C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Terjebak 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Di sisi yang lain ; Punguk dan anggotanya selesai makan langsung menuju bar untuk minum-minum. Mereka merasa tidak perlu mengawasi Marons, karena mereka melihat Marons telah kembali ke kamar. Mereka telah mengawasinya sejak tiba di Malang, jadi sudah tahu ritme kerja dan rutinitasnya. Jika sudah kembali ke kamar umtuk istirahat, tidak akan keluar lagi.


Sehingga Punguk dan anggotanya menghabiskan malam dengan minum-minum di bar hotel. Di saat sedang minum-minum, dia melihat ponselnya bergetar. Ketika melihat siapa yang menghubunginya, dia segera keluar dari bar untuk merespon panggilan pada ponselnya, diikuti oleh anggotanya.


📱"Kau ada dimana?" Tanya orang di ujung telpon, karena samar-samar mendengar suara bising.


📱"Saya sedang di hotel, Pak." Jawab Punguk berusaha tenang, agar tidak ketahuan dia sedang minum dan mulai oleng.


📱"Apakah Marons ada bertemu dengan seorang wanita atau lebih?" Tanya orang di ujung telpon lagi, mengecek kinerja Punguk dan anggotanya.


📱"Tidak, Pak. Beliau hanya di kantor, bertemu dengan rekan bisnisnya, lalu kembali ke hotel. Di hotel hanya ke restoran dan kamar seperti yang saya kirim gambar itu." Punguk berusaha menjelaskan dengan baik, agar yang menelpon tidak emosi.


📱"Kalau begitu, kau segera cari seorang wanita dan bawa ke kamarnya. Kau mengerti maksud saya kan? Buat dia seola-ola memiliki wanita simpanan di situ." Ucap orang di ujung telpon, karena dari pengamatan orang-orang yang diminta untuk mengawasi Marons, dia tidak bertemu dengan seorang wanita secara spesial.


Hal ini mengkhawatirkan orang tua Rallita. Anaknya sudah meninggal dan akan ada tuduhan tidak baik disematkan kepada anaknya. Sedangkan Marons akan berjalan lenggang dengan senang dan menjalani hidupnya dengan happy.


Orang tua Rallita tidak terima akan hal itu, sehingga mereka mulai membuat rencana menciptakan kasus yang melibatkan Marons dan agar tuduhan bisa mengarah kepadanya. Apalagi besok mereka akan dimintai keterangan oleh penyidik. Orang tua Rallita berharap malam ini bisa dapat hal yang negatif dari Marons untuk diperlihatlan kepada pihak kepolisian.


📱"Siap, Pak. Segera laksanakan." Ucap Punguk, lalu mengakhiri pembicaraan mereka. Dia segera meminta anggotanya untuk mencari seorang wanita cantik dan seksi untuk dibawa ke kamar Marons.

__ADS_1


"Bagaimana kalau Pak Marons tidak menerimanya untuk masuk ke kamar, Pak?" Tanya anggotanya, karena melihat sikap tegas dan dingin dari Marins selama dia mengikutinya. Menurutnya, Marons adalah pria yang lurus dalam berperilaku dan tidak berlaku macam-macam. Apalagi untuk mendekati wanita sembarangan.


"Tidak perlu sampai ke kamar. Yang penting kita bisa ambil foto wanita itu berdiri di depan pintu kamarnya. Apalagi jika Marons bisa buka pintu dan berbicara dengannya." Punguk mulai atur strategi untuk menjebak Marons.


"Kau tidak perlu membayar wanita itu untuk melayaninya. Cukup untuk mengetok pintu dan berbicara dengannya. Katakan saja, dia salah mengetok kamar. Kau hati-hati dan ajari wanita itu, jangan berpakaian seronok. Tetapi berpakaian sopan seperti wanita baik-baik. Kau mengerti yang saya maksudkan bukan?" Punguk mengatur jebakan sedetail mungkin, agar wanita yang disewa mereka tidak terlihat seperti wanita panggilan.


Setelah menemukan wanita yang dimaksud dan dibriefing oleh Punguk, mereka mulai menyiapkan kamera lalu seakan-akan berjalan di lorong hotel di lantai tempat Marons menginap.


Setelah semuanya siap, mereka memberikan kode kepada wanita tersebut untuk beraksi. Dia berjalan dengan pelan dan anggun ke arah kamar Marons lalu mengetok pintu pelan berkali kali. Kemudian mulai lebih keras dan keras lagi.


