![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Semua orang melihat Jaret ketika mendengar apa yang dikatakan Kaliana. Setiap ucapan Kaliana mengandung magnet dan menjadi perhatian yang membuat penasaran. Karena setiap apa yang dikatakan selalu mengungkap sesuatu yang baru dan tidak mereka duga.
"Saya belum melihat apa yang mendasari anda lakukan saat mengikuti anak korban yang diasuh oleh keluarga Pak Kebart. Tadinya saya berpikir anda lakukan karena mencintai korban dan anak tersebut adalah hasil percintaan kalian. Tetapi penyelidikan kami membuktikan lain." Ucap Kaliana serius, membuat Jaret terkejut. Dia berpikir semuanya sudah dia akui, saat diminta kesaksiannya di kantor polisi. Sehingga penyidik tidak akan lagi menyelidikinya.
"Anda tidak usah menggertak saya, Ibu Kaliana. Saya sudah akui semua kepada penyidik, jadi anda tidak perlu mengulangnya lagi di sini. Kalau anda terdesak dan bingung menemukan pelakunya, selidiki lagi. Jangan mengumpulkan kami di sini, hanya untuk membuka aib orang." Jaret berkata sambil melihat Kaliana dengan percaya diri.
Dia berpikir, Kaliana sedang mencari pelakunya, karena setiap apa yang disangkakan kepada seseorang di antara mereka yang hadir, tidak terbukti pelakunya. Hal itu membuat Jaret jadi percaya diri dan bersilat kata dengan Kaliana. Dia sudah tahu, ucapan Kaliana suka ajaib dan menusuk, jadi dia merasa ini adalah kesempatannya untuk mengolok Kaliana.
"Pak Jaret... Anda belum pernah mencari bangkai tikus yang sudah mati beberapa hari?" Tanya Kaliana serius, tanpa bergeming dengan ucapan Jaret. Dia melihat Jaret dengan tatapan tajam dan menusuk. Bagi Kaliana, sekarang ini Jaret merasa percaya diri karena Papanya sudah berbicara dengan pihak aparat hukum. Sehingga hal itu membuatnya besar kepala dan berlaku atau berucap sesukanya.
"Apa maksud ucapan anda? Kami yang hadir ini disamakan dengan tikus mati?" Tanya Jaret yang mulai emosi mendengar pertanyaan Kaliana yang tidak terduga. Semua yang hadir melihat Jaret, sambil menggelengkan kepalanya. 'Katanya anak pejabat, sekolah tinggi, memiliki kedudukan di masyarakat, tidak mengerti hal sederhana seperti itu.' Danny berkata dalam hati dan ikut menggelengkan kepalanya.
"Pak Jaret... Pikirannya jangan suka bermain di ombak, nanti pusing sendiri. Jika orang lain sedang berbicara, dengar sampai akhir. Simak baik-baik sebelum menyangga perkataan orang lain. Anda tidak perlu mengalihkan perhatian saya atau yang lain dari anda. Atau kami perlu tes urine anda saat ini?" Tanya Kaliana tiba-tiba menyinggung peristiwa ditemukannya alat penggunaan sabu di apartemen Rallita.
__ADS_1
Bram langsung melihat ke arah Kaliana. Dia menjadi was-was dengan ucapan yang menyangkut Jaret. Karena pimpinanannya sudah memberikan warning, agar menjauhi Jaret. Semua kasus menyangkutnya diusahakan untuk diskip.
"Anda sedang mengalihkan perhatian kami ke hal yang tidak terbukti benar. Jadi saya ingatkan lagi, jangan mengertak saya untuk sesuatu yang tidak benar." Ucap Jaret percaya diri, karena dia tahu Papanya sudah intervensi pihak penyidik. sehingga dia mau datang mengikuti acara GP yang diadakan oleh penyidik.
"Pak Jaret... Tidak perlu saya menggertak anda untuk hal yang anda lalukan. Mungkin anda berpuas diri, saat penyidik membiarkan anda berjalan keluar dengan bebas. Padahal sesungguhnya, anda sedang dibiarkan untuk membawa kami ke tempat persembunyian anda." Kaliana berkata dengan tenang, tapi serius untuk melihat reaksi Jaret.
Jaret melihat Kaliana dengan terkejut, saat mendengar yang dikatakannya. 'Benarkah yang dikatakannya? Apakah mereka sengaja melepaskan untuk mengikutiku?' Pertanyaan itu bertalu-talu di benak Jaret, membuat hilang rasa percaya dirinya.
