C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Trauma.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Tidak terpikirkan atau terlintas dipikirannya, kalau ada yang bisa mencelakainya di rumahnya sendiri. Marons tahu, selama masa muda sampai berkeluarga, dia tidak bermasalah dengan tidur. Jika capek kerja atau berolah raga, dia akan tidur dengan nyenyak. Jadi tidak perlu bantuan obat untuk bisa tidur.


"Tidak usah hubungi Bibi, Pak. Bibi pasti tidak tahu kandungan teh itu. Bibi hanya membuatnya untuk anda, tanpa mengerti ada zat terlarang di dalamnya." Ucap Kaliana, saat melihat Marons hendak menghubungi ART nya. Marons langsung melihat Kaliana dengan alis bertaut.


Dia percayakan semua yang akan dimakan atau diminum kepada Bibi yang telah mengikuti keluarganya sejak lama. Sehingga dia berpikir, Bibi akan tahu yang dikonsumsinya, karena walau pun dia sudah menikah, Bibi masih mengurusnya.


"Tidak usah, Pak. Kami telah meminta keterangan Bibi tentang itu. Bapak ingat Pak Yosa pernah berbicara dengannya bukan? Bibi katakan, kadang korban membuatnya untuk Pak Marons. Bibi hanya diminta untuk mengantarnya ke ruang kerja. Oleh sebab itu, saya ingin sekali memeriksa keduanya sebagai pembanding.


Marons dan Danny melihat Kaliana dengan wajah yang sangat terkejut. Terutama Marons, jadi diam terpaku tanpa bisa berkata-kata. Melihat kondisi Marons, Kaliana melihat ke sembarang arah agar tidak berdiri untuk memeluknya.


Kaliana mencoba untuk berkonsentrasi pada apa yang sedang dibahas, karena melihat Marons dan Danny yang sangat shock. Dia berusaha untuk mengajak bicara Danny, agar bisa kembali fokus untuk kasus yang sedang ditangani.


"Pak Danny, berarti sekarang Pak Danny sudah bisa mengerti potongan puzzle yang ini, ya? Silahkan pergunakan sebagai tameng dalam situasi tertentu untuk melindungi Pak Marons. Jika tidak perlu digunakan, tidak usah dipakai. Simpan sebagai amunisi." Kaliana berkata serius dan berharap Danny mengerti maksudnya dalam suasana yang begitu hening.


Danny yang telah kembali konsentrasi karena dipanggil Kaliana, mengangguk mengerti. "Iya, Anna. Aku akan memyimpanya untuk digunakan pada waktu yang tepat. Sedikit banyak dengan ditemukannya puzzle ini, kita bisa mulai menyusun yang berikutnya." Ucap Danny yang mulai tercerahkan dengan penemuan bukti pendukung.


"Gambaran kasus ini sudah mulai jelas dan aku jadi mengerti dua hal. Pertama, kenapa Rallita bisa hamil dengan pria itu. Kedua, kenapa Rallita bisa meninggal di luar rumah tanpa sepengetahuan Marons." Danny berkata serius setelah menganalisa apa yang dikatakan Kaliana. Dia tidak bersikap formal lagi terhadap Kaliana dan Marons.

__ADS_1


"Aku sudah katakan padamu, sangat mengerikan tidur dengannya. Tapi kau selalu menyangkalnya. Sekarang malah jadi merinding, mengetahui kau tidur dengannya dalam keadaan mati rasa." Ucap Danny, sambil mengusap lengannya yang merinding. Bulu kuduknya pada berdiri membayangkan Marons tidur bersama Rallita dalam kondisi telah dicekokin obat tidur.


"Aku boleh bersyukur karena dia sudah meninggal bukan?" Tanya Danny sambil melihat Kaliana dan juga Marons yang masih terdiam.


"Astagaaa... Apa ini? Aku makin merinding membanyangkan dia menghabisimu dalam keadaan tidur." Danny terus mengusap lengannya, karena bulu kuduknya masih berdiri. Danny benar-benar takut.


"Jangan kau katakan dia tidak mungkin membunuhmu dengan berbagai pertimbangan normalmu." Ucap Danny kesal dan memarahi Marons, mengingat Marons pernah menyangkali apa yang dikhawatirkannya, bahwa Rallita bisa membunuhnya.


"Astagaaa... Kau jangan mengulang dan menambah lagi apa yang pernah kau katakan. Kau tidak bisa melihatku? Apa aku ada katakan sesuatu, sampai kau membentakku? Apa kau tidak melihat bulu kudukku sudah seperti landak?" Tanya Marons beruntun, melihat Danny memarahinya. Dia sendiri sangat shock dan bergidik membayangkan apa yang bisa menimpanya.


