![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Kaliana yang sudah terbiasa mendengar gombalan Bram, jadi tersenyum dalam hati. Dia tidak memasukan ke hati apa yang dikatakan Bram, tapi menampilkan wajah kesal.
"Simpan kesal gombalmu. Memangnya, aku tidak tahu maksudmu? Lebih baik, secepatnya minta cctv hotel yang dibilang Jaret saat mereka bertemu dengan Pak Marons. Supaya Jaret tidak bisa mengubah kesaksiannya lagi di pengadilan. Kau sudah tahu siapa orang tuanya, bukan?" Kaliana berkata dan bertanya serius, karena hanya Bram yang bisa mengeluarkan surat resmi untuk bisa menyita cctv hotel. Kaliana hanya bisa menyelidiki, tanpa bisa menyita.
"Iyaa... Setelah ini, aku akan minta petugas ke sana untuk menyitanya. Tadi aku sudah minta petugas untuk membuat suratnya. Jadi hapus kesal diwajahmu. Nanti baru sekali ke sini, berkurang cantikmu, setengah centi." Ucap Bram mulai mengganggu Kaliana.
"Dari pemeriksaan pertama sampai yang tadi, sepertinya orang tuanya belum tau, jika dia sedang dimintai kesaksian tentang kasus tewasnya Rallita Geradine." Ucap Bram serius, mengingat Kaliana menyebutkan orang tua Jaret.
"Saat aku melapor kepada Bintang (sebutan untuk pimpinan mereka yang berpangkat Jenderal) dan sampai sekarang belum dipanggil untuk membahas kasus ini. Jika orang tuanya tau, pasti Bintang akan memanggilku untuk menanyakan sampai dimana penyelidikan kami dan apakah Jaret terlibat atau tidak." Bram mulai memikirkan dampak, jika orang tua Jaret mengetahui dan intervensi kasus yang sedang ditanganinya.
"Semoga alibi Jaret benar, agar dapat menguatkan keterangannya. Jika dia berbohong, naikan saja statusnya walau pun orang tuanya ikut campur. Jika dia tidak bersalah, mengapa berbohong berada di tempat lain saat terjadi pembunuhan?" Kaliana serius memikirkan setiap kemungkinan, karena orang tua Jaret bisa melakukan apa saja, jika anaknya terlibat.
"Iyaa, secepatnya aku akan memeriksa alibinya. Dia masih menurut pada kita, karena orang tuanya belum ikut campur. Tetapi setelah tau dia berbohong, aku akan menaikan statusnya. Kita akan lihat reaksi orang tuanya." Bram ikut berpikir serius tentang dampak, jika Jaret berbohong.
"Mariii, aku mengantarmu pulang. Siapa tau, di jalan kau berubah pikiran dan mau makan siang bersamaku." Ucap Bram yang masih mengharapkan Kaliana mau makan siang bersama dengannya. Karena saat makan, mereka bisa berbicara banyak hal tentang karier, masa depan seperti biasa yang mereka lakukan saat masih dinas. Apalagi sekarang mereka sedang bekerja sama untuk mengungkap kasus pembunuhan. Walau pun Bram suka ngegombal, dia memperlakukan Kaliana dengan baik dan sopan.
Bram mengambil kunci mobilnya, lalu berdiri. "Tidak usah mengantarku. Aku bisa naik mobil online. Pergunakan waktumu untuk memeriksa keteramgan Jaret, sebelum dipanggil Bintang." Kaliana mencegah Bram mengantarnya, karena dia memarkirkan 'sopapa'nya di Mall terdekat dengan kantor polisi.
Kaliana tidak membawa mobilnya langsung ke kantor polisi, karena menjaga perasaan Bram dengan jajarannya. Biar bagaimana pun, mobilnya akan menarik perhatian dan bisa saja Bram ingin mencobanya. Dia sudah mengenal Bram dengan baik. Agar tidak terjadi salah paham diawal kolaborasi mereka.
__ADS_1
'Nanti kalau kasusnya sudah bergulir dengan jelas, akan bertemu di lain tempat selain kantor polisi, Kaliana akan mengendarai mobilnya ke sana.' Itu yang ada di pikiran Kaliana.
"Kau sangat tidak berpengertian. Padahal aku sedang modus, agar bisa lama denganmu." Ucap Bram sebelum keluar dari ruangannya. Kaliana yang hendak berdiri, jadi tertawa mendengar apa yang dikatakan Bram. Dia tahu, Bram tidak pernah saring ucapannya jika sedang berbicara dengannya. Selalu lepas seperti juga gombalannya.
Padahal Bram tidak melakukan itu dengan rekan yang lain, terutama wanita. "Mengapa kau tidak katakan seperti itu kepada Siska?" Tanya Kaliana mengingat salah satu rekan penyidik wanita yang menaruh hati kepada Bram.
