![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~β’Happy Readingβ’~...
Kaliana makin tertawa mendengar ancaman Bram. Dia sudah mengenal Bram selama pendidikan dan dinas, jadi sudah tahu sifatnya. Jika dia mengatakan hal itu, tanda dia mengharapkan bantuan Kaliana. Sehingga desakannya, dia utarakan lewat ancaman.
π±"Memangnya, aku ngga bisa buka jalan baru? Sudaaaa... Ada apa gerangan menghubungiku disaat ngga ada hujan dan angin." Kaliana tahu, Bram ada maksud tertentu, sehingga mau menghubunginya setelah sekian lama tidak berkomunikasi.
π±"Apakah hanya ada hujan atau angin baru bisa menghubungimu? Kasihan rinduku harus bersaing dengan hujan dan angin." Ucap Bram sambil tertawa. Dia sudah tahu, Kaliana akan belokin ke segala arah, jika dia mulai ngegombal. Tapi belokannya itu yang membuat Bram suka menggodanya.
π±"Nanti aku kirim payung, biar rindumu ngga basah tapi diterbangkan angin bersama payung. Gabung dengan Tukiman bikin gombalmu makin gombal. Cepataaan... Katakan ada apa? Aku harus nguli, supaya bisa beli gincu." Ucap Kaliana, membuat Bram makin tertawa, karena tau Kaliana tidak suka dandan.
π±"Hahaha... Gincu untuk seorang Kaliana. Kau bilang cepatan, tapi mancing gombalku. Serius, nih... Kolab yuuk..." Ucap Bram serius, karena membutuhkan bantuan Kaliana.
π±"Mau kolab apa, denganku?" Tanya Kaliana, agar Bram memperjelas maksudnya.
π±"Kolab apa lagi, Annaaaa. Kolab hati, kau ngga mau. Aku penyidik, jadi mari gabung jurus." Ucap Bram, ingin mengajak Kaliana bekerja sama. Mereka telah sama-sama tahu kinerja masing-masing.
π±"Kau lagi tangani kasus apa?" Tanya Kaliana pelan, karena dia tidak enak hati, jika langsung menolak ajakan kolaborasi Bram.
π±"Kasus pembunuhan." Jawab Bram singkat. Dia jadi mengerti, Kaliana belum tahu kalau dia menangani kasus yang sama dengannya. 'Berarti dia belum mengotak atik penyelidikan polisi.' Itu yang ada dalam pemikiran Bram.
π±"Yaaa.. Sekarang aku lagi ngga bisa, Dan. Lagi sibuk pake bangeeett. Sorriii...." Ucap Kaliana serius, mengingat kasus Marons yang sedang ditanganinya. Dia ingin konsetrasi di kasus tersebut.
π±"Memangnya, kau lagi memangani banyak kasus?" Tanya Bram terkejut, Kaliana menolak bekerja sama dengannya.
π±"Lumayan buat asap bisa ngepul di dapur." Jawab Kaliana asal. Tidak banyak kasus yang ditangani, tetapi kasus yang sedang ditangani butuh perhatian dan konsentrasi ekstra.
π±"Bukankah kau sedang tangani kasus pembunuhan?" Tanya Bram, mulai ragu dengan penjelasan anggotanya yang mengatakan Kaliana sedang menangani kasus yang sama dengannya.
π±"Iyaa... Makanya aku ngga bisa membantumu. Aku perlu konsetrasi dan energi yang cukup untuk memangani kasus ini." Ucap Kaliana serius.
π±"Memangnya ada berapa kasus pembunuhan yang kau tangani?" Tanya Bram lagi.
π±"Hanya satu, tapi aku perlu konsen, karena belum lama kembali ke sini." Kaliana menjelaskan, agar Bram tidak mendesaknya. Tapi Bram mulai merasa lega, saat mendengar hanya satu. Dia berharap, itu adalah kasus sama yang sedang ditanganinya.
__ADS_1
π±"Oooh. Kasus pembunuhan Rallita Geradine bukan?" Tanya Bram langsung pada kasusnya agar tidak memutar terlalu jauh.
π±"Iyaa... Ko' tau? Kau penyidiknya?" Tanya Kaliana mulai semangat mendengar Bram menyebut kasus pembunuhan Rallita.
π±"Yoooiiii..." Bram girang mendengar suara senang Kaliana.
π±"Kalau begitu, kolab yuuk... Tapi aku yang tentukan syaratnya." Ucap Kaliana, senang. Jika bekerja sama dengan Bram, akan makin mempermudah penyelidikannya.
π±"Yaaappsss... Bilang syaratnya." Ucap Bram senang. Karena baginya, yang penting Kaliana mau. Syaratnya pasti tidak akan macam-macam, karena Kaliana tidak banyak maunya.
π±"Kekuasaan penuh." Ucap Kaliana cepat, sebelum Bram berubah pikiran.
π±"Deal..." Ucap Bram singkat, tanpa berpikir lagi.
π±"Bisa akses ke semua arah." Ucap Kaliana lagi, saat Bram setuju memberinya kekuasaan untuk menyelidiki.
