C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Diawasi.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Ketika Kaliana menarik tubuhnya ke belakang, dia melihat dari sebuah mobil yang sedang parkir di tempat parkir, ada kilatan cahaya. Insting sebagai petugas polisi mendeteksi dengan cepat. 'Apakah ada yang mengambil foto mereka dengan kamera?' Tanyanya dalam hati tanpa memberitahukan hal itu kepada Marons.


Kaliana coba berbicara lagi dengan Marons, agar tidak menimbulkan kecurigaan karena dia lebih memperhatikan mobil yang ada di tempat parkir. "Apakah orang tua korban pernah membicarakan tewas anaknya dengan Pak Marons?" Tanya Kaliana ingin tahu dari Marons, sikap mertuanya setelah istrinya meninggal.


"Tidak. Mereka tidak berbicata lagi denganku, semenjak pemakaman Rallita. Mungkin mereka sama denganku, sedang memulihkan hati dan pikiran setelah terjadi peristiwa yang tidak diduga dan membuat shock." Ucapa Marons, coba menebak apa yang sedang dialami mertuanya. Biar bagaimana pun, Rallita adalah anak kesayangan mereka.


"Aku rasa, sudah banyak yang kita bicarakan hari ini. Aku juga sudah menyita banyak waktumu. Semoga lain kali kau tidak kapok berbicara denganku." Ucap Marons lagi, setelah melihat jam di tangannya. Dia jadi menyadari telah menghabiskan waktu yang cukup lama dengan Kaliana.


"Tidak mengapa, Pak. Kita berbicara ini, ada manfaatnya agar aku lebih mengenal korban. Supaya lebih mudah mencari keterangan di tempat yang tepat. Aku sendiri tetap berharap, Pak Marons akan menyampaikan apa yang diingat atau apa yang diketahui tentang korban kepada kami." Ucap Kaliana dengan serius, sambil melirik ke tempat parkir untuk mengetahui pergerakan orang di dalam mobil tersebut.


Dia yakin, ada orang dalam mobil tersebut. Entah yang punya mobil atau sopir. Karena kilatan cahaya itu beberapa kali terlihat. "Apa kau bisa mengantarku ke kantor?" Tanya Marons, saat melihat arah pandangan Kaliana ke tempat parkir. Dia berpikir, Kaliana sudah mau pulang, jadi minta diantar.


Marons belum pesan mobil online, karena berharap Kaliana bersedia mengantarnya balik ke kantor dengan mobilnya. Dia sengaja datang untuk makan siang dan menemui Kaliana di restoran tersebut dengan sopir dan meminta sopirnya kembali ke kantor. Padahal tadi sopirnya sudah masuk dan parkir untuk menunggunya. Marons berharap, jika balik ke kantor nanti, bisa naik mobil Kaliana.


"Apa Pak Marons tidak membawa mobil?" Tanya Kaliana terkejut mendengar permintaan Marons untuk mengantarnya ke kantor. Bukan Kaliana tidak bersedia mengantar, tetapi heran jika Marons tidak membawa mobil atau diantar sopir.


"Tidak. Tadi aku ke sini diantar sopir. Tetapi aku meminta dia kembali ke kantor. Karena aku berharap kau mau mengantarku balik ke kantor dengan mobilmu. Aku ingin naik mobilmu lagi." Jawab Marons jujur, membuat Kaliana tertegun lalu tersenyum.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku akan mengantar Pak Marons ke kantor." Ucap Kaliana sambil memasukan semua catatan ke dalam kantong rompinya.


"Kalia... Kau dan teammu memiliki berapa banyak rompi seperti itu?" Tanya Marons saat melihat Kaliana memasukan semua yang di bawa ke dalam kantong rompi dan juga mengambil kunci mobil dari kantong yang lain.


"Satu untuk kami masing-masing, Pak. Karena kami tidak memakainya setiap hari. Hanya dalam kondisi tertentu saja, kami memakainya. Dan rompi ini dipakai di luar baju kami, jadi tidak mudah bau dan kotor." Ucap Kaliana menjelaskan lalu berdiri dengan kunci mobil dan paper bag berisi wingko babat di tangan.


"Kalau begitu, kau pesan lagi satu untuk kalian semua dengan kartu yang aku berikan. Buatkan juga satu untukku, tapi warnanya seperti dengan warnamu, hitam." Ucap Marons yang menyukai desain dan warna rompi Kaliana.


