![C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal](https://asset.asean.biz.id/c-l-b-k--cinta-lama-belum-kelar--kriminal.webp)
...~•Happy Reading•~...
Banyak hal ditanyakan penyidik Bram berkaitan dengan kesaksian Jaret, dimana dia tidak ada di tempat, saat Rallita ditemukan tewas. Semua kesaksian Jaret dalam BAP telah ditanda tangan oleh Jaret. Penyidik Bram mengijinkan dia pulang dengan catatan harus koperatif, jika dibutuhkan keterangan lanjutan. Jaret dan pengacaranya mengangguk mengiyakan, karena mengerti situasi dan perkembangan kasus yang dihadapi.
Jaret belum dinaikan statusnya sebagai tersangka, walau dia Ayah dari janin yang dikandung korban. Karena belum tentu Jaret pembunuhnya. Bram perlu menyelidiki alibi Jaret, untuk menemukan kebenarannya.
Sedangkan Kaliana telah keluar ruangan interogasi setelah mendengar keterangan Jaret. Dia segera menghubungi Putra untuk memeriksa penerbangan yang dikatakan Jaret. Apa benar dia melakukan pernerbangan pada tanggal yang dikatakan dan kapan kembalinya. Perkembangan kesaksian Jaret membuat mereka harus membuka lebih luas penyelidikan.
Bagi Kaliana, jika Putra bisa menemukan penerbangan Jaret, Kaliana dan team tidak akan menyelidiki keberadaan Jaret di luar kota. Itu akan dilakukan oleh Bram dan team. Kaliana hanya membutuhkan kepastian, bahwa Jaret benar ada di luar kota saat itu. Kaliana dan team akan menyelidiki orang lain di sekitar Marons, Rallita dan Jaret.
Sambil menunggu Bram selesai dari ruang interogasi, Kaliana dipersilahkan duduk di ruang kerja Bram. "Kau mau makan siang apa atau mau makan siang di mana?" Tanya Bram yang telah masuk ke ruangannya dan duduk di kursinya.
Tanpa terasa, sudah hampir tiba waktu makan siang. "Makasih. Aku langsung balik ke kantor saja, karena ada yang mau aku kerjakan." Ucap Kaliana yang sudah ingin bertemu dengan teamnya.
"Mau bekerja, tapi kau harus makan siang, kan? Atau sekarang sudah berubah pola makanmu? Jadi makan sehari sekali atau sehari dua kali? Hanya sarapan dan makan malam?" Bram bertanya sambil tersenyum. Dia masih ingin berlama-lama dengan Kaliana. Dia ingin mendengar cerita Kaliana setelah keluar dari kesatuan.
"Yaaa.. Tetap tiga kali sehari, kadang empat. Hanya tadi sebelum ke sini, aku sarapan yang lumayan berat untuk persiapan. Aku pikir akan melewati jam makan siang di ruang interogasi. Ternyata bisa lebih awal selesainya. Jadi sekarang masih kenyang, sorry. Nanti lain kali, ya." Ucap Kaliana sambil mengelus perutnya, memberikan tanda bahwa dia masih kenyang.
"Baiklah, aku tunggu kau tepati janjimu. Sebelum pergi, kau jawab dulu. Kau sudah lompati pagar untuk mengetahui email Jaret bukan? Aku curiga saat kau memyebut itu tadi." Bram berkata serius, karena Kaliana bisa menembak langsung ke sasaran tentang email itu.
__ADS_1
"Tidak lompat pagar, aku masuk lewat pintu pagar untuk melihat-lihat. Aku penasaran dengan isi pekarangan rumahnya. Ternyata benar kan, walau halaman rumahnya tidak ada banyak perunjuk, tapi satu itu sudah bisa membuka yang lain." Ucap Kaliana menjelaskan, tanpa mengatakan keterlibatan Putra yang mencari pentunjuk dengan keahliannya di dunia maya.
"Baik, aku terima penjelasanmu. Lain waktu aku ingin berkenalan dengan teammu." Ucap Bram serius. Dia yakin Kaliana tidak hanya bekerja dengan Pak Yosa. Pasti ada orang lain yang mendukungnya.
"Nanti saja. Kalau sudah tiba waktunya, aku akan perkenalkan mereka padamu. Sekarang kita fokus dulu untuk selesaikan kasus ini." Ucap Kaliana tidak kalah serius. Dia tidak mau Bram bertemu dengan teamnya untuk saat ini, karena mereka sedang serius bekerja.
Kehadiran Bram bisa membuyarkan konsetrasi Yicoe dan Novie, yang akan sering mendengar gombalannya. Apalagi melihat Yicoe yang imut dan cantik. Begitu juga dengan Novie yang cantik dan menggemaskan. Bram akan sering menebar gombalannya untuk mengganggu mereka.
