![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~β’Happy Readingβ’~...
Beberapa waktu kemudian, Jaret baru memenuhi panggilan polisi setelah mendapat surat panggilan yang ketiga kali. Jika tidak datang juga, pihak kepolisian akan menjemput paksa di tempat tinggalnya.
Penyidik mulai kesal, karena ada berbagai alasan atas ketidak hadirannya. Pengacaranya selalu memberikan alasan, kepada pihak kepolisian. Baik sedang sakit, tidak ada ditempat, atau lain sebagainya. Hal itu membuat penyidik penasaran, apakah Jaret Kariola lebih sibuk dari seorang Marons Kasmara. Sehingga penyidik meminta seorang petugas untuk menyelidiki aktivitas Jaret.
Ketika tiba di kantor polisi dan bertemu dengan penyidik, timbul rasa tidak suka dalam hati petugas, terutama penyidik Bram. Karena melihat sikap dan perilaku Jaret yang tidak sopan dan seenaknya. 'Apakah karena merasa anak pejabat, jadi bisa sesukanya?' Penyidik Bram bertanya sendiri dalam hati dan makin semangat menyelidikinya.
"Sebagaiman yang tercantum dalam surat panggilan, kami akan meminta keterangan Pak Jaret perihal tewasnya Ibu Rallita Geradine beberapa waktu lalu. Kami berharap, Pak Jaret bisa bekerja sama dan memberikan keterangan yang benar." Ucap penyidik setelah mereka duduk berhadapan di ruang interogasi bersama pengacaranya.
Setelah petugas selesai mencatat data diri dan semua bukti kelengkapannya, penyidik mulai bertanya.
PB (Penyidik Bram) : "Pak Jaret, apakah anda mengenal Ibu Rallita Geradine?"
JK (Jaret Kariola) : "Iya. Dia teman saya sejak SMA."
PB : "Apakah hanya sebatas teman?"
JK : "Iyaa... Hanya teman."
PB : Kapan terakhir bertemu dengan Ibu Rallita?"
JK : "Beberapa tahun lalu, saat dia menikah. Saya datang ke pesta pernikahannya."
PB : Anda yakin, itu pertemuan terakhir anda dengan Ibu Rallita?"
JK : "Yakin..." Penyidik melihat keraguan dijawaban yakinnya Jaret.
PB : "Pengacara, apakah anda sudah memberitahukan client anda, apa akibatnya jika memberikan keterangan yang tidak benar?"
PJ (Pengacara Jaret) : Belum Pak. Saya hanya mengingatkan untuk memberikan keterangan yang sebenarnya.
__ADS_1
PB : "Baik, kalau begitu saya akan beritahukan kepada anda, Pak Jaret. Semua keterangan anda ini akan dipakai oleh Jaksa penuntut di pengadilan. Di sana anda akan diambil sumpah untuk kesaksian anda ini. Jika anda memberikan keterangan tidak benar atau keterangan ini palsu, maka anda dapat dikenakan ancaman pidana sebagai tindak pidana keterangan palsu sebagaimana diatur dalam KUHP. Hukuman maksimum, 7 tahun penjara. Jadi anda harus berhati-hati dalam memberikan keterangan."
PB : "Saya bertanya sekali lagi, kapan terakhir anda bertemu dengan korban?" Penyidik berkata tegas, karena melihat sikap Jaret yang abstrak.
JK : "Yaa, seperti yang saya bilang tadi, dua tahunan." Jaret tidak bisa menyembunyikan rasa panik dalam jawabannya.
Penyidik melihatnya dengan serius, karena jika kesaksiannya benar, berarti Marons yang berbohong. Tetapi melihat perilakunya, panyidik meragukan keterangan Jaret.
PB : "Ini rambut asli anda?" Penyidik bertanya sambil memegang rambut Jaret, asal. Hal itu membuat Jaret terkejut, tetapi terlambat mengelak. Penyidik telah memegang rambutnya.
PB : "Pak pengacara, saya berikan waktu untuk berbicara dengan client anda. Setelah ini, saya akan membuat dia tidak bisa mengubah kesaksiannya lagi dan harus menerima konsekuensinya." Penyidik berdiri meninggalkan ruang interogasi, sambil membawa rambut Jaret di tangannya.
Penyidik berpikir cepat, melihat Jaret memberikan keterangan yang meragukan. Satu-satunya cara agar bisa tahu dia berkata benar atau tidak, harus membuktikan dia Ayah dari janin itu atau bukan. Oleh sebab itu, penyidik sengaja mengambil sesuatu dari tubuhnya yang paling mudah adalah rambutnya.
PB : "Bagaimana, apakah mau mengubah keterangannya?" Penyidik kembali duduk di depan Jaret dan pengacaranya. Jaret menggeleng, begitu juga dengan pengacaranya.
