![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Kaliana yang hendak menemui Bram, jadi pulang sebagimana yang diminta Marons. Dia menyadari dari ucapan Marons saat masuk ke ruangan Danny, Marons mengharapkan dia dikabari jika sudah tiba di tempat. Oleh sebab itu, Kaliana langsung pulang ke rumah, karena anggota teamnya sudah pulang ke rumah dan menunggunya.
Setelah tiba di rumah dan mandi, dia makan apa yang sudah disiapkan Yicoe dan Novie untuk makan malam. Tidak lupa dia mengabari Marons, bahwa dia sudah tiba di rumah. Marons membalasnya dengan mengirim emoticon dua jempol. Kaliana jadi tersenyum mengingat Marons mengangkat dua jempol di ruang kerja Danny. Hal-hal kecil dan sederhana yang dilakukan Marons bisa membuatnya tersenyum.
Kaliana mengumpulkan teamnya untuk membicarakan hasil laboratorium yang sudah diterimanya, tentang teh ginseng merah Marons. Kemudian Kaliana meminta Putra menyatukan hasilnya dengan hasil pemeriksaan darah Marons dari rumah sakit.
"Putra, apakah sudah ada hasil tentang siapa yang mengikutiku atau Pak Marons?" Tanya Kaliana, sebelum menyampaikan apa yang terjadi di ruang kerja Danny kepada anggota teamnya.
"Iyaa, Mbak. Itu mobil rental yang disewa untuk mengikuti Mbak. Sedangkan orangnya sendiri mantan napi. Dia pernah dipenjara karena pencurian mobil." Putra melapor hasil pencariannya kepada Kaliana, karena sebelumnya dia sudah melapor kepada Pak Yosa, Yicoe dan Novie.
"Anna, kau masih ingat si Punguk?" Tanya Pak Yosa setelah mereka mendiskusikan hasil pencarian Putra. Kaliana mengangguk dan melihat Pak Yosa dengan serius.
"Iya, Pak. Masih ingat. Apa kabarnya, sekarang?Aku dengar saat itu, dia sudah keluar dari kesatuan karena dipecat. Ada apa dengannya, hingga Pak Yosa tiba-tiba mengingatnya?" Tanya Kaliana serius, mendengar Pak Yosa tiba-tiba menyebut nama julukan salah satu temannya di kesatuan. Dia selalu mengingat nama itu, karena suka nakal dalam bertugas dan sering menimbulkan masalah bagi rekan kerjanya.
"Dia yang disewah oleh keluarga korban untuk menyelidiki kasus ini. Tadi Putra menyebut nama orang yang mengikutimu, sekalian aku check karena dia mantan napi. Ternyata dia bekerja bersama Punguk setelah keluar dari penjara." Pak Yosa menjelaskan, alasan menyebut nama mantan rekannya.
__ADS_1
"Oooh... jadi yang dilakukan Punguk selama ini benar. Dia bermain dua kaki, dengan menolong para penipu dan penjahat itu. Sekarang mereka berkumpul jadi satu dan mulai bekerja sama." Ucap Kaliana, serius.
"Pak Yosa yakin, Punguk disewa oleh keluarga korban?" Tanya Kaliana lagi untuk mencocokan keterangan yang diperole dari Marons.
"Iyaa... Tadi kami belum memberitahumu, karena lagi bersama Pak Danny. Jangan sampai info kami, mengganggu konsentrasimu dan juga perlu dibahas dulu bersama. Jadi kami tunggu kau pulang untuk membahasnya." Ucap Pak Yosa yang menunggu Kaliana pulang dari pertemuannya dengan Danny, sebagaimana yang disampaikan Kaliana kepeda mereka.
"Dia disewa oleh pihak orang tua korban untuk menyelidiki Pak Marons. Orang tuanya berpikir, Pak Marons pelaku dibalik tewas anaknya. Jika tidak melakukannya sendiri, dia mungkin membayar orang untuk melakukannya. Itu yang dikatakan orang yang mengikutimu. Tadi aku mengikuti dia dan memotongnya di jalan..." Pak Yosa menceritakan proses penghadangan hingga mendapatkan keterangan dari orang yang mengikuti Kaliana.
"Jadi benar yang dikatakan Pak Yosa, dia amatir. Tapi kenapa orang tua korban mencurigai Pak Marons sebagai pelakunya?" Tanya Kaliana sambil berpikir. Dia ingin tahu alasan orang tua korban mencurigai Marons.
