![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Saat mendengar pertanyaan Bram, Kaliana melihatnya dengan serius. Dia baru menyadari, mungkin Bram belum tahu cara kerjanya dan anggota team sopape.
"Aku hanya menggunakan dalam kasus-kasus tertentu, terutama kasus pembunuhan." Kaliana menjelaskan cara kerjanya menyelesaikan kasus setelah keluar dari kesatuan.
"Apa kasus pembunuhan di Surabaya, kau lakukan dengan hal yang sama?" Tanya Bram lagi ingin tahu, karena cara Kaliana tidak pernah dilakukan saat mereka masih aktif bertugas.
"Iyaa... Aku lakukan hal yang sama sebelum kasus itu juga. Hanya lebih boom kasus yang kami tangani di Surabaya, karena sudah jadi perhatian publik." Kaliana menjelaskan lagi. Karena itu bukan pertama kali mereka pecahkan kasus pembunuhan dengan cara itu. Kaliana perlu menjelaskan kepada Bram, agar tidak ada keraguan di hati Bram untuk mendukung cara gelar perkara yang akan dilakukannya.
Kemudian Kaliana mengelurkan lembaran kertas dari kantong rompinya lalu meletakan lembaran tersebut di depan Bram. "Ini nama orang-orang yang akan kau undang untuk hadir dalam pertemuan tersebut. Semua orang ini berkaitan dengan 'kasel'. Ini isi surat yang tinggal kau copy dalam kop surat resmi kepolisian." Kaliana menjelaskan semua isi lembar kertas yang ada di depan Bram.
Kaliana dan Putra sudah menyiapkan semuanya, dan telah diprint untuk dibawa oleh Kaliana. Sehingga Bram dapat melihat dan membacanya dengan mudah. "Semua orang ini diberikan catatan, jika tidak memenuhi undangan ini, statusnya dinaikkan jadi tersangka, kecuali penacara mereka." Ucap Kaliana serius, agar Bram bisa melakukannya dengan serius.
"Pengacara boleh ikut diundang?" Tanya Bram, karena dia tidak melihat nama pengacara, selain ada pengacara Marons.
__ADS_1
"Boleh di undang. Itu ada tempat kosong yang aku sediakan untuk kau isi nama pengacara yang kau tau. Aku hanya mencantumkan nama pengacara Pak Marons, karena aku tau namanya." Ucap Kaliana menjelaskan, sambil menunjuk nomor yang kosong untuk diisi oleh Bram. Bram melihat semua yang ditunjukan Kaliana lalu mengangguk mengerti.
"Karena ada pengacara yang hadir, kau tolong perintahkan anggotamu untuk menyita alat komunikasi semua undangan yang hadir. Tidak terkecuali, karena bagaimana pun kita harus menjaga privasi mereka yang hadir. Diantara mereka ada memiliki jabatan dan kedudukan di masyarakat. Dan mereka mungkin saja hanya saksi, bukan pelaku." Ketentuan itu dicantumkan oleh Kaliana untuk menjaga privasi Marons. Dia khawatir ada yang merekam ucapan atau tindakan yang tidak etis dari para undangan karena emosi.
Hal itu pernah di alami dalam suatu kesempatan menyelenggarakan GP (Gelar Perkara), membuat Kaliana selalu memperhatikan dan menjaga privasi orang-orang yang belum tentu terlibat dalam kasus yang sedang digelar. Bram kembali mengangguk mengerti, apa yang Kaliana maksudkan.
"Untuk tempat gelar perkara, aku serahkan caranya padamu. Kau bisa bertemu dengan orang tua korban untuk bicara secara langsung, atau bicara lewat telpon. Kau bisa ukur dampak tindakanmu untuk memastikan mereka mengikuti keputusanmu." Kaliana berkata serius.
"Dari sekarang aku sudah tau, gelar perkaranya akan dilakukan tiga hari dari sekarang. Jam dan tempat sudah aku cantumkan di situ. Aku dan team akan datang satu jam sebelum waktu yang tercantum dalam undangan." Kaliana berkata sambil menunjuk lembaran di tangan Bram.
"Aku berharap, kau dan semua anggota keamananmu juga bisa tiba dalam waktu yang bersamaan dengan kami. Agar bisa menyiapkan tempat dan menyisir lokasi GP sebelum para undangan tiba di tempat." Kaliana menjelaskan apa yang akan mereka lakukan. Dia berharap Bram dan anggotanya bisa mendukung rencananya.
