C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Keluarga Korban.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Di tempat yang lain ; Setelah berpisah dengan Marons dan Kaliana, Danny menuju rumah orang tua Rallita. Dia diminta oleh Marons untuk berbicara dengan pengacara keluarga dan juga melihat situasi di rumah Rallita.


Sedangkan di Rumah Marons, orang tua dan keluarga orang tuanyanya sudah ada di rumah menunggu kabar darinya. Karena Marons anak tunggal, orang tuanya menghubungi keluarga mereka yang di Jakarta agar datang ke rumah Marons untuk membantu mereka.


Sedangkan di rumah orang tua Rallita, juga telah berkumpul keluarga besar Rallita. Baik Om, Tante, para sepupuh dan orang tua serta adik Rallita telah berkumpul. Mereka sedang menunggu kepastian dari pihak polisi, kapan jenasah Rallita sudah bisa di bawa pulang.


Di ruang keluarga terjadi pembicaraan yang serius, mereka membicarakan perihal meninggalnya Rallita yang mengenaskan. Sepupuh Rallita, Kebart, yang mendapat kabar dari adik Rallita, segera datang ke rumah orang tua Rallita. Melihat kedatangan Kebart, Papa Rallita langsung mengajak dia ke ruang kerjanya.


Papa Rallita bertanya banyak hal kepada Kebart, karena tahu kedekatannya dengan Rallita. Kebart menceritakan pertemuan terakhirnya dengan Rallita, juga telpon terakhir yang membuat Marons marah dan mengancam Rallita. Papa Rallita serius mendengar apa yang dikatakan Kebart dengan emosi yang berubah-ubah.


"Bukankah saya sudah katakan, kau harus menjauhi Rallita? Kau lihat apa yang terjadi sekarang? Hidupnya berakhir di selokan. Apa ini yang kau inginkan?" Tanya Papa Rallita menahan marahnya.


"Aku sudah menghindar, Om. Tetapi Rallita terus menghubungiku, seperti malam itu. Dia telpon berulangkali, membuat Sisilia marah. Akhirnya aku merespon panggilannya. Seperti dua hari lalu, aku tidak menerima panggilan telponnya, malah dia datang ke rumah. Akhirnya kami keluar bicara di luar, karena Sisilia tidak mau dia masuk ke dalam rumah." Kebart menjelaskan, karena istrinya juga ikut marah dengan sikap Rallita. Mendengar itu, Papa Rallita makin marah dan tidak tau mau marah pada siapa.


Kenapa dua hari lalu, dia begitu ngotot ingin bertemu denganmu sampai harus datang ke rumahmu?" Tanya Papa Rallita ingin tahu, di sela2 kemarahan dan rasa was-wasnya.


"Dia mencurigai Marons sedang merencanakan sesuatu setelah peristiwa tiga bulan lalu itu. Menurutnya, mungkin Marons akan menceraikannya. Apalagi setelah melihat kemarahan Marons malam itu." Ucap Kebart mengingat percakapannya dengan Rallita.


"Aku sudah bilang, itu biasa saja. Jika suami mengetahui istrinya telponan dengan seorang lelaki di tengah malam buta. Tetapi dia bilang, bukan karena malam itu saja. Semenjak dia ketahuan berduaan dengan Jarret, Marons mulai berubah padanya. Dia curiga Marons merencanakan sesuatu padanya." Kebart menjelaskan apa yang dikatakan Rallita lagi.

__ADS_1


"Anak itu tidak pernah dewasa dan tidak pernah berpikir dampak dari tindakannya." Ucap Papa Rallita kesal dan marah, lalu berdiri dan berjalan sambil berpikir dalam ruang kerjanya. Tindakan apa yang harus dilakukan lagi, karena Rallita telah meninggal dan sudah tidak bisa berbicara atau marah padanya.


"Apakah Om akan menyewa detektif untuk menyelidiki kasus ini, atau hanya menunggu penyelidikan polisi?" Tanya Kebart ingin tahu, karena dia khawatir akan terseret dengan meninggalnya Rallita.


"Menyewa dektetif, sama saja akan membuka semua yang tersimpan selama ini. Bukan saja meninggalnya Rallita, tetapi kehidupan Rallita yang disembunyikan selama ini akan terbuka. Saya sedang berpikir, bagaimana berbicara dengan Marons agar menyerahkan semuanya kepada polisi." Papa Rallita mulai berpikir serius.


"Om tidak berpikir, mungkin saja Marons sudah tau dan juga bisa saja Marons menjadi pelaku pembunuhan Rallita?" Tanya Kebart, jadi berpikir setelah berbicara dengan Papa Rallita.


"Sekarang ini, semua orang bisa jadi tersangka termasuk kau. Jadi kalau berkata-kata itu, pikir baik-baik. Aku malah lebih mencurigai kau daripada Marons." Ucap Papa Rallita lagi sambil melihat Kebart dengan serius.