"Menurut orang itu, orang tua korban mengatakan Pak Marons memiliki simpanan wanita lain dan berencana akan menceraikan korban. Pak Marons sudah memberikan lampu hijau kepada pengacara umtuk mengurusnya. Tapi saat Pak Marons membicarakan itu, korban tidak mau diceraikan. Sehingga Pak Marons marah besar dan mengancamnya. Itu yang didengar orang itu saat menamani Pungguk menemui orang tua korban." Pak Yosa menjelaskan apa yang dikatakan orang yang mengikuti Kaliana.
"Maksudmu bagaimana, Anna?" Tanya Pak Yosa. Yicoe, Novie dan Putra juga ikut melihat ke arah Kaliana, menanti penjelasannya. Mereka belum mengerti apa yang dimaksudkan Kaliana.
"Korban memgatakan kepada Jaret, Marons marah besar dan mengancamnya, saat mengetahui dirinya hamil dengan Jaret. Itu yang dikatakan Jaret di ruang interogasi." Ucap Kaliana serius.
"Sedangkan kepada orang tuanya, dia katakan Pak Matons punya wil dan berencana mau menceraikannya. Pak Marons jadi marah dan mengancamnya, karena tidak mau diceraikan. Jadi korban menipu mereka semua, karena kejadian sebenarnya kita sudah tahu, bukan?" Kaliana berkata sambil berpikir, ada yang tidak beres dengan semua kebohongan korban.
__ADS_1
"Itu namanya sayang yang membabi buta. Setiap apa yang dikatakan tidak disaring dulu. Apa mereka tidak tahu kehidupan anaknya atau mata mereka buta? Orang tuanya, percaya begitu saja yang dikatakan anaknya. Atau mereka sedang menutupi rasa salah didik anak dengan mencari kambing hitam?" Ucap Novie mendengar penjelasan Kaliana.
"Iyaaa... Sama dengan Jaret. Cinta atau na*su membuatnya dungu. Tidak berpikir apa yang dilakukan Pak Marons yang marah besar itu wajar. Padahal dia laki-laki dan sudah beristri. Jika istrinya kedapatan hamil dengan lelaki lain, apa dia tidak marah besar dan mengamuk? Bisanya membuang salah ke orang lain, tanpa melihat kesalahannya sendiri. Percaya begitu saja pada wanita yang sudah ketahuan berhianat." Ucap Yicoe emosi, membuat rekan-rekannya melihat dia dengan serius.
"Iyaa, Coe. Apa dia berpikir, korban itu wanita baik-baik? Dengan berani dia berselingkuh dengannya, itu sudah ketahuan, dia wanita tidak benar. Mau begitu saja dibodohin." Ucap Novie lagi jadi ikutan emosi.
"Mendengar yang dikatakan Yicoe dan Novie, aku jadi berpikir. Mereka sedang menutupi kesalahan mereka dengan membuang salah kepada orang terdekat dengan korban, Pak Marons." Pak Yosa berkata setelah mendengar apa yang dikatakan Kaliana, Yivoe dan Novie.
Kaliana mendengar semua yang dikatakan anggota teamnya dan terus berpikir untuk mencari benang merah dari semua kebohongan yang dilakukan oleh korban. "Seseorang berbohong, pasti ada alasannya. Tidak mungkin dia tidak memiliki alasan atau maksud tertentu untuk membohongi orang-orang itu." Ucap Kaliana dan terus berpikir.
"Putra, tolong periksa aliran dana dari Jaret. Apakah ada dana yang mengalir ke rekening Rallita." Ucap Kaliana serius, mengingat pembicaraannya dengan Marons yang memblokir semua kartunya.
"Siaaap, Mbak. Apakah sekalian dengan orang tuanya?" Tanya Putra yang dari tadi mengikuti pembicaraan kakak-kakaknya dengan serius.
"Orang tuanya tidak usah, Putra. Karena orang tua membantu anaknya itu hal biasa. Jadi tidak usah fokus untuk sesuatu yang mudah dipatahkan. Kita fokus kepada Jaret dan Kebart, sepupuh korban. Lebih baik kau periksa, apakah ada aliran dana dari Kebart ke korban juga." Ucap Kaliana serius, mengingat kehidupan korban yang gemerlap dan hingar bingar.
...~***~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...