C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Kasus Jebakan 2.


__ADS_3

...~β€’Happy Readingβ€’~...


Papa Rallita jadi terkejut mendengar pertanyaan pengacaranya yang terus terang. Kemarahan dan sakit hati membuatnya tidak bisa berpikir dengan baik. Sehingga mengikuti kata hatinya mencari orang untuk membuktikan apa yang dikatakan Rallita tentang perselingkuhan Marons.


"Karena Lita mengatakan Marons memiliki wanita simpanan dan akan menceraikannya. Jadi saya berpikir, mungkin Marons menghabisinya karena Lita tidak mau menceraikannya." Papa Rallita menjelaskan alasannya, sehingga mengambil tindakan tersebut tanpa berkonsultasi dengan pengacaranya.


"Sebenarnya, itu hanya perkataan dari satu pihak tanpa Pak Ewan konfirmasi dengan Pak Marons. Dengan tindakan Pak Ewan menyewa orang tersebut dan sudah tidak dapat bukti, seharusnya Pak Ewan menyadari ucapan Bu Lita tidak benar dan segera menghentikan pengawasan orang itu terhadap Pak Marons." Ucap pengacara heran dengan tindakan Papa Rallita.


"Jika terjadi penjebakan itu terhadap Pak Marons, akan sangat memalukan saat Pak Ewan mendengar apa yang dikatakan penyidik di ruang interogasi. Nona Lita sedang hamil dan hamilnya itu bukan dengan suaminya. Jadi sebenarnya, siapa yang punya simpanan di sini?" Pengacara mengeluarkan semua unek-unek di hatinya karena kesal dengan tindakan Papa Rallita


Semua itu telah disimpan sejak berada di ruang interogasi dan mendengar semua bukti yang dikatakan oleh penyidik tentang kehidupan Rallita. Walaupun hanya pengacara keluarga, dia merasa malu dengan tindakan Rallita.


"Sekarang, saya sarankan agar Pak Ewan bersikap gentleman dengan mendatangi Ayah Pak Marons untuk minta maaf. Sebagaimana Pak Ewan telah datang menemui Ayah Pak Marons dan berkata kasar pada beliau atas bukti yang tidak jelas kebenarannya." Pengacara memberikan saran, yang mungkin bisa meloloskannya dari jerat hukum.


"Mengapa saya memberikan saran demikian, karena Pak Marons sangat menghormati Ayahnya. Mungkin beliau bisa melunakan hati Pak Marons untuk tidak meneruskan kasus ini." Ucap pengacara lagi.


"Saya percaya, Pak Marons sedang berusaha mencari pembunuh istrinya. Seharusnya Pak Ewan sekeluarga membantunya untuk menemukan pelakunya. Bukan malah merecokin dan membuat kasus sendiri yang memusingkan." Pengacara berkata serius, setelah mengikuti kasus tewasnya Rallita. Pengacara merasa kesulitan membela clientnya, jika kasus tersebut beralih ke arah yang salah.


Papa Rallita mendengar dalam diam, karena tidak bisa berkata-kata lagi. Semua yang dikatakan pengacaranya benar. Tindakan tidak bijak dan kemarahan atas sikap Marons, membuat Papa Rallita menempuh jalan yang menyimpang dari jalan yang seharusnya.


"Apakah Ayah Marons bisa menerima kedatangan saya? Karena setelah pertemuan kami yang terakhir di kantornya, beliau tidak mau bertemu dengan saya lagi." Papa Rallita jadi ragu-ragu dengan saran pengacaranya.

__ADS_1


"Yaaa... Kalau Pak Ewan mau bertemu dengan Pak Marons setelah semua ini, silahkan dicoba. Mungkin Pak Marons masih menganggap Pak Ewan mertuanya. Tapi melihat sikap dan karakter Pak Marons, saya meragukan hal itu." Ucap pengacara ragu tapi serius memikirkan apa yang akan terjadi.


"Kau sedang memberikan saran untuk membesarkan hati saya atau kau sedang mengecilkan hati saya dengan usulanmu itu?" Papa Rallita jadi emosi mendengar apa yang dikatakan pengacaranya.


"Tergantung dari sudut mana Pak Ewan melihat. Apa pendapat Pak Ewan jika berada pada posisi Pak Marons setelah mendengar penjelasan penyidik di ruang interogasi?" Tanya pengacara lagi dan mengingatkan peristiwa di ruang interogasi dimana dia hanya bisa melihat dan mendengar penjelasan penyidik dengan tertegun.


"Jika saya adalah Pak Marons, mungkin saya tidak akan menguburkan istri saya seperti itu. Sungguh malang nasib Pak Marons. Dikhianati istri, sekarang dikhianati mertuanya juga." Ucap pengacara tenang setelah memikirkan tindakan Rallita dan Papanya.


