![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Usapan Marons di punggung menyadarkan Kaliana, bahwa dia telah terbawa emosi. Dia sudah ketelepasan dalam berbicara dan bersikap terhadap Marons. "Aku yang harus minta maaf, Pak. Maafkan sikap dan ucapanku tadi." Kaliana berkata tanpa melihat Marons. Dia khawatir, Marons akan melihat kesedihan di matanya. Dia sungguh menyesali ucapannya, yang mungkin bisa membuat Marons tersinggung.
"Tadi aku bisa berbicara seperti itu, karena bukan aku yang dikhianati. Jika aku yang berada di tempat Pak Marons, mungkin tidak akan sanggup bersikap seperti itu Pak Marons. Mungkin dia tidak akan meninggal di selokan dengan mulus." Ucap Kaliana sambil mengingat apa yang dikatakan Bram padanya terhadap Jaret dan Rallita. Bram mungkin akan mencincang mereka.
"Bila dia telah membuatku patah hati, sedikit banyak jika tidak bisa membuatnya patah hati, yaa, patahkan saja tulangnya." Ucap Kaliana, jadi tersemyum mendengar ucapannya sendiri dengan air mata yang masih tergenang.
Marons langsung secara repleks menarik tangannya dari punggung Kaliana dan jadi tersenyum. "Kau mau membuatnya pincang? Itu namanya KDRT, Kalia." Ucap Marons sambil menggelengkan kepalanya.
"Jika hanya mematahkan beberapa tulang rawan, bukan KDRT, Pak. Dia masih bisa berjalan, namun perlahan tapi pasti, akan merangkak." Ucap Kaliana sambil tersenyum menyadari pikirannya yang mulai tidak singkron.
"Kau sedemag ledekin aku? Apa tulang rawan bisa dipatahin?" Tanya Marons, yang menyadari ada senyuman di wajah Kaliana, katika mengucapkan kata-kata tadi.
"Tidak ledekin, Pak. Hanya mengganggu konsentrasi dari hal yang membuat kita tidak waras. Jadi hanya berandai andai saja. Kalau tulang rawannya ada berapa banyak, aku cicil tiap hari sampai lunas. Hehehehe... " Kaliana jadi tertawa sendiri dengan pikirannya yang makin menyimpang.
"Astagaaa... Kau sadis sekali, Kalia. Ingat, kau itu seorang wanita." Ucap Marons sambil menepuk dahinya lalu ikut tertawa. Marons tau, Kaliana sedang bicara asal untuk menghiburnya.
"Sadis ya, Pak. Makanya, Pak Marons jangan bertanya lagi. Otak dan pikiranku lagi tidak berada pada garis lintang yang sama. Hingga omongan uang dihasilkan bisa jadi ngaco... hehehe..." Kaliana jadi tertawa lagi. Begitu juga dengan Marons yang mendengarnya, jadi ikutan tertawa.
__ADS_1
"Tapi ini serius ya, Pak. Sebelum kita jalan lagi. Apa pernah dengar, seperti yang dikatakan Pak Danny tadi? Beliau bersyukur pada Tuhan karena korban telah tiada, sudah meninggal." Ucap Kaliana yang sudah bisa kembali serius. Marons melihst Kaliana, lalu mengangguk mengiyakan. Karena itu yang dikatakan Danny tadi di ruangannya. Tetapi dia belum mengerti maksud pertanyasn Kaliana.
"Aku pernah membaca satu kutipan yang menarik. Sangat menginspirasi sekaligus mengingatkan ketika jalani hidup ini. "Jika seseorang bersyukur karena ketidak hadiran kita, pertanda hidup kita tidak membawa dampak yang baik. Ibarat jeruk, hidup kita kecut." Ucap Kaliana yang sudah kembali serius. Dia selalu mengingat itu, saat berhubungan atau menjalin kerja sama dengan orang lain.
"Aku setuju dengan kutipan itu. Ibarat nasi, hidupnya sudah basi. Tidak bisa dinikmati lagi." Ucap Marons ikutan serius, memikirkan apa yang dikatakan Kaliana. Suatu kutipan yang menuntun seseorang agar bisa mengahasilkan sesuatu yang baik dan manis.
"Sebentar, Pak. Kita jalan dulu, jangan memaksaku berpikir untuk menambah ibaratnya seperti apa lagi. Yang Pak Marons katakan itu lebih paraaaa... Kalau kecut, masih bisa dipakasain makan, walau nantinya gigi jadi ngilu. Tetapi kalau nasi sudah basi, mungkin hewan juga tidak mau memakannya. Sekarang justru Pak Marons yang lebih sadis. Hidup seperti apa itu?" Ucap Kaliana sambil tersenyum dan kembali menjalankan mobilnya.
