C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal

C L B K [Cinta Lama Belum Kelar] Kriminal
Pemetaan Kasus.


__ADS_3

...~•Happy Reading•~...


Kaliana langsung menuju kantor, dimana semua anggota team sedang menunggunya. Kaliana telah menghubungi Pak Yosa untuk kembali ke kantor, karena ada hal yang hendak dibahas dan di analisa oleh Kaliana dengan anggota teamnya.


Putra melihat Kaliana yang baru tiba, tanpa berkata atau bertanya. Dia hanya menyiapkan semua yang diminta oleh Kaliana, saat masih dalam perjalanan. Agar mereka lebih cepat membahas kasus, setelah Pak Yosa tiba.


"Bukan masalah apartemen yang baru digeledah oleh pihak kepolisian yang akan kita bahas hari ini. Karena isi apartemen itu hanya bagian kecil dari potongan puzzle yang selama ini kita cari. Aku tidak ingin membahas isinya, karena itu hanya menunjukan kehadiran dan tempat persembunyian korban dengan Jaret selama ini. Sedangkan yang lain, kita akan bahas setelah clear." Kaliana membuka pertemuan mereka dengan menghindari bahasan tentang apartemen.


"Sekarang kita fokus dan petakan apa yang kita temukan di club. Tadi di kantor polisi aku sempat bertemu dengan Lipas, saksi yang kita temukan di club. Walaupun dia memutar atau menikung, kesaksiannya bisa kita pegang dan percaya. Terbukti benar ada apartemen dan Jaret datang ke sana. Jadi kesaksiannya, benar." Ucap Kaliana setelah mereka semua kumpul di ruang meeting di kantornya.


"Jadi kita mulai melihat kasus ini dari club dimana kesaksian Lipas mengatakan ada orang yang datang menjemput korban dan mengatakan itu atas permintaan Jaret. Itu adalah kesaksian dari saksi yang melihat korban masih hidup. Selama kita menyelidiki, hanya Lipas yang mengatakan melihat korban dan bersama korban masih hidup malam itu." Kaliana mulai merinci dan Putra menyiapkan gambarannya di layar TV.


"Mari kita mulai pikirkan tentang kejadian ini. Putra tolong siapkan semua orang yang ada di sekitar korban, termasuk Pak Marons." Kaliana berkata sambil menunjuk layar TV yang mana sudah ada visual korban dan seseorang di dalam club dan juga Lipas.


Semua orang yang berhubungan dengan korban sudah dipetakan oleh Putra. Semua orang yang patut dicurigai terlibat dalam 'Kasus Selokan' sudah dipetakan juga oleh Putra. Jadi tinggal dipindahkan ke tempatnya, sesuai permintaan Kaliana. Di layar TV sudah terlihat korban, Lipas dan seseorang yang datang menjemput. Sudah di zoom oleh Putra, agar lebih jelas.


"Berarti orang yang datang menjemput ini, tahu hubungan korban dengan Jaret. Karena dia mengatakan Jaret meminta dia menjemput." Yicoe berkata sambil menunjuk layar TV. Yang lain juga melihat ke arah yang sama.

__ADS_1


"Iyaaa... Kita petakan, ya. Supaya bisa menemukan orang ini. Satu; Orang yang datang ini tahu hubungan Jaret dan korban. Putra, tolong dilist, agar kita makin merinci sosok ini." Kaliana berkata kepada Putra setelah mendengar pendapat Yicoe.


"Berati orang ini mengenal korban atau pernah ke club, sehingga dia tahu korban dari begitu banyak orang dalam club." Novie berkata sambil terus memperhatikan layar TV. Masing-masing dibutuhkan pendapat dan analisanya jika sudah dalam kondisi seperti ini.


"Iyaaa.... Kedua; Orang ini sedikit banyak mengenal atau pernah ke club, sehingga mengetahui kebiasaan korban. Tambahkan lagi Putra, agar kita mudah mencarinya." Ucap Kaliana dan terus berpikir serius, mendengar pendapat anggota teamnya.


"Orang ini, bisa dia sendiri yang mengajak korban, atau memang dia diminta untuk mengajak korban seperti yang Lipas katakan." Pak Yosa menganalisa gambaran yang telah dibuat oleh Putra.


"Iyaaa.... Ketiga; Orang ini pelaku tunggal, atau dia memang melakukan itu atas permintaan seseorang. Putra, tolong catat dan tambahkan satu orang lagi. Kita anggap saja ada yang menyuruhnya." Ucap Kaliana kepada Putra sambil melihat layar TV.


