![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Kaliana bertanya seperti itu, karena sudah ada hasil pemeriksaan rambut Jaret yang menyatakan bahwa dia adalah Ayah dari janin yang ada dalam kandungan korban. Jaret masih memberikan keterangan yang tidak benar, membuat Kaliana kesal. Mana mungkin janin yang ada dalam kandungan itu adalah anaknya, jika mereka bertemu terakhir kali tiga bulan yang lalu. 'Apakah pembuatan bayi bisa secara online?' Tanya Kaliana dalam hati dengan gemas.
Jaret dan pengacaranya tidak mengerti arah pertanyaan Kaliana, tetapi Bram dan petugas sangat mengerti maksudnya. Mereka tertawa tertahan karena mendengar pertanyaan Kaliana yang tiba-tiba dan menurut mereka sangat kocak. Tapi bagi Bram, itu adalah pertanyaan tembak langsung ke segala arah.
"Saya tidak mengerti maksud pertanyaannya, Bu." Jaret berkata sambil berpikir, apa maksud pertanyaan Kaliana yang menurutnya sangat tidak sesuai dengan materi pemeriksaannya.
"Baik, kalau anda tidak mengerti pertanyaan saya tadi. Saya akan mempermudahnya untuk anda." Bagi Kaliana, yang penting tembakan pertamanya sudah membuat Jaret bingung. Sehingga yang berikutnya akan lebih mudah menggiringnya.
"Apakah anda tau, korban sedang hamil?" Tanya Kaliana perlahan, karena dia ingin melihat reaksi Jaret. Pengacaranya langsung melihat Jaret dan Kaliana bergantian. Dia mulai mengerti, kenapa Kaliana bertanya seperti tadi. Ternyata korban sedang hamil dan penyidik sedang mencurigai clientnya.
"Tau, Bu. Lita memberitahuku." Lama baru Jaret menjawab pertanyaan Kaliana, karena memikirkan dampak dari jawabannya. Tapi Jaret tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya. Dia terlihat terkejut mendengar pertanyaan Kaliana.
"Apakah anda tau, siapa Ayah bayi yang sedang dikandung korban?" Tanya Kaliana pelan, seakan sedang bertanya kepada anak sekolahan.
"Kenapa Ibu menanyakan itu kepada saya? Dia memiliki suami, tanyakan saja pada suaminya." Ucap Jaret emosi, karena merasa tertekan dengan pertanyaan Kaliana.
"Anda benar. Orang yang sudah berkeluarga, pasti mengharapkan punya anak. Jika istri tau sedang hamil, dia mengharapkan orang pertama yang akan mendengar kabar gembira dan sukacita itu adalah suaminya. Tetapi mengapa, korban tidak memberitahukan suaminya tetapi anda, ya?" Tanya Kaliana seakan sedang berpikir. Hal itu membuat Jaret kebingunan untuk menjawab dan makin emosi.
"Mana saya tahu. Tanyakan saja pada Lita." Jawab Jaret mencoba mengelak dan menjawab dengan asal, tanpa berpikir lagi.
__ADS_1
"Anda pikir kami zombi, atau hantu yang gentayangan di liang kubur? Sekarang jaman sudah canggih. Kami cukup bertanya dan memeriksa anda. Jadi jangan memutar atau zig zag di depan kami." Kaliana kesal mendengar jawaban Jaret yang asal ucap.
"Kapan korban memberitahukan anda bahwa dia sedang hamil." Tanya Kaliana tegas, tanpa memberikan waktu untuk Jaret berpikir dan berakrobatik dengan jawaban-jawabannya.
"Dua hari sebelum kematian Lita. Saya ingat betul, karena dia menghubungi saya setelah abis ribut dengan suaminya. Lita katakan, suaminya marah besar dan mengancam, karena mengetahui dia hamil. Suaminya curiga dengan kehamilannya, karena pencemburu. Itu yang dikatakan Lita." Ucap Jaret lancar, membuat pengacaranya hanya bisa melihat tanpa bisa mencegahnya. Penyidik Bram melihatnya dengan tajam, dan mulai meraba arah tujuan kesaksiannya.
Kaliana teringat cerita Marons tentang pertengkaran mereka. Jika benar yang dikatakan Jaret, berarti Rallita berbohong kepada Jaret. Kaliana percaya apa yang dikatakan Marons tentang pertengkaran mereka, karena Rallita telpon di tengah malam, bukan tentang membahas kehamilan. Itu bisa dilihat dari luka di tangan Marons, karena rebutan ponsel. Jika Marons marah karena kehamilan, bukan Marons yang terluka, tetapi Rallita.
"Pak Jaret. Apa benar itu pertama kalinya anda mengetahui tentang kehamilan korban?" Tanya Kaliana tegas, karena Jaret mulai mengatakan hal yang tidak berkenan di hatinya tentang Marons.
