C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Rencana Gelar perkara 4.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Melihat tatapan Bram kepadanya dengan wajah penasaran dan ingin tahu, Kaliana menjelaskan lagi. "Jadi ini bukan hanya pengungkapan kasus selokan saja, tapi juga perintilan yang mengikutinya akan kami bongkar di situ." Ucap Kaliana lagi, tentang rencananya.


Bram makin mengerti cara kerja Kaliana dan kenapa dia menggunakan metode menyelesain kasus dengan cara GP. Jadi bukan saja kasus inti yang dibongkar. Tetapi yang ada sangkut dan terkait dengan kasus tersebut akan terseret. Apalagi yang terkaitan dengan kasus tersebut bermasalah.


"Baik. Aku mulai mengerti caramu. Aku akan siapkan yang diperlukan. Bagaimana jika Papa Jaret tau tentang pertemuan ini dan ingin juga hadir saat itu? Tanya Bram mulai mengerti situasi dan memikirkan kemungkinan yang bisa terjadi.


Kaliana mengangguk mengerti pemikiran Bram. "Jika beliau hadir, kita tenang saja di dalam ruang pertemuan dan teruskan GP. Teamku akan mengamankan beliau di tempat yang tidak bisa beliau lakukan sesuatu." Kaliana dan team sudah memikirkan itu, dan sudah siap menyambut jika Papa Jaret mau hadir. Kaliana telah menugaskan Yicoe yang cantik dan imut untuk membawanya ke Pak Yosa yang sudah menunggu untuk mengamankannya selama pertemuan.


"Yang penting, kau jangan mengirimkan undangan padanya. Jika Papa Jaret membawa undangan darimu, teamku akan membiarkan beliau lolos masuk mengimuti GP. Jadi kau berhati-hati dengan undangan yang kau buat dan kirim." Kaliana mengingatkan Bram, agar jangan sampai mereka sendiri yang terkejut karena kurang teliti.


"Iyaaa... Aku akan minta Raka menangani pengiriman undangan, agar bisa tepat sasaran." Ucap Bram yang sudah paham maksud Kaliana dan percaya pada kinerja Raka yang cekatan dan bisa dipercaya.


"Lalu di sini ada dr Yogi yang masuk dalam daftar undangan. Apakah beliau termasuk dari keluarga Rallita?" Tanya Bram ingin tahu. Karena selama masa penyelidikan, Bram tidak pernah meminta keterangan dari seseorang yang bernama dr Yogi.


"Oooh... Dr Yogi adalah saksi ahli yang bekerja sama denganku. Kau mungkin belum tau namanya, tapi pernah bertemu dengannya. Beliau yang menangani pasien Rosalinda saat terjadi penganiyaan itu." Kaliana mengingatkan Bram, saat pertemuan mereka di ruang perawatan mantan sekretaris Marons.


"Oooh... Dr ganteng itu. Ternyata kalian sudah kenal baik, rupanya. Aku kira kalian baru bertemu di situ, karena beliau merawat korban." Ucap Bram mengingat pertemuannya dengan dr Yogi.

__ADS_1


"Ternyata kau memperhatikan dr Yogi dalam situasi seperti itu. Astagaaa... Ckckck." Kaliana menggelengkan kepala dan berdecak.


"Bukan memperhatikan, tapi terjadi secara otomatis bagi sesama yang ...." Bram tidak meneruskan ucapannya, tapi jadi tersenyum.


"Sesama ganteng maksudmu? Astagaaa... Ckckck." Kaliana kembali menggelengkan kepala dan berdecak.


"Dari pada tidak ada yang muji, muji diri sendiri saja. Gratis dan tidak perlu ngantri." Ucap Bram asal, lalu tertawa.


"Sudaaa... Kembali ke laptop, ada yang ngantri. Perhatikan yang ganteng ini juga. Biarkan Raka yang mengurus undangannya. Sekarang aku berharap pada taktik dan kecerdasanmu untuk bisa membuat 'Bintang tidak ada di sini pada saat GP yang kami adakan." Kaliana mengingatkan kembali tentang pimpinan Bram dengan serius. Karena dia berharap, Bram yang memperoleh reward yang sudah siapkan oleh Kaliana dan team untuknya.


