![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Kaliana mengangguk mengerti dengan apa yang sedang dialami oleh Marons. Dia mempersilahkan Marons naik ke mobil lalu menjalankan mobilnya perlahan, keluar dari tempat parkir kantor Danny.
"Tolong shareloc rumah orang tuanya, Pak. Supaya bapak bisa istirahat dan tidak perlu menuntunku." Ucap Kaliana tanpa berusaha untuk menghidupkan musik seperti biasanya. Marons mengangguk mengerti permintaan Kaliana, lalu shareloc tempat tinggal orang tuanya.
Setelah menerima alamat orang tuanya, Kaliana menjalankan mobilnya dengan kecepatan normal, ke arah rumah orang tua Marons. Dia bersyukur, jalanan tidak terlalu padat sehingga bisa cepat tiba di tempat tujuan.
"Kalia... Jangan membuat mobilmu seperti kuburan. Lakukan seperti biasanya, nyalakan musiknya saja. Mungkin dengan begitu, aku bisa istirahat sejenak." Marons berkata demikian, karena Kaliana tidak menyalakan musiknya.
Kaliana menghidupkan soundnya, tapi volumenya pelan tidak seperti biasanya. Dia tidak bisa menikmati musiknya, karena khawatir melihat wajah Marons yang begitu tertekan dan gelap. Baru pernah terjadi, Kaliana tidak berkeinginan untuk mendengarkan musik. Jangankan yang menimbulkan dentuman, yang pelan pun dia tidak bisa menikmatinya.
"Kalia... Aku tidak periksa Lab seperti yang aku katakan tadi, tapi mungkin lebih baik aku ke tempat Yogi untuk periksa jantungku. Dua kali pukulan yang kualami, membuat jantungku seakan mau copot." Ucap Marons sambil menyadarkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia memejamkan mata, tapi tidak bisa istirahat. Pikiran dan bantinnya tidak tenang memikirkan apa yang dilakukan Rallita kepadanya.
"Dua kali?" Tanya Kaliana karena tidak mengerti maksud dari apa yang dikatakan Marons.
"Iyaa... Dua kali. Pertama saat penyidik katakan Rallita hamil. Yang kedua, itu tadi, mengetahui ada yang memasukan obat tidur ke minumannku. Tidak ada orang lain di rumah selain dia dan Bibi. Dia punya motif untuk melakukannya. Sedangkan Bibi, sudah seperti keluarga kami. Sehingga selalu bersama kemana saja kami pergi" Ucap Marons sambil menarik nafas panjang.
__ADS_1
"Iya, Pak. Kita bisa katakan itu dilakukan oleh korban, berkaitan dengan bukti pendukung lainnya. Kalau untuk sidik jari sudah tidak berpengaruh, karena sudah banyak tangan yang memegang tempat teh ginseng merah itu. Dan juga korban adalah seorang istri, jadi sah saja memegang tempat teh ginseng merah tersebut. Pengacara korban bisa mematahkan semua kemungkinan itu jika kita pakai untuk menuduhnya." Ucap Kaliana serius memikirlan semua kemungkinan.
"Temuan itu, hanya tameng untuk melindungi Pak Marons, tidak untuk menuduh seseorang. Makanya tadi saya katakan kepada Pak Danny, simpan saja jika perlu digunakan, gunakan." Kaliana berkata pelan.
"Iya, aku mengerti. Besok atau lusa, aku perlu periksa kekuatan jantungku, karena semua ini belum selesai. Entah pukulan apa yang menungguhku di depan." Ucap Marons sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Tidak perlu ke dr Yogi untuk memeriksa kekuatan jantungnya, Pak. Yang baru terjadi bukan pukulan, hanya sebuah senggolan." Ucap Kaliana tersenyum tipis. Dia berusaha menghibur dan menenangkan Marons sambil konsentrasi dengan situasi jalanan.
"Senggolan dengan menggunakan tenaga dalam. Kenapa kau katakan itu senggolan, sedangkan aku yang rasakan pukulannya?" Tanya Marons tidak terima dan sedikit protes kepada Kaliana.
Nama Maronslah yang mendorongnya untuk tetap bisa survive, saat kehilangan orang tuanya. Dia berjuang dan bertahan sambil terus berdoa, agar suatu hari nanti bisa bertemu dan melihat Marons lagi. Mungkin ada yang mengatakan itu rasa cinta, mungkin. Tapi rasa sayang di hatinya tidak pernah pudar, apalagi hilang, walau mereka tidak pernah bertemu.
