C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Tak Terpikirkan.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Setelah minum, Marons melihat jam di tangannya sudah menunjukan hampir jam lima pagi. Marons membangunkan Kaliana dengan mengangkat selimut yang menutupi kepalanya. Dia terkejut melihat wajah Kaliana yang begitu lembut, tenang dan terlelap.


Walaupun dengan berat hati, Marons mencolek pelan lengan Kaliana, agar tidak membuatnya terkejut. "Dikit lagi..." Ucap Kaliana pelan, sambil menarik kembali selimut yang diangkat Marons untuk menutupi kepalanya. Marons jadi tersenyum dan iseng melihat apa yang dilakukan Kaliana. Dia mengangkat kembali selimut yang menutupi kepala, agar Kaliana bisa bangun.


"Cuuuuu... Dikit lagiii..." Kaliana berkata dalam tidurnya sambil kembali menarik selimutnya. Tanpa sadar, dia mengira sedang di rumah dan lagi dibangunkan oleh Yicoe seperti biasanya, karena terlambat bangun.


"Kaliaaa.... Nanti sambung lagi di rumah. Ini sudah jam lima, ayooo, bangun." Ucap Marons pelan, agar tidak membuat Kaliana terkejut. Marons tidak enak jika mereka pulang, hari sudah siang. Mendengar suara laki-laki, Kaliana langsung menarik selimut yang menutupi wajahnya, langsung bangun dan segera duduk.


Ketika melihat Marons sedang melihatnya, Kaliana yang sudah selesai loading jadi malu. Marons jadi tersenyum melihat wajah loading bangun tidur dan rambut Kaliana seperti landak. Kaliana segera merapikan rambutnya dengan jari, lalu mengambil remote control untuk menaikan kursinya dan juga kursi Marons. Melihat itu, Marons makin menyukai mobil Kaliana. Benar-benar mobil yang nyaman dan keren.


"Pak, jika mau minum, ada minum di samping tempat duduk." Ucap Kaliana sambil mengambil minuman untuknya di samping tempat duduknya, lalu minum untuk menenangkan hati dan pikirannya serta menutupi rasa malunya.


"Aku sudah ambil dan minum duluaan karena tenggorakanku agak serak. Sorry, tanpa bilang lagi." Ucap Marons karena tadi sudah mencari di mobil Kaliana dan langsung minum.


"Tidak apa-apa, Pak. Memang sengaja taruh di situ untuk diminum sama yang duduk di situ." Ucap Kaliana, karena ada juga untuknya dan yang duduk di belakang. Semua sudah disiapkan Yicoe dan Novie agar mereka tidak repot diperjalanan.


"Mariii..., Kalia. Pindah ke sini, aku yang nyetir agar kau bisa istirahat sebentar." Ucap Marons, karena melihat Kaliana masih mengantuk, belum seratus persen hilang rasa kantuknya. Kaliana melihat Marons dengan ragu, karena dia belum pernah menginjinkan orang lain menyetir mobilnya.


Tapi melihat keseriusan Marons, Kaliana tidak enak untuk tidak mengijinkan. Dia menepuk setir mobilnya pelan, seakan sedang menenangkan mobilnya. 'Sopapa, jangan rewel, ya. Biarkan dia membawa kita pulang. Rasa kantukku belum hilang semuanya.' Kaliana berkata dalam hati seakan sedang berbicara dengan mobilnya. Kaliana pindah duduk, karena Marons telah turun dari mobil untuk pindah tempat duduk di balik kemudi.

__ADS_1


Marons membawa mobil dengan hati-hati, karena dia tahu mobilnya sangat berarti dan Kaliana sangat menjaga mobilnya. Karena jalanan masih sepi, dengan kecepatan normal saja, mereka cepat tiba di rumah Marons.


"Mari, Kalia... Turun untuk sarapan dulu." Marons berkata, setelah tiba di depan rumah dan melihat lampu di rumahnya sudah menyala. Dia tahu pasti, Bibi sudah bangun untuk menyiapkan sarapan.


"Terima kasih, Pak. Aku langsung pulang saja. Dalam kondisi seperti ini, tidak baik jika ada yang melihat kita pulang jam segini." Ucap Kaliana yang menyadari kondisi Marons yang sedang berkasus. Apalagi istrinya tewas tidak wajar dan kasusnya sedang diselidiki. Jika ada yang melihat Marons pulang pagi dengan seorang wanita, akan jadi cerita dan pembicaraan. Mungkin akan menimbulkan prasangka dan praduga tentang mereka.


Bukannya dia menyelidiki kasus, tetapi malah dia yang akan diselidiki polisi. Tadi malam semuanya terjadi secara spontan. Jadi baik Kaliana atau Marons tidak memikirkan hal itu.


