![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~β’Happy Readingβ’~...
Di sisi yang lain ; Kaliana dan team bangun kesiangan, karena tidur larut malam. Sehingga mereka semua berangkat ke kantor dalam keadaan buru-buru. Saat tiba di kantor, mereka semua tertawa melihat Kaliana yang uring-uringan karena terlambat melakukan semua hal dan tidur tidak puas.
"Kita ini masuk kantor terlambat dan dan tidak pernah dimarahin, karena bossnya juga terlambat. Hahahaha..." Ucap Putra yang sudah duduk di depan laptopnya sambil tertawa.
"Bagaimana mau dimarahin kalau bossnya dibangunin, tapi tarik selimut tutup wajahnya dan leeeessss..." Ucap Yicoe sambil tersenyum, ingat Kaliana menarik selimut yang di tariknya agar Kaliana bisa bangun.
"Kalian jangan membuatku tidur lagi. Pak Yosa, mari kita pergi. Jangan dengarin mereka. Kita buat mereka tidak bisa istirahat siang ini." Ucap Kaliana yang tidak lupa memakai rompinya, lalu langsung menuju tempat parkir.
"Hati-hati Pak Yosa, jangan biarkan ada yang tidur dalam mobil. Hehehehe..." Novie berkata lalu tertawa, karena tahu Kaliana akan memeruskan tidurnya di dalam mobil. Apalagi yang bawa mobil adalah Pak Yosa, bukan Kaliana. Mereka semua tertawa melihat Pak Yosa mengangkat jarinya membentuk tanda OK.
Kaliana tidak mempedulikan mereka, tetapi langsung masuk mobil dan duduk di belakang. Dia langsung membaringkan tubuhnya di kursi belakang untuk meneruskan tidurnya yang kurang. "Pak Yosa, itu aku sudah shareloc posisi Raka yang akan kita jemput, ya." Ucap Kaliana, lalu memejamkan matanya.
Ketika hampir tertidur, ada kiriman pesan dari Marons yang mengatakan bahwa dia sudah tiba di Jakarta dan sudah berada di rumah orang tuanya. Kaliana hanya bisa membalasnya dengan emoticon OK dan dua jempol. Kemudian Kaliana kembali memejamkan mata dan benar-benar tidur.
Setelah tiba di tempat tujuan yang telah dishareloc Putra, Pak Yosa membangunkan Kaliana. "Anna, bangun. Kita sudah tiba di tempat tujuan." Kaliana langsung terjaga dan duduk umtuk menyempurnakan loadingnya. Setelah tubuh, jiwa dan roh nya kembali menyatu, Kaliana bisa melihat Pak Yosa dan Raka tersenyum melihat cara loadingnya dengan duduk bersilah di atas kursi belalang, kemudian merapikan rambutnya dengan jari.
Kaliana mengambil air mineral yang disediakan Yicoe dan Novie untuk mereka di perjalanan. "Pak Yosa ngebut, ya. Ko' cepat sekali tibanya." Tanya Kaliana sambil memeriksa semua kelengkapan yang dibawa dan diperlukan.
"Bagaimana bisa ngebut di jalan yang padat dengan kendaraan dan semuanya berjalan merayap. Lihat jammu, Neng ayuuu." Pak Yosa menjawab sambil tersenyum. Karena tidur Kaliana yang pulas membuat dia tidak menyadari situasi di jalan dan waktu berlalu. Apalagi Pak Yosa membawa mobil dengan hati-hati dan baik. Membuat Kaliana bisa tidur dengan nyaman.
__ADS_1
"Raka, tolong turun dan periksa keadaan di dalam rumah itu. Jika tidak ada orang atau mobilnya, jangan katakan kau dari kepolisian. Tetapi jika ada, baru kau katakan kau polisi, lalu kembali memanggil kami." Ucap Kaliana yang sudah kembali berpikir dengan baik.
Kaliana berhati-hati untuk menyelidiki, karena jika pihak yang akan diselidiki sudah tahu ada polisi yang datang, bisa-bisa mobilnya disembunyikan atau dibersihkan sebelum diselidiki oleh Kaliana dan Pak Yosa. Kaliana juga berhati-hati untuk tidak melibatkan Bram, karena situasi belum kondusif dan aman.
Tidak lama kemudian, Raka kembali ke mobil dan mengatakan orangnya sedang keluar bersama mobilnya. "Kalau begitu, ayoo naik. Nanti baru kita kembali lagi." Perintah Kaliana kepada Raka, agar mereka tidak membuang waktu di tempat itu.