"Baik. Kau jangan mengatakan apa pun kepada 'Bintang' tentang apa yang akan kami lakukan. Aku berharap beliau tidak hadir dan mengambil apa yang harus menjadi bagianmu. Jika kau ceroboh dan ini bocor kepada beliau, aku tidak bertanggung jawab jika kau tidak dapat balak di pundakmu. Tetapi beliau dapat tambahan bintang di pundaknya." Kaliana memperingatkan Bram dengan tegas dan serius.
"Aku berkata begini, karena kau sudah tahu respon publik terhadap kasus ini. Ada putra seorang pejabat tinggi dan putra seorang konglomerat terlibat dalam kasus tewasnya putri seorang konglomerat. Jadi penyelesaian kasus ini sangat dinanti-nantikan. Publik bukan saja menanti untuk mengetahui siapa pelakunya, tetapi juga kisah dibalik kematiannya." Kaliana memberikan gambaran yang lebih jelas kepada Bram, agar bisa bertindak lebih hati-hati.
__ADS_1
Bram mengangguk mengerti, karena dia sudah merasakan dampak dari kasus kematian Rallita. Dia didesak dari berbagai pihak, agar bisa menuntaskan kasus tersebut. Minimal ada seseorang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Karena sampai sekarang, belum ada tersangkanya. Hanya ada orang-orang yang menjadi saksi, tapi bukan karena melihat tewasnya korban. Tetapi dimintai keterangan karena hubungan dekat atau kenal baik dengan korban.
"Ini aku berikan garis besarnya saat GP diadakan. Kau bawa anggota Punguk yang kalian amankan itu, dan siapkan di luar ruang GP. Kau bisa tempatkan dia di salah satu mobil, tapi dalam pengawasan petugasmu." Kaliana mulai menyampaikan apa yang dia telah rencanakan untuk bagian Bram.
"Kau yang akan membuka GP, karena kau dari badan resmi. Semua orang yang hadir mengenal dan tau jabatanmu di kepolisian. Saat kau membuka pertemuan dan mulai membicarakan kasus Punguk, kita akan lihat reaksi Papa Rallita. Jika beliau masih mau mengelak juga, kau berikan perintah kepada anggotamu untuk membawa orang tersebut ke tempat GP." Kaliana sudah pikirkan strategi untuk menjerat Papa Rallita, agar tidak berkutik saat didakwa oleh Bram.
"Saat petugas mengantarnya masuk ke dalam ruangan pertemuan. Kau silahkan menembak Papa Rallita dengan cara dan gayamu. Silahkan keluarkan semua kartu yang kau pegang mengenai kasus Punguk. Aku akan melengkapi, jika kau injinkan." Kaliana sudah mengenal dan mengetahui cara kerja Bram, jadi dia hanya membukanya saja. Selanjutnya, Bram sendiri yang akan bertempur.
"Kami telah membuat pagar, jadi mereka akan keluar dari tempat GP hanya lewat pintu yang kami sediakan, yaitu kau dan anggotamu. Jadi saat kau menembak orang tua Rallita, jangan dulu pakaikan gelang besi atau dibawa keluar oleh petugasmu. Biarkan beliau terus berada di dalam ruangan GP untuk menerima bagiannya dariku." Kaliana sudah mempersiapkan kejutan untuk Papa Rallita yang sudah berani main kotor.
"Aku berharap, beliau masih bisa melihat keluarganya dalam kesadaran penuh. Karena bagianku akan membongkar semua yang tersimpan rapat dalam keluarga itu. Ada banyak hal yang beliau tutup dengan menggunakan kekayaannya." Ucap Kaliana dengan serius menjelaskan satu persatu apa yang akan dilakukan.
"Jadi Papa Rallita bukan hanya terkait dengan kasus Punguk?" Tanya Bram terkejut mendengar penuturan Kaliana.
"Itu hanya pintu masuk yang kau buka. Nanti hari H kau akan melihat isi dalam rumah yang mencengangkan." Ucap Kaliana serius dan berteka-teki, penuh misteri bagi Bram yang sedang melihatnya dengan serius.
__ADS_1
...~***~...
...~●○¤○●~...