"Baik, aku mengerti. Hati-hati di jalan. Jika sudah tiba di rumah, kabari aku." Ucap Marons, lalu turun dari mobil. Kaliana pindah ke balik kemudi mobilnya dengan hati lega. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kuat, saat melihat lingkungan tempat tinggal Marons masih sepi.


"Pak, nanti kalau sudah ada kepastian jenasahnya akan dibawa pulang dan hendak dimakamkan, tolong kasih tau, ya. Aku dan team akan datang untuk menyelidiki semua pelayat yang datang. Mungkin saja ada pembunuhnya diantara pelayat." Ucap Kaliana sebelum menjalankan mobilnya. Marons mengangguk mengerti, dan tetap berdiri di depan pagar sampai mobil Kaliana berlalu dari depannya.


°***°


Setelah ditinggal Kaliana, Marons masuk ke dalam rumahnya dan melihat Bibi telah bangun dan sedang sibuk di dapur. "Bibi, tolong buatkan sarapan buat saya. Sarapan apa saja, ya." Marons berkata kepada Bibinya yang terkejut melihatnya sudah bangun. Kemudian dia masuk kemar untuk mandi, sebelum sarapan.


Ibunya juga terkejut melihat Marons sudah duduk sarapan di meja makan dengan pakaian rapi dan telah mandi. "Kau mau kerja hari ini?" Tanya Ibunya, lalu duduk di depannya. Sedangkan Ayahnya belum bangun.


"Tidak, Bu. Lagi tunggu Danny, mau pergi ke rumah sakit untuk memastikan pengambilan jenasah. Kalau Ayah belum bangun saat aku sudah berangkat nanti, Ibu tolong katakan pada Ayah. Dari rumah sakit aku akan kasih tau kalau sudah bisa lakukan pemakaman hari ini. Agar Ayah bisa kasih tau saudara Ayah dan Ibu." Ucap Marons serius.


Ibunya mengangguk mengerti. "Kau tidak mau memberitahukan orang kantor?" Tanya Ibunya, agar mereka bisa mengaturnya.

__ADS_1


"Kalau Ayah mau kasih tau, silahkan saja Bu. Aku tidak masalah, biar yang mau datang, datang saja." Ucap Marons. Dia sudah tidak mau menutupi apapun. Karena pasti telah menjadi pembicaraan di kantor, istrinya tewas di selokan.


Ibunya mengangguk mengerti, melihat kondisi putranya sedang sedih dan juga cemas. 'Ternyata kehidupan rumah tangga putraku selama ini tidak baik-baik saja, seperti yang diperlihatkan saat bertemu dengan kami.' Ibu Marons membatin.


Marons mengambil ponselnya untuk menghubungi Danny. Ketika melihat pesan dari Kaliana bahwa telah tiba di rumah, Marons bernafas lega. Setelah membalas pesan Kaliana, dia menghubungi Danny.


📱"Hallooo, Danny. Apa rencanamu hari ini? Apa sudah ada info dari rumah sakit?" Tanya Marons saat Danny merespon panggilannya.


📱"Marons, kau sudah bangun?" Tanya Danny dengan suara serak, baru bangun tidur. Sehingga tidak jawab pertanyaan Marons.


📱"Danny, pertanyaan apa itu? Jika aku belum bangun, kau sedang mimpi. Kalau begitu, kau tidak usah jemput aku. Nanti aku pakai mobil online ke kantor untuk ambil mobilku. Kita bertemu di rumah sakit. Tolong hubungi Yogi, ya. Ini aku sudah mau jalan ke kantor." Ucap Marons, karena menyadari Danny baru bangun karena telponnya.


📱"Baik, sorry. Tadi malam aku tidur larut malam, jadi masih mengantuk. Selesai sarapan, aku langsung ke rumah sakit. Ooh iya, Marons. Jenasahnya sudah bisa dibawa pulang hari ini. Mereka akan memeriksa yang kau minta sebelum jenasah dibawa pulang." Ucap Danny, membuat Marons bernafas lega dan hanya bisa mengucapkan terima kasih.


Dia kembali menemui Ibunya untuk menyampaikan apa yang dikatakan Danny bahwa jenasah Rallita akan dibawa pulang. Agar orang tuanya bisa siap-siap mengatur yang diperlukan untuk melakukan pemakaman.


Tidak lupa juga dia mengirim pesan kepada Kaliana, bahwa jenasah akan dibawa pulang dan akan dimakamkan hari ini.


...~***~...


...~●○¤○●~...

__ADS_1


__ADS_2