![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Kaliana melihat Marons dengan hati lega. Dia jadi tenang mendengar jawaban Marons, yang langsung memukul. Jadi dia bisa meneruskan GP, tanpa diganggu oleh pengacara Papa Rallita.
"Baik. Ini adalah gelar perkara, jadi apa yang dikatakan Pak Ewan, Pak Marons dan Pak Purnomo, alias Punguk perlu dibuktikan. Pak Purnomo mengatakan: 'Pak Marons dijebak atas perintah Pak Ewan. Pak Purnomo tidak mengenal Pak Marons, tapi mengenal Pak Ewan yang menyewanya'." Kaliana merinci, agar terlihat dengan jelas kasusnya dan orang yang terlibat.
"Kita akan melihat pernyataan siapa yang benar. Petugas siap di tempat dengan gelang besi. Karena setelah digelar dan mengetahui siapa yang bersaksi dusta, segera pakaikan gelang besi untuknya." Kaliana berkata kepada Raka yang sedang berdiri dengan sigap.
"Siiiiaaap, Bu. Tunggu perintah." Jawab Raka dalam sikap hormat. Marons jadi memperhatikan Kaliana dan Raka. Dia terkesima melihat sikap hormat petugas tersebut kepada Kaliana.
"Jadi dalam hal ini, saya peringkatkan anda, Pak Ewan. Jika anda mau merubah kesaksian melawan Pak Purnomo, kami akan ijinkan anda lenggang kangkung ke kantor polisi."
"Tetapi jika tetap pada kesaksian anda bahwa tidak menyewa dan tidak kenal Pak Purnomo, siap-siap anda digelandang ke kantor polisi dengan menggunakan gelang besi." Kaliana berkata, sambil melihat Papa Rallita dengan serius.
Mama Rallita dan adiknya melihat Papa Rallita dengan panik, saat mendengar apa yang dikatakan Kaliana. Karena mereka tahu, Papa Rallita menyewa Punguk. Jadi yang ada dipikiran mereka, ucapan Kaliana adalah peringatan dan juga peluang bagi Papa Rallita.
"Anda masih tidak punya bukti keterlibatan client kami, jadi mau menggertaknya? Anda jangan bermimpi untuk membawa client kami. Setelah ini, kami akan mengajukan tuntutan kepada anda, karena mengancam client kami." Pengacara Papa Rallita berkata dengan emosi, setelah mendengar ucapan Kaliana.
"Apakah anda melihat saya sedang tidur saat ini, sehingga bisa bermimpi? Untuk apa menggertak orang yang sudah di pinggir jurang? Kami cukup meniupnya, dan anda akan melihatnya terjun tanpa gaya." Kaliana melihat pengacara Papa Rallita dengan tatapan tajam.
"Dari pada anda sibuk buat surat penuntutan kepada saya, lebih baik anda persiapkan diri untuk membela client anda di pengadilan. Atau anda sudah bersiap kabur, setelah client anda pakai rompi warna jeruk?" Kaliana masih emosi mendengar perkataan pengacara Papa Rallita.
__ADS_1
Apa yang dikatakan Kaliana membuat Mama Rallita dan adiknya, makin khawatir dengan keputusan Papa Rallita dan pengacaranya. Mereka terus melihat Papa Rallita untuk memberikan sinyal menyerah, tapi selalu dihalangi oleh pengacara. Hal itu tidak luput dari perhatian Kaliana.
"Tapi jika anda ingin menuntut, saya persilahkan anda siapkan surat penuntutan, setelah ini." Kaliana berkata serius sambil melihat pengacara Papa Rallita yang terdiam.
"Pelangi food, resto." Kaliana berkata pelan, mengirim pesan kepada Putra yang sudah siap menanti permintaan Kaliana. Putra mengikuti semua yang terjadi di ruang GP, segera mengirimkan apa yang diminta oleh Kaliana.
Semua orang dalam ruangan GP terkejut melihat TV yang tiba-tiba on dan menampilkan gambar. Terutama orang tua Rallita dan adiknya yang merasa tidak menyalakan TV. Tetapi ketika melihat gambar di layar, mereka makin terkejut.
"Coba perhatikan baik-baik layar TV nya. Apakah Pak Purnomo, Pak Marons atau Pak Ewan ada di sana?" Tanya Kaliana sambil menunjuk layar TV yang menampilkan cctv di restoran hotel, Malang.
"Itu, saya yang sedang makan sendiri berbaju biru dongker. Sedangkan orang yang saya bilang tadi, itu yang berbaju hitam dan orang yang di depannya berbaju krem yang mengikuti saya kemana saja di Malang." Marons mengerem ucapannya yang sudah marah dan mau katakan lebih, mengingat situasi saat itu.