PB : "Baik, kalau begitu, silahkan tanda tangan BAP ini, nanti kami akan hubungi lagi setelah berbicara dengan suami korban. Saya berharap anda bisa koperaktif, untuk membantu menemukan pembunuh teman anda, Ibu Rallita." Penyidik mengambil pelan, karena belum memegang bukti dia bersama dengan korban. Begitu juga hubungannya dengan janin itu.
"Kita biarkan ikan sedikit waktu untuk berenang, sebelum kita putuskan mau dibakar, atau digoreng." Ucap penyidik Bram yang sudah melihat ketidak tenangan Jaret dalam memberi keterangan.
"Jangan dibiarkan terlalu lama, Pak. Keburu dimakan sama Bu Kaliana. Kita belum bakar, Bu Kaliana sudah makan." Ucap petugas sambil tersenyum.
"Bu Kaliana siapa yang kau maksudkan?" Tanya penyidik terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh petugas yang mendampinginya.
"Mantan ivestigator yang resign itu, Pak. Saya dengar desas desus, beliau sedang menyelidiki kasus ini. Saya tidak tahu beliau disewa oleh pihak mana, tapi ada yang melihat Pak Yosa datang beberapa kali ke sini. Bapak tau, kan. Pak Yosa telah pensiun, tapi bekerja dengan Bu Kaliana. Ingat kasus pembunuhan di Surabaya itu?" Petugas memberi keterangan.
"Kenapa kau baru katakan itu sekarang? Kau punya nomor telpon Pak Yosa?" Tanya penyidik Bram, tergesa-gesa.
"Tidak ada, Pak. Tapi bapak bisa minta ke Surabaya. Mereka pasti punya nomor Pak Yosa, atau Bu Kaliana." Ucap petugas yakin, karena tau Kaliana menyelesaikan kasus pembunuhan di Surabaya bersama polisi di sana. Penyidik Bram, langsung mengambil ponselnya.
Β°***Β°
__ADS_1
Di sisi yang lain ; Kaliana sedang di ruang pertemuan bersama teamnya menyelidiki foto barang pribadi korban yang diemail oleh Danny. Walaupun sudah di zoom oleh Putra, mereka tidak melihat kejanggalan dari barang pribadinya.
"Mbak Anna, apakah bajunya tidak berlebihan jika hanya untuk keluar bertemu seseorang?" Tanya Yicoe, sambil menunjuk layar TV.
"Aku juga mau tanyakan itu. Apalagi korban sudah bersuami dan keluar malam sendiri. Maksudku, sendiri dari rumah. Kalau di luar, kita tunggu berikutnya." Ucap Novie yang juga memperhatikan baju korban. Seperti habis ke pesta.
Kaliana memperhatikan dengan serius apa yang dikatakan anggota teamnya sambil berpikir. Tiba-tiba ponsel nomor umum bergetar. Ketika melihat nomor yang tidak dikenal, Kaliana meresponnya dengan ragu-ragu sambil keluar ruangan pertemuan.
π±"Hallooo... Sayangku, cintaku..." Sapaan yang tidak lazim membuat Kaliana terkejut, lalu melihat layar ponselnya tapi segera merespon dengan cepat karena dia tahu, hanya satu orang yang suka memanggilnya demikian.
π±"Iyaaa... Negriku, bangsaku. Apa kabar?" Balas Kaliana sambil tersenyum membayangkan wajah Bram, yang mendengar balasan sapaannya.
π±"Iiiissss... Ngga pernah berubah. Sekali-sekali itu, balasannya agak roman. Jantungku, hatiku,..."
π±"Lambungku, empeduku..." Kaliana berkata sambil menahan ketawa.
π±"Paaaiiiiitttt..." Teriak Bram.
π±"Emaaang... Eehh semalam mimpi apa, ko' tiba-tiba menelponku?" Tanya Kaliana penasaran, karena mereka sudah lama tidak berkomunikasi semenjak Kaliana resign dari kepolisian. Bram agak kecewa dengan keputusannya, sehingga menjaga jarak.
π±"Mimpi lihat orang lompat pagar. Sudah di daerah jajahanku, tapi ngga lapor." Ucap Bram, seakan sedang marah kepada Kaliana.
π±"Siiaap, Dan. Lapor. Mau nguli di daerah jajahannya. Mohon petunjuk." Ucap Kalian serius, lalu tersenyum sendiri.
π±"Bassiiii... Kapan kita bertemu? Aku sudah kangen melihat senyum, canda dan tawamu." Ucap Bram asal, tapi dari hati.
π±"Wuuuuiii... Rayuan pulau kelapa makin ciamikkk, nih... Hati-hati ketimpuk kulit kepala..." Kaliana tidak bisa menahan tawanya, bisa ledekin Bram. Sedangkan Bram makin kesal, karena tahu Kaliana sedang tertawa.
π±"Kulit kelapaaa... Aku masih awas, sudah tau belokanmu. Kapan kita bertemu? Awas kalau belok lagi, aku suruh orang tutup jalan, biar ngga bisa nguli sekalian." Ucap Bram seakan sedang mengancam.
...~***~...
__ADS_1
...~ββΒ€ββ~...