![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~β’Happy Readingβ’~...
Kaliana bersama team sudah pulang ke rumah untuk beristirahat, setelah melewati hari yang melelahkan, terutama Kaliana. Dia terus menganalisa semua temuan dan bukti yang telah mereka peroleh. Dari semua temuan mereka, Kaliana meminta Putra untuk menyatukan informasi penting dan memisahkan bukti-bukti yang bisa menjauhkan mereka dari kasus utama.
Setelah mulai terlihat titik terang dan benang merah mulai terurai, Kaliana meminta mereka pulang ke rumah untuk beristirahat. Kaliana sedang menunggu hasil tes dari dr Yogi sebelum dia memutuskan untuk cukup atau masih perlu lanjut mencari benang merah yang lain.
"Mari kita pulang, agar bisa memberikan kesempatan pikiran tetap jenih dan saat melihat semua bukti dan temuan tambahan." Kaliana berkata serius, lalu mengajak semua anggotanya pulang.
Team sopape tidak seperti biasanya setelah tiba di rumah. Dimana masih membicarakan apa yang terjadi hari ini dan rencana apa yang akan mereka lakukan di esok hari. Kaliana meminta semua mandi lalu istirahat. Agar esok hari kondisi tubuh dan pikiran mereka lebih baik untuk menganalisa.
Sekarang mereka telah masuk dalam fase menganalisa semua temuan. Jadi mereka tidak lagi mencari barang bukti atau keterangan. Jika Kaliana mengatakan semuanya cukup, mereka hanya tinggal menganalida dan mengeksekusi.
Setelah Kaliana bersyukur untuk hari yang bisa dilewati dan menemukan banyak kejutan luar biasa, dia membaringkan tubuhnya yang sangat lelah. Dia mengambil ponsel lalu mengatur alaram untuk bisa bangun pagi. Sebelum meletakan kembali ponselnya, tiba-tiba ponselnya bergetar. Ketika melihat siapa yang menghubunginya, Kaliana langsung bangun duduk, lalu meresponnya.
π±"Halloo, Kalia. Ada di mana?" Tanya Marons, saat Kaliana merespon panggilannya. Dia mengira Kaliana dan team masih di kantor.
π±"Halloo, Pak. Sudah di rumah dan mau istirahat. Pak Marons sudah selesai pertemuannya?" Tanya Kaliana pelan, karena dia merasa sangat lelah.
π±"Ini baru selesai dan sudah di mobil untuk pulang. Kau sangat lelah hari ini?" Tanya Marons yang menyadari suara Kaliana yang lemah.
π±"Lumayan lelah, Pak. Makanya ini semua sudah beristirahat. Pak Marons juga, pulang lalu istirahat." Ucap Kaliana pelan, dan berusaha menahan rasa kantuknya.
__ADS_1
π±"Aku berusaha menghubungimu sebelum tiba di rumah, karena khawatir kau sudah tidur. Aku mau bicarakan rencana penuntutan yang dikatakan Danny. Bagaimana menurutmu? Apa ini akan panjang dan merepotkanku? Aku sudah malas bolak balik kantor polisi." Ucap Marons yang merasa tidak nyaman harus bolak-balik kantor polisi untuk dimintai keterangan.
π±"Lakukan saja, Pak. Nanti Pak Danny saja yang mewakili. Aku akan bicara dengan penyidik, karena tidak terlalu membutuhkan keterangan Pak Marons. Kita perlu menyingkirkan dia sebentar, agar tidak mengganggu penyelidikan kami. Soal orang tua korban dan mantan sekretaris, Pak Marons tutup mata dan telinga saja." Ucap Kaliana serius, saat Marons membicarakan kasus Punguk.
π±"Baik. Jika kau katakan demikian, aku akan hubungi Danny. Selanjutnya, aku serahkan padamu dan Danny. Pertemuan kami masih dua hari lagi, jadi akan sangat sibuk." Ucap Marons menjelaskan maksudnya menghubungi Kaliana.
π±"Baik, Pak. Nanti aku kabari perkembangannya. Hati-hati di jalan." Ucap Kaliana sekalian pamit, karena sudah mengantuk.
π±"Baik. Sweet dreams." Ucap Marons, lalu mengakhiri pembicaraan mereka. Kemudian menghubungi Danny untuk melakukan seperti yang diminta Kaliana.
Β°***Β°
Keesokan harinya, setelah terjadi penangkapan dan penuntututan terhadap Punguk, banyak hal terjadi di keluarga Rallita. Orang tua Rallita terutama Papanya yang percaya diri mulai panik dan segera memanggil pengacara keluarga untuk berdiskusi tentang kasus baru yang dihadapi.