"Itu yang dibilang hidup benar-benar tidak berguna dan tidak ada artinya. Kau sedang mengingatkannku untuk ucapanku tadi?" Tanya Marons serius, karena tadi dia menganggap dirinya tidak berarti.
"Tidak, Pak. Terlintas begitu saja dipikirannku. Mungkin sekarang otak dan pikiranku sudah dalam satu lintsan." Ucap Kaliana sambil mengangkat kedua jarinya, memberikan tanda, peace. Marons jadi tersenyum melihat gerakan tangan Kaliana.
"Yaaaa... Jika Pak Marons bisa bersyukur dengan melihat sisi itu, tidak perlu memeriksakan jantung ke dr Yogi. Pertanda hati dan jantung bapak baik-baik saja. Kata orang tuaku, jika bisa bersyukur dalam segala hal dan segala situasi, pertanda hati dan pikiran kita satu level di atas rata-rata. Jantung kita akan kuat menghadapi setiap goncangan." Ucap Kaliana serius, sambil mengingat orang tuanya.
"Jadi sekarang tidak usah memikirkan atau membayangkan yang buruk-buruk lagi. Semuanya sudah berlalu dan mari melihat kebaikam Tuhan meluputkan Pak Marons dari sesuatu yang lebih buruk." Ucap Kaliana serius untuk menenangkan Marons.
"Iyaaa... Sama dengan yang aku rasakan saat ini. Aku sangat beryukur kau bisa ada bersamaku. Entah apa yang terjadi denganku, jika bukan kau yang menyelidiki kasus ini." Ucap Marons dengan tulus, karena merasa kehadiran Kaliana sangat berarti baginya.
Kaliana terdiam mendengar apa yang dikatakan Marons. Dia tidak bisa membalas ucapan Marons seperti membalas Bram, karena dia tahu, apa yang dikatakan Marons bukan candaan atau gombalan.
__ADS_1
'Aku pun bersyukur dengan kasus ini, jadi bisa bertemu denganmu. Berbicara banyak hal denganmu. Berbagi banyak hal denganmu.' Kaliana berkata sendiri dalam hati.
'Apakah ada yang mengatakan aku jahat terhadap korban?' Tanya Kaliana dalam hati mengingat istri Marons.
'Aku jahat jika saat aku tau keberadaan Marons sudah berkeluarga, lalu datang mengganggunya. Menarik perhatiannya dari istrinya. Itu sebuah kesalahan dan penghiatan. Tetapi ini aku ditempatkan membereskan berbagai kekacauan yang ditinggalkan istrinya.' Kaliana kembali berkata untuk dirinya sendiri, agar tidak merasa bersalah.
'Jika aku mau, bisa memperkenalkan diri pada Marons. Tapi apa gunanya, jika Marons tidak mengingatku? Malah akan mempermalukan diri sendiri dan mungkin juga akan merusak pekerjaannya dan team. Jika Marons ingat atau tidak, biarlah terjadi secara alami. Mungkin ada saat yang tepat untuk memperkenalkan diri dengan baik, tanpa merusak dan merendahkan diri.' Kaliana terus berkata dalam hati, sambil memperhatikan jalanan.
"Terima kasih, Pak. Jika Pak Marons mengangap kehadiran kami berarti. Sekarang, bapak istirahat saja dengan baik. Jangan biarkan semua bayangan buruk itu mengganggu." Ucap Kaliana setelah tiba di depan gerbang rumah orang tua Marons.
"Kau tidak mampir untuk minum sesuatu dulu?" Tanya Marons sebelum turun dari mobil Kaliana.
"Lain kali saja, Pak. Saat saya datang dengan Pak Danny." Ucap Kaliana menolak dengan halus, agar tidak ada lagi pembicaraan tentang korban hari ini.
"Baik. Kalau begitu, langsung pulang. Hati-hati di jalan dan jangan belok lagi. Segera kabari, jika sudah tiba di rumah." Ucap Marons, lalu turun dari mobil Kaliana dengan hati yang berat. Seharusnya dia yang mengantar Kaliana pulang, bukan terbalik seperti sekarang. Pemikiran itu menyemangatinya untuk tidak makin terpuruk.
...~***~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1