"Astagaaaa... Dia bisa langsung lompat mendekapku. Berbeda dengan reaksimu, jika aku katakan itu. Kau akan mengatakan kata-kata saktimu, membuat aku harus berpikir keras untuk membalasmu. Sekarang aku akan lebih mempelajarimya, karena sudah terbukti sakti di ruang interogasi." Ucap Bram sambil tersenyum. Dia memang menyadari ucapan Kaliana kadang bersayap, kadang menusuk langsung ke sasaran dengan kalimat yang kocak tapi benar.
"Lain kali, kalau sedang memeriksa saksi seperti tadi, kasih kode jika mau ngucapin kalimat seperti tadi. Aku hampir tertawa lepas, jika tidak menahannya pakai tenaga dalam." Bram jadi tertawa mengingat kalimat Kaliana kepada Jaret tentang spe**ma diemail.
"Bagaimana mau memberikan kode? Itu terucap begitu saja melihat saksi mau bermanuver." Ucap Kaliana jadi ikut tertawa mengingat ucapannya. Tadi sangking serius, dia tidak memikirkan dampak ucapannya kepada rekan penyidik dalam ruangan tersebut.
"Lihat ini, dari tadi mau pergi, jadi ngga pergi-pergi. Seharusnya kau seharian ini bersamaku. Saling bertukar informasi dan juga kisahmu di luar sana yang sudah tidak dibatasi tembok." Ucap Bram serius, karena memang itu yang ada di hatinya.
"Ooh jelaaasss... Saat aku menemukan bukti korban berbicara dengan pemulung saja, aku akan minta bertemu denganmu." Ucap Bram sambil membukakan pintu ruangan kepada Kaliana.
"Tapi sayang sekali, kau tidak akan temukan bukti itu, karena korban sudah tidak bisa berbicara dengan pemulung, saat ditemukan." Ucap Kaliana tersenyum sambil berjalan keluar ruangan.
"Memangnya hantu gentayangan tidak bisa berbicara dengan pemulung?" Tanya Bram serius, menanggapi apa yang dikatakan Kaliana.
"Astagaaa... Kau sadis sekali, bilang korban jadi hantu gentayangan." Ucap Kaliana sambil menutup mulutnya dengan ketiga jarinya.
__ADS_1
"Itu bukan sadis, sayangku, cintaku. Saat hidup saja, dia sudah jadi hantu. Apa kau pikir setelah meninggal, dia akan jadi malaikat?" Tanya Bram dengan ucapan serius, tapi wajahnya, kocak.
"Makanya, aku lama belum menikah karena menunggumu, malaikatku... Eeeh..., apa sekarang aku rubah panggilanku, atau tambah satu lagi? Sayangku, cintaku, malaikatku..." Ucap Bram makin konyol, membuat Kaliana memukul lengannya karena diperhatikan rekan penyidik.
"Saat kau rubah atau tambah panggilanmu dengan malaikatku, langsung keluar sayap di punggungku. Kau mau aku terbang?" Kaliana jadi ikut menanggapi ucapan Bram, karena dia tidak mau menambah ucapannya saat Bram menyapanya.
"Yaaa..., jangan dong... Sayap belum dijual bebas dan tidak bisa ditemukan di oline shope. Aku tidak bisa terbang mengikutimu." Ucap Bram makin ngegombal. Dia sangat senang, jika bisa berbicara dengan Kaliana. Karena respon Kaliana membuatnya happy.
"Percuma ada nama Rajawali dibelakang namamu, jika tidak bisa terbang." Ucap Kaliana sambil megotak-atik ponselnya untuk memesan mobil online.
"Aku Rajawali berkaki, bukan bersayap." Ucap Bram menanggapi candaan Kaliana.
"Oooh... Nanti aku inden sayap untukmu." Ucap Kaliana sambil tersenyum senang melihat Bram terkejut.
"Eeeh, jangan. Kau mau aku out dari dunia ini? Aku belum melamarmu." Bram tertawa dan dengan cepat membalas ucapan Kaliana, karena baginya, malaikat sudah di dimensi lain.
"Jika anak jaman sekarang dengar ini, mereka akan katakan, kau bercanda dari hati." Ucap Kaliana, sambil sesekali melihat ponselnya untuk mengetahui posisi mobil yang dipesannya.
"Memang dari hati, tapi tidak becanda. Hanya ngegombal, agar bisa kau tanggapi." Ucap Bram lalu tertawa. Kaliana hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar yang dikatakan Bram.
"Oooh, astagaaa... Gara-gara gombalanmu, aku lupa menanyakan. Dari hasil pemeriksaan forensik, apakah ditemukan zat tertentu di dalam tubuh korban?" Tanya Kaliana serius dan Bram balik melihatnya dengan serius.
__ADS_1
...~***~...
...~●○¤○●~...