"Begini, aku mengulang lagi apa yang aku rencanakan dengan team. Aku menyiapkan satu pintu keluar, dan aku berharap kau yang keluar dari pintu itu sambil membawa pelaku pembunuhan itu. Bukan orang lain, apalagi pimpinanmu. Pintu itu, adalah balak yang aku janjikan untuk jatuh di pundakmu." Kaliana melihat Bram dengan serius, untuk meyakinkan Bram, bahwa dia serius mempersiapkan itu untuknya.


Sehingga Bram menyadari, Kaliana yang ada di depannya bukan Kaliana yang pernah bertugas bersamanya di kesatuan. Dia telah menjelma menjadi seorang wanita pengatur strategi dan pengungkapan kasus yang luar biasa tangguh dan detail.


Bram yang baru mendengar penjelasannya saja sudah tidak sabar menunggu tiga hari lagi. Dia merasa tiga hari terlalu lama. "Ini akan jadi tiga hari penantian terlama selama aku bertugas di kepolisian." Ucap Bram serius, tapi tersenyum. Dia makin penasaran, karena telah membaca daftar nama yang diberikan Kaliana kepadanya.


Dari daftar nama tersebut dan mendengar penjelasan Kaliana, berarti pelakunya ada di antara urutan nama-nama tersebut. Hal itu membuatnya makin penasaran dan tidak sabar menanti. Walaupun menurutnya, dia bisa prediksi siapa pelakunya dengan bukti yang dia miliki. Tetapi dia belum bisa menangkap pelakunya, karena diantara semuanya belum ada dua alat bukti yang sah, sehingga orang tersebut belum bisa dijadikan tersangka.


Tapi dari apa yang dijelasin Kaliana, Bram menarik kesimpulan bahwa, Kaliana sudah tahu pelakunya. Jadi bukan berupa tersangka lagi. Hal itu yang membuat Bram penasaran dan ingin menarik tiga hari itu untuk mendekat. Karena walaupun mendesak, Kaliana tidak mungkin mengatakan siapa orangnya sebelum hari GP.

__ADS_1


"Apakah anggota teammu akan hadir saat itu juga?" Tanya Bram, agar dia bisa mengatur anggotanya untuk bekerja sama dengan anggota team Kaliana.


"Mereka hadir dengan perlengkapan lengkap. Perlengkapan kami, ya. Bukan seperti perlengkapan anggota teammu. Nanti aku perkenalkan mereka untukmu pada hari H. Sekarang mereka semua sedang hibernasi sambil menunggu waktu yang kita putuskan." Kaliana belum mau perkenalkan anggota teamnya kepada Bram.


"Jadi setelah ini, komunikasi kita terbatas, hanya jika terjadi perubahan. Sekali lagi, tolong yakinkan orang tua Rallita untuk bersedia rumahnya dipakai untuk tempat gelar perkara." Kaliana kembali mengingatkan Bram, dengan harapan agar Bram bisa berusaha sekuat kemampuan untuk bisa jadikan tempat keluarga Rallita sebagai tempat GP. Bram mengangguk kuat untuk menyakinkan Kaliana, bahwa dia akan berusaha.


"Baik. Aku percaya dan berharap tidak ada perubahan. Tapi jika orang tua Rallita mengatakan, kenapa tidak lakukan GP di rumah Pak Marons saja. Katakan pada mereka, bahwa Pak Marons sudah tidak tinggal di rumahmya lagi. Beliau trauma tinggal di rumah itu, karena perbuatan jahat istrinya selalu mengganggunya." Bram melihat Kaliana dengan serius.


"Apakah yang kau katakan itu benar atau hanya taktikmu saja?" Tanya Bram serius, agar dia bisa bertindak dengan baik.


"Aku tidak bercanda, Bram. Pak Marons tidak tinggal di rumahnya lagi. Beliau sekarang tinggal di rumah orang tuanya setelah hasil tes darahnya mengandung obat tidur dan beliau mencurigai istrinya lakukan hal jahat itu padanya. Beliau tidak bisa tidur karenanya." Ucap Kaliana serius, agar Bram tidak berpikir dia mengada-ada tentang rumah Marons.


Bram mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Kaliana. "Baik. Ada banyak hal yang harus aku lakukan untuk mempersiapkan GP ini. Apalagi harus berbicara dengan Papa Rallita dan juga memastikan semua yang diundang bisa hadir." Bram berkata dengan serius, dan Kaliana mengangguk menyetujuinya.


Setelah pembicaraan panjang dan lama, mereka berpisah dengan semangat dan harapan, semoga semua yang direncanakan berlangsung dengan baik dan lancar.


...~***~...


...~●○¤○●~...

__ADS_1


__ADS_2