Rasa percaya diri Kaliana membuat Bram angkat tangan. Dia yang tadinya mau mengingatkan Kaliana tentang apa yang dikatakan pimpinannya, jadi urung. Dia tahu, jika Kaliana sudah mencekram, dia tidak akan lepaskan begitu saja sampai dia yakin cengkramannya telah memberikan dampak baginya dan juga bagi yang dicengkram.
"Anda belum mengerti apa yang saya katakan mencari bangkai tikus yang sudah mati beberapa hari? Jika belum, dengar saya jelaskan. Kami menyingkirkan beberapa halangan, sambil menuju tempat bangkai tikus. Supaya saat tiba di tempat itu, kami bisa melihat bangkai tikus dengan jelas dan menyingkirkannya dengan benar." Kaliana berkata tenang dan serius menjelaskan.
"Atau anda mau pergunakan fasilitas yang disediakan? Mau minta bantuan teman untuk membantu anda, silahkan. Mau minta bantuan keluarga juga, boleh. Anda diberikan dispendasi untuk menggunakan fasilitas yang tersedia. Silahkan...! Anda mau hubungi siapa, nanti petugas yang akan membantu anda." Kaliana berkata santai, seakan-akan tidak sedang adakan gelar perkara pembunuhan, tapi kuis berhadiah.
Setelah menunggu beberapa lama, dan tidak ada respon dari Jaret, Kaliana jadi tidak sabar menunggu. "Baik... Anda tidak mau menggunakan kesempatan yang saya berikan. "Pelangi food, tranksaksi." Kaliana mengirim pesan kepada Putra dengan suara pelan, agar Putra bisa mengirim pelangi saat Jaret sedang melakukan transaksi sabu dengan beberapa orang atlit.
__ADS_1
Semua yang hadir tercengang melihat layar TV yang kembali menyala dan memperlihatkan gambar dan video dimana Jaret ada di dalamnya. Setelah melihat apa yang ditampilkan di layar TV, Jaret tercengang dengan mata terbelalak.
Wajah Jaret langsung berubah-ubah, ketika melihat layar TV. Dia tahu siapa yang ada bersamanya dan juga apa yang sedang mereka lakukan. Dia langsung berdiri dan berusaha menutupi layar TV dengan merentangkan tangan dan badannya.
Membuat semua orang melihatnya dengan wajah tercengang. "Anda masih mau mengatakan kami hanya menggertak? Atau mau mengatakan itu bukan anda? Semua kegiatan dan kepanitian anda hanya kedok untuk meloloskan barang haram itu kepada orang-orang yang percaya kepada anda." Kaliana berkata dengan wajah dingin tanpa mengalihkan matanya dari Jaret.
"Jika anda belum puas melihat itu, kami akan menunjukan yang lebih banyak lagi. Supaya anda ketahui, itu adalah bagian kami menyingkirkan halangan untuk menemukan bangkai tikus. Anda sudah paham yang saya maksudkan?" Kaliana bertanya lagi untuk menekan Jaret.
"Tadinya kami berpikir, anda mencintai korban sehingga masih berhubungan dengannya. Ternyata anda sudah tahu kelemahan korban dan memanfaatkannya. Jika korban lahir dari keluarga kurang mampu, apakah anda masih mempepetnya seperti angkot?" Ucap Kaliana terus mencecar Jaret, tanpa memberi kesempatan berpikir.
"Anda jangan sembarang menuduh tentang hubungan saya dengan Lita. Saya hanya membantu memberinya anak, karena suaminya tidak bisa memberinya anak." Ucap Jaret tiba-tiba untuk menyelamatkan diri dari apa yang disangkakan Kaliana dan perhatian orang dari layar TV, saat melihat Marons sedang menatapnya tanpa berkedip.
Dia sengaja mengatakan itu, agar semua yang hadir bisa melihat Marons yang sedang menatapnya dengan tatapan setajam pisau dapur. Jaret tidak sadar, ucapannya bisa membuat orang tersebut naik pitam. Tiba-tiba Marons berdiri dan berjalan cepat dengan langkah panjangnya mendekati Jaret.
Tanpa suara, Marons mengcengkram kerah kemeja Jaret dan langsung mengirimkan kepalan tangannya ke arah wajah Jaret, tanpa ada yang bisa mencegahnya. Termasuk para petugas yang sedang berdri siaga. Melihat apa yang dilakukan Marons kepada Jaret, mereka segera bergerak.
__ADS_1
...~***~...
...~●○¤○●~...