![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~β’Happy Readingβ’~...
Setelah di jalan raya, Kaliana menjalankan mobilnya dalam kecepatan di atas normal. Dia ingin membuat jarak antara dia dengan mobil yang mengikutinya. Walaupun Pak Yosa bisa mengatasinya, tapi dia tetap menjalankan mobil dengan sedikit lebih capat. Agar apa yang dilakukan Pak Yosa tidak sia-sia. Kaliana tetap berada dalam jarak aman dengan yang mengikutinya.
Kaliana langsung menghubungi Danny untuk menanyakan kesibukannya dan apakah dia bisa bertemu dengan Danny. Dia perlu mendiskusikan perkembangan yang terjadi dengan Danny. Agar Danny bisa berbicara dengan baik di tepan Marons atau penyidik.
Kaliana bersyukur, Danny bisa menerimanya sebelum jam pulang kantor. Hal itu membuatnya segera ke kantor Danny, sambil menunggu anggota teamnya yang sedang bekerja di kantor. Putra belum menemukan, siapa sebenarnya yang mengikutinya, karena itu adalah mobil rental.
Tidak lama kemudian, Kaliana tiba di kantor Danny. Seperti biasanya, Danny telah menunggu Kaliana di lobby kantornya, untuk bersama-sama ke ruang kerjanya. "Ada apa, sampai jam segini baru mau bertemu denganku di kantor? Kita bisa bertemu di luar." Ucap Danny setelah mereka berada dalam ruang kerjanya.
"Ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan Pak Danny, agar Pak Danny bisa mencernanya dengan baik, baru berbicara dengan Pak Marons." Ucap Kaliana, lalu duduk di sofa dalam ruang kerja Danny. Danny mengambil air mineral untuk Kaliana, karena dia merasa Kaliana sedang serius. Kaliana tidak ramah seperti biasanya.
Danny meletakan air mineral di meja, depan Kaliana dan mempersilahkannya minum. "Saya baru saja diikuti seseorang saat selesai bertemu dengan Pak Marons. Untuk sementara, jangan bicarakan dulu dengan Pak Marons, sebelum kami pastikan siapa yang mengikutiku." Ucap Kaliana serius.
"Berdasarkan pengamatanku, orang itu tidak sengaja mengikutiku. Sebenarnya dia mengikuti Pak Marons, tapi karena melihatku bersama Pak Marons dia jadi ingin tahu siapa yang bersama Pak Marons. Jadi bagaimana caranya, Pak Danny tolong bicara dengan Pak Marons agar lebih berhati-hati sebelum kasus ini selesai.
"Aku akan terus mengabari Pak Danny, agar bisa tahu setiap kondisi terakhir yang sudah kami lakukan. Sementata ini, aku mencurigai yang mengawasi Pak Marons adalah keluarga korban. Kita tidak tahu apa yang sudah dikatakan korban kepada orang tuanya saat dia hidup. Jadi bisa saja orang tuanya menyelidiki Pak Marons, untuk membuktikan apa yang dikatakan anaknya. Atau mereka menduga Pak Marons pelaku pembunuhannya atau membayar orang untuk melakukannya." Kemudian Kaliana menceritakan peristiwa yang terjadi setelah dia berangkat dari gedung kantor Marons.
"Setiap kemungkinan bisa terjadi. Apakah anda pernah bertemu dengan orang tua korban dan mengenalnya dengan baik?" Tanya Kaliana lagi.
__ADS_1
"Begini, Mbak Anna. Saya memang teman Pak Marons, tapi untuk urusan pribadi, kami tidak terlalu ikut campur. Apalagi istrinya tidak welcome dengan kami. Dia selalu menghindari kami jika berkumpul atau meninggalkan kami, jika datang ke rumah Pak Marons." Ucap Danny serius sambil memikirkan apa yang pernah dilakukan oleh Rallita kepadanya dan Yogi.
"Sebagaimana saya percaya pada Mbak Anna untuk bantu menyelesaikan kasus ini, Pak Marons juga percaya pada anda untuk membantunya. Jadi lebih baik, kita berdua berbicara langsung dengan Pak Marons. Anda bisa menyampaikan apa yang menjadi dugaan anda itu." Ucap Danny lagi, mengharapkan Kaliana bisa berbicara dan menjelaskan semuanya kepada mereka bedua.
"Aku akan menelpon untuk menanyakan kapan Pak Marons ada waktu untuk bertemu dengan kita." Danny mengambil ponselnya untuk menghubungi Marons setelah melihat anggukan kepala Kaliana tanda setuju dengan usulan Danny. Namun sebelum dia menelpon, ponselnya sudah bergetar.