"Jika Pak Ewan mau meneruskan untuk menyelamatkan diri dari kasus yang dibuat sendiri ini, silahkan Pak Ewan cari pengacara yang lain. Pak Ewan pikirkan dan putuskan lalu hubungi saya lagi." Ucap pengacara serius, lalu pamit meninggalkam Papa Rallita yang terdiam.


Sebagaimana yang disarankan oleh pengacara keluarga, Papa Rallita menyewa pengacara baru yang mau berusaha meloloskan dirinya dari jerat hukum. Papa Rallita sudah merasa malu untuk bertemu dengan Marons dan juga Ayahmya.


Setelah kepergian pengacaranya, Papa Rallita berpikir keras untuk bisa lolos dari jerat hukum. Sehingga beliau memilih apa yang disarankan oleh pengacaranya untuk menyewa pengacara hitam, yaitu pengacara yang mau lakukan berbagai cara untuk menyelamatkan client nya. Asal mendapatkan bayaran yang besar.


Jadi ketika memenuhi panggilan penyidik untuk dimintai keterangan berdasarkan tuduhan terdakwa, Papa Rallita membawa pengacara baru dan itu menjadi perhatian penyidik Bram dengan bertanya dalam benaknya.


Papa Rallita diperiksa secara terpisah untuk mendengar kesaksiannya atas tuduhan Punguk. Papa Rallita menyangkal semua tuduhan yang dilontarkan oleh Punguk. Sisanya dibantu oleh pengacara barunya melakukan manuver berkelit untuk melolosksn client nya.


"Apakah anda menyangkal bahwa andalah yang memerintahkan terdakwa untuk melakukan penjebakam terhadap Pak Marons?" Tanya penyidik serius setelah mendengar sangkaan Papa Rallita.


"Client kami hanya meminta orang tersebut mengawasi Pak Marons, berdasarlan dugaan Pak Marons melakukan perselingkuhan dan mungkin mencelakai putri client kami. Tindakan selanjutnya, adalah inisiatif terdakwa sendiri mengartikan instruksi client kami." Kata pengacara Papa Rallita, menanggapi tuduhan Punguk kepadanya.

__ADS_1


Semua pertanyaan penyidik dijawab oleh pengacara. Sedangkan Papa Rallita hanya diam mengangguk jika diperlukan. Hal itu membuat penyidik kesal dan jadi tidak sabar melihat Papa Rallita yang hanya diam dan kadang menyetujui apa yang dikatakan pengacaranya.


Akhirnya, penyidik menginjinkan mereka pulang dengan catatan harus koperatif jika dipanggil kembali untuk dimintai keterangan. Papa Rallita pulang dengan hati lega, setelah bisa melewati pemeriksaan tahap awal.


Setelah selesai pemeriksaan, Bram segera menghubungi Kaliana, karena dia teringat tentang orang yang pernah membuntuti Kaliana.


πŸ“±"Halloo, Anna. Lagi sibuk?" Tanya Bram saat Kaliana merespon panggilannya. Alis Kaliana bertaut saat mendengar sapaan Bram yang tidak seperti biasanya.


πŸ“±"Iyaa... Lumayan sibuk mengurai dan menarik benang merah dari kasus selokan. Ada apa denganmu? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Kaliana yang menyadari ada perubahan dari sapaan Bram.


πŸ“±"Aku baru memeriksa Papa Rallita. Orangnya sedang melakukan banyak manuver untuk meloloskan diri...." Bram menceritakan apa yang terjadi di ruang interogasi dan pergantian pengacara.


Kaliana berpikir cepat tentang situasi yang diceritakan Bram. Dia menyadari, kenapa Bram kesal dengan situasi yang terjadi dan sebisa mungkin akan membantunya.


πŸ“±"Bram. Segera cari orang yang mengikutiku saat itu, dan amankan dia. Dia tau banyak hal, karena bersama Punguk bertemu dengan Papa Rallita. Jangan sampai mereka dapatkan dia, dan membungkamkan dia dengan banyak duit. Sehingga dia berbalik melawan Punguk dan menyangkal keterlibatan orang tua Rallita atas tindakan Punguk." Ucap Kaliana serius, karena mulai melihat ada yang berusaha lolosksn diri.


πŸ“±"Kau tau dia berada di mana? Tolong kirim alamatnya, agar aku perintahkan anggota untuk menjemputnya sebelum diamankan oleh Papa Rallita." Ucap Bram mulai melihat jalan baru untuk menyeret Papa Rallita.


πŸ“±"Baik. Setelah ini, aku akan kirim alamat orang tersebut. Semoga kau lebih cepat dari keluarga korban. Dari yang dia katakan kepada Pak Yosa, dia mengetahui banyak hal tentang perjanjian kerjasama Punguk dengan Papa Rallita." Kaliana mengingat apa yang dikatakan oleh Pak Yosa tentang orang yang membuntuti Marons dan dirinya.


...~***~...

__ADS_1


...~●○€○●~...


__ADS_2