![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Semua orang dalam ruangan terkejut mendengar apa yang dikatakan Kaliana. Terutama orangtua Rallita dan Fendry. Papa Rallita, langsung melihat Kaliana dengan wajah yang tidak bisa digambarkan. Semua rasa berkecamuk di hatinya jadi satu, sambil terus memandang Kaliana dengan emosi.
Marons pun melihat Kaliana seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia mengenal Fendry, adik Rallita. Sehingga apa yang dikatakan oleh Kaliana serasa tidak mungkin dilakukan oleh Fendry. Marons terus melihat orang tua Rallita, Fendry dan Kaliana bergantian sambil terus berpikir. Apa yang sedang terjadi di sekitarnya.
"Ibu Kaliana... Jaga bicaramu, jangan asal bicara. Mana mungkin mereka bisa melakukan hal yang memalukan itu? Dan juga bagaimana mungkin Fendry membunuh kakaknya sendiri?" Papa Rallita berkata dengan amarah yang meluap.
"Pak Ewan .... Sebelum kita lanjutkan mengenai apa yang tadi saya katakan tentang hubungan terlarang anak anda, saya mau luruskan dulu tuduhan anda kepada kami. Yang pertama, anda katakan yang saya asal bicara?" Kaliana berkata serius, sambil menunjukan satu jarinya, jempol.
"Untuk anda ketahui, jaman sekarang berbeda dengan jaman dulu. Semua yang saya katakan bukan asal cuap-cuap. Semua bukti yang kami temukan sudah diverifikasi oleh pihak terkait. Jadi ini adalah hasil yang kami peroleh dalam menyelidiki kasus ini." Kata Kaliana lagi dengan serius.
"Kami sudah menduga, akan ada yang katakan hal seperti itu, saat kami menggelar kasus ini. Oleh sebab itu, kami sekalian membawa pihak yang menganalisa bukti yang kami peroleh." Kaliana berkata sambil melihat dr Yogi.
"Kami membawa dokter yang membantu kami di bagian medis. Jadi nanti kalau anda masih ngotot terus katakan saya asal bicara, beliau akan memberitahukan temuan kami kepada anda sekeluarga." Ucap Kaliana sambil memperkenalkan dr Yogi yang membantunya.
"Yang kedua..." Kaliana berkata sambil menunjukan kedua jarinya, jempol dan telunjuk. "Anda katakan tidak mungkin terjadi pembunuhan dalam keluarga? Pak Ewan... Kami bekerja di bidang ini, menangani banyak kasus dalam keluarga seperti itu. Antar keluarga bisa saling membunuh, karena berbagai alasan. Ada orang tua bunuh anak. Anak bunuh orang tua. Suami bunuh istri, atau pun sebaliknya. Jadi itu bukan sesuatu yang baru bagi kami. Anda bisa melihat berita kasus itu, bertebaran di media sosial. Jadi, jangan katakan tidak mungkin." Kaliana berkata tenang dan dingin.
__ADS_1
"Tapi saat ini, anda sedang menjebek anak kami dalam tindakan yang tidak dilakukannnya." Papa Rallita tidak mau mundur dan menerima begitu saja apa yang dituduhkan oleh Kaliana kepada Fendry.
"Pak Ewan... Dari perkara anda sampai saat ini, anda belum mengerti juga. Anda katakan kami menjebak? Iyaaa... Kami sedang menjebak anak anda. Tapi anda harus bedakan. Tindakan menjebak kami dengan tindak anda menjebak Pak Marons." Kaliana berkata dengan serius tanpa mengalihkan pandangannya dari Papa Rallita.
"Anda menjebak orang yang tidak bersalah, agar orang itu terlihat bersalah dan kalau bisa dihukum. Tetapi kami menjebak orang, karena sudah tau orang itu bersalah, agar bisa dihukum. Itu adalah salah satu teknik membuktikan keabsahan bukti dan cara menyelesaikan kasus yang kami lakukan."
"Sebagaimana gelar perkara malam ini, adalah salah satu teknik membuktikan bukti dan penyelesaian kasus sebelum di pengadilan. Jadi jika tidak bersalah dan dijebak, siap-siap yang menjebak pakai gelang besi. Sedangkan yang kami jebak, siap-siap pakai gelang besi." Kaliana berkata sambil terus melihat Papa Rallita.