"Iya, benar..." Jawab Jaret singkat.
Kaliana telah tahu dari Putra yang telah melihat email Jaret. Rallita mengirim foto hasil USG kehamilannya kepada Jaret sebulan yang lalu, tapi tanpa keterangan. Hanya foto USG janin dalam kandungan. Sehingga Kaliana tahu, Jaret telah mengetahui kehamilan Rallita sebelum itu. Kaliana ingin Jaret yang mengatakan tentang email itu di depan penyidik. Jadi pengakuannya akan dicatat resmi, bukan hasil selancar Putra di dunia maya.
Jaret menjadi panik, saat mendengar Kaliana akan memeriksa emailnya. "Iya, saya sudah tahu dari sebulan lalu, kalau Lita hamil. Dia memberitahuku lewat email. Tapi saya tidak mungkin membunuhnya karena itu. Dia sedang mengandung anak saya, mana mungkin saya membunuhnya. Saat dia meninggal juga, saya tidak ada di sini. Saya sedang berada di luar kota." Ucap Jaret lancar jaya. Dia mengaku sendiri, bayi itu adalah anaknya. Dalam kepanikannya, dia ketelepasan bicara. Dia merasa Kaliana telah mengetahui tentang email itu, karena tiba-tiba mau memeriksa emailnya.
"Tungguuuu... Pak Jaret. Kita sedang membuat BAP dan pernyataan anda harus dicatat. Petugas kami bukan tape recorder yang hanya menekan on off." Ucap Kaliana, sambil mengangkat tangannya.
"Jadi anda sudah mengakui sendiri bahwa anda adalah Ayah dari janin yang dikandung korban?" Kaliana mengatakan kembali untuk menegaskan dan agar Jaret tidak bisa berkelit lagi. Jaret hanya mengangguk mengiyakan.
"Anda harus menjawabnya. Tidak bisa hanya dengan anggukan kepala." Ucap Kaliana tegas, agar Jaret menjawabnya dengan kata-kata bersuara.
__ADS_1
"Iya, Bu. Saya Ayahnya." Jawab Jaret pelan dan juga cemas. Dia menyadari tidak bisa mengelak atau menutupi apapun lagi. Di depan penyidik dia telah mengaku apa yang sebenarnya.
"Anda mengatahkan tidak membunuh korban dengan berbagai alasan. Apakah selama pembuatan BAP dari awal sampai sekarang, penyidik pernah mengatakan bahwa anda dicurigai yang membunuh korban?" Tanya Kaliana untuk menegaskan dan dicatat.
"Tidak ..." Ucap Jaret sambil geleng kepala. Dia menyadari telah salah berucap. Pengacaranya tidak bisa berkata-kata mendengar apa yang dikatakan clientnya.
"Jika penyidik menemukan bukti bahwa anda terkait dengan tewasnya korban, penyidik tidak perlu mengatakan itu kepada anda. Cukup dengan menaikan status anda dari saksi menjadi tersangka." Ucap Kaliana serius, karena dia sudah periksa BAP yang pertama tidak ada pernyataan itu.
"Kami sedang meminta keterangan anda yang sebenarnya tentang hubungan anda dengan bayi yang dikandung korban dan hubungan anda dengan korban. Kami belum beranjak dengan meminta keterangan anda pada saat tewasnya korban." Ucap Kaliana serius.
"Tapi karena anda sudah mengatakannya, akan kami lanjutkan. Silahkan anda memberitahukan dimana anda pada saat korban tewas seperti yang anda katakan tadi. Sebutkan itu kepada petugas, dimana anda, dengan siapa, sedang apa. Semoga ada yang menguatkan alibi anda saat itu." Ucap Kaliana serius, lalu berdiri memberikan kursinya kepada penyidik Bram.
Bram tersenyum dalam hati, karena Kaliana sudah membuka yang sebenarnya belum masuk sampai ke situ. Tetapi Jaret sendiri yang terpancing dan memulai, jadi dengan mudah mereka menggiringnya. Kaliana tersenyum senang karena sudah tahu keahlian Bram, Jaret akan kelimpungan jika berbohong tentang alibinya.
Bram akan menyisir di setiap sudut tempat dimana dia berada seperti yang dikatakannya. Siapa yang bersamanya atau sedang apa, akan disekidiki oleh Bram dan teamnya. Kaliana sangat senang, akan mendapat limpahan keterangan yang melengkapi analisanya.
Jika benar, Jaret tidak ada di tempat saat tewasnya Rallita, berarti ada orang lain yang perlu diselidiki. Mendengar Jaret menyebut nama Rallita dengan ucapan dan nada yang berbeda, hubungan mereka bukan hanya sekedar perselingkuhan. Ada asmara lama dan dalam.
...~***~...
...~●○¤○●~...
__ADS_1