Sekian lama mengetok dan tidak terdengar respon dari dalam kamar, wanita tersebut berjalan mendekati mereka dan memberitahukan apa yang terjadi. "Apa beliau sudah tidur?" Tanya anggotanya, mencoba berpikir baik. Karena ketokan wanita itu bisa mereka dengar dan ada pintu kamar yang lain dibuka, karena merasa terganggu.


"Sudah, Pak. Mungkin orang di dalam sudah tidur nyenyak, karena tidak terdengar bunyi apapun dari dalam kamar. Atau mungkin sedang keluar, sehingga tidak mendengar ketokan di pintunya.


"Baik. Coba kau turun ke resepsionis dan tanyakan keberadaan penghuni kamar itu. Katakan saja sudah janji dengan beliau tapi tidak bisa dihubungi dan seprtinya beliau tidak ada di kamarnya." Punguk memerintah anggotanya untuk mengecek Marons di resepsionis.


Tidak lama kemudian, anggotanya kembali dan memberitahukan bahwa Marons sedang keluar jalan-jalan menikmati kota Malang. Itu yang dikatakan resepsionis kepadanya.


"Kalau begitu, kau tunggu di sini. Kami akan tunggu beliau di lobby. Jika kami melihat beliau sudah kembali, kau tidak perlu mengetok pintunya. Cukup berbicara dengannya sebelum beliau masuk ke kamar." Ucap Punguk lagi. Wanita itu mengangguk mengerti dan tersenyum senang dalam hati. Karena dibiarkan tunggu di kamar yang nyaman dan mewah.


Mereka berdua menunggu Marons di lobby sampai dini hari, tetapi Marons tidak kembali dan tidak ada tanda-tanda akan kembali. Mereka kembali menanyakan kepada resepsionis tentang Marons. Mereka khawatir tadi agak meleng, sehingga tidak melihat kedatangan Marons.

__ADS_1


Pihak resepsionis mengatakan bahwa Marons belum kembali, karena belum mengambil key card kamarnya. Punguk dan anggotanya saling bertatapan dengan heran. "Kalau begitu, kau pulang saja, nanti kita bertemu di sini besok pagi." Ucap Punguk menyerah, karena tidak bisa prediksi jam berapa Marons akan kembali ke kamarnya.


"Lalu bagaimana dengan wanita yang di kamar, Pak. Apakah perlu saya pulangkan dulu?" Tanya anggotanya mengingat wanita yang dibawanya masih berada dalam kamar Punguk.


"Biarkan saja di kamar saya malam ini." Punguk berkata sambil kembali ke kamarnya dan anggotanya berjalan pulang sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


°***°


Keesokan harinya, Punguk terkejut oleh ketokan di pintu kamarnya. Dia makin terkejut setelah mengetahui hari sudah terang. Ternyata ysng datang adalah anggotanya untuk membangunkan dia, karena tidak merespon telponnnya. Melihat waktu yang tidak memungkinkan untuk berlama-lama, dia segera mandi setelah menyuruh wanita tersebut meninggalkan kamarnya.


Mereka segera ke restoran untuk sarapan lalu check out. Punguk masih sempat mengecek Marons saat di check out. Informasi yang diperoleh membuatnya bingung. Marons belum kembali ke kamarnya. Dia langsung menghubungi sekretaris Marons untuk memastikan hal itu.


Ketika mengetahui Marons telah menyelessikan pembayaran dengan pihak hotel, kerutan di dahinya makin berlipat, karena tidak mengerti. Dia segera berangkat ke Surabaya untuk kembali ke Jakarta sesuai dengan jadwal penerbangannya. Punguk yakin akan bertemu dengan Marons di bandara, karena sekretarisnya sudah pesan tiket yang sama untuk mereka berdua.


Ketika tiba di bandara dan waktu penerbangan hampir tiba, Punguk berjalan dan mencari Marons. Padahal dia tahu, Marons akan berada di lounge bandara bersamanya. Melihat Marons tidak ada, dia menghubungi sekretaris Marons untuk mengatakan ketidak hadiran Marons di bandara.


Punguk bingung dan panik, saat waktu boarding tiba dan Marons tidak terlihat. Apalagi saat menghubungi sekretaris Marons dan tidak direspon, Punguk makin panik. Dia makin emosi dan marah melihat orang tua Rallita menghubunginya berulang kali. Dia mengabaikan panggilan tersebut, karena tidak ada yang bisa dilaporkan.


...~***~...


...~●○¤○●~...

__ADS_1


__ADS_2