C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
110. Terungkap 2.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Istri Jaret tidak terpengaruh dengan tatapan Jaret yang tajam dan mengancam. Dia hanya melihat ke arah Kaliana yang sedang menanti keterangannya.


"Saya meminta sopir saya masuk ke club untuk menjemput wanita itu, dengan pesan dia sedang di tunggu oleh Jaret. Wanita itu percaya dan mengikuti sopir saya. Setelah melihat mobil lelaki ini, wanita itu tersenyum senang sambil membuka pintu mobil, dimana saya sedang duduk." Istri Jaret melanjutkan ceritanya lagi. Semua orang yang ada dalam ruangan menyimak dengan berbagai tanda tanya di hati dan juga pikiran mereka.


Kaliana menyimak dengan serius, agar benang merah dan potongan puzzle bisa berada di tempatnya. Sesuai dengan apa yang sudah team sopape tempatkan. Dia tidak menginginkan ada yang terlewatkan karena kekurang telitiannya.


"Ketika wanita itu melihat saya sedang duduk di kursi belakang, dia terkejut. Tetapi dia masih sempat menanyakan di mana lelaki ini." Ucap Istri Jaret dengan kesal, sambil menunjuk ke arah Jaret. Dia makin emosi mengingat sikap Rallita, saat bertanya tentang Jaret kepadanya.


Mendengar keterangan istrinya, Jaret terdiam. Dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi, karena mengingat apa yang ditanyakan penyidik Bram kepadanya di apartemen, tentang Rallita ke club malam itu. Sedangkan dia tidak ada di tempat dan tidak tahu Rallita ke club. Ternyata, istrinya telah menghapus semua chat mereka.


"Jadi saat menjemputnya di club, anda sudah merencanakan untuk membunuhnya?" Tanya Kaliana serius sambil melihat istri Jaret yang mulai terguncang. Mendengar pertanyaan Kaliana, semua orang memahan nafas. Istri Jaret melihat Kaliana dengan kekuatan yang masih tersisa. Dia menyadari, sudah tidak mengelak dari pertanyaan Kaliana.


"Saya tidak berencana membunuhnya, Ibu Kaliana. Saya hanya mau berbicara dengannya empat mata, sebagai wanita dan juga sebagai seorang istri. Mumpung lelaki ini tidak ada di tempat. Selain dengan cara itu, saya tidak bisa bertemu dengan wanita itu." Istri Jaret menarik nafas dalam.


"Di lain tempat, tidak bisa bertemu dengan wanita itu, karena mereka tidak bertemu di tempat lain, selain di club dan apartemen. Jadi itu satu-satunya kesempatan yang bisa saya gunakan untuk bertemu dengannya." Ucap istri Jaret pelan sambil air mata mengalir di pinggiran matanya.

__ADS_1


"Kami berbicara di mobil sepanjang jalan, tetapi wanita itu tidak mau lepaskan lelaki ini. Dia katakan sedang hamil anaknya. Sehingga saya mengantarnya pulang ke rumah untuk berbicara dengan suaminya. Saya mau memastikan, apakah benar itu anak lelaki ini." Istri Jaret berbicara dengan emosi yang turun naik. Ada rasa marah, sedih dan takut bergantian mempengaruhi emosinya.


"Walaupun tahu mereka sering bercinta, saya tidak bisa begitu saja percaya ucapannya. Bagaimana bisa percaya ucapan wanita seperti itu. Tanpa rasa bersalah kepada istri yang suaminya direbut. Oleh karenanya, saya mau mengantarnya pulang dan berbicara dengan suaminya." Istri Jaret terus bercerita, menjawab pertanyaan Kaliana.


"Lalu bagaimana korban bisa berada di selokan, saat ditemukan?" Tanya Kaliana lagi untuk meyakinkannya bahwa istri Jaret tidak berencana membunuh korban. Kaliana berharap istri Jaret berkata yang sebenarnya, walaupun sedang emosi dan khawatir.


Semua orang terus menyimak apa yang dikatakan istri Jaret. Sedangkan orang tua Rallita melihat istri Jaret dengan berbagai rasa. Terutama pengacara Papa Rallita, yang melihat peluang bagus untuk mencari cuan.


