C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Penyamaran 4.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Pak Yosa, Yicoe dan Novie melihat orang tersebut dengan serius. Mereka menunggu jawaban mengenai jubah Rallita. Mereka tahu maksud pertanyaan Kaliana, karena Kaliana telah minta baju bekas Rallita dari Marons untuk melacak keberadaan jubah itu. Mereka berpikir, mungkin jubah korban tertinggal atau terbawa oleh si pelaku. Tidak tahunya orang yang ada di depan mereka mengetahui keberadaan jubah tersebut.


"Saya masih menyimpannya di mobil. Saya mau membuangnya, tetapi nanti diminta oleh Lita dan saya harus menggantinya. Jubahnya bukan barang murah jadi, yaaa... Aku simpan dulu, sambil terus menghubunginya. Walaupun jubah itu membuat masalah dalam keluargaku." Ucap orang itu pelan. Dia masih berharap akan bertemu dengan Rallita.


"Kenapa anda tidak menitipkan saja jubah itu kepada Jaret saat datang ke sini? Mengapa anda membuat masalah sendiri dengan menyimpan jubah itu?" Tanya Kaliana tenang, sambil memancing. Orang tersebut melihat Kaliana dengan wajah yang tidak bisa dimengerti. Dia tidak menyangka Kaliana akan berpikir ke arah itu.


Dia sebenarnya mengakui kebenaran pertanyaan Kaliana untuk menitipkan jubah itu kepada Jaret. Tapi dia berharap bisa bertemu langsung dengan Rallita dan menyerahkannya. 'Mungkin saja dengan menyerahkan langsung, bisa mendapatkan sesuatu dari Rallita.' Pikirnya selama ini.


"Kenapa tidak terpikirkan oleh saya, ya." Ucap orang tersebut, seakan-akan baru teringat dan sedang berpikir. Padahal dia tahu, motivasi dibalik menyimpan jubah tersebut. Walaupun harus ribut dengan istrinya, yang penting masih bisa dapat cuan dari Rallita untuk memenuhi kebutuhan ekstranya.


"Mungkin juga karena saya tidak pernah bertemu dengan Jaret setelah itu, jadi tidak terpikirkan untuk memberikan kepadanya." Ucapnya lagi, menjawab pertanyaan Kaliana. Mengapa tidak diberikan kepada Jaret. Selain ada motivasi tertentu, dia juga tidak bertemu dengan Jaret.


"Sebenarnya, saya juga kesal dan marah, karena dia tidak menghubungiku untuk membantuku. Aku butuh bantuannya untuk menjelaskan kepada istriku dan juga gift darinya." Ucap orang itu dengan wajah kesal, tapi tidak merasa malu mengucapkannya.


Kaliana melihatnya dengan serius saat melihat dia kesal dan gusar. Kaliana mulai memperhatikan penampilanannya. Terlihat jelas, dia bukan dari kalangan orang berduit, tapi berusaha bergaul dan berkumpul dengan orang di kalangan itu. Pasti ada yang dicari dari kegiatannya di malam hari. Kaliana mengingat pekerjaannya yang biasa-biasa saja dan sering datang ke tempat seperti ini, membuat Kaliana berpikir cepat.

__ADS_1


"Apa yang anda dapatkan untuk lakukan semua ini? Menjemput dan mengantar Lita, padahal anda tahu dia bisa lakukan itu sendiri. Apalagi dia sudah berkeluarga. Apakah anda tidak berpikir orang akan menyangka anda mempunyai hubungan spesial dengannya?"


"Terutama jika ketahuan suaminya. Apakah anda tidak berpikir suaminya yang kejam itu bisa melakukan sesuatu kepada anda?" Kaliana sengaja bertanya demikian, karena dia mengatakan Marons kejam, menurut Rallita. Kaliana menggali lebih dalam lagi, karena baginya tidak mungkin dia memberikan bantuan tanpa menerima imbalan apa pun.


"Anda sangat cerdik. Tidak ada yang gratis di tempat ini dan untuk bisa ke sini pun butuh cuan." Orang itu berkata sambil memicit jari telunjuk dan jempolnya. Kaliana mengangguk mengerti, karena dia sudah menduganya. Dia hanya butuh pengakuan dari orang tersebut.


"Siapa yang membayar anda? Lita atau Jaret?" Tanya Kaliana lagi, karena dia ingin tahu aliran dana Rallita dari siapa dan ke siapa. Itu yang dia pikirkan saat Putra mengatakan ada aliran dana ke rekening Rallita. Dia ingin tahu dialirkan kemana saja dana-dana itu selain ke club sepeti ini.