π±"Deal... Tol." Ucap Bram singkat, karena dia tahu Kaliana sudah mengerti maksudnya. Dia akan memberikan jalan bebas hambatan kepada Kaliana mendapatkan akses.
π±"Eeeh, sabar... Kau berikan ini, kau dapat apa dari kolab kita?" Tanya Kaliana, yang telah berpikir cepat. karena tidak mungkin keuntungan hanya di pihaknya.
π±"Baiklah. Aku akan bantu buka jalan. Keputusan balak ada di bintang." Ucap Kaliana. Dia tahu, keputusan kenaikan pangkat ada di tangan pimpinannya, Jenderal.
π±"No problem. Jadi kapan kita bertemu untuk bicarakan kasus ini?" Tanya Bram, karena sudah ingin bekerja bersama Kaliana lagi
π±"Sabar, satu lagi. Aku minta seorang petugas kepercayaanmu untuk dampingiku." Ucap Kaliana sebelum Bram pindah ke topik lain.
π±"Kau mau berapa orang, aku kasih." Ucap Bram tenang. Baginya, yang penting Kaliana sudah mau.
π±"Satu orang saja. Aku butuh lencananya, saat menemaniku." Ucap Kaliana, karena dalam saat bertemu orang tertentu, dia harus menunjukan lencana. Dia butuh itu dari anggota Bram, sebagai pembuka jalan.
π±"Baik, aku akan berikan setelah bertemu denganmu. Jadi secepatnya atur schedulemu." Ucap Bram serius.
π±"Siap. Secepatnya, aku hubungi. Ada beberapa hal yang mau aku tanyakan padamu." Ucap Kaliana yang sudah ingin tahu, siapa Ayah janin.
__ADS_1
π±"Nanti hasil pemeriksaan Ayah janin keluar, kau bisa ikut dalam pemeriksaan saksi. Aku yang akan mengaturnya, supaya kau bisa hadir." Ucap Bram serius, karena dia tahu Kaliana pasti sudah tahu tentang Marons bukan Ayah janin itu.
π±"Baik. Aku tunggu kabarnya. By." Ucap Kaliana, lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah Bram membalas salamnya. Dengan senyum sumbringa dia masuk ke ruang pertemuan.
"Pak Yosa, tau siapa yang baru menelponku?" Tanya Kaliana setelah berada dalam ruangan dan melihat teamnya sedang serius berdiskusi. Pak Yosa melihat Kaliana dengan wajah bertanya-tanya, karena wajahnya tersenyum senang. Begitu juga dengan ketiga anggota team lainnya, jadi berhenti berdiskusi lalu melihat Kaliana yang sudah duduk di kursinya.
"Negriku, bangsaku." Ucap Kaliana sambil tertawa.
"Astagaaa... Sayangku, cintaku, menghubungimu?" Ucap Pak Yosa sambil tertawa ngakak. Ketiga anggota team lainnya hanya bisa melihat mereka berdua bergantian.
Pak Yosa jadi teringat masa dinas dan mereka berada dalam satu ruangan bersama Bram yang adalah yuniornya bersama Kaliana. Melihat ketiga rekannya sedang melihat mereka dengan wajah bertanya-tanya, Pak Yosa menceritakan situasi kantor saat itu.
"Dulu saat kami masih aktif di dinas, ada seorang rekan namanya Bram. Kalau masuk kantor dan melihat Anna, selalu menyapanya dengan 'sayangku, cintaku.' Dan kalian tau, apa yang dibalas Anna? 'Negriku, bangsaku.' Seisi kantor pasti akan tertawa melihat wajah mereka." Ketiga rekannya jadi ikut tertawa.
"Mbak Anna tidak ada roman-romannya. Coba jawabnya, sweetyku, honeyku." Ucap Putra dengan mimik lucu, mereka kembali tertawa.
"Kalau lihat mereka saat itu, sebenarnya sangat romantis. Saat Bram mendekatinya dan katakan 'sayangku, cintaku' dan dibalas Anna, 'negriku, bangsaku, apa kabarmu'. Sweeeet..." Semuanya tertawa pecah, mendengar Pak Yosa mengatakan sweeettt dengan wajah dibuat manis.
"Mbak Yicoe, kita praktekan." Ucap Putra sambil tersenyum.
Putra : "Sayangku, cintaku..."
Yicoe : "Negriku, bangsaku..."
Novie : "Rakyatku, merdekaaa..."
Tambahan Novie yang tiba-tiba sambil mengepalkan tangannya, membuat mereka berlima tertawa sejadi-jadinya.
"Kalian hati-hati saat bertemu dengan Pak Bram. Jika menjawab seperti itu, kita semua akan didepak dari kawasan bersegel. Sekarang kita bekerja sama dengan beliau, karena ternyata penyidik kasus yang sedang kita tangani ini, adalah Pak Bram. Jadi kalian akan sering mendengar gombalannya." Ucap Kaliana menjelaskan, setelah bisa mengendalikan tawanya.
"Sekarang akses kita lebih terbuka, jadi akan lebih cepat selesaikan kasus ini." Ucap Kaliana lagi. Pak Yosa jadi tersenyum senang, mengetahui Bram yang jadi penyidik kasus tewasnya Rallita.
...~***~...
__ADS_1
...~ββΒ€ββ~...