"Panjang umurnya. Kita sedang bicarakan namanya, orangnya sudah telpon." Ucap Danny sambil tersenyum, melihat nama Marons tertera di layar ponselnya. Dia langsung meresponnya.
π±"Danny, kau ada dimana?" Tanya Marons tanpa basa basi. Nada suaranya membuat alis Danny bertaut.
π±"Aku ada di kantor. Ada apa, sampai kau panik begitu?" Tanya Danny khawatir mendengar suara Marons yang tidak seperti biasanya.
Melihat reaksi Kaliana, Danny langsung menanyakan Marons. π± " Dari mana kau tau, kalau sedang diawasi?" Tanya Danny sambil membaca pertanyaan yang ditulis oleh Kaliana.
π±"Tadi Papa Rallita datang ke kantor, tapi langsung ke ruangan Ayah tanpa mampir ke ruanganku. Aku minta keluar sebentar dari ruangan Ayah, karena sangat emosi. Papa Rallita sangat marah pada Ayah, karena tidak bisa menasehatiku, katanya." Ucap Marons serius.
π±"Masa Papanya katakan kepada Ayah, kuburan Rallita belum juga kering, aku sudah berjalan dengan perempuan lain. Jangan-jangan sengaja membunuh anaknya, agar bisa bebas." Marons mengulang apa yang dikatakan Papa Rallita kepada Ayahnya.
π±"Aku jadi tarik kesimpulan, mereka mengawasiku karena tadi aku bertemu dengan Kaliana. Selama ini, aku baru pernah pergi bedua dengan wanita, ya dengan Kaliana. Berarti mereka melihat kami tadi. Aku katakan ini, agar kau bisa tau. Nanti setelah bicara dengan Ayah lagi, baru aku bicara dengan Kaliana." Ucap Marons yang ingin Danny tahu dan mungkin bisa membelanya nanti.
__ADS_1
Danny kembali memberikan isyarat kepada Kaliana, apakah mereka bisa bertemu untuk membicarakannya dengan Marons. Agar mereka bisa melangkah pada jalan yang sama.
π±"Kalau begitu, kau bicara dulu dengan Ayah, aku tunggu di kantorku. Aku tidak bisa ke kantormu, jangan sampai ada yang mengawasimu di situ juga." Ucap Danny mencari alasan agar Marons mau datang ke kantornya. Jika tanpa Kaliana, dia akan pergi sekarang juga ke kantor Marons.
π±"Kenapa kau tidak ke sini saja dan tunggu di ruanganku sampai aku selesai bicara dengan Ayah? Atau kau juga ikut berbicara dengan Ayah." Saran Marons untuk menghemat waktu.
π±"Karena kau diawasi, jadi lebih baik ke sini saja. Jika ada yang mengikutimu dan melihat kau ke kantorku, mereka tidak bisa bertingka macam-macam." Ucap Danny berusaha mencari alasan yang bisa diterima oleh Marons.
π±"Jangan ragu-ragu. Segeralah bicara dan jelaskan kepada Ayahmu tentang Kaliana yang sedang membantumu. Hanya itu, setelah bertemu denganku baru kita berdua bicara kelanjutannya dengan orang tuamu di rumah. Bukan di kantor seperti sekarang. Kau suka katakan tembok bertelinga bukan? Kita belum tau kemarahan orang tua Rallita setingkat apa dan bisa melakukan apa dengan orang di sekitarmu." Danny mengingatkan Marons, agar dia mau datang ke kantornya.
π±"Baik. Aku segera ke kantormu setelah dari ruangan Ayah. Padahal sekarang aku sangat lelah, belum sempat istirahat. Huuuuu..." Marons tidak menarik nafas tapi meniupnya dengan sekuat tenaga, lalu mengakhiri pembicaraan mereka setelah Danny membalas ucapannya.
"Mbak Anna tidak usah mencari orangnya. Itu sudah ada jawabannya. Yang mengikuti Mbak Anna, orang suruhan orang tua Rallita." Ucap Danny setelah selesai bicara dengan Marons.
"Justru karena tau yang mengawasi dan mengikuti Pak Marons dan juga saya adalah keluarga korban, kami makin semangat gali. Mereka sudah mulai menerima dan membalas bola yang di umpan Pak Danny." Kaliana berkata dan tersenyum senang. Dia mulai melihat respon dari orang-orang yang masuk dalam daftar perhatiannya untuk diselidiki.
Danny tertegun mendengar yang dikatakan Kaliana. Dia lupa dengan apa yang pernah dikatakan Kaliana padanya.
...~***~...
__ADS_1
...~ββΒ€ββ~...