"Jadi ada perbedaannya, Pak Ewan. Yang anda lakukan melanggar hukum dan hasilnya gelang besi. Sedangkan yang kami lakukan sesuai hukum. Jadi tidak usah khawatir, jika anda atau anak anda tidak bersalah berhadapan dengan jebakan kami." Ucap Kaliana lagi sambil tetap memandang Papa Rallita dan Fendry bergantian.
"Dari batahan anda terhadap apa yang saya katakan, anda sedang mengelak dari perbuatan anak anda yang mana? Memproduksi anak atau membunuh saudara?" Tanya Kaliana tanpa bergeming.
"Cukup... Cukup, Papa. Sekarang saja Papa tidak bisa menolong diri sendiri. Bagaimana mau menolong kami? Aku sudah bilang berulang kali, jangan dengarkan Lita. Tetapi Papa lebih mendengarnya dan mempercayainya." Fendry tiba-tiba berkata dengan suara keras.
"Saat dia hamil, aku sudah bilang, mungkin itu anak kami, karena kami melakukannya tanpa sengaja pada saat kalian tidak ada di rumah. Tapi kalian mendengar apa yang dikatakannya, bahwa kami tidak melakukannya. Itu hanya kecelakaan dengan kak Kebart."
"Ibu Kaliana... Saya pernah berpikir, mungkin itu anak saya. Tapi tidak berani untuk melakukan apa pun untuk membuktikannya. Ketika melihat anak itu dibawa Kak Asi saat kumpul keluarga, saya selalu pikirkan itu anak saya. Hal itu membuat saya berulang kali tanyakan pada Lita, tapi dia katakan bukan." Fendry berkata pelan.
__ADS_1
"Saya terlalu pengecut untuk menolak ajakannya untuk berhubungan intim. Sama halnya dengan terlalu pengecut untuk membunuhnya, walau hati sering menginginkan dan mendorong untuk melakukannya." Fendry terus berkata dan coba meyakinkan Kaliana, bahwa dia tidak membunuh kakaknya.
"Saya senang dia sudah menikah dengan Kak Marons. Harapan saya, setelah menikah dia tidak akan mengganggu saya lagi. Sampai sekarang saya belum menikah, karena masih trauma dengan apa yang kami lakukan. Saya tidak berani berdekatan dengan wanita." Fendry menumpahkan apa yang dirasakannya. Agar Papanya mau percaya kepadanya.
"Jika benar itu anakku, Papa harus melihat dan sadar. Kak Kebart dan Kak Asi begitu menderita dengan cucu Papa. Karena siapapun Papanya, dia anak Lita. Cucu dari anak kesayangan Papa." Fendry berkata sambil memandang Papanya.
"Aku tidak tau, kenapa kakak-kakak ini percaya saat Lita mengatakan itu anak mereka. Mungkin mereka lakukan hal yang sama, seperti yang kami lakukan. Sehingga begitu saja percaya pada ucapannya. Jadi tolong diperiksa lagi baik-baik, seperti yang dikatakan ibu Kaliana. Mungkin bukan anak kakak-kakak." Fendry berkata sambil melihat Kebart dan Jaret bergantian.
"Terima kasih Ibu Kaliana. Setelah ini, saya akan bicara dengan Kak Kebart dan Kak Asi untuk menyelesaikan ini." Fendry berkata pelan, sambil melihat Kaliana dengan rasa terima kasih.
"Baik... Setelah ini, anda bisa bicara dengan dr Yogi untuk proses selanjutnya, juga untuk sakit anaknya. Mungkin beliau bisa membantu untuk menyembuhkan anak kalian." Kaliana sudah konsultasi dengan dr Yogi dan dr Dewi tentang penyakit anak tersebut.
"Mengenai keheranan anda kenapa mereka begitu percaya ucapan korban, karena mereka terhipnotis kata-kata manisnya seperti Papa dan Mama anda. Dan terutama, mereka percaya itu anak mereka, karena memang melakukannya. Semoga benar yang dikatakan Pak Kebart kepada istrinya, tidak melakukannya lagi setelah menikah." Ucap Kaliana serius sambil melihat Kebart, karena Jaret masih melakukannya.
"Saya katakan semoga Pak Kebart tidak melakukannya lagi, karena Pak Jaret masih melakukannya. Entah cinta atau naf0su yang mendasari mereka melakukannya. Yang pasti, korban meninggal sambil membawa hasil produksi mereka." Kaliana mengalihkan pandangannya kepada Jaret dan juga Mama Rallita yang melihatnya dengan wajah tidak tenang.
...~***~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...