"Pak Ewan tidak usah khawatir jika tidak terlibat. Paling akan dimintai keterangan saja." Ucap pengacara keluarga setelah berada di ruang kerja Papa Rallita.
"Saya juga tau akan hal itu. Yang jadi persoalan, saya terlibat dan saya memintamu untuk mencari jalan keluar agar bisa lolos dari hal ini." Ucap Papa Rallita serius. Pengacanya jadi terkejut dan melihat Papa Rallita dengan serius.
"Apa yang Pak Ewan maksudkan?" Tanya pengacaranya tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Papa Rallita dengan terus terang.
"Saya yang menyewa orang tersebut untuk menyelidiki Marons ....." Papa Rallita menceritakan apa yang dilakukan oleh Punguk atas perintahnya. Pengacaranya langsung terdiam dan jadi berpikir keras, mendengar pengakuan Papa Rallita.
__ADS_1
"Semoga tidak ada bukti pendukung yang bisa mengaitkan orang tersebut dengan Pak Ewan. Karena jika Pak Marons yang menuntut, berarti kita akan berhadapan dengan tembok yang kokoh. Pengacaranya akan berjuang mencari cela sekecil apapun untuk membuka lobang yang lebih besar. Agar mereka bisa menemukan bukti yang sebenarnya." Ucap pengacara keluarga Rallita cemas dan mengenal Danny, pengacara Marons.
"Saat kita benar saja, harus bekerja keras untuk membuat kita tetap benar. Apalagi jika kita salah. Apakah masih ada jalan keluar yang bisa meloloskan kita?" Pengacara berbicara dengan serius. Dia menyadari situasi yang tidak menguntungkan baginya.
"Apa kau tidak bisa berbicara dengan pengacara Marons untuk menarik tuntutannya?" Tanya Papa Rallita mulai menyadari situasi, saat mendengar apa yang dikatakan pengacaranya.
"Saya mau bicara apa, Pak Ewan? Saat ini mereka hanya menuntut orang yang Pak Ewan sewa. Bukan menuntut Pak Ewan. Satu-satunya jalan, Pak Ewan harus berbicara dengan orang yang disewa agar tidak membawa-bawa nama Pak Ewan. Itu maunya sendiri, dengan alasan yang bisa dia karang sendiri." Pengacara memberikan ide untuk meloloskan Papa Rallita.
"Saya harus keluarkan banyak fullusss untuk melakukan idemu itu. Apakah tidak ada ide yang lain, selain itu?" Tanya Papa Rallita yang telah menyadari siapa Punguk dan berapa banyak uang yang telah dikeluarkan untuk menyewanya.
"Mungkin Pak Ewan terus menyangkal keterlibatan bapak, sambil berharap orang tersebut tidak memiliki bukti keterlibatan Pak Ewan." Pengacara berkata sambil memijit telunjuk dan jempol untuk memberikan isyarat. Apakah ada bukti transaksi pembayaran dengan Punguk.
"Kalau itu, tidak. Karena aku membayarnya secara tunai. Tapi bukti percakapan kami, apakah bisa ada padanya?" Tanya Papa Rallita makin pusing, membayangkan Punguk akan memerasnya dengan terus meminta uang tutup mulut.
"Saya sudah katakan tadi, jika ada cela sekecil apapun, pengacara Pak Marons akan membuka dan menemukan yang lebih besar. Apalagi sekarang melihat ketenangan pengacara dan Pak Marons dalam menangani kasus tewasnya Nona Rallita. Mereka pasti memiliki kartu as dalam kasus ini." Ucap pengacara serius, karena melihat apa yang terjadi dalam kasus tewasnya Rallita.
"Apa kau berpikir, Marons tidak terlibat?" Tanya Papa Rallita sambil melihat pengacaranya dengan serius.
"Mengapa baru sekarang Pak Ewan tanyakan pendapat saya tentang itu? Sekarang saya balik bertanya, berdasarkan bukti apa, Pak Ewan bisa berpikir Pak Marons terlibat?" Tanya pengacaranya serius. Dia sebenarnya sedang kesal mendengar apa yang dilakukan Papa Rallita kepada Marons tanpa berkonsultasi dengannya. Hal itu akan mempersulitnya dalam membela Papa Rallita, karena dia adalah pengacaranya.
...~***~...
__ADS_1
...~ββΒ€ββ~...