"Dua-duanya. Lita secara diam-diam membayarku, begitu juga dengan Jaret. Saya tidak tau, mereka mengetahuinya atau tidak, karena mereka selalu membayarku terpisah. Saya menikmatinya, karena mereka berdua sama hedonnya." Ucap orang itu lagi.


"Jadi maksud anda, mereka berdua dikadalin oleh anda? Jadi anda peroleh cuan dari kiri dan kanan?" Tanya Kaliana untuk lebih jelasnya.


"Sedangkan untuk suaminya, Lita katakan aman. Jadi tidak usah khawatir, jika dia sudah minta dijemput. Kalau sekarang dia belum bisa datang ke sini, mungkin sudah ketahuan suaminya dan sudah dikrangkeng." Ucapnya lagi lebih menjelaskan.


"Iyaa, mungkin dia manusia species berkaki empat, jadi perlu dikrangkeng. Sekarang sudah dikrangkeng dalam kotak hitam 80 x 180." Ucap Pak Yosa tiba-tiba, karena kesal mendengar pernyataannya tentang Rallita.


Kaliana bisa mengerti rasa kesal Pak Yosa. "Baik. Itu akan dibuktikan nanti. Sekarang anda menjawab pertanyaan berikut ini. Apakah anda tahu dimana apartemen yang anda katakan tadi?" Tanya Kaliana serius.

__ADS_1


"Saya tahu, karena pernah mengantarnya saat mabuk. Tapi ini ada apa? Apakah mereka berdua kabur?" Tanya orang itu yang sudah curiga mendengar terus menerus pertanyaan Kaliana dan juga celutukan Pak Yosa.


"Anda jawab dulu pertanyaan saya, nanti saya akan menjawab pertanyaan anda. Sebutkan nama apartemenya dan juga unitnya, jika anda tau." Ucap Kaliana tegas dan serius. Orang itu sudah tidak bisa mengelak lagi, karena dia sudah mengatakan di awal. Suka menjemput atau mengantar korban ke apartemen.


Dia menyebutkan nama apartemen dan juga unitnya, lengkap. Kaliana tersenyum senang dalam hati, karena menemukan pintu masuk berikutnya untuk penyelesaian kasusnya.


"Sebenarnya, ada apa dengan Lita, hingga kalian seperti ini kepada saya?" Tanyanya lagi yang belum mengerti arah pertanyaan Kaliana dari tadi.


"Lita telah tewas saat pulang dari sini. Seperti yg anda katakan tadi di dalam. Jadi sekarang kami sedang meminta keterangan dari anda, seberapa banyak anda mengenal dan mengetahuinya." Kaliana serius menceritakan, karena dia merasa keterangan orang itu sudah lebih dari cukup untuk membuka pintu-pintu selanjutnya. Kaliana dan team yakin, setelah ini, ada banyak puzzle yang ditemukan untuk disatukan Putra.


"Astagaaa... Saya tidak tahu apa-apa tentang tewasnya. Saya tidak ada sangkut paut dengannya. Semua keterangan tadi tidak benar. Saya mengatakan itu, karena kalian menekan saya, terutama wanita ini. Dia dari tadi tidak mau melepaskan saya." Ucap orang itu sambil menunjuk Novie dengan wajahnya. Dia benar-benar panik setelah mengetahui Rallita tewas dibunuh, seperti yang dikatak Kaliana.


"Anda katakan itu tidak benar, tidak mengapa. Kami yang akan membuktikan benar atau tidaknya, keterangan anda tadi. Setelah ini, anda akan diminta datang ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian. Status anda sekarang hanya sebagai saksi. Jika anda ingin tetap sebagai saksi, saya sarankan bicaralah yang benar. Karena jika anda mulai berkelat kelit, berarati anda sedang menghindari sesuatu."


"Saya akan pastikan anda akan naik status, jadi tersangka, jika mulai berkelit di hadapan penyidik. Jadi anda harus berhati-hati. Naiknya status anda yang diberikan penyidik tidak menyenangkan. Karena tidak diikuti dengan datangnya cuan, tapi borgol." Kaliana berkata dengan serius dan galak, agar orang tersebut akan berkata jujur kepada Bram.


...~***~...

__ADS_1


...~●○¤○●~...


__ADS_2