Semua orang memperhatikan layar TV dan juga apa yang dikatakan Marons. Kaliana mengajak mereka untuk menganalisa dan menarik kesimpulan sendiri tentang apa yang dikatakan Marons.
"Perhatikan baik-baik layar TV ini." Ucap Kaliana lagi kepada semua yang hadir.
"Itu kamar hotel saat saya menginap di Malang." Ucap Marons saat melihat kamar tersebut di layar.
"Apakah anda kenal dengan wanita itu?" Tanya Kaliana lagi, karena di layar terlihat seorang wanita berdiri dan mengetok pintu kamar tersebut. Kaliana sudah berbicara dengan Putra untuk menunjukan bagian penting dari cctv yang diberikan Bram kepadanya.
"Tidak kenal. Lihat jam dia berada di depan kamar itu. Saya sudah dalam perjalanan ke Surabaya. Bisa cek penerbangan saya saat itu." Ucap Marons tegas. Dia makin mengerti apa yang sedang diperlihatkan Kaliana, karena jam cctv diperbesar.
__ADS_1
"Semua bisa lihat apa yang dilakukan kedua orang tadi yang ada di restoran. Mereka terus mengikuti Pak Marons." Ucap Kaliana, saat Putra mengirimkan pelangi dimana posisi Punguk dan anak buahnya sedang memantau wanita itu dan juga kemudian wanita itu masuk ke kamar Punguk.
"Jadi cctv ini menunjukan apa yang dikatakan Pak Marons adalah benar. Beliau sedang diikuti dan dimata-matai oleh kedua orang ini." Kaliana berkata tenang dan serius
"Dari cctv ini juga menunjukan, apa yang dikatakan Pak Purnomo untuk menjebak Pak Marons adalah benar. Bisa dilihat dari keberadaan wanita itu di kamar Pak Purnomo." Kaliana kembali berkata tenang dan serius.
"Yang jadi pertanyaan, mengapa Pak Purnomo mau menjebak Pak Marons. Sedangkan dia tidak mengenal Pak Marons dan apa tujuannya menjebak." Kaliana melihat pengacara Papa Rallita terdiam. Sedangkan wajah Papa Rallita mulai memucat. Beliau menjadi takut, melihat cara Kaliana mengurai kasus dan juga kecanggihan cara mengungkap bukti.
Di kepalanya berputar semua hubungan dan pertemuannya dengan Punguk. Hal itu membuat tangan dan kakinya bergetar, mengingat apa yang dikatakan Kaliana sebelumnya.
"Hubungan dan tujuan dia menjebak, mari kita dengar ini baik-baik. Pelangi food. Call." Kaliana berkata pelan, mengirimkan pesan kepada Putra.
Tiba-tiba layar TV berganti dengan gambar telpon. Dan terdengarlah suara Papa Rallita sedang berbicara dengan Punguk untuk memberikan instruksi. Semua orang langsung melihatnya, seakan tidak percaya mendengar instruksinya, termasuk Marons.
Tiba-tiba suara Papa Rallita yang berbicara saat ditanya oleh Kaliana tadi. Putra membuat perbandingan suara tersebut di layar TV dengan akurasi 100% clear, sama. Sehingga yang melihat di layar langsung mengetahui, suara yang memberi instruksi adalah orang yang sama saat menyangga pertanyaan Kaliana, Pak Ewan.
Papa Rallita sudah tidak bisa mengelak. "Saya sudah katakan sebelumnya kepada anda, tapi anda lebih mendengar pengacara dari pada istri dan anak anda. Semoga dia masih mau membelah anda di pengadilan. Tidak lari terbirit-birit meninggalkan anda, hinhga harus cari pengacara lain." Kaliana berkata serius dan tegas. Papa Rallita makin gemetar ketakutan, karena tahu siapa pengacara yang sekarang membelanya.
"Semoga anda mengingat ucapan saya tadi. Seseorang dihormati, bukan karena usia yang lebih tua atau sudah tua. Tapi terletak pada ucapan, sikap dan lakunya. Apa yang dikatakan selaras dengan perbuatannya." Kaliana mengingatkan Papa Rallita, yang telah memarahinya sebelum ini.
"Petugas, segera pakaikan gelang besi kepada beliau. Tapi jangan membawanya sekarang. Beliau harus mengikuti gelar perkara berikut, karena menyangkut anaknya." Kaliana berkata dengan tegas kepada Raka yang sudah menunggu perintahnya.
__ADS_1
...~***~...
...~●○¤○●~...