Sekarang, hanya dengan melihatnya, semua harapannya telah terkabul. Tuhan memberikan lebih dari pada yang dia pinta. Bukan saja bisa melihatnya, tetapi bisa bersamanya, walau dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Kaliana percaya, bukan kebetulan dia dipercayakan untuk menangani kasus yang sedang menimpa Marons.
"Iyaa, Kalia... Saat seprti ini, aku berharap ada seseorang bisa mengingatku. Menganggapku berarti, tidak seperti sekarang ini. Aku mau mengatakannya di depanmu, rasanya sangat malu." Ucap Marons pelan sambil mengusap wajahnya. Dia tidak bisa beristirahat, karena hati dan pikirannya sangat penuh dengan berbagai persoalan dan rasa.
Dia tidak tahu, bisa berbicara apa saja yang dirasakan atau pikirkan di hadapan Kaliana. "Aku berusaha mengatakan pada diriku, semuanya baik-baik saja. Aku berusaha memperlihatkan kepada orang lain, aku baik-baik saja. Tetapi hatiku sangat tidak baik-baik saja. Jika kau dikhinati oleh istrimu, rasanya semua yang ada padamu dan apa yang kau miliki tidak berati. Jika aku berarti, dia tidak lakukan ini padaku." Ucap Marons pelan, mengungkapan apa yang dirasakannya saat mengetehui Rallita hamil dengan lelaki lain.
__ADS_1
Kaliana tertegun mendengar apa yang dikatakan Marons. Ternyata Marons bukan saja tertekan dengan masalah tuduhan pembunuhan terhadap istrinya. Tetapi dia juga sangat terluka dengan penghianatan istrinya. Harga dirinya sebagai seorang lelaki dan juga sebagai suami benar-benar terkoyak.
Yang dia katakan pukulan saat mengetahui istrinya hamil, bukan pukulan biasa. Suatu pukulan yang menghantam tempat yang paling fatal sebagai seorang lelaki dan juga suami. Jika sampai saat ini masih bisa terlihat baik-baik saja, itu adalah perjuangan yang berat. 'Pantes dia terlihat tirus dan tidak segar.' Ucap Kaliana dalam hati.
Kaliana langsung menepi mobilnya saat melihat ada tempat yang bisa berhenti. Hatinya berkecamuk mengetehui apa yang sedang dirasakan Marons. Dia khawatir melakukan kesalahan dalam mengemudi, sehingga mengakibatkan terjadi hal yang buruk bagi mereka. Dia berhenti sejenak untuk menenangkan hatinya.
Marons tidak mengerti kenapa Kaliana tiba-tiba menepi, tetapi tidak bertanya. Kaliana tetap memegang setirnya dan melihat ke arah lalu lintas di depannya dengan hati sedih.
"Bukan kau tidak berarti, tetapi orang itu yang tidak menyadari betapa berharganya dirimu. Jangan menilai dirimu berdasarkan perbuatan orang lain. Karena setiap orang memiliki mata hati yang berbeda dalam menilai seseorang." Ucap Kaliana pelan, tapi tegas penuh emosi. Sehingga dia melupakan sikap formalnya.
"Ukuran dan standar moral seseorang mempengaruhi penilaiannya terhadap orang lain. Kenapa dia yang melakukan perbuatan tidak terpuji, kau yang merasa tidak berharga? Jika kau tidak berarti, apakah aku ada di sini bersamamu dan berusaha sekuat tenaga untuk menolongmu? Jadi berhenti menyalahkan dirimu, karena kesalahan orang lain. Aku tidak tahan melihat dan mendengarnya." Tanpa terasa, air bening dan hangat mengalir di pinggiran matanya. Kaliana tidak berusaha menghapusnya agar tidak terlihat oleh Marons. Dia tetap menatap ke depan sambil menahan rasa sedihnya.
Marons menyadari, dia telah membuat Kaliana sedih. Dia langsung mengusap punggung Kaliana, karena dia merasakan getaran emosi dalam nada dan suara Kaliana. "Maafkan Kalia. Aku terlalu tenggelam dalam duka dan lukaku. Kau boleh marah, tapi jangan tinggalkan aku." Marons terus mengusap punggung Kaliana untuk menenangkannya. Marons merasakan ketulusan hati Kaliana dalam sikap dan ucapannya, sehingga dia tidak mau kehilangan itu.
...~***~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1