Kaliana jadi tertegun dan langsung melihat Marons dengan serius. "Pak Marons serius mau membeli rompi untuk kami?" Tanya Kaliana yang merasa seperti pucuk dicinta ulam tiba.


Dia belum lama berbicara dengan Yicoe untuk menambah satu lagi rompi untuk mereka, mengingat mereka masing-masing sudah mulai sering bekerja di lapangan. Mereka perlu rompi tambahan untuk berjaga-jaga. Sehingga apa yang disampaikan Marons benar-benar kejutan.


Mereka terlihat seperti anggota polisi yang ada di serial TV FBI, tetapi lebih modis dengan warna yang berbeda-beda. Marons jadi ingin memiliki seperti yang dikenakan Kaliana, hitam doff.


"Baik, Pak. Terima kasih sebelumnya. Aku akan membuat satu juga untuk Pak Marons." Ucap Kaliana dengan hati senang, karena Marons mau memakai rompi yang dirancangnya untuk team 'sopape'.


Mereka keluar dari restoran sambil berjalan beriringan menuju tempat parkir mobil Kaliana. Marons sebenarnya ingin membawa mobil Kaliana, tetapi karena dia akan turun terlebih dulu, dia tidak memintanya dari Kaliana.


Seperti biasa, Marons akan sangat senang dan tenang jika sudah berada dalam mobil Kaliana. Jika tidak akan turun di kantor, dia akan menyandarkan punggungnya dan tidur.

__ADS_1


Tiba-tiba Marons terkejut, karena Kaliana mengerem mobilnya dengan tiba-tiba. "Maaf, Pak. Ada orang yang tiba-tiba menyeberang." Ucap Kaliana sambil menunjuk ke arah orang yang berjalan santai di tengah jalan, sehinga terdengar klakson mobil bersamaan dengan gesekan ban mobil yang rem mendadak. Untung Kaliana menjalankan mobilnya dalam kecepatan di bawa normal jadi tidak terjadi sesuatu.


"Suatu kecelakaan bisa diakibatkan oleh kesalahan diri sendiri, atau kesalahan orang lain. Seperti yang baru saja terjadi. Kita mengendarai mobil di jalan raya dengan hati-hati, tetapi tiba-tiba ada orang gila menyeberang. Kita menghindari orang itu agar tidak menabraknya, akibatnya kita yang celaka sendiri. Atau kita menambraknya, agar kita jangan celaka."


"Faktor x selalu datang tiba-tiba dan kadang membuat kita terjebak akibat pilihan yang kita putuskan." Ucap Marons menyadari apa yang sedang terjadi dengan tewasnya Rallita saat melihat orang gila berjalan santai di tengah jalan tanpa peduli umpatan dari para pengendara mobil lainnya.


"Dengan menghindari orang itu, bisa mengakibatkan kita celaka atau bisa juga tidak. Tergantung kecepatan mobil dan keahlian kita mengemudi, Pak. Tetapi jika kita menabraknya, sudah pasti kita bisa membunuhnya atau mengirimnya ke UGD." Ucap Kaliana yang mengerti maksud perkataan Marons.


"Iya, kau benar. Aku bersyukur memilih opsi yang pertama itu saat bertemu dengan faktor X. Walau agak pusing dan babak belur." Ucap Marons sambil tersenyum mendengar ucapannya sendiri.


Saat hendak melewati gerbang parkir menuju pintu depan lobby kantor Marons, Kaliana memperhatikan mobil yang parkir di restoran ada di belakang mobilnya, walaupun masih menjaga jarak. Hal itu membuat Kaliana waspada. Marons tidak memperhatikan, karena sedang berbicara dengan security yang tiba-tiba mendekati mobil Kaliana karena dipanggil Marons.


"Tolong urus parkir mobil ini, agar bisa bebas parkir jika datang ke gedung ini." Ucap Marons. Kemudian security mengangguk hormat kepada Marons lalu memberikan isyarat kepada Kaliana untuk langsung ke depan lobby.


"Pak, aku langsung pulang, ya. Terima kasih untuk semuanya. Nanti aku hubungi lagi." Ucap Kaliana buru-buru sebelum Marons mengajaknya turun.


"Baik. Hati-hati di jalan. Kabari jika sudah tiba di tempat." Ucap Marons santai, seperti mereka adalah teman dekat atau lebih dari itu. Kaliana hanya mengangguk, karena mobil di belakang mengganggu konsentrasinya.


...~***~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2