"Saat wanita itu melihat mobil kami ke arah tempat tinggalnya, dia mengamuk. Dia tidak mau saya bertemu dengan suaminya. Dia mencakar tangan saya yang berusaha memegangnya saat dia hendak menjambak sopir, agar mau menghentikan mobil."


"Dari pada kami celaka, saya meminta sopir berhenti dan menurunkannya, agar tidak terjadi keributan. Saat mobil belum berhenti dan menepi dengan benar, tiba-tiba dia membuka pintu dan lompat turun." Ucap istri Jaret sambil mengingat peristiwa itu.


Semua orang terkesima dengan dengan apa yang dikatakan oleh istri Jaret. Tetapi orang tua Rallita tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh istri Jaret. "Anda pengarang cerita yang sangat luar biasa. Jika sesuai dengan apa yang anda katakan, lalu mengapa anak kami bisa tewas di selokan?" Tanya Papa Rallita tidak terima dan emosi.


Istri Jaret yang sedang sedih dan takut, jadi emosi mendengar apa yang dikatakan Papa Rallita. "Mana saya tau. Silahkan tanya saja sama anak anda yang tidak tau diri itu. Mengapa dia bisa berada di tempat itu, bukan lari pulang ke rumahnya seperti yang dia inginkan." Istri Jaret berkata dengan suara keras, karena orang tua Rallita belum mengerti atau tidak menerima, kalau anaknya seorang pelakor.


"Ibu Chasina... Kapan anda mengetahui korban meninggal? Dan dari mana atau siapa yang memberitahukan anda kalau korban telah tewas." Tanya Kaliana tanpa mempedulikan Papa Rallita yang sedang protres. Baginya, itu adalah bagian penegak hukum yang menanyakan saat kasusnya disidangkan.

__ADS_1


"Saya mengetahuinya dari berita-berita di sosial media ke esokan harinya. Saat melihat lelaki ini tiba-tiba kembali dan menonton berita sepanjang malam. Saya jadi penasaran dan ikut menonton, karena saya berpikir terjadi sesuatu dengan turnamen yang sedang diselenggarakan. Sehingga membuat dia uring-uringan dan tidak bisa tidur." Istri Jaret bercerita sambil mengingat kejadian di rumahnya.


"Apakah anda sadar, tewasnya korban bisa dihubungkan dengan anda?" Tanya Kaliana lagi dengan serius.


"Pada saat awal, tidak. Tetapi setelah melihat selokan tempat ditemukan jenasanya, saya jadi kepikiran. Saya tau tempat itu, dia turun dari mobil. Saya sempat berpikir juga, apa dia dirampok. Karena melihat penampilan dan perhiasan yang dia kenakan, orang bisa merampoknya." Istri Jaret menceritakan yang dia pikirkan dan rasakan tentang kejadian itu.


"Baik... Apapun yang anda katakan, perbuatan anda telah membuat orang tewas. Jadi anda akan pertanggung jawabkan perbuatan anda di depan hukum, saat persidangan nanti." Ucap Kaliana serius. Tapi hatinya terenyu saat melihat cairan bening jatuh di pipi istri Jaret.


"Petugas, bacakan hak Ibu Chasina dan kenakan gelang besi." Kaliana berkata tegas kepada petugas terdekat dengannya. Kaliana harus lakukan itu, karena orang tua Rallita sedang menanti keputusannya.


"Siap Bu. Laksanakan...!" Raka yang terdekat dengan Kaliana, langsung bersikap hormat dan segera mendekati istri Jaret yang sudah pasrah. Setelah Kaliana datang ke rumahnya untuk periksa mobil dan berbicara dengannya, istri Jaret sudah perkirakan hal ini akan terjadi.


"Bram, perintahkan seorang petugas bawa Jaret ke kamar mandi dan tes urinnya." Kata Kaliana pelan, cendrung berbisik kepada Bram. Kaliana menggunakan peluang yang ada untuk menjerat Jaret. Bram mengangguk mengerti, kemudian mendekati Jaret bersama dengan seorang petugas sambil membawa alat tes yang dibawa oleh Pak Yosa.


Semua orang yang hadir dalam ruangan masih terkesima dengan kejadian yang begitu cepat. Sebelumnya masih beradu mulut dan juga hampir beraduh pukulan, tiba-tiba sudah ada lagi yang mengenakan gelang besi.


...~***~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2