C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Potongan Puzzle 2.


__ADS_3

...~β€’Happy Readingβ€’~...


Setelah masuk ke ruang pertemuan, dia melihat telpon yang diperuntukan untuk umum bergetar. Melihat dihubungi oleh nomor yang tidak dikenal, Kaliana segera merespon, karena dia sedang menangani kasus, bisa saja dari orang tertentu yang diberikan nomor telponnya. Jadi dia merespon panggilan yang masuk ke telponnya.


πŸ“±"Hallooo, ini dengan Ibu Kaliana?" Tanya yang menelpon, saat Kaliana merespon panggilannya.


πŸ“±"Iyaa, saya. Ini dari mana dan dengan siapa?" Kaliana menjawab dan balik bertanya.


πŸ“±"Ini dari rumah sakit, Bu. Saya yang diminta menghubungi Ibu untuk memberitahukan kalau hasil pemeriksaan darah Pak Marons sudah keluar. Ini sudah ada hasilnya dan Ibu sudah bisa ambil hasilnya." Suster yang bertugas di bagian Laboratorium rumah sakit menjelaskan maksudnya, menghubungi Kaliana.


πŸ“±"Ooh, Iya Suster. Terima kasih sudah hubungi saya. Besok pagi saya akan ke rumah sakit, ya." Ucap Kaliana mengingat dia meminta Marons mengecek darahnya. Kemudian mereka mengakhiri pembicaraan setelah saling memberikan salam.


Kaliana masuk ke ruang pertemuan dan melihat teamnya sedang meneliti semua orang yang datang ke rumah duka. Mereka tidak membuang-buang waktu, karena penasaran dengan kasus yang sedang ditangani. Bukan saja ingin tahu pembunuhnya, tetapi juga ingin tahu kehidupan korban selama masih hidup. Banyak misteri dengan kehidupannya dan orang-orang disekitarnya.


"Putra, tolong perlihatkan data orang tua korban. Aku ingin menyelidiki mereka juga, karena Papa korban sepertinya tahu banyak hal yang terkait dengan korban. Mungkin kita bisa dapatkan sesuatu darinya untuk mulai mengurai." Ucap Kaliana yang kembali duduk menghadap layar TV.


Putra memperlihatkan orang tua dan saudara Rallita serta bisnis juga kekayaan mereka. "Mereka sangat kaya ternyata. Makin banyak yang perlu kita selidiki ini." Kaliana berkata sambil memikirkan kasus yang sedang mereka tangani.


"Pak Yosa, tolong berikan informasi yang diperoleh dari TKP dan sekitarnya, ya." Ucap Kaliana setelah melihat semua data orang tua korban. Tidak ada yang luput dari perhatian mereka berempat. Putra hanya menyiapkan semua data yang diperlukan, sedangkan mereka berempat yang meneliti semua kejanggalan atau ada data yang tidak singkron. Putra mencatat dan memberikan tanda disetiap bagian yang harus diselidiki oleh team.


Pak Yosa berdiri dan mengambil semua informasi yang diperoleh dan telah di copy untuk mereka berlima teliti. Masing-masing meneliti dan menandai ada yang perlu diselidiki dengan tanda masing-masing, lalu serahkan pada Putra untuk dimasukan dalam catatan yang perlu di selidiki.


Mereka bekerja sampai malam karena banyak informasi yang diperoleh Pak Yosa dari TKP, mau pun bocoran dari rekan penyidik yang mengetahui kasus tersebut.

__ADS_1


Β°***Β°


Keeokan harinya, pagi-pagi sekali Kaliana dan 'Sopapa'nya sudah berada di jalan raya menuju rumah sakit. Sepanjang malam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, mengharapkan pagi lekas tiba agar bisa ke rumah sakit. Dia bersyukur, jalanan tidak terlalu padat sehingga bisa tiba di rumah sakit dengan cepat.


Setelah menerima hasil Laboratorium Marons, Kaliana membukanya. Dia foto bagian dari hasil pemeriksaan dengan ponselnya. Setelah itu dia masukan ke dalam amplop lalu dimasukan ke dalam tasnya. Dia telah menghubungi dr Yogi, sehingga bisa langsung ke ruang prakteknya sebelum tiba waktu terima pasien.


Kaliana dipersilahkan masuk oleh suster yang membantu dr Yogi, karena dia telah ditunggu. "Selamat pagi dokter. Maaf, mengganggu." Ucap Kaliana terkejut, melihat dokter Yogi tidak sendiri.


"Semangat pagi Mbak Anna. Ruanganku jadi cliiiiing..." Ucap Yogi sambil tersenyum. Dokter Yogi bisa saja, kalau tau begitu, saya akan bawa permen. Selamat pagi juga dokter Dewi. Kenalkan, saya Kaliana." Sapa Kaliana, membuat dr Dewi melihatnya dan dr Yogi bergantian.