Astagaaa ... Sebenarnya aku menikahi manusia atau apa?" Tanya Marons sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Dia sangat merinding sampai mengusap bawa telinga, dagu dengan kedua tangannya. Dia membanyangkan tidur nyenyak di samping Rallita yang bisa melakukan sesuatu yang jahat padanya.


"Pak Danny, pembicaraan kita dan bukti ini, bisa dipakai untuk menghadapi keluarga korban dan juga penyidik. Kenapa Pak Marons tidak mengetahui istrinya keluar pada malam itu. Juga kenapa korban bisa bebas telpon pada malam hari. Karena dia tau, Pak Marons sedang tidur nyenyak." Kaliana mengingatkan kembali apa yang dikatakan Danny untuk memanggil konsentrasi mereka pada kasus yang sedang ditangani.


"Baik. Apa aku harus periksa ke Yogi untuk memastikan kondisi kesehatanku dan agar bisa menghilangkan ini dari tubuhku?" Tanya Marons yang mencoba konsentrasi pada apa yang terjadi. Dia jadi khawatir dengan kesehatannya.


"Jangan dulu, Pak. Biarkan seperti itu, aku akan membuat penyidik memeriksa darah Pak Marons setelah ini. Agar jika keluarga korban atau orang tua Jaret mau menjerat, kita biarkan mereka masuk ke dalam perangkap yang mereka buat sendiri." Ucap Kaliana yang sudah pikirkan untuk berbicara dengan Bram setelah mendapakan hasil laboratorium teh ginseng merah Marons.


Marons mengerti apa yang dimaksudkan Kaliana. "Baik. Kalau begitu, kita sampai di sini saja. Aku butuh istrirahat. Danny, teruskan kerjaanmu. Nanti sudah lebih baik, baru kita bicara dengan Ayah tentang Anna." Ucap Marons lalu berdiri. Kaliana jadi ikut berdiri dan pamit kepada Danny, setelah mendengar yang Marons katakan.

__ADS_1


Danny hanya bisa mengangguk, lalu berdiri mengantarkan Marons dan Kaliana sampai di depan pintu kerjanya. Dia bisa memahami apa yang dirasakan Marons. Sehingga dia tidak mau menahannya lebih lama. Dia jadi berpikir untuk berbicara dengan Yogi.


Kaliana dan Marons berjalan dalam diam ke tempat parkir. Kaliana memahami apa yang sedang dirasakan Marons, sehingga dia tidak berani mengajaknya berbicara. Kaliana yang biasanya bisa menganalisa dengan kejeliannya, tidak bisa mengetahui apa yang sedang terjadi dengan Marons.


"Kalia... Kau langsung pulang saja. Tidak usah kemana-mana lagi. Aku tidak jadi ikut denganmu. Aku akan telpon sopir untuk menjemputku, karena mau pulang ke rumah orang tuaku. Aku tidak akan bisa tidur di kamar itu, karena belum bisa menghilangkan bayangan itu dari benakku." Ucap Marons, karena setiap kali mengingat apa yang dilakukan Rallita, dia merasa seperti Rallita bisa melakukannya lagi. Apalagi untuk tidur di tempat tidur yang pernah mereka tidur bersama. Marons kembali merasa bergidik.


"Iyaa, Pak. Aku juga ingin istirahat, karena sudah tidak bisa berpikir. Tapi terlebih dulu, aku akan mengantar ke rumah orang tua bapak." Ucap Kaliana jujur. Reaksi Marons mendengar apa yang dikatakannya membuat dia tidak sampai hati membiarkan Marons pulang sendiri.


Marons melihatnya dengan berbagai rasa di hati. Kehadiran Kaliana bisa mengalihkan sedikit rasa shocknya dari apa yang baru diketahuinya.


"Lebih baik, Pak Marons minta sopir untuk jemput Bibi untuk dibawa ke rumah orang tua bapak juga. Kasihan kalau tinggal sendiri di rumah sebesar itu." Ucap Kaliana mengingatkan. Marons mengangguk mengerti, lalu Marons mengotak atik ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Aku akan menghubungi Bibi, agar bisa bersiap-siap. Terima kasih sudah mengingatkan." Ucap Marons lalu ke tempat parkir mobil Kaliana.


"Tadinya aku ingin membawa mobilmu, tapi saat ini aku benar-benar tidak bisa." Ucap Marons, pelan.


...~***~...


...~●○¤○●~...

__ADS_1


__ADS_2