"Pak Yosa, kita langsung ke rumah sakit dulu. Nanti baru kembali ke sini." Kaliana berpikir cepat untuk mengisi waktu, lalu shareloc rumah sakit yang akan mereka tuju kepada Pak Yosa.
Dalam perjalanan, Bram menghubunginya. Kaliana segera merespon, mengingat hari ini keluarga korban akan dimintai keterangan.
π±"Sayangku, cintaku, apa kabarmu hari ini?" Tanya Bram dengan suara gombalannya.
π±"Negriku, bangsaku, lagi mengantuk." Pak Yosa hanya bisa tersenyum, karena sudah bisa tahu sapaan Bram, jika jawaban Kaliana demikian. Pak Yosa jadi tertawa mengingat anggota team di kantor jika mendengar sapaan balasan Kaliana seperti itu. Mereka akan menyambutnya dengan semangat sambil mengepalkan tangan.
π±"Aku tidak menitipkan pertanyaan, tapi aku mau menitipkan kejadian yang sedang dialami oleh clientku. Pak Marons sedang bertugas di Malang ......" Kaliana menceritakan kejadian yang dialami oleh Marons dan diikuti oleh Punguk sampai ke Malang.
Bram tertegun mendengar penuturan kejadian yang dialami oleh Marons. Dia tidak menyangka, Punguk bisa melakukan seperti itu. Mengikuti sampai ke luar kota dengan anak buahnya.
π±"Apa terjadi sesuatu dengan clientmu?"Tanya Bram was-was. Bram lebih cemas, karena tahu situasi di dalam tubuh kesatuannya.
π±"Aku belum tahu, yang pasti beliau sudah aman tiba di sini. Tetapi jika aku tau ada yang main kasar dan kotor, aku tidak akan pakai sapu untuk membersihkan mereka." Kaliana sudah mulai naik level emosinya, karena dia tahu Bram sedang mengkhawtirkan Marons. Itu adalah pertanda lampu merah bagi Kaliana.
__ADS_1
π±"Jadi tolong tanyakan sepintas dengan caramu tentang keterlibatan dan penyewaan Punguk untuk kasus ini. Jika mereka berkelit atau menyangkal sewa dektetif, kau bisa katakan akan menjerat mereka dengan pasal berlapis, jika kedapatan berbohong. Aku hanya ingin mereka mengakui secara resmi, bahwa mereka menyewa detektif. Tidak bermain di belakang dan petak umpet ngerecokin clientku." Kaliana berkata tegas, karena dia tahu Punguk suka main kotor.
π±"Sekalian ini secara tidak resmi aku sudah melapor tentang kejadian yang dialami oleh clientku." Ucap Kaliana serius untuk mengamankan Marons dari jebakan atau tuduhan yang direkayasa.
π±"Baik. Kabari aku terus tentang perkembangannya. Aku mau ke ruang interogasi." Bram berkata lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah Kaliana membalas salamnya.
Kaliana merasa lega, Bram tidak menanyakan posisi dan sedamg melakukan apa. Jadi dia tidak perlu menjelaskan apa yang sedang dilakukan dan juga rencananya.
Setelah tiba di rumah sakit, Kaliana meminta Raka dan Pak Yosa untuk tidak turun dari mobil. Dia hanya sebentar bertemu Kebart, untuk mastikan apa yang dia pikirkan. Pak Yosa mengangguk mengiyakan, sedangkan Raka dalam posisi siap dan hormat.
Kaliana masuk ke rumah sakit menuju lobby untuk menanyakan ruangan yang diberikan oleh Bram. Tiba-tiba ada yang towel bahunya, membuat Kaliana secara refleks mengambil tangan tersebut dan memegangnya dengan kuat dan sedikit pelintiran.
"Anna, apa yang kau lakukan di sini? Apa ada yang sakit?" Tanya dr Yogi sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Kaliana. Secara refleks, Kaliana membuka dan mengangkat tangannya dari tangan Yogi.
"Astagaaa... dokter Yogiii... saya bisa mematahkan tangan anda karena kaget." Kaliana yang dalam kecepatan tinggi telah menggapai tangan Yogi yang mentowel bahunya. Dokter Yogi hanya meringis sambil mengibaskan tangannya yang memerah.
"Sebelum tulangnya patah, kau sudah memindahkan urat-uratnya ke sembarang tempat." Ucap Yogi asal sambil meringis.
"Tenang, dok. Kesempatan dirawat oleh dokter Dewi yang cuantik mempesona." Ucap Kaliana sambil menepuk pundak dr Yogi pelan. Dr Dewi yang sudah di belakang Kaliana hanya bisa tersenyum.
...~***~...
__ADS_1
...~ββΒ€ββ~...