"Anda tau nama saya?" Tanya dr Dewi heran, saat Kaliana menyapanya dengan rama dan hangat.


"Maaf, dok. Itu saya lihat nama dokter Dewi." Ucap Kaliana sambil menunjuk dengan jempol ke baju dokternya. Dokter Dewi langsung tersenyum karena lupa dengan baju dinasnya yang ada tercantum namanya. Kaliana tidak mau bilang sudah tahu namanya dari Danny.


"Gimana Mbak Anna. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya dokter Yogi, karena Kaliana telah mengatakan padanya tentang tujuan menemuinya.


"Maaf, dr Dewi. Terima kasih. Saya tidak bisa lama di sini, karena mau pergi. Ini hanya mau minta pendapat medis dr Yogi saja." Ucap Kaliana sopan, karena dia tidak ingin ada salah paham diantara dr Dewi dan dr Yogi, melihatnya akrab dengan dr Yogi. Dr Dewi mengangguk mengerti, lalu keluar ruangan Yogi setelah pamit dengan mereka.


"Dok, tolong lihat hasil Lab ini. Apa maksud dari hasil pemeriksaan ini?" Tanya Kaliana yang sudah duduk di depan Yogi, lalu menyerahkan ponselnya. Dr Yogi melihat ponsel dengan teliti. Dia tidak mau menanyakan hasil Lab siapa, karena jika Kaliana ingin dia tahu milik siapa, dia akan menyerahkan hasilnya secara real. Bukan hanya foto di ponsel.


"Waaah... Orang ini sudah konsumsi dalam waktu yang lama. Ini bukan dalam waktu hari atau minggu. Ini sudah dalam kurun waktu bulan." Ucap dr Yogi sambil terus perhatikan ponsel Kaliana.


"Apa ada efek sampingnya dengan hasil seperti ini?" Tanya Kaliana lagi, mulai cemas melihat keseriusan dr Yogi.

__ADS_1


"Sekarang belum dalam dosis ini, tapi jika diteruskan pasti ada efek negatifnya. Jadi minta orangnya untuk berhenti konsumsi. Cari cara yang lain, mungkin dengan berolah raga.


"Baik, dokter. Terima kasih untuk bantuannya. Saya tidak bisa lama, karena ada yang mau dikerjakan." Ucap Kaliana, lalu berpamitan dan meninggalkan ruangan dr Yogi.


Setelah ditinggal Kaliana, Yogi berpikir cepat mengenai apa yang baru dikonsultasi oleh Kaliana. Dia mau menanyakan yang lebih detail, tetapi mengerti profesi Kaliana sebagaimana dirinya. Dia segera mengambil ponselnya sebelum terima pasien.


πŸ“±"Marons, ada di mana?" Tanya Yogi saat Marons merespon panggilannya.


πŸ“±"Lagi di kantor, Bro. Gimana?" Tanya Marons heran, melihat Yogi menelponnya di jam yang tidak biasanya.


πŸ“±"Kau sudah masuk kantor? Tidak istirahat dulu?" Tanya Yogi lagi, mengetahui Marons sudah masuk kerja.


πŸ“±"Di rumah malah sakit kepala. Lebih baik ke kantor." Ucap Marons, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil berbicara dengan Yogi.


πŸ“±"Oooh, ok. Kapan-kapan chek up kondisimu, jangan dicuekin. Percuma punya teman dokter. Kesini saja, nanti aku yang berikan rujukan ke Lab." Ucap Yogi, santai. Dia sengaja telpon Marons untuk ngecek.


πŸ“±"Nanti bulan depan saja. Ada schedule rutin chek up enam bulan sekali. Dan juga aku baru periksa darah beberapa hari lalu. Jadi nanti tunggu schedule chek up rutin saja.


πŸ“±"Kau baru periksa darah toh... Sudah dapat hasilnya? Apa kondisimu baik-baik saja?" Tanya Yogi lagi, untuk memastikan dugaannya.


πŸ“±"Aku belum tau, karena yang minta periksa ke Lab itu, Kaliana. Mungkin hasilnya sama dia. Ooh iya, aku periksa saat ke rumah sakitmu waktu itu." Ucap Marons tenang, tanpa curiga.


πŸ“±"Ok, nanti kita ngobrol lagi. Jaga kesehatanmu. Aku mau periksa pasien dulu." Ucap Yogi tenang, menyembunyikan rasa cemasnya. Dia jadi yakin, hasil Laboratorium yang dikonsultasi oleh Kaliana adalah milik Marons.

__ADS_1


...~***~...


...~●○€○●~...


__ADS_2