"Baiklah... Sebelum pergi, aku mau tanya, kau bekerja untuk keluarga korban atau kepada pihak suami korban?" Tanya Bram ingin tahu, karena penasaran Kaliana bisa kenal dengan keluarga korban.
"Kami bekerja kepada Pak Marons." Jawab Kaliana, bersikap tenang. Dia mengerti arti dari pertanyaan Bram. Apakah mereka bisa bersikap profesional, jika clientnya terlibat.
Kaliana berpikir cepat untuk menjawab pertanyaan Bram, agar tidak panjang penjelasan dan kecurigaan. "Aku dihubungi Mas Yudha dari Surabaya, karena pengacara Pak Marons adalah saudaranya. Pengacaranya meminta Mas Yudha menghubungiku, karena tau tentang penyelesaian kasus di Surabaya." Kaliana menjelaskan tanpa menyinggung, bahwa dia mengenal Marons.
"Ooh, ok. Kau mengerti apa yang dikatakan Jaret tadi bukan? Entah benar atau tidak, itu dikatakan korban. Tapi dengan pernyataannya yang mengatakan Pak Marons marah besar, mengancam korban dan pencemburu, dia sedang menggiring opini ke arah Pak Marons agar perlu dicurigai." Bram memperhatikan kesaksian Jaret di ruang interogasi.
"Iya, aku ngerti. Entah Pak Marons mengancam atau pencemburu. Tetapi apakah yang dilakukan mereka tidak menimbulkan keributan atau membuat marah seseorang? Sekarang sudah terbukti perselingkuhan mereka. Tapi apa yang dikatakan Pak Marons kepada kami, beliau tidak tau tentang kehamilan istrinya." Ucap Kaliana serius.
"Makanya tadi aku tekankan kepada Jaret, kenapa korban tidak memberitahukan suaminya pertama kali tentang kehamilannya. Karena korban tau, suaminya bukan Ayah dari bayi yang sedang dikandungnya." Kaliana percaya apa yang dikatakan Marons kepadanya.
__ADS_1
"Iyaa, aku setuju denganmu. Pak Marons tidak mengetahui tentang kehamilan istrinya. Itu bisa dilihat saat pembuatan BAP. Beliau sangat shock mengetahui istrinya hamil, sehingga meminta waktu untuk tidak melanjutkan BAP. Mungkin beliau pernah menduga ada sesuatu diantara mereka. Jadi ketika dengar tentang kehamilan istrinya, itu adalah bukti yang membenarkan dugaannya. Istrinya ada main petak umpet di belakangnya." Ucap Bram serius.
"Jika korban istriku, Jaret sudah jadi umpan biawak saat aku bertemu dengan mereka di hotel itu. Apa pun alasannya tentang hubungan masa lalu mereka, sekarang masing-masing sudah menikah. Itu bukan cemburu, tapi amarah karena merasa dikhianati." Ucap Bram lagi, tidak menerima apa yang dilakukan Jaret dan Rallita.
"Itu yang membuatku gemas melihat Jaret. Mereka berdua bermesraan dan membicarakan Pak Marons seakan-akan tidak menyadari, mereka berdua itu pengkhianat." Kaliana berkata dengan emosi, tetapi pikirannya langsung memuju ke segala arah saat membicarakan itu.
"Ada yang tidak beres dengan hubungan mereka. Bukan karena perselingkuhannya itu, tetapi mengapa mereka menikah dengan orang lain, jika saling mencintai. Aku akan periksa keluarga korban. Mana petugas yang kau janjikan padaku?" Kaliana teringat dengan permintaannya kepada Bram, karena bermaksud memeriksa keluarga Rallita.
Bram memanggil petugas yang sudah disiapkan untuk membantu Kaliana dan memperkenalkan mereka. "Sekarang kau akan bekerja membantu Bu Kaliana. Jadi apa yang dimintanya, kau ikuti saja." Ucap Bram kepada petugasnya.
"Siap, Pak. Termasuk menembak, Pak?" Tanya petugas, setelah memberi hormat kepada Kaliana.
"Tenang saja. Aku tidak membutuhkan senjatamu, tetapi lencanamu. Kau akan jadi kunci pembuka pintu dan selanjutnya, bagian saya." Ucap Kaliana dan petugasnya langsung memberi hormat, mengerti maksud Kaliana.
"Dia aku perlukan hanya dalam kondisi tertentu. Tetapi dalam keadaan urgent, kaulah yang jadi kunci pembukanya. Jadi jangan merasa senang dulu. Apa gunanya kita kolab, tapi aku lebih banyak berurusan dengannya?" Ucap Kaliana setelah petugasnya kembali ke mejanya.
"Siapa yang senang? Aku sedang kesal, karena berpikir kau akan lebih banyak waktu dengannya. Sedangkan aku mengajak kolab, karena ingin sering bersamamu." Ucap Bram sambil tersenyum dan mulai gombal.
...~***~...
__ADS_1
...~●○¤○●~...