"Sekarang ini, semua orang yang berhubungan dengan Rallita bisa menjadi tersangka. Jadi kau berhati-hati, kalau bicara. Semoga Marons tidak menyewa detektif." Ucap Papa Rallita berharap.


"Baik. Kalau begitu aku akan hubungi pengacara kita, agar bisa datang ke sini untuk berbicara dengan Danny." Ucap Papa Rallita, lalu hendak mengambil ponsel di atas meja kerjanya.


"Tidak usah, Pa. Di luar juga sudah datang pengacara kita. Kalian berdua berbicara apa di sini begitu lama? Saudara-saudara di luar sedang menunggu kalian untuk mengetahui apa rencanamu dengan kematian Rallita ini." Ucap Mama Rallita sedih. Matanya sembab, karena kelamaan menangis.


Papa Rallita tidak menjawab pertanyaan istrinya, tapi berjalan keluar ruang kerjanya dengan cepat. Mereka bertiga segera keluar dari ruang kerja menuju ruang tamu, karena Danny sedang menunggunya di ruang tamu bersama pengacaranya. Ketika melihat Papa Rallita datang bersama istrinya dan juga Kebart, alis Danny bertaut.


"Bagaimana Pak Danny. Apakah sudah ada pemberitahuan dari pihak polisi tentang jenasah Rallita? Dan apa yang direncanakan Marons untuk menangani peristiwa ini?" Tanya Papa Rallita setelah duduk berhadapan dengan Danny.


"Yang pasti, jika jenasahnya sudah selesai autopsi akan di bawah pulang ke rumah Pak Marons. Bu Rallita istrinya, jadi sudah pasti akan di bawa kesana." Ucap Danny tegas mengatakan Rallita istri Marons, karena melihat Kebart ada bersama mereka.

__ADS_1


"Apakah polisi sudah mengatakan penyebab pasti meninggalnya Rallita dan sudah ada gambaran siapa yang kira-kira melakukan tindakan keji ini?" Tanya Papa Rallita lagi.


"Belum ada pemberitahuan dari pihak polisi sejak siang tadi, kita dari kantor polisi. Kami akan bekerja juga untuk bantu mempercepat penyelesaian kasus ini. Makanya sekarang Pak Marons sudah menyewa detektif swasta untuk membantunya menemukan pembunuh istrinya." Ucap Danny tegas, sambil melihat perubahan wajah orang tua Rallita dan juga Kebart sepupuhnya.


"Apakah Marons sudah dapat detektifnya? Kami juga sedang membicarakan untuk menyewah detektif untuk menyelidiki ini." Ucap Papa Rallita pelan, karena tidak terlalu yakin untuk melakukannya.


"Sudah dapat, Pak. Sekarang sudah mulai bekerja. Jadi saya ke sini untuk berbicara dengan pengacara keluarga ini. Kami berharap juga, keluarga Bu Rallita bisa koperatif jika memberi keterangan kepada detektif yang di sewa oleh Pak Marons." Danny berkata demikian, karena berharap penyelidikan Kaliana tidak dipersulit.


"Jika nanti ada dimintai keterangan, bukan berarti tersangka. Tetapi setiap keterangan bisa menjadi satu rangkaian, bagaikan potongan puzzle untuk mengungkap siapa pembunuhnya. Jadi sekecil apapun informasinya, tolong diberitahukan. Kami berharap, kita semua bisa bekerja sama." Ucap Danny serius.


"Hal yang sama juga dilakukan kepada keluarga Pak Marons. Jadi semua orang yang ada di sekitar kehidupan Bu Rallita akan dimintai keterangan oleh detektif." Danny serius dan berkata tegas, mengingat permintaan Marons dan Kaliana kepadanya untuk berbicara dengan keluarga Rallita


"Sekarang Marons ada di mana? Kenapa dia tidak datang bersamamu?" Tanya Papa Rallita, mulai tidak tenang mendengar yang dikatakan Danny terutama mengetahui Marons telah menyewa detektif.


"Pak Marons sedang ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya. Peristiwa ini bukan hal biasa bagi beliau. Ini pukulan yang sangat keras baginya, mengetahui istrinya meninggal dan ditemukan di selokan. Siapa yang melakukan pembunuhan ini, dan beliau bisa jadi tersangka sangat membebaninya." Danny tidak menceritakan tentang goresan di tangan Marons yang menyebabkan dia ke rumah sakit.


"Saya datang ke sini untuk minta kesediaan keluarga besar Bu Rallita untuk bantu mengungkap siapa yang melakukan pembunuhan ini dengan menerima dan memberikan informasi yang sebenarnya kepada detektif yang telah disewa oleh Pak Marons." Danny berkata serius sambil memperhatikan reaksi mereka yang ada di ruang tamu.


...~***~...


...~●○¤○●~...

__ADS_1


__ADS_2