereka." Kaliana berkata lagi tanpa memberikan kesempatan kepada Papa Rallita untuk mengelak.
Semua mata memandang Kaliana dan Papa Rallita bergantian untuk menanti jawaban apa yang akan dikatakannya. Sedangkan Mama Rallita makin berurai airmata, sangat sedih mendengar semua yang dikatakan tentang kehidupan putrinya.
...~***~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...