"Kenapa kita harus buat tanda tanya, jika sudah tahu orang itu Jaret, Mbak." Putra terkejut ditahan oleh Kaliana untuk tidak menulis nama Jaret di gambar orang tersebut.


"Aku setuju dengan Putra. Tulis saja Jaret, lalu kita mencari orang yang kedua, agar bisa menjadi bukti untuk mendakwa Jaret." Ucap Yicoe yang lebih berpikir praktis jika sudah ada pemetaan orang di sekitar korban.


"Aku setuju dengan Putra dan Yicoe. Karena saat kita pertemukan orang tersebut, Lipas bisa jadi saksi yang bisa membuktikan orang tersebut menjemput korban." Ucap Novie serius mendengar dan menanggapi pendapat rekannya.


"Aku setuju dengan mereka, Anna. Sekarang kita bisa lebih fokus karena mengetahui kesaksian Lipas menjadi kunci pembuka kasus ini. Jadi selanjutnya kita temukan orangnya, lalu di perhadapkan dengan saksi Lipas. Nantinya dia yang akan jadi saksi untuk menunjuk pelakunya atau dia sendiri yang jadi tersangka atau pelakunya." Pak Yosa menambahkan pendapatnya setelah mendengar pendapat rekan-rekannya.

__ADS_1


"Begini, penyelesaiannya tidak sesederhana itu. Kenapa tadi aku tidak ikut Pak Bram ke kantor polisi untuk ambil mobil korban, karena mendenfar pertanyanyaan Jaret atas pertanyaanku yang aku titipkan pada Pak Bram..." Kaliana menjelaskan pertanyaan yang dititipkan kepada Bram dan juga jawaban Jaret yang balik bertanya bukan menjawab.


"Jadi tadi aku asumsikan, Jaret benar, sesuai reaksinya kepada Pak Bram. Dia tidak meminta seseorang masuk menjemput korban. Berarti ada dua kemungkinan seperti yang dikatakan Pak Yosa. Orang ini pelaku tunggal dengan rencana sendiri menjemput korban. Atau dia memang diminta oleh seseorang yang bukan Jaret, untuk menjemput. Makanya 'Den Bagus'..., biarkan orang itu memakai tanda tanya dulu." Ucap Kaliana sambil tersenyum melihat Putra yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Siaaap Mbak cuantik... Tadi aku hanya berpikiran praktis sama Kak Yicoe, Kak Novie dan Pak Yosa. Karena mau secepatnya menyelesaikan kasus ini. Makin digali, makin nyebelein, korbannya. Selama ini, kita semangat menyelessikan kasusnya, karena kasihan sama korban. Ini terbalik, kalau tidak ingat Pak Marons, biarkan saja tidak usah diungkap kasusnya." Putra mengeluarkan rasa kesalnya yang tiba-tiba, membuat rekan yang lain melihatnya dengan serius.


Kaliana mengeti maksud Putra, karena mungkin tadi dia melihat isi apartemen Rallita. "Naaah... Karena kau katakan ingat Pak Marons, ayooo semangat selesaikan kasus ini. Sudah berapa apel yang pindah ke perutmu?" Ucap Kaliana untuk mencairkan suasana. Yicoe dan Novie serentak mengangkat tiga jari mereka, menggambarkan, Putra telah menghabiskan tiga buah apel. Putra kembali menggaruk kepalanya, sambil tersenyum.


"Sekarang kita bekerja bukan untuk keluarga korban. Tetapi untuk suami korban yang kalian semua sudah tahu, apa yang akan terjadi jika kita tidak sungguh-sungguh menggali dan bekerja secara profesional. Tidak semua kasus yang kita tangani itu, menyenangkan. Ada kasus-kasus seperti ini, menyebalkan dan mungkin menyusahkan hati." Kaliana sengaja berkata demikian untuk menenangkan Putra.


'Putra pasti sudah jengah mengetahui sepak terjang Rallita, sehingga dia sudah tidak bersemangat menggali informasi seputar kehidupan Rallita.' Pikir Kaliana.


"Kita kembali ke topik awal, mau menganalisa kasus ini dari dalam club, yang mana dalam club tersebut ada tiga orang ini." Kaliana berkata serius, sambil menunjuk gambar Rallita, Lipas dan Mr. X di layar TV.


...~***~...


...~●○¤